Latest Post

Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 2

Pembaca Yang Budiman…..
Pengalaman dari seorang ibu di panti (bagian 1) mampu memberikan gambaran yang penulis alami tentang diri ini. Satu hal yang tidak bisa saya lupa adalah perhatian yang luar biasa dari orang tua. Di tengah malam ini, saya dibuat menangis ketika mengingat apa yang sudah dilakukan oleh sosok wanita yang saya panggil mbok (ibu). Menghadapi kejadian ini, nurani saya berteriak keras dan lantang (silahkan jika pembaca menghakimi saya cengeng). Namun demikian, meski jiwa ini berada dalam kegalauan (kalut dan gelisah), tetapi tetap harus merepresentasikan diri yang kuat, lembut, dan santun. Bagi saya, ini berarti saya ingin menjalani kehidupan ini dengan target-target hidup sesuai dengan petunjuk-Nya. Maaf, saya tidak menjadikan target-target tersebut sebagai tujuan hidup sebab tujuan hidup manusia sudah jelas, yaitu mempersiapkan diri menghadap Illahi Rabbi. Semua kulakukan atas dasar bahwa diri ini dipenuhi stamina yang kuat dan mempesona sekaligus keinginan yang menggelora agar hidup menjadi lebih bermakna.

Pembaca yang budiman…..
Maaf, mari belajar sedikit berfilosofi. Sungguh, kita tidak dapat mangkir atau menghindar dari realita bahwa perjalanan hidup manusia selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang bisa berdampak pada kehidupan kita selanjutnya. Realita yang ada dalam hidup harus kita hadapi. Namun, hidup yang dimaksud bukanlah sekedar menjalani rutinitas keseharian semata, tetapi mencakup peristiwa kelahiran dan kematian. Karena itu, jika hidup ini diawali dengan kepastian bahwa kelahiran bukanlah pilihan pribadi, dan diakhiri dengan misteri kematian yang menyisakan ketidakpastian bahwa ia merupakan pilihan, masihkah dapat dikatakan bahwa hidup adalah pilihan? Menurut saya, ini menjadi kesimpulan yang saya ambil ketika memikirkan apa itu hidup secara utuh. Utuh yang berarti mencakup keseluruhan proses dari kelahiran hingga kematian. Suatu proses dalam pemaknaan lahir dan juga batin, materi dan non materi. Sebagai suatu proses, -bagi fokus persoalan di sini- sudah seharusnya membicarakan hidup sebagai yang ber-awal dan ber-akhir; yaitu proses yang dipikirkan mulai dari peristiwa kelahiran hingga kematian.

Oleh karena itu, untuk bisa menentukan dengan baik tentang kehidupan yang akan datang, maka kita harus mengetahui dan memahami tentang diri kita sendiri; dimana dan kemana kita akan pergi; apa sebenarnya yang ada dalam angan-angan; apa yang perlu kita perjuangkan kedepan; apa dan mengapa kita pergi ke”sana”. Dengan begitu, maka kita akan mempunyai keyakinan untuk membuat sebuah perencanaan bagi diri kita, khususnya menentukan dengan siapa kita akan menuju ke”sana”.

Pembaca yang budiman……
Kesimpulan ini, sebagaimana kesimpulan anda yang mungkin berbeda dengan saya, tentu mempunyai konsekuensi yang berbeda mengenai pokok-pokok pemikiran lain yang berkaitan. Misalnya, hidup dan kehidupan setelah masa sekarang (masa yang akan datang). Bagaimana kita memaknai kehidupan yang akan datang setelah kehidupan sekarang ini. Masa depan tentu berkaitan dengan bagaimana kita memaknai hidup di dunia saat ini. Jika hidup yang sekarang hanya sekedar pilihan secara pribadi, bagaimana dengan kehidupan nanti itu? Apakah ia hanya bergantung pada pilihan-pilihan sendiri? Di alam dunia saja, tidakkah kedepan kita masih membutuhkan orang lain yang berada di sekitar kita? Bapak mungkin, ibu mungkin, saudara mungkin, kerabat mungkin, teman juga mungkin, hingga kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya itu adalah bagian dari diri kita. Mungkin ada baiknya merenungkan kembali kehidupan yang di “sana” saat sekarang ini sebelum kita mengalaminya tanpa bisa menolak sebagaimana kita tidak bisa menolak mengenai kelahiran dan jenis kelamin kita.

Ekspresi ini (mengulang apa yang pernah penulis tulis), kita menjalani hidup demi menemukan jawaban terhadap diri sendiri. Membangun sebuah pengertian, pemahaman, dan implementasi tentang nilai-nilai etika dan estetika, sikap saling menghargai dan menghormati. Pada akhirnya, harapan yang terangkum dalam doa di setiap doa adalah bagaimana melahirkan nilai-nilai positif guna menemukan sebuah teka teki hidup tentang siapa, untuk apa, dimana, kemana, mengapa, dan masih banyak yang perlu ditemukan jawaban. Hal itu akan terjawab manakala masih mendapat anugerah dan hidayah-Nya untuk menyadari kegairahan hidup. Semoga…..!

Pembaca yang budiman……
Dengan petunjuk Allah itu, maka kita menentukan aliran hidup masa depan kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, istiqomah, professional dan diakhiri dengan tawakkal. Jadi tidak tepat jika orang mengatakan hidup adalah pilihan. Sebagai seorang muslim tidak selayaknya menyatakan seperti itu. Sebab hidup bukan pilihan. Pilihan kita semata-mata hanya menyembah pada Allah. Pada akhirnya, hidup bukan pilihan, tetapi menjalani apa yang sudah dipilihkan oleh Allah melalui petunjuk-petunjuk-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Trimakasih untuk adikku yang telah mengingatkanku.....
 

Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 1


Pembaca Yang Budiman…..
Maaf…Tulisan ini bermula dari sebuah kejadian yang penulis alami. Suatu hari ketika penulis berkunjung ke panti jompo (tempat penitipan orang tua), saya pernah ditanya oleh seorang ibu yang sudah tua. Ia bertanya “Nak, pernahkah kamu merasakan bahagia?” awal mula saya jawab dengan lugas dan jelas, “Pernah nek”. Kemudian dia melanjutkan pertanyaan itu “Apa yang dinamakan dan dirasakan dengan bahagia?” Sungguh, sebuah pertanyaan yang membuat saya tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Bagaimana saya harus menjawab. Dilema bagi saya saat itu. Mau menjawab, saya takut tidak memberi kepuasaan atas pertanyaannya. Akhirnya, saya mohon si ibu untuk bercerita, kenapa timbul pertanyaan itu?

Sambil menangis berceritalah ibu tersebut tentang kisah perjalanan hidupnya. Berdasarkan cerita si ibu, saya jadi paham yang dialaminya. Ternyata si ibu ditinggal anak satu-satunya yang pergi mengikuti pasangannya merantau. Cerita ibu tadi mengingatkan saya pada sebuah kisah yang saya alami. Apa yang saya pahami mengenai sedikit kebahagiaan, mungkin masih terlalu sempit. Namun, setidaknya ada landasan yang bisa saya ambil baik dalam kenyataan, impian maupun untuk impian yang akan datang. Dalam keadaan sebagaimana yang dialami ibu tersebut, saya hanya bisa mengatakan padanya “ternyata tiap tetesan butir-butir air yang mengalir di pipi menyimpan berjuta-juta kenangan yang mungkin tak bisa diluapkan ke dalam rangkaian kata, namun hanya bisa dirangkai dalam “bingkai” kenangan yang tak mungkin terulang”.

Pembaca yang budiman…!
Maaf berdasarkan apa yang saya pelajari, pertanyaan ibu tersebut mengarah pada pemahaman tentang rasa dalam kehidupan. Pemahaman saya memberikan deskripsi tentang kebahagiaan sejati adalah menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang dipilihkan Allah dengan penuh keikhlasan. Hal ini dikarenakan saat Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia, Allah membekali dengan akal sebagai sesuatu yang membedakan manusia dengan binatang. Dengan akal, manusia diwajibkan untuk mempelajari petunjuk-petunjuk Allah guna menegakkan sebuah peradaban. Petunjuk yang diberikan oleh Allah begitu jelas dan terang, Quran dan Sunnah.

Petunjuk diberikan Allah karena manusia mempunyai nafsu dan ego. Dua sifat yang menempel pada manusia ini pada dasarnya merusak jati diri manusia. Oleh karena itu, terasa aneh jika manusia dengan hawa nafsunya, keegoannya, pemahamannya, mencoba membuat rambu-rambu atau tanda-tanda mungkin juga petunjuk-petunjuk sendiri untuk menggapai kehidupan. Apalagi hal itu dilakukan oleh seseorang yang tidak berusaha mendekat Allah, tetapi merasa begitu dekat dengan Allah. Jika hal ini terjadi, maka yang terjadi bukan menegakkan kebenaran tapi mereka membuat pembenaran-pembenaran terhadap apa yang dilakukan sehingga akan larut dalam kemunafikan. Allah telah menunjukkan konsep kehidupan melalui Al-Qur’an yang dijelaskan dalam hadits Nabi. Dan kita sebagai manusia patut dan harus selalu meminta petunjuk-Nya. Dalam Al-Fatihah ayat ke-5 jelas hanya pada Allah lah kita meminta petunjuk, bukan pada selain Allah.

Pembaca Yang Budiman…..
Yang harus dilakukan adalah meminta petunjuk-Nya, kemudian pasrah akan apa yang ada dan dialami. Dengan demikian, kita akan mampu untuk menggoreskan tinta kehidupan dengan menggerakkan emosi yang mengalir dalam deretan sang waktu. Kegelisahan, kejengkelan dan luapan emosi mengalir dalam diri dengan menorehkan nyanyian irama kehidupan. Ungkapan itu merupakan sebuah ekspresi kehidupan dengan langkah elementer yang bila tiap nafas penuh dengan rasa syukur, maka kita akan mampu menjalani hidup dengan ikhlas yang melahirkan sebuah fenomena keindahan hidup. Dan kebermaknaan hidup yang demikian, hanya dapat dicapai manakala kita bisa menjadi diri sendiri tanpa menjadi diri orang lain.

Pada kondisi yang demikian, maka dengan mendasarkan pada petunjuk-petunjuk dari-Nya kita akan mampu memanagement diri untuk menyusun perencanaan kedepan. Management diri dilakukan dengan tidak hanya berpikir untuk sekarang, tetapi lima hingga sepuluh langkah kedepan (kita mau seperti apa) sudah kita rencanakan mulai dari sekarang. Memang sikap menjalani kehidupan mengalir seperti air mengalir itu baik, akan tetapi hidup terencana demi masa depan tetap jauh lebih baik, sebab dengan begitu kita akan mampu meminimalisir resiko di masa yang akan datang. 

Pembaca Yang Budiman…..
Proses menjadi diri sendiri ini harus didorong etos kreatif untuk mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik. Potensi diri akan dibantu oleh pengetahuan dan proses pengalaman belajar yang diperoleh sesuai petunjuk Allah dalam menghadapi dilema. Pada saat itu, kehidupan akan menemui kesepian dengan memunculkan keharusan untuk memaknai kegelisahan hidup yang akan mendorong kesadaran batin untuk menelan pil pahit berbagai pengalaman. Pada akhirnya, kita akan mampu membedakan antara “aku” dan konsep ego ke-aku-an yang merupakan sebuah fenomena riil untuk menunjukkan personal diri.

Pada taraf yang demikian, maka kita akan mencapai level aktualisasi diri yang lebih manusiawi, lebih asli, dan tak terpengaruh oleh pesona lain meski berada pada suatu budaya tertentu dalam sebuah komunitas. Aktualisasi ini akan mampu menemukan jiwa/diri yang lepas dari kebutuhan penghargaan hingga memungkinkan untuk memberi ekspektasi tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan, kedamaian, keikhlasan dan nilai-nilai sejenis dalam memposisikan diri sebagai seorang manusia.

Bersambung......
 

Jangan Kau Hina Jika Kumenangis

Tuhanku Maafkan aku…!
Hingga saat ini, perasaan dan hati ini harus menahan kepiluan yang menyayat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, sebab sepertinya inilah jalan hidup (takdir) yang Engkau gariskan pada telapak tanganku. Haruskah aku memberontak terhadap apa yang Engkau takdirkan ini? Dengan cara apa aku harus menjalani?

Tuhanku, Maafkan aku....!
Sejak kecil hingga saat ini, Engkau selalu memberi kepilauan dan kepedihan pada hamba-Mu ini. Jalanku selalu penuh liku, kepedihan dan kegetiran hidup selalu Engkau tunjukkan dengan penuh Kebijaksanaan-Mu. Aku yang tidak bisa meninggalkan sesuatu begitu saja, Engkau paksa untuk mempelajari kehidupan ini. Sejak saat itu kumulai sedikit demi belajar dan terus belajar untuk bersabar terhadap pahit dan manisnya hidup ini. Kuakui, dengan begitu, kumulai belajar isi dari Kitab Sama’ yang Engkau ajarkan. Tetapi, haruskah aku berlindung dibalik suratan yang Engkau tulis dengan kalimat “Engkau akan menguji sesuai dengan kemampuan hamba-Mu?”. 

Maafkan aku, Ya Tuhanku....!
Sekalipun cuma berdoa lantaran sedang berada di tempat yang berbeda, hati yang berbeda, dan dalam aliran darah yang berbeda. Aku akan tetap terus melangkah dengan kenakalan dan kekonyolan sikap yang kupunya. Namun, ya Tuhanku, aku tidak pernah meninggalkan harapanku pada-Mu. Dalam setiap langkahku, aku selalu berdoa pada-Mu dengan harapan yang penuh keyakinan agar aku menyadari segalanya demi masa depanku.

Maafkan aku, Ya Tuhanku....!
Tujuan hidupku bukanlah kegembiraan. Karena jika itu salah dan menyalahi jalan-Mu maafkanlah aku. Aku berfikir demikian karena bisa jadi kegembiraan hanya menjadi tipu muslihat mimik wajahku jika tanpa diikuti dengan kebahagiaan. Jalanku menuju kebahagiaan itu telah terbuka lebar. Dimanapun dan kapanpun slalu kutemukan jalan itu karena aku tahu pada kondisi apapun disitu kutemukan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Kupahami tiap detail jalan itu, ranting-rantingnya dan dahan yang menaunginya selalu memberikan kesejukan dalam kehidupanku. Kulakukan dengan doa untuk doa selanjutnya, membasuh tangan untuk menyucikan diri. Aku hanya berharap pada-Mu ya Tuhanku, berilah diri ini kebahagiaan yang penuh dengan suka cita agar hidupku kedepan penuh dengan senyuman.

Maafkan aku ya Tuhanku….!
Pada kondisi apapun aku selalu berusaha untuk menyunggingkan senyuman. Namun, aku masih belajar dan akan terus belajar untuk memahami kehidupan. Kupelajari betapa tenteramnya kedamaian, betapa indahnya kesabaran, betapa mulianya keikhlasan. Karena itu ya Tuhanku, bukalah pintu ampunan dan hidayah-Mu untukku. Berilah hati ini keikhlasan untuk menerima terhadap apa yang telah Engkau takdirkan dalam hidupku….

Maafkan aku ya Tuhanku……

Malang, 24 Agustus 2011, 02.30 WIB
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. sujito4um - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger