Kecerdasan Spiritual Puasa

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang "Kecenderungan Manusia". Penulis hanya inign mengajak pembaca yang budiman untuk tidak hanya sekedar memahami dan memaknai puasa sebagai ibadah. Tetapi lebih dari itu, puasa merupakan upaya umat manusia untuk lebih memaknai kehidupan ini dengan keimanan dan ketaqwaan yang sebenarnya. Taqwa yang tidak hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tetapi bagaimana implementasi keimanan dan ketaqwaan itu dalam memahami dan memaknai kecenderungan manusia dalam menjalani hidup sehari-hari.  
Ingin kaya adalah fitrah manusia. Senang melihat wanita cantik adalah juga fitrah. Senang melihat pria tampan juga merupakan fitrah manusia. Ingin punya segala fasilitas hidup juga merupakan fitrah manusia. Semua keinginan yang membuat manusia nyaman juga fitrah manusia, dan semua itu adalah wajar dan manusiawi. Hanya saja, jika cara dan metode yang digunakan tidak sesuai dengan syariat, maka hal itu akan menjadi bencana yang membahayakan kehidupan manusia.

Wajar sebab manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan segala fasilitas hidup guna memudahkan kehidupannya. Hal ini memapu meningkatkan kekuatan yang ada pada manusia, baik kekuatan fisik maupun non fisik. Secara fisik, manusia punya keinginan untuk tampil prima, kemudahan untuk menjalani kehidupan, dan segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani. Secara non fisik, keinginan untuk hidup tenang, damai dan bahagia merupakan salah satu komponen guna menjalani hidup.

Allah yang menciptakan manusia merupakan dzat yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Tahu dan Maha dari segala-galanya. Sebagai dzat yang Maha Tahu, Allah mengetahui atas kekurangan dan kelebihan dari hamba-hamba-Nya. Agar manusia tidak larut dan terjerembab dalam jalur kesalahan dan kesesatan, maka Allah memfasilitasi dengan berbagai perisai. Salah satu perisai yang diberikan Allah dan saat ini kita jalani adalah Ibadah Puasa.

Puasa yang kita jalani, dan merupakan kewajiban bagi setiap insan yang beriman pada Allah dan rosulnya. Demi menjalani ibadah ini, manusia rela untuk tidak makan, minum dan melakukan hubungan suami isteri pada waktu siang hari selama satu bulan penuh. Pada kondisi yang demikianlah, tampak keindahan islam tanpa menafikan kenikmatan yang ada dengan melarang manusia untuk berbuat melampaui batas. Allah menunjukkan pada manusia sesuatu yang lebih berharga dari dunia sehingga tidak tenggelam dalam arus kenikmatan dunia. Dengan demikian, manusia menjadikan nikmat itu sebagai sarana untuk lebih banyak taat pada Allah SWT.

Pada kondisi yang demikianlah, syariat islam berusaha untuk mendidik, merawat dan meninggikan kedudukan fitrah manusia. Islam mengajak manusia untuk mengendalikan seluruh nikmat itu dengan hanya mendudukkan sebagai sarana untuk lebih banyak taat pada Allah SWT tanpa membekukannya dan mematikannya.

Puasa melatih manusia untuk peka terhadap lingkungan. Puasa melatih orang untuk menata ego. Dengan puasa berubahlah keangkuhan manusia menjadi manusia yang tawadhlu dan peduli. Dengan puasa pula, maka manusia akan menyadari tujuan hidup yang sebenarnya hingga pada titik nadir akan melahirkan akhlak yang luhur yang menghiasi amal sehari-hari. Puasa akan mendatangkan iman dan kepekaan yang mendalam hingga mampu melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup serta memperhalus budi pekerti. Dari titik-titik yang demikianlah, maka derajat manusia akan terjaga dan terus terangkat. Ia tidak sekedar makhluk seperti hewan, tetapi makhluk yang beriman dan bertaqwa dan berkedudukan sebagai hamba Allah.

Adanya kecerdasan yang demikian, maka manusia akan mampu mengendalikan nafsu bukan mengumbarnya atau membunuhnya. Pengetahuan akan hakikat perintah dan larangan akan mampu mengarahkan kearah yang positif sekaligus mampu mengendalikannya sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan amal yang mengandung nilai-nilai negatif. 

Pada kasus yang lain, kecerdasan spiritual yang demikian akan mampu mengantarkannya pada ketabahan dan kesabaran diri dalam menghadapi segala tantangan dan ujian. Hal ini tentunya selaras dan seirama dengan tuntutan berkaitan dengan puasa. Rasulullah mengajarkan bahwa tuntutan berpuasa adalah menahan amarah, tidak mengucapkan kata-kata kotor, tidak memaki. Jika ada yang memaki maka kita disuruh untuk menyatakan bahwa “aku sedang berpuasa”. Dengan demikian, maka dengan berpuasa maka kita dituntut untuk berperilaku dan berbicara serta bertindak pada waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan kadarnya. Akhirnya, sebagai output terakhir dari berpuasa adalah kita akan tampil sebagai manusia yang bertaqwa, kita akan tampil sebagai manusia yang berakhlak mulia. Manusia menjadi mulia tidak hanya dihadapan sesame manusia, tetapi juga dihadapan Allah SWT.
Share this article :
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. sujito4um - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger