Teori Pembelajaran Pengajaran Sains


A. Pendahuluan

Dalam kurikulum SMU – 1994 disebutkan pengertian fisika yaitu “Fisika adalah bagian dari IPA yang mempelajari sifat materi, gerak, dan fenomena lain yang ada hubungannya dengan energi” (Depdikbud, 1994 ; 1). Selain itu menurut kurikulum SMU 1994, mata pelajaran fisika juga mempelajari keterkaitan konsep-konsep fisika dengan kehidupan nyata dan pengembangan sikap dan kesadaran terhadap perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi beserta dampaknya.

Sedangkan tujuan pemberian mata pelajaran fisika menurut kurikulum SMU 1994 adalah “Agar siswa mampu menguasai konsep-konsep fisika dan saling keterkaitannya serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga lebih menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa” (Depdikbud, 1994 : 2).

Dengan demikian pembelajaran fisika menurut kurikulum SMU – 1994 ini sudah bukan lagi menerapkan pembelajaran fisika tradisional yang menekankan guru sebagai pusat informasi dan siswa sebagai penerima informasi sebagaimana dikemukakan Abraham dan Renner (1986).

“In traditional models the student are first informet of what they are expected to know. The informing is accomplished via a textbook, a motion picture, a teacher or some other type of media. Next, some type of proof is offered to the students in order for them to verify that what they have been told or shown is true. Finally the students answer question or engage in some other form of practice with the new information.”

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa tahap-tahap yang dilalui dalam pembelajaran tradisional adalah informed-verify-practice. Secara tradisional, guru hanya mengajarkan fakta-fakta, rumus-rumus, hukum-hukum, serta melatihkan soal-soal dan siswa menghafalkannya.

Salah satu ciri utama program pembelajaran fisika di dalam kurikulum 1994 adalah keinginan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Untuk mengajarkan fisika sebagai produk, proses dan sikap, serta untuk memperoleh ketuntasan hasil belajar siswa, juga dalam upaya memberikan contoh langsung implementasi pembelajaran pada guru-guru fisika maka dibutuhkan pemahaman teori-teori pembelajaran yang melandasi pengajaran fisika. Tiga teori utama untuk memahami belajar fisika adalah teori-teori perilaku, teori pembelajaran sosial (teori permodelan) dan teori kognitif.

B. Teori Pembelajaran Perilaku
Teori pembelajaran perilaku menitik beratkan pada aspek-aspek eksternal belajar, termasuk stimuli eksternal, respon perilaku siswa, dan penguatan yang mengikuti respon yang sesuai (Carin, 1993 : 46). Prinsip yang paling penting dari teori perilaku adalah perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung (Woolfolk, 1995 : 203). Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan melemahkan perilaku (Slavin, 1994 : 158). Konsekuensi yang menyenangkan disebut sebagai penguatan (reinforcement) dan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut sebagai hukuman (Punishment).

Penguatan berfungsi meningkatkan frekuensi perilaku tertentu. Menurut teori belajar perilaku, pemberian konsekuensi penguatan sesegera mungkin mengikuti perilaku akan lebih memiliki pengaruh daripada konsekuensi yang diberikan kemudian atau lambat datangnya (Slavin, 1994 : 163). Prinsip kesegeraan pemberian konsekuensi itu penting artinya di dalam kelas. Dalam hal ini, pemberian pujian yang diberikan setelah seorang siswa melakukan suatu pekerjaan yang baik, dapat menjadi penguat yang lebih berpengaruh daripada angka (nilai) yang diberikan kemudian. Misalnya dalam kegiatan laboratorium siswa melakukan praktikum cara menggunakan multi tester, bila siswa dapat mengukur besarnya arus listrik dalam suatu rangkaian tertutup dengan tepat dan benar (multi tester pada posisi arus, dan nilai arus yang ditunjukkan) dan mendapat pujian dari guru, maka untuk menentukan (mengukur) besarnya tegangan siswa akan dapat melakukannya dengan cepat dan benar.

Sesuai dengan teori belajar perilaku, agar ketuntasan belajar IPA (fisika) siswa dicapai maka materi ajar yang akan diberikan perlu dianalisis kedalam bagian-bagian sederhana, menulis tujuan perilaku untuk setiap bagian, menyajikan informasi yang akan dipelajari secara jelas dan ringkas, memberi latihan-latihan berulang-ulang kepada siswa, memberi umpan balik secepatnya terhadap respon yang diberikan siswa, dan sering mengulangi materi yang diajarkan (Carin, 1993 : 40).

C. Teori Pembelajaran Sosial
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori pembelajaran perilaku tradisional. Teori belajar sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (Dahar, 1989 : 27). Teori ini menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran perilaku, tetapi memberikan penekanan pada isyarat perilaku dan pada proses-proses mental internal.

Teori pembelajaran sosial menekankan hubungan berkelanjutan antara variabel-variabel lingkungan, ciri-ciri pribadi, dan perilaku yang teramati seseorang (Gredler, 1994 : 378). Pandangan ini menyediakan interpretasi tentang bagaimana seseorang belajar dan bagaimana seseorang mengatur perilakunya. Dengan demikian, teori pembelajaran sosial memandang belajar dan penampilan perilaku merupakan dua fenomena yang berbeda (Dahar, 1989 : 31). Misalnya dalam kegiatan laboratorium guru memperagakan cara menggunakan slinki untuk menentukan cepat rambat suatu gelombang berjalan, siswa melihat dengan jelas lalu melakukan sendiri seperti yang dilakukan guru. Tingkah laku guru tadi dalam memperagakan slinki dapat berfungsi untuk membangkitkan perilaku serupa pada orang lain (dalam hal ini siswa).

Bandura (dalam Woolfolk, 1995 : 221) menyatakan bahwa seseorang dapat belajar melalui pengamatan terhadap suatu model. Di dalam teorinya, Bandura memaparkan interaksi antara penguatan eksternal dan proses kognitif internal untuk menjelaskan bagaimana seorang belajar dari orang lain. Dalam proses ini yang hadir adalah model tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi dari tingkah laku yang dijadikan model, dan proses internal pembelajar.

Konsep-konsep utama dari teori pembelajaran sosial Bandura adalah pemodelan, yang memandang bahwa sebagian besar belajar yang dialami manusia dibentuk dari suatu model. Dengan kata lain seseorang dapat belajar melalui pengamatan dan meniru perilaku orang lain. Dalam pembelajaran sosial, peranan utama tingkah laku yang dijadikan model ialah menyampaikan informasi kepada pengamat. Tingkah laku model ini dapat berfungsi untuk membangkitkan perilaku serupa pada orang lain, memperkuat atau memperlemah perilaku tertentu dari seseorang, dan menyampaikan pola perilaku yang baru. Menurut Bandura (Gredler, 1994 : 383) ciri model yang berpengaruh atas pengamat adalah model yang menarik, dapat dipercaya, cocok dalam kelompok, dan memberikan standar yang meyakinkan sebagai pedoman bagi cita-cita pengamat.

D. Teori Kognitif
Berbeda dengan teori perilaku, teori kognitif tidak hanya menitik beratkan pada faktor eksternal yang dapat diamati selama belajar, namun juga apa yang ada di dalam diri (faktor internal) siswa, antara lain bagaimana pengetahuan diperoleh, diorganisasi dan disimpan di dalam ingatan. Sesuai dengan teori kognitif tentang bagimana siswa belajar dan berfikir, kegiatan penyelidikan sains (fisika) tergantung pada pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya (Carin, 1993 : 400)

Menurut para pakar psikologi kognitif, pengetahuan merupakan suatu jaringan informasi dan keterampilan yang komplek (Carin, 1993 : 4). Pada umumnya pengetahuan digolongkan ke dalam pengetahuan dekleratif (pengetahuan tentang fakta, konsep, dan prinsip) dan pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan pengetahuan dekleratif (Carin, 1993 : 41). Mengajarkan siswa ”besarnya arus listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian tertutup (sesuai hukum Ohm) adalah besarnya tegangan yang terpasang dibagi dengan hambatannya” merupakan contoh pengetahuan dekleratif. Sedangkan memperlihatkan cara-cara merangkai rangkaian hukum Ohm itu merupakan contoh pengetahuan prosedural. Teori belajar kontruksivisme merupakan bagian dari teori belajar kognitif.

E. Teori Belajar Konstruktivis
Inti dari kontruktivis adalah pemikiran bahwa siswa secara individu mencari dan memindahkan informasi yang komplek. Teori konstruktivis berpendapat bahwa siswa secara teratur mencocokkan informasi-informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merefisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi. Pandangan konstruktivis tentang pembelajaran mengatakan bahwa para siswa diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, dan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin, 1994).

Pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran lebih menekankan pembelajaran top - down daripada battom – up. Pada pembelajaran dengan pendekatan top - down, siswa memulai dengan memecahkan masalah-masalah yang komplek, kemudian dengan bantuan guru mereka menemukan sendiri keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan. Pendekatan battom – up berlawanan dengan pendekatan top – down, dimana keterampilan-keterampilan dasar secara tahap demi tahap dibangun menjadi keterampilan lebih komplek (Slavin, 1994). Dalam latihan laboratorium misalnya siswa-siswa diminta mengamati sifat arus dan tegangan bolak-balik serta mengukur sudut fasenya dengan Osciloskop dari rangkaian-rangkaian RLC seri RC seri, RL seri, L, C dan R. ini merupakan contoh pendekatan top-down. Sebaliknya jika kegiatan ini dimulai dengan mengamati sifat arus dan tegangan serta mengukur sudut fasenya dari rangkaian-rangkaian R, L, C, RL seri, RC seri dan diakhiri dengan kegiatan mengamati rangkaian RLC seri adalah contoh pendekatan battom-up.

Teori konstruktivis berkembang dari kerja Piaget Vygotsky, teoti-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain (Slavin, 1994 : 225). Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivis adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara individu maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan siswa sendiri untuk menalar, (3) siswa aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah, (4) guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus (Suparno, 1997 : 49). Dengan kata lain ide pokok teori ini adalah siswa secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri.

Teori-teori belajar yang melandasi konstruktivisme adalah :
1. Teori Piaget
Menurut Piaget setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru lahir sampai menginjak usia dewasa pasti mengalami empat tingkat perkembangan kognitif yang meliputi tahap sensori motor, tahap pra operasional, tahap operasional kongkrit, dan tahap oprasional formal (Slavin, 1994 : 34). Perkembangan kognitif merupakan perubahan yang berurutan, bertahap sedemikian rupa sehingga proses mental menjadi semakin komplek dan canggih.
Tahap operasi formal merupakan tahap final perkembangan kognitif. Pada tahap ini (usia 11 – dewasa), anak telah mengembangkan kemampuan terlibat dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan situasi-situasi hipotesis dan memonitor jalan pikirannya sendiri.
Menurut Piaget, struktur kognitif (skemata) terbentuk pada anak berinteraksi dengan lingkungannya (Dahar, 1989 : 150). Dengan kata lain perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak memanipulasi dan aktif berinteraski dengan lingkungannya, jadi struktur-struktur intelektual terbentuk pada individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Kecuali itu perkembangan intelektual didasarkan juga pada proses asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada dalam pikirannya untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan. Sedangkan dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi skemata yang ada dalam mengadakan respon terhadap tantangan lingkungannya. Beberapa implikasi penting teori Piaget dalam pembelajaran fisika antara lain ;
a. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, bukan sekedar kepada hasilnya. Jadi guru tidak hanya melihat pada produk dan tingginya nilai fisika yang diperoleh siswa, tetapi juga harus melihat proses yang digunakan siswa sehingga memperoleh nilai tersebut.
b. Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Di dalam kelas Piaget, penyajian pengetahuan jadi (ready – made kwowledge) tidak mendapat penekanan, melainkan anak didorong untuk menemukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mempersiapkan keanekaragaman kegiatan yang memungkinkan anak melakukan kegiatan secara langsung dengan dunia fisik. Sebagai contoh ketika siswa-siswa melakukan praktikum tentang pemantulan dan pembiasan cahaya, maka siswa-siswa tersebut haruslah berinteraksi langsung dengan alat-alat optik seperti cermin datar, cermin cekung, cermin cembung, kaca plan paralel dan sejumlah lensa. Guru juga mengusahakan agar siswa-siswa dapat bekerja sama dan saling berdiskusi dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Jika siswa mengalami kesulitan, maka guru harus segera membantunya.
Penerapan teori Piaget dalam pembelajaran berarti secara terus -menerus menggunakan demonstrasi dan mempresentasikan ide-ide secara fisik. Prinsip-prinsip Piaget dalam pengajaran diterapkan dalam program-program yang menekankan (1) pembelajaran melalui penemuan dan pengalaman-pengalaman nyata dan pemanipulasian langsung alat, bahan, atau media belajar yang lain, dan (2) peranan guru sebagai seseorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar yang luas.

2. Teori Vygotsky
Menurut Neoman (dalam Tanjung, 1998) inti teori kontruktivis Vygotsky adalah integrasi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan sosial belajar. Vygotsky lebih menekankan pada sosio kultural dalam pembelajaran, yakni interaksi sosial.
Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila anak belajar menangani tuas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauannya atau masih dalam zone of proximal Development mereka. Zone of Proximal Development adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat itu. Jika siswa-siswa yang baru diajarkan/dijelaskan hubungan seri dua buah resistor, kemudian oleh gurunya diminta untuk merangkaikan seri delapan buah resistor, maka siswa-siswa tersebut akan mampu melakukannya karena tugas itu berada dalam zone of proximal development mereka. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut (Slavin, 1994 : 49).
Ide penting lainnya yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah Scaffolding. Scaffolding berarti memberikan sejumlah besar bantuan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1994 : 49). Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh atau apapun yang lain memungkinkan siswa tumbuh mandiri (Slavin, 1994 : 490. Sebagai contoh : misalkan akan diadakan eksperimen untuk menentukan periode sebuah bandul sederhana dengan menggunakan beban gantung. Pada permulaannya guru membuat panjang bandul itu kira-kira satu meter. Bandul itu disimpangkan guru 10 cm ke samping, lalu dilepaskan agar bandul berayun, guru meminta siswa menentukan periode ayunan tersebut. Selanjutnya guru meminta siswa menentukan periode untuk berbagai panjang bandul, dan mencari hubungan antara periode dengan massa (panjang bandul dibuat tetap).
Dalam pembelajaran, teori Vygotsky memiliki implikasi sebagai berikut :
a. Dikehendakinya tatanan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah fisika secara efektif di dalam masing masing zone of proximal development mereka.
b. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan Scaffolding yang berarti siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarnya sendiri.

3. Teori Jerome Bruner
Belajar penemuan (discovery learning) dari Jerome Bruner adalah model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan kepada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsipm agar mereka memperoleh pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri (Slaving, 1994 : 2280).
Carin (1995) menyatakan bahwa “discovery” adalah suatu proses mental dimana anak atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip-prinsip (Amien, 1987 : 126). Dengan kata lain discovery terjadi apabila siswa terlibat secara aktif dalam menggunakan proses mentalnya agar mereka memperoleh pengalaman, sehingga memungkinkan mereka untuk menentukan beberapa konsep atau prinsip tersebut. Proses-proses mental itu, misalnya : merumuskan masalah , merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, menyimpulkan dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan. Disamping itu, diperlukan juga sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu dan terbuka.
Discovery learning memiliki beberapa keuntungan (Dahar, 1989 : 103), yakni (1) pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat, atau lebih mudah diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain ; (2) belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi untuk memecahkan permasalahan. Bruner penganjur pembelajaran penemuan menyatakan bahwa mengetahui adalah suatu proses, bukan suatu produk (Nur dan Wikandari, 1998 : 7) ; (3) belajar penemuan dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk bekerja terus sampai mereka menemukan jawabannya. Sebagai misal pada saat siswa melakukan eksperimen penentuan besarnya viskositas suatu zat cair dengan prinsip teorema Stokes. Dalam kegiatan ini siswa akan melakukan prosedur-prosedur seperti: menyiapkan alat-alat yang diperlukan, mencatat rumus atau persamaan dan parameter-parameternya, melakukan percobaan yang meliputi mengukur jari-jari bola, panjang kalom zat cair, massa bola dan massa jenis zat cair. Selanjutnya melepaskan bola dari bibir tabung zat cair dan mencatat waktu untuk selang atau jarak tertentu. Hasil pengukuran atau pengamatan ini ditulis dalam suatu tabel. Dengan melakukan langkah prosedur tersebut, siswa akan sampai ke suatu kesimpulan yang merupakan penemuan kegiatan percobaan.
Bruner menyadari, bahwa belajar penemuan yang murni memerlukan waktu, oleh karena itu ia menyarankan agar penggunaan belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu.

4. Teori David Ausubel
Inti teori Ausubel ialah belajar bermakna (Dahar, 1989 : 112). Menurut Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar (Suparno, 1997 : 54). Belajar bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep dan perubahan konsep yang sudah ada, yang mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dimiliki siswa. Sebagai contoh, siswa telah mempunyai konsep “resonansi” dalam mekanika, yaitu keadaan tertentu yang terjadi pada suatu benda, ketika kepadanya datang stimulus (pengaruh dari luar) berupa gaya periodik yang frekuensinya sama dengan frekuensi alamiah benda dapat bergetar itu. Namun konsep “resonansi” itu berbeda ketika siswa mempelajari keadaan “resonansi” pada rangkaian RLC seri misalnya, atau keadaan “resonansi” antara pemancar dan penerima.
Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada dalam struktur kognitif seseorang informasi baru harus dipelajari lewat belajar hafalan. Dalam proses ini informasi baru tidak diasosiasikan dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Belajar ini perlu bila seseorang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang telah siswa miliki (Suparno, 1997 : 54). Sebagai contoh siswa telah mempelajari atau menguasai konsep-konsep refleksi dan refraksi dalam optika, namun ketika sampai ke konsep-konsep “interferensi” misalnya, siswa harus belajar secara hafalan karena belum ada konsep “interferensi” itu dalam struktur kognitifnya.
Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ausubel adalah advance organizer (pengatur awal). Advance Organizer merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar dari apa yang harus dipelajari dan hubungannya dengan apa yang telah ada dalam struktur kognitif siswa (Soekamto dkk, 1996 : 26). Pengatur awal mengarahkan siswa ke materi yang akan mereka pelajari, dan mendorong siswa untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru. Suatu pengatrur awal dapat dianggap semacam pertolongan mental, dan disajikan sebelum materi baru.
Penerapan teori belajar bermakna Ausubel dilakukan pada saat guru mempersiapkan siswa berpartisipasi dalam pelaksanaan model-model pembelajaran tertentu, terutama dalam (a) mengukur kesiapan siswa melalui uji awal, (b) mengidentifikasi prinsip-prinsip mendasar dari materi baru (misalnya rangkaian arus bolak-balik) yang harus dikuasai siswa sebelumnya, (c) menghubungkan pelajaran sekarang dengan pengetahuan sebelumnya, (d) mengajar siswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada, (e) memotivasi siswa dalam melakukan eksperimen. Dengan mengambil materi contoh rangkaian arus bolak-balik, penerapan teori Ausubel dapat dilakukan sebagai berikut. Untuk uji awal misalnya : apa perbedaan arus bolak-balik dengan arus searah? mengapa untuk jaringan PLN itu dipakai arus bolak-balik? dan sebagainya. Menyangkut prinsip-prinsip mendasar arus bolak-balik yang harus dikuasai siswa seperti: tegangan dan arus bolak-balik itu umumnya mempunyai bentuk sinusoidal, arus bolak-balik mempunyai harga-harga efektif, maksimum dan rata-rata, dan sebagainya. Untuk menghubungkan pelajaran rangkaian arus bolak-balik dengan pengetahuan sebelumnya antara lain: arus bolak-balik itu dibangkitkan (dihasilkan) oleh generator AC, besarnya ggl yang ditimbulkan generator AC adalah sesuai dengan hukum Faraday, dan sebagainya. Adapun konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang perlu seperti ; induktansi, kapasitansi (contoh konsep), pada rangkaian kapasitif kuat arus mendahului tegangan dengan sudut fase 900 (contoh prinsip). Untuk memotivasi siswa dilakukan eksperimen seperti : merangkai, sirkuit untuk mengamati resonansi.

DAFTAR PUSTAKA

Abraham R. Michael and Renner W. John. 1986. The Sequence of learning Cycle Activities in High School Chemestry. Journal of Research in Science Teaching.

Amien, Moh. 1987, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan metode Discovery Inquiry. Jakarta : Depdikbud.

Dahar, Ratna Wilis. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga.

Debdikbud. 1994. Kurikulum Sekolah Menengah Umum dan GBPP Mata Pelajaran Fisika. Jakarta : Depdikbud.

Carin. Arthur A. 1993. Teaching Modern Science. Sixth. Edition, New York : (Macmillan Publishing Company).

Gredler, Margaret E. Bell (terj : Munandir). 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada .

Nur, Mohammad dan Wikandari, Prima Retno. 1998 . Pendidikan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pembelajaran, Surabaya : IKIP Surabaya.

Slavin, Robert E. 1994. Educational Psychology Theori Into Practices Fourt Edition. Boston : Allyn and Bacon Publishers.

Soekanto, Toeti dan winata Putra, Udin Saripudin. 1996. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius.

Woolfolk. A Nita E. 1995. Educational Psychology, Sich edition. Needdham Heights : Allyn and Bacon Publishers.


Malang, 2005

Share this article :
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. sujito4um - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger