Ramadhan Bil Hikmah


Puji syukur sudah selayaknya kita panjatkan kehadirat Illahi, sebab atas kemurahan-Nya kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, bulan yang penuh ampunan dan bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Ramadhan adalah salah satu bulan diantara dua belas bulan Hijriyah. Secara fisik, tidak ada beda antara Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Perbedaan sesungguhnya terletak pada pemaknaan atasnya yang bisa terkait dengan momentum sejarah, bisa juga karena secara sengaja telah ditetapkan oleh Sang Pencipta dimana kita disunnahkan untuk memuliakannya. Ramadhan selain disengaja oleh Allah untuk disucikan dan dimuliakan, di dalamnya juga terdapat berbagai peristiwa sejarah yang sangat monumental. Sejarah itu tidak saja terjadi pada Rasulullah salallaahu 'alaihi wa sallam, tapi juga pada masa-masa kenabian jauh sebelumnya.

Dalam beberapa hadits dan keterangan yang lain disebutkan bahwa semua kitab suci diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan. AL-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhil-Mahfudz ke langit dunia di bulan ini, kemudian dari sana diturunkan secara berangsur-angsur mengikuti keadaan dan kejadian selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Selain itu, Nabi Ibrahim a.s menerima shuhufnya pada hari pertama atau ketiga. Nabi Daud a.s juga menerima kitab Zabur pada hari kedua belas atau delapan belas bulan yang sama. Demikian juga Nabi Musa As dan Nabi Isa As, masing masing menerima suhufnya pada hari keenam, dan hari keduabelas atau ketigabelas pada bulan ini juga.

Menyambut Ramadhan
Kesengajaan itu dalam berbagai tafsir dijelaskan semata-mata ditujukan untuk mensucikan dan memuliakannya. Memang, ada empat bulan lain yang dimuliakan Allah, tapi Ramadhan tetap menempati urutan teratas. Bukan hanya karena momentumnya, tetapi terlebih karena Allah Swt menjanjikan berbagai bonus dan diskon istimewa. Karena alasan itulah, jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw telah menyambutnya.

Bulan Sya'ban adalah bulan persiapan. Sejak bulan ini, Rasulullah menganjurkan agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan "tamu mulia" ini. Adapun cara yang dilakukan adalah dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum. Yang belum terbiasa shaum pada hari Senin dan Kamis, diharapkan pada bulan Sya'ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu, cukup dengan tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental sekaligus fisik dalam menghadapi bulan yang disucikan tersebut.

Sebagai seorang Muslim yang akan memasuki arena Ramadhan, hendaknya pada bulan ini mempersiapkan diri dalam menghadapi suasana indah Ramadhan. Suasana itu tergambar dalam hati dan terukir dalam benak pikiran. Kehadiran bulan mulia tersebut senantiasa dirindukan dan dinanti-nantikan. Ibarat orang berada dalam penjara yang selalu menghitung hari pembebasannya, maka setiap hari sangatlah berarti. Begitulah gambaran seorang Muslim, terutama para sahabat Nabi di masa yang lalu.

Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat yang menyala-nyala. Ada sebuah tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban, para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini, kebiasaan Rasulullah dan para sahabat tersebut perlu dihidupkan lagi. Biarlah hari raya 'Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan "selamat" adalah kebiasaan baik yang ditradisikan Rasulullah. Dengan demikian, mestinya ummat Islam lebih serius mengirim kartu Ramadhan daripada kartu lebaran.

Berikut ini adalah contoh pesan yang disampaikan Rasulullah dalam kutbahnya menyambut Ramadhan:

"Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam dimana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari; dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari.

Barang siapa yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikan-kebaikan pada bulan ini maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti jika dia menunaikan suatu ibadah di bulan-bulan lain pada tahun itu. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapatkan tujuh puluh kali lipat ganjaran orang yang melakukan ibadah di bulan bulan lain pada tahun itu.

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran yang sejati adalah surga. Inilah bulan yang penuh simpati terhadap sesama manusia; ini juga merupakan bulan di mana rizqi seseorang ditambah. Barangsiapa memberi makan orang lain untuk berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan dijauhkan dari api neraka, dan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang diberinya makan untuk berbuka puasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.

Kami (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, tak semua orang di antara kami mempunyai cukup persediaan untuk memberi makan orang lain yang berpuasa. Rasulullah Saw menjawab, Allah memberikan pahala yang sama bagi orang yang memberi orang lain yang sedang berpuasa sebuah kurma dan segelas air minum atau seteguk susu untuk mengakhiri puasanya.

Inilah bulan yang bagian awalnya membawa keberkahan dari Allah Swt, bagian tengahnya membawa ampunan Allah, dan bagian akhirnya menjauhkan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Dan pada bulan ini ada empat perkara yang harus kalian lakukan dalam jumlah besar, dua di antaranya adalah berbakti kepada Allah, sedang dua lainnya adalah hal-hal yang tanpa itu kamu tidak akan berhasil. Berbakti kepada Allah adalah membaca syahadat yang berarti kamu bersaksi akan keesaan Allah. La ilaaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah) dan memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan. Sedangkan dua hal lainnya yang tanpa itu kalian tak akan berhasil adalah kalian harus memohon kepada Allah untuk dapat masuk surga dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari api neraka.

Dan barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari sumber airku, air yang jika diminum tak akan pernah membuatnya haus hingga pada hari dia memasuki surga" (Bukhari-Muslim).

Diperlukan kepeloporan dari kita semua untuk memulai tradisi baru dalam menyambut Ramadhan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kita perlu sedikit kreatif untuk memulainya. Ide-ide baru juga perlu dimunculkan untuk menggagas kegairahan ummat dalam menyambut bulan suci tersebut. Perlu ada energi khusus untuk mengalihkan pusat perhatian ummat yang hanya tertuju pada hari raya kepada bulan Ramadhan. Hal ini bukan pekerjaan ringan, karena kebiasaan yang ada saat ini sudah mendarah mendaging.

Ziarah Kubur
Tidaklah salah bila seseorang ziarah kubur saat menjelang Ramadhan sebagaimana berziarah kubur di hari-hari yang lain. Hanya saja tradisi itu perlu diluruskan dengan memberi pemahaman kepada mereka tentang tata cara ziarah kubur terutama tujuannya. Jangan sampai mereka salah niat dan tujuan. Jangan pula salah tata cara. Ini penting karena menyangkut "Aqidah" sebagai seorang muslim.

Perlu juga dipahamkan, mengapa mereka lebih menyukai ziarah kepada orang yang sudah mati, sedangkan kepada orang yang masih hidup mereka enggan untuk men”ziarahi”nya. Padahal yang masih hidup itu bisa jadi adalah orang tua mereka sendiri, paman-bibi, saudara-saudara, dan handai taulannya sendiri. Menziarahi kubur orang yang sudah mati itu baik, tapi men”ziarahi” orang yang masih hidup jauh lebih dianjurkan lagi. Tujuan ziarah kubur untuk mengingatkan kita akan kematian. Sedangkan tujuan ziarah kepada orang yang masih hidup adalah untuk menyambung "silaturrahim" yang intinya adalah untuk menjaga kalangsungan hidup itu sendiri.

Rasulullah menganjurkan pada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasehat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan yang berisi tiga hal di atas.

Makna Ibadah Puasa
Pada bulan ini kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dan Allah SWT telah menjadikan shalat tarawih pada malam harinya sebagai sunnah. Hal tersebut benar-benar ditegaskan rasulullah sehingga semua imam madzhab sepakat bahwa Shalat Tarawih adalah sunnah. Kemudian rasulullah menganjurkan untuk melaksanakan ibadah fardhu dan sunnah-sunnah lainnya. Diterangkan pula bahwa pahala mengerjakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan disamakan dengan pahala mengerjakan amalan wajib pada bulan lainnya, sedangkan pahala mengerjakan amalan wajib pahalanya sama dengan mengerjakan tujuh puluh amalan wajib di luar Ramadhan.

Dari berbagai ibadah dalam Islam, puasa di bulan Ramadhan barangkali merupakan ibadat wajib yang paling mendalam bekasnya pada jiwa seorang Muslim. Pengalaman selama sebulan dengan berbagai kegiatan yang menyertainya seperti berbuka, tarawih dan makan sahur senantiasa membentuk unsur kenangan yang mendalam di hati seorang Muslim. Maka dari itu ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang Muslim, dan menjadi sarana pendidikannya di waktu kecil dan seumur hidup.

Oleh karenanya, dalam bulan ini, kita mesti memikirkan tentang keadaan ibadah kita. Kita memerlukan amalan shalih, sehingga dalam bulan yang penuh dengan keberkahan ini sudah seharusnya memikirkan seberapa jauh perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan-amalan sunnah.

Pendidikan Tentang Kesucian
Menurut para ahli, puasa merupakan salah satu bentuk ibadat yang paling mula-mula serta yang paling luas tersebar di kalangan umat manusia. Bagaimana puasa itu dilakukan, dapat berbeda-beda dari satu umat ke umat yang lain, serta dari satu tempat ke tempat yang lain. Bentuk puasa yang umum selalu berupa sikap menahan diri dari makan dan minum serta dari pemenuhan kebutuhan biologis. Juga ada puasa berupa penahanan diri dari bekerja, malah dari berbicara. Puasa berupa penahanan diri dari berbicara dituturkan dalam Al-Qur'an pernah dijalankan oleh Maryam, ibunda Nabi Isa al-Masih. Karena terancam akan diejek oleh masyarakatnya bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan keji (sebab ia telah melahirkan seorang putera tanpa ayah), maka Allah memerintahkannya untuk melakukan puasa dengan tidak berbicara kepada siapapun juga.

Pokok amalan (lahiriah) puasa ialah pengingkaran jasmani dan ruhani sukarela dari sebagian kebutuhannya, khususnya dari kebutuhan yang menyenangkan. Pengingkaran jasmani dari kebutuhannya, yaitu makan dan minum, dapat beraneka ragam. Kaum Muslim berpuasa dengan menahan diri dari makan dan minum itu secara mutlak (artinya, semua bentuk makanan dan minuman dihindari, tanpa kecuali), sejak dari fajar sampai terbenam matahari.

Nampak bahwa ibadah puasa memang sangat berkaitan dengan ide latihan atau riyadlah (exercise), yaitu latihan keruhanian menuju ke hal-hal yang makin baik dan utama, karena semakin kuat membekas pada jiwa dan raga orang yang melakukannya. Sebuah Hadits menuturkan tentang adanya firman Allah (dalam bentuk Hadits Qudsi): "Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberinya pahala."

Berkaitan dengan hal ini Ibn al-Qayyim al-Jawzi memberi penjelasan bahwa puasa itu berbeda dari amal-amal yang lain dan hanya untuk Allah seru sekalian Alam. Sebab seseorang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu apa pun melainkan meninggalkan syahwatnya (makanannya dan minumannya) demi sesembahannya (Ma'budu), yakni Allah. Orang itu meninggalkan segala kesenangan dan kenikmatan dirinya karena lebih mengutamakan cinta Allah dan ridla-Nya. Puasa itu rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang orang lain tidak mampu melongoknya. Sesama hamba mungkin dapat melihat seseorang yang berpuasa meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan makan, minum, dan syahwatnya demi Sesembahannya, maka hal itu merupakan perkara yang tidak dapat diketahui sesama manusia. Itulah hakikat puasa. (Dar al-Fikr I, 1973:154).

Begitulah puasa. Yang mempunyai nilai pendekatan kepada Allah bukanlah penderitaan lapar dan dahaga itu an sich, melainkan rasa taqwa yang tertanam melalui hidup penuh prihatin itu. Dengan perkatauan lain, Tuhan tidaklah memerlukan puasa kita seperti keyakinan mereka yang memandang Tuhan sebagai obyek sesajen atau sakramen. Puasa adalah untuk kebaikan diri kita sendiri baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang lebih luas.

Jadi salah satu hakikat ibadah puasa ialah sifatnya yang pribadi atau personal, dan merupakan rahasia antara seorang hamba dengan penciptanya (Allah). Segi kerahasiaan itu merupakan letak dan sumber hikmah yang kerahasiaannya terkait erat dengan makna keikhlasan dan ketulusan. Antara puasa yang sejati dan puasa yang palsu hanya dibedakan oleh, -misalnya seteguk air yang dicuri minum oleh seseorang ketika ia berada sendirian.

Seorang tokoh pemikir Islam modern lain, Ali Ahmad Al-Jurjawi, dalam uraiannya tentang hikmah puasa menyatakan bahwa puasa merupakan sebagian dari sepenting-pentingnya syar’i (manifestasi religiositas) dan seagung-agung amalan dalam mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana tidak, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dan Allah yang tidak termasuki oleh sikap pamrih. Seseorang yang berpuasa menahan diri dari syahwat dan kesenangan sebulan penuh, dibalik itu ia tidak mengharapkan apa-apa kecuali Wajah Allah Ta'ala. Tidak ada pengawas atas dirinya selain Dia. Maka hamba itu mengetahui bahwa Allah mengawasinya dalam kerahasiaan (privacy) dan dalam keterbukaan (publicity). Maka ia pun merasa malu untuk melanggar larangan-Nya dengan mengakui dosa, kezaliman, dan pelanggaran larangan (yang pernah ia lakukan). Ia merasa malu jika nampak oleh-Nya, bahwa ia mengenakan baju kecurangan, penipuan dan kebohongan. Karena itu ia tidak berpura-pura, tidak mencari muka, dan tidak pula bersikap mendua (munafik). Ia tidak menyembunyikan persaksian kebenaran karena takut kekuasaan seorang pemimpin atau pembesar.

Uraian tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke-MahaHadir-an (omnipresence) Allah. Kesadaran inilah yang melandasi ketaqwaan atau merupakan hakikat ketaqwaan itu, dan yang membimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Dengan begitu dapat diharapkan bahwa seseorang akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur, bersikap amanah, fathonah, dan ber-akhlaq karimah. Kesadaran akan hakikat Allah yang Maha Hadir itu dan konsekuensinya yang diharapkan dalam tingkah laku manusia.

Puasa dan Tanggungjawab Kemasyarakatan
Dari uraian singkat di atas, dapat diambil pemahaman bahwa puasa merupakan suatu hal yang pertama dan utama dalam menghadirkan dan menghayati pendidikan tanggungjawab pribadi. Ia bertujuan mendidik agar kita mendalami keinsyafan akan Allah yang selalu menyertai dan mengawal kita dalam setiap saat dan tempat. Atas dasar keinsyafan itu hendaknya kita tidak menjalani hidup ini dengan santai, enteng dan remeh, melainkan dengan penuh kesungguhan dan keprihatinan sebab apapun yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan kepada Khaliq kita secara pribadi.

Ini semua, tentu sudah sejajar dengan berbagai penegasan dalam Islam bahwa manusia dihargai dalam pandangan Allah menurut amal perbuatan berdasarkan taqwanya, suatu ajaran tentang orientasi prestasi yang tegas, dalam pengertian pandangan bahwa penghargaan kepada seseorang didasarkan kepada apa yang dapat diperbuat dan dicapai oleh seseorang.

Sebaliknya Islam melawan orientasi prestise, yaitu pandangan yang mendasarkan penghargaan kepada seseorang atas pertimbangan segi-segi askriptif seperti faktor keturunan, daerah, warna kulit, bahasa dll. Orientasi prestasi berdasarkan kerja ini kemudian dikukuhkan dengan ajaran tentang tanggung jawab yang bersifat mutlak pribadi di akhirat kelak.

Sedemikian jauh kita mencoba melihat hikmah ibadah puasa sebagai sarana pendidikan Ilahi untak menanamkan tanggungjawab pribadi. Tetapi justru pengertian "tanggungjawab" itu sendiri mengisyaratkan adanya aspek sosial dalam perwujudan pada kehidupan nyata di dunia ini. Dan sesungguhnya tanggungjawab sosial adalah sisi lain dari mata uang logam yang sama, dimana sisi pertamanya ialah tanggungjawab pribadi. Ini berarti bahwa dalam kenyataannya kedua jenis tanggungjawab itu tidak bisa dipisahkan, sehingga tidak ada salah satu dari keduanya akan mengakibatkan peniadaan yang lain.

Zakat
Oleh karena itu, para ulama senantiasa menekankan bahwa salah satu hikmah ibadah puasa ialah penanaman rasa solidaritas sosial. Hal ini dengan mudah dapat dibuktikan dalam kenyataan, yaitu ibadah puasa selalu disertai dengan anjuran untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama dalam bentuk tindakan menolong, meringankan beban kaum fakir miskin, yaitu zakat, sedekah, infaq, dll.

Dari sudut pandang itulah kita harus melihat kewajiban membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan, terutama menjelang akhir bulan, sebagai konsep kesucian asal pribadi manusia yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Karena itu zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang sangat langsung dan jelas. Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat atau "sedekah" (shadagah, secara etimologis berarti "tindakan kebenaran") pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup seperti al-riqab (mereka yang terbelenggu, yakni, para budak; dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh "kemiskinan struktural") dan al-gharimun (mereka yang terbeban berat hutang), serta ibn al-sabil (orang yang terlantar dalam perjalanan), demi usaha ikut meringankan beban hidup mereka.

Sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial, seperti sasaran amil atau panitia zakat sendiri, kaum mu'allaf, dan sabil-Allah ("sabilillah", jalan Allah), kepentingan masyarakat dalam artian yang seluas-luasnya.

Ibadah puasa selama sebulan itu diakhiri dengan Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri (Id-al-fithr, "Siklus Fitrah"), yang menggambarkan tentang saat kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun, dan setelah pensucian diri dosa itu melalui puasa. Dalam praktek yang melembaga dan mapan sebagai adat kita semua, manifestasi dari Lebaran itu ialah sikap-sikap dan perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya.

Dimulai dengan pembayaran zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir miskin, diteruskan dengan bertemu sesama anggota umat dalam perjumpaan besar pada shalat Id, kemudian dikembangkan dalam kebiasaan terpuji silaturahmi kepada sanak kerabat dan teman sejawat, keseluruhan manifestasi Lebaran itu menggambarkan dengan jelas aspek sosial dari hasil ibadah puasa. Bersyukur atas nikmat-karunia yang merupakan hidayah Allah kepada kita itu maka pada hari Lebaran kita dianjurkan untuk memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan kita. Petunjuk Nabi dalam berbagai Hadits mengarahkan agar pada hari Lebaran tidak seorang pun tertinggal dalam bergembira dan berbahagia, tanpa berlebihan dan melewati batas.

Karena itu, zakat fitrah sebenarnya lebih banyak merupakan peringatan simbolik tentang kewajiban atas anggota masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yang terdiri dari para fakir miskin. Dari segi jumlah dan jenis materialnya sendiri, zakat fitrah mungkin tidaklah begitu berarti. yang lebih asasi adalah maknanya sebagai lambang solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan.

Dengan kata lain, zakat fitrah adalah lambang tanggung-jawab kemasyarakatan kita yang merupakan salah satu hasil pendidikan ibadah puasa, dan yang kita menifestasikan secara spontan. Tetapi, sebagai simbol dan lambang, zakat fitrah harus diberi substansi lebih lanjut dan lebih besar dalam seluruh aspek hidup kita sepanjang tahun, berupa komitmen batin serta usaha mewujudkan masyarakat yang sebaik-baiknya, yang berintikan nilai Keadilan Sosial.

Share this article :
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. sujito4um - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger