<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009</id><updated>2012-02-16T13:30:24.990+07:00</updated><category term='Belajar Agama'/><category term='Pendidikan'/><category term='Kenangan'/><category term='Humanisme Islam'/><category term='Refleksi Sosial'/><category term='Budaya'/><title type='text'>sujito4um</title><subtitle type='html'>Pendidikan adalah Jalan Menuju Kemuliaan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>100</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3450779734216299111</id><published>2012-01-21T00:16:00.003+07:00</published><updated>2012-01-23T12:07:31.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembaca Yang Budiman…..&lt;br /&gt;Pengalaman dari seorang ibu di panti (bagian 1) mampu memberikan gambaran yang penulis alami tentang diri ini. Satu hal yang tidak bisa saya lupa adalah perhatian yang luar biasa dari orang tua. Di tengah malam ini, saya dibuat menangis ketika mengingat apa yang sudah dilakukan oleh sosok wanita yang saya panggil mbok (ibu). Menghadapi kejadian ini, nurani saya berteriak keras dan lantang (silahkan jika pembaca menghakimi saya cengeng). Namun demikian, meski jiwa ini berada dalam kegalauan (kalut dan gelisah), tetapi tetap harus merepresentasikan diri yang kuat, lembut, dan santun. Bagi saya, ini berarti saya ingin menjalani kehidupan ini dengan target-target hidup sesuai dengan petunjuk-Nya. Maaf, saya tidak menjadikan target-target tersebut sebagai tujuan hidup sebab tujuan hidup manusia sudah jelas, yaitu mempersiapkan diri menghadap Illahi Rabbi. Semua kulakukan atas dasar bahwa diri ini dipenuhi stamina yang kuat dan mempesona sekaligus keinginan yang menggelora agar hidup menjadi lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman…..&lt;br /&gt;Maaf, mari belajar sedikit berfilosofi. Sungguh, kita tidak dapat mangkir atau menghindar dari realita bahwa perjalanan hidup manusia selalu dihadapkan pada berbagai pilihan yang bisa berdampak pada kehidupan kita selanjutnya. Realita yang ada dalam hidup harus kita hadapi. Namun, hidup yang dimaksud bukanlah sekedar menjalani rutinitas keseharian semata, tetapi mencakup peristiwa kelahiran dan kematian. Karena itu, jika hidup ini diawali dengan kepastian bahwa kelahiran bukanlah pilihan pribadi, dan diakhiri dengan misteri kematian yang menyisakan ketidakpastian bahwa ia merupakan pilihan, masihkah dapat dikatakan bahwa hidup adalah pilihan? Menurut saya, ini menjadi kesimpulan yang saya ambil ketika memikirkan apa itu hidup secara utuh. Utuh yang berarti mencakup keseluruhan proses dari kelahiran hingga kematian. Suatu proses dalam pemaknaan lahir dan juga batin, materi dan non materi. Sebagai suatu proses, -bagi fokus persoalan di sini- sudah seharusnya membicarakan hidup sebagai yang ber-awal dan ber-akhir; yaitu proses yang dipikirkan mulai dari peristiwa kelahiran hingga kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, untuk bisa menentukan dengan baik tentang kehidupan yang akan datang, maka kita harus mengetahui dan memahami tentang diri kita sendiri; dimana dan kemana kita akan pergi; apa sebenarnya yang ada dalam angan-angan; apa yang perlu kita perjuangkan kedepan; apa dan mengapa kita pergi ke”sana”. Dengan begitu, maka kita akan mempunyai keyakinan untuk membuat sebuah perencanaan bagi diri kita, khususnya menentukan dengan siapa kita akan menuju ke”sana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman……&lt;br /&gt;Kesimpulan ini, sebagaimana kesimpulan anda yang mungkin berbeda dengan saya, tentu mempunyai konsekuensi yang berbeda mengenai pokok-pokok pemikiran lain yang berkaitan. Misalnya, hidup dan kehidupan setelah masa sekarang (masa yang akan datang). Bagaimana kita memaknai kehidupan yang akan datang setelah kehidupan sekarang ini. Masa depan tentu berkaitan dengan bagaimana kita memaknai hidup di dunia saat ini. Jika hidup yang sekarang hanya sekedar pilihan secara pribadi, bagaimana dengan kehidupan nanti itu? Apakah ia hanya bergantung pada pilihan-pilihan sendiri? Di alam dunia saja, tidakkah kedepan kita masih membutuhkan orang lain yang berada di sekitar kita? Bapak mungkin, ibu mungkin, saudara mungkin, kerabat mungkin, teman juga mungkin, hingga kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya itu adalah bagian dari diri kita. Mungkin ada baiknya merenungkan kembali kehidupan yang di “sana” saat sekarang ini sebelum kita mengalaminya tanpa bisa menolak sebagaimana kita tidak bisa menolak mengenai kelahiran dan jenis kelamin kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi ini (mengulang apa yang pernah penulis tulis), kita menjalani hidup demi menemukan jawaban terhadap diri sendiri. Membangun sebuah pengertian, pemahaman, dan implementasi tentang nilai-nilai etika dan estetika, sikap saling menghargai dan menghormati. Pada akhirnya, harapan yang terangkum dalam doa di setiap doa adalah bagaimana melahirkan nilai-nilai positif guna menemukan sebuah teka teki hidup tentang siapa, untuk apa, dimana, kemana, mengapa, dan masih banyak yang perlu ditemukan jawaban. Hal itu akan terjawab manakala masih mendapat anugerah dan hidayah-Nya untuk menyadari kegairahan hidup. Semoga…..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman……&lt;br /&gt;Dengan petunjuk Allah itu, maka kita menentukan aliran hidup masa depan kemudian menjalaninya dengan sabar, ikhlas, istiqomah, professional dan diakhiri dengan tawakkal. Jadi tidak tepat jika orang mengatakan hidup adalah pilihan. Sebagai seorang muslim tidak selayaknya menyatakan seperti itu. Sebab hidup bukan pilihan. Pilihan kita semata-mata hanya menyembah pada Allah. Pada akhirnya, hidup bukan pilihan, tetapi menjalani apa yang sudah dipilihkan oleh Allah melalui petunjuk-petunjuk-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trimakasih untuk adikku yang telah mengingatkanku..... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3450779734216299111?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3450779734216299111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3450779734216299111&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3450779734216299111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3450779734216299111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2012/01/semua-ada-padamu-hidup-bukan-pilihan-2.html' title='Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 2'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7627333084729657359</id><published>2012-01-18T00:34:00.002+07:00</published><updated>2012-01-18T00:38:26.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembaca Yang Budiman…..&lt;br /&gt;Maaf…Tulisan ini bermula dari sebuah kejadian yang penulis alami. Suatu hari ketika penulis berkunjung ke panti jompo (tempat penitipan orang tua), saya pernah ditanya oleh seorang ibu yang sudah tua. Ia bertanya “Nak, pernahkah kamu merasakan bahagia?” awal mula saya jawab dengan lugas dan jelas, “Pernah nek”. Kemudian dia melanjutkan pertanyaan itu “Apa yang dinamakan dan dirasakan dengan bahagia?” Sungguh, sebuah pertanyaan yang membuat saya tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Bagaimana saya harus menjawab. Dilema bagi saya saat itu. Mau menjawab, saya takut tidak memberi kepuasaan atas pertanyaannya. Akhirnya, saya mohon si ibu untuk bercerita, kenapa timbul pertanyaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menangis berceritalah ibu tersebut tentang kisah perjalanan hidupnya. Berdasarkan cerita si ibu, saya jadi paham yang dialaminya. Ternyata si ibu ditinggal anak satu-satunya yang pergi mengikuti pasangannya merantau. Cerita ibu tadi mengingatkan saya pada sebuah kisah yang saya alami. Apa yang saya pahami mengenai sedikit kebahagiaan, mungkin masih terlalu sempit. Namun, setidaknya ada landasan yang bisa saya ambil baik dalam kenyataan, impian maupun untuk impian yang akan datang. Dalam keadaan sebagaimana yang dialami ibu tersebut, saya hanya bisa mengatakan padanya “ternyata tiap tetesan butir-butir air yang mengalir di pipi menyimpan berjuta-juta kenangan yang mungkin tak bisa diluapkan ke dalam rangkaian kata, namun hanya bisa dirangkai dalam “bingkai” kenangan yang tak mungkin terulang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman…!&lt;br /&gt;Maaf berdasarkan apa yang saya pelajari, pertanyaan ibu tersebut mengarah pada pemahaman tentang rasa dalam kehidupan. Pemahaman saya memberikan deskripsi tentang kebahagiaan sejati adalah menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang dipilihkan Allah dengan penuh keikhlasan. Hal ini dikarenakan saat Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia, Allah membekali dengan akal sebagai sesuatu yang membedakan manusia dengan binatang. Dengan akal, manusia diwajibkan untuk mempelajari petunjuk-petunjuk Allah guna menegakkan sebuah peradaban. Petunjuk yang diberikan oleh Allah begitu jelas dan terang, Quran dan Sunnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk diberikan Allah karena manusia mempunyai nafsu dan ego. Dua sifat yang menempel pada manusia ini pada dasarnya merusak jati diri manusia. Oleh karena itu, terasa aneh jika manusia dengan hawa nafsunya, keegoannya, pemahamannya, mencoba membuat rambu-rambu atau tanda-tanda mungkin juga petunjuk-petunjuk sendiri untuk menggapai kehidupan. Apalagi hal itu dilakukan oleh seseorang yang tidak berusaha mendekat Allah, tetapi merasa begitu dekat dengan Allah. Jika hal ini terjadi, maka yang terjadi bukan menegakkan kebenaran tapi mereka membuat pembenaran-pembenaran terhadap apa yang dilakukan sehingga akan larut dalam kemunafikan. Allah telah menunjukkan konsep kehidupan melalui Al-Qur’an yang dijelaskan dalam hadits Nabi. Dan kita sebagai manusia patut dan harus selalu meminta petunjuk-Nya. Dalam Al-Fatihah ayat ke-5 jelas hanya pada Allah lah kita meminta petunjuk, bukan pada selain Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca Yang Budiman…..&lt;br /&gt;Yang harus dilakukan adalah meminta petunjuk-Nya, kemudian pasrah akan apa yang ada dan dialami. Dengan demikian, kita akan mampu untuk menggoreskan tinta kehidupan dengan menggerakkan emosi yang mengalir dalam deretan sang waktu. Kegelisahan, kejengkelan dan luapan emosi mengalir dalam diri dengan menorehkan nyanyian irama kehidupan. Ungkapan itu merupakan sebuah ekspresi kehidupan dengan langkah elementer yang bila tiap nafas penuh dengan rasa syukur, maka kita akan mampu menjalani hidup dengan ikhlas yang melahirkan sebuah fenomena keindahan hidup. Dan kebermaknaan hidup yang demikian, hanya dapat dicapai manakala kita bisa menjadi diri sendiri tanpa menjadi diri orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi yang demikian, maka dengan mendasarkan pada petunjuk-petunjuk dari-Nya kita akan mampu memanagement diri untuk menyusun perencanaan kedepan. Management diri dilakukan dengan tidak hanya berpikir untuk sekarang, tetapi lima hingga sepuluh langkah kedepan (kita mau seperti apa) sudah kita rencanakan mulai dari sekarang. Memang sikap menjalani kehidupan mengalir seperti air mengalir itu baik, akan tetapi hidup terencana demi masa depan tetap jauh lebih baik, sebab dengan begitu kita akan mampu meminimalisir resiko di masa yang akan datang.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca Yang Budiman…..&lt;br /&gt;Proses menjadi diri sendiri ini harus didorong etos kreatif untuk mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik. Potensi diri akan dibantu oleh pengetahuan dan proses pengalaman belajar yang diperoleh sesuai petunjuk Allah dalam menghadapi dilema. Pada saat itu, kehidupan akan menemui kesepian dengan memunculkan keharusan untuk memaknai kegelisahan hidup yang akan mendorong kesadaran batin untuk menelan pil pahit berbagai pengalaman. Pada akhirnya, kita akan mampu membedakan antara “aku” dan konsep ego ke-aku-an yang merupakan sebuah fenomena riil untuk menunjukkan personal diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada taraf yang demikian, maka kita akan mencapai level aktualisasi diri yang lebih manusiawi, lebih asli, dan tak terpengaruh oleh pesona lain meski berada pada suatu budaya tertentu dalam sebuah komunitas. Aktualisasi ini akan mampu menemukan jiwa/diri yang lepas dari kebutuhan penghargaan hingga memungkinkan untuk memberi ekspektasi tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan, kedamaian, keikhlasan dan nilai-nilai sejenis dalam memposisikan diri sebagai seorang manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersambung......&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7627333084729657359?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7627333084729657359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7627333084729657359&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7627333084729657359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7627333084729657359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2012/01/semua-ada-padamu-hidup-bukan-pilihan-1.html' title='Semua Ada Padamu : Hidup bukan pilihan 1'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8231935617484795664</id><published>2011-11-26T03:28:00.006+07:00</published><updated>2011-11-26T08:39:17.727+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Jangan Kau Hina Jika Kumenangis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhanku Maafkan aku…! &lt;br /&gt;Hingga saat ini, perasaan dan hati ini harus menahan kepiluan yang menyayat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, sebab sepertinya inilah jalan hidup (takdir) yang Engkau gariskan pada telapak tanganku. Haruskah aku memberontak terhadap apa yang Engkau takdirkan ini? Dengan cara apa aku harus menjalani? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku, Maafkan aku....! &lt;br /&gt;Sejak kecil hingga saat ini, Engkau selalu memberi kepilauan dan kepedihan pada hamba-Mu ini. Jalanku selalu penuh liku, kepedihan dan kegetiran hidup selalu Engkau tunjukkan dengan penuh Kebijaksanaan-Mu. Aku yang tidak bisa meninggalkan sesuatu begitu saja, Engkau paksa untuk mempelajari kehidupan ini. Sejak saat itu kumulai sedikit demi belajar dan terus belajar untuk bersabar terhadap pahit dan manisnya hidup ini. Kuakui, dengan begitu, kumulai belajar isi dari Kitab Sama’ yang Engkau ajarkan. Tetapi, haruskah aku berlindung dibalik suratan yang Engkau tulis dengan kalimat “Engkau akan menguji sesuai dengan kemampuan hamba-Mu?”.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, Ya Tuhanku....!&lt;br /&gt;Sekalipun cuma berdoa lantaran sedang berada di tempat yang berbeda, hati yang berbeda, dan dalam aliran darah yang berbeda. Aku akan tetap terus melangkah dengan kenakalan dan kekonyolan sikap yang kupunya. Namun, ya Tuhanku, aku tidak pernah meninggalkan harapanku pada-Mu. Dalam setiap langkahku, aku selalu berdoa pada-Mu dengan harapan yang penuh keyakinan agar aku menyadari segalanya demi masa depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, Ya Tuhanku....! &lt;br /&gt;Tujuan hidupku bukanlah kegembiraan. Karena jika itu salah dan menyalahi jalan-Mu maafkanlah aku. Aku berfikir demikian karena bisa jadi kegembiraan hanya menjadi tipu muslihat mimik wajahku jika tanpa diikuti dengan kebahagiaan. Jalanku menuju kebahagiaan itu telah terbuka lebar. Dimanapun dan kapanpun slalu kutemukan jalan itu karena aku tahu pada kondisi apapun disitu kutemukan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Kupahami tiap detail jalan itu, ranting-rantingnya dan dahan yang menaunginya selalu memberikan kesejukan dalam kehidupanku. Kulakukan dengan doa untuk doa selanjutnya, membasuh tangan untuk menyucikan diri. Aku hanya berharap pada-Mu ya Tuhanku, berilah diri ini kebahagiaan yang penuh dengan suka cita agar hidupku kedepan penuh dengan senyuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku ya Tuhanku….!&lt;br /&gt;Pada kondisi apapun aku selalu berusaha untuk menyunggingkan senyuman. Namun, aku masih belajar dan akan terus belajar untuk memahami kehidupan. Kupelajari betapa tenteramnya kedamaian, betapa indahnya kesabaran, betapa mulianya keikhlasan. Karena itu ya Tuhanku, bukalah pintu ampunan dan hidayah-Mu untukku. Berilah hati ini keikhlasan untuk menerima terhadap apa yang telah Engkau takdirkan dalam hidupku….&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku ya Tuhanku……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 24 Agustus 2011, 02.30 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8231935617484795664?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8231935617484795664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8231935617484795664&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8231935617484795664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8231935617484795664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/11/jangan-kau-hina-jika-kumenangis.html' title='Jangan Kau Hina Jika Kumenangis'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-9195786200667795843</id><published>2011-11-01T03:12:00.001+07:00</published><updated>2011-11-07T18:24:58.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Semua Ada Padamu : Mendung Bergelayut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini terangkai lebih karena kecintaanku pada Tuhan yang berada di singgasana kedamaian. Kecintaan itu telah menghadirkan sebuah gelora jiwa terhadap sesama dengan inspirasi sapaan-Nya. Sebuah kekuatan batin yang tergerak karena dorongan aliran cinta, kasih dan sayang yang dianugerahkan oleh-Nya. Energi cinta yang mengalir dalam darah menggelora dan terbungkus oleh kenaifan sebuah harapan. Namun, hal ini sekaligus menginspirasi untuk menyampaikan sapaan Allah demi sebuah cinta kasih. Selanjutnya, bertindak menuju pelabuhan harapan yang terbentang penuh kedamaian dengan kesederhanaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapaan yang demikian menjadikan hidup ini semakin teduh, bahkan mampu menyuguhkan perubahan-perubahan dengan terobosan mutakhir dan terdepan. Hal ini menjadikan rangkaian cinta itu mengkristal bak gunung yang menjulang menuju makna kontekstual hidup. Bersamanya menjadi terbaik dari yang baik. Dengannya melakukan hal gila hingga penuh dengan rasional. Mengikutinya bisa merasakan dari hal yang paling menyakitkan hingga paling membahagiakan. Didalamnya penuh keindahan, kedamaian dan kelimpahan rasa yang mendalam hingga mampu mencabut akar-akar kesedihan. Namun, disini, dalam hati ini ada getar yang tergores perih dan pedih hingga nafas terasa sesak. Waktu rasanya jadi gembul, irama hidup tak jadi harmoni, kapan lagi “rasa yang terjadi kala itu” tercipta kembali? Kapan wajah “teduh” itu hadir kembali? Akankah kita akan bertemu kembali? Tentu, itulah harapan. Namun, awan bergelayut hitam, tidak tahu kapan dan di alam mana kita akan ketemu. Sekarang atau di alam yang akan datang. Semua ada padamu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu semakin merangkak. Seketika aku menjadi gundah akan keadaan yang semakin dimakan oleh kegelapan malam. Sementara itu, di hadapanku orang yang paling kuhormati dalam hidup memintaku untuk ditemani menerawang kegelapan malam sambil memberikan cerita-cerita kehidupan. Saat aku mencemaskan keadaanmu dengan mengirimkan kata-kata pengantar menjelang tidur, kau justru menarikan kata-kata, berceloteh menerbangkan kalimat ke udara yang dingin, lembab dan basah tentang sejarah, dan mimpi-mimpi dalam penglihatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Gak mau mimpi aja yang indah, tapi kehidupan nyata juga indah” Demikian balasan darimu.&lt;br /&gt;“Ehm….Mari kita mulai dengan mimpi indah karena mimpi adalah cita-cita yang perlu dinyatakan dalam hidup agar menjadi sebuah kenyataan….” Itulah komentar yang ku kirimkan. Impian merupakan motivasi untuk terus melangkah demi terwujudnya sebuah cita-cita. Pantang menyerah dalam menggapainya dan selalu berserah pada taqdir karena kita punya Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu untuk diingkari, dalam banyak hal aku menjadi orang yang pertama. Mungkin masih ingat dan saya yakin pasti ingat, kita pernah melakukan apa saja dan merupakan peristiwa pertama yang kita alami. Mulai dalam hal penulisan ejaan nama hingga kejadian-kejadian yang membuat perasaan kita tentang hidup seperti melambung di awang-awang yang seolah-olah besok sudah tidak mungkin bisa lagi. Semua itu mempunyai alasan yang kuat pada diri kita. Nama misalnya, meski dalam non formal aku menuliskan namamu dengan huruf lain dan dalam bentuk ejaan yang lain, tapi menulis resmi kutuliskan dengan sebenarnya. Mengapa? Ejaan nama merupakan sebuah bentuk rangkaian kata yang agung. Aku tidak mau menuliskan nama itu sembarang. Percayalah, nama adalah makna dirimu yang diresonansikan setiap saat ke semesta. Jadi kita perlu mengagungkan setiap saat nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutmu apa yang kita alami penuh dengan ketidaktepatan waktu. Perjalanan yang kita lalui seolah selalu bersimpangan. Itu adalah realita. Ya….kita pun menyadari akan hal itu. Semua realita adalah nyata, tapi keterpisahan adalah ilusi. Kita sebenarnya adalah satu. Kejadian yang saling menyilang ini sebenarnya tidak semisterius yang kita duga. Inilah yang dinamakan dengan sinkronisasi hidup. Ini sebuah pembelajaran hidup yang terjadi di alam bawah sadar dan digerakkan oleh Allah. Pada kondisi yang demikian, kita bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata, menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang tidak bisa dipahami akal. Perlu untuk kita pahami bahwa semua peristiwa yang kebetulan terjadi bukan hasil dari proses sebab akibat, tetapi masing-masing berasal dari sejarah pribadi karena egositas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, laki-laki yang sejak kecil punya sifat nakal dan konyol ini tetap akan mengayunkan langkah di kehidupan ini. Meski setiap langkah selalu teriringi dengan doa, tetapi selalu hadir bersama dengan kepiluan, kedukaan dan kepedihan. Namun, aku adalah lelaki. Aku selalu belajar untuk menemukan solusi dalam setiap masalah, melihat kesempatan dalam setiap rintangan, melihat hikmah dalam setiap peristiwa, dan menemukan penghibur dalam setiap penderitaan. Karena itu, yang terkirim dalam doaku adalah harapan dengan keyakinan yang sudah menjadi bagian hidup. Kulakukan sebagaimana aku bersujud yang mesti mengawali dengan doa untuk doa selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju kebahagiaan itu, kuresapi dan kutempuh dimanapun dan kapanpun baik dalam suasa gelap maupun terang. Kutempuh segala jalan itu dengan penuh keikhlasan dan sedikit kesabaran hingga jejak kaki ini selalu menyadari setiap langkahku. Betapa indah kehidupan ini bila dijalani dengan penuh kecintaan yang memproduksi kedamaian dalam hati. Sebuah perasaan indah yang tergambar dan pernah hadir dalam hati kita. Perasaan itu telah memberikan makna yang demikian dalam akan rasa cinta. Oleh karena itu, dengan segenap cinta, memohon pada Allah untuk diberi kesuksesan hidup damai di dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ujung malam ini, meski bulan tak lagi berseri dan awan bergelayut manja, hatiku merasa terpanggil untuk menjalani dan menikmati kedamaian dan keindahan hidup. Aku merindukan saat-saat terindah ketika kita bertemu dan merasakan sebuah perasaan yang sama. Aku merindukan hadirnya rasa damai dengan membawa rasa gembira yang penuh suka cita. Aku merindukan keindahan rasa untuk mewujudkan harapan terindah dengan bahu membahu, dan membulatkan tekad guna menyambut sapaan-Nya. Aku merindukan sebuah tindakan dan sikap terbaik guna menebarkan kebaikan hingga indahnya impian ini bukan sekedar mimpi namun sebuah kenyataan pasti.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku…….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-9195786200667795843?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/9195786200667795843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=9195786200667795843&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/9195786200667795843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/9195786200667795843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/11/semua-ada-padamu-mendung-bergelayut.html' title='Semua Ada Padamu : Mendung Bergelayut'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-257533819129645065</id><published>2011-10-27T03:18:00.001+07:00</published><updated>2011-10-27T03:40:27.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Perspektif Keberagamaan Umat Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maaf dan terima kasih saya sampaikan sebelumnya pada pengirim ke mailbox penulis. Penulis sengaja mengangkat tema ini hanya sekedar mencoba menanggapi masukan ke penulis lewat tulisan yang masuk ke mailbox (baca: soejito@yahoo.com). Penulis merasa terusik ketika tulisan-tulisan yang masuk, esensinya tidak seharusnya dilakukan oleh orang yang mengimani Allah dan Rasul-Nya serta rukun iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman…! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat kita berhadapan dengan fenomena umat yang beraneka ragam baik mengenai Islam maupun khazanah keilmuan lainnya, itu semua tidak bisa mengubah atau mengurangi kebenaran. Kita menjadikan A-Qur’an dan Sunah sebagai rujukan utama dalam menanggapi sesuatu. Kita sepakat dan yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa keabsahan Al-Qur’an dan Sunah tak dapat di ingkari. Kita juga yakin bahwa Tuhan itu benar, wahyu dan titah-Nya juga benar, tapi penafsiran manusia adalah relatif, bisa salah dan bisa benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ketentuan dasar dalam Islam adalah keadilan, yang menuntut adanya pemahaman terhadap perubahan-perubahan sosial. Disamping itu, kita juga harus melihat bagaimana sejarah Islam menerimanya sebagai suatu proses dan melakukan identifikasi atas jalannya proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keberagamaan yang demikian memunculkan banyaknya kelompok-kelompok masyarakat yang memanifestasikan praktek-praktek keagamaan secara represif. Pada kondisi demikian, pemahaman umat mengenai Islam merupakan pengetahuan tentang keharusan menyembah Tuhan, sehingga manakala kasus-kasus kemanusiaan muncul dalam masyarakat, pemahaman Islam menjadi tidak menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita ini akan berimplikasi pada persepsi subjektif terhadap diktum-diktum Al-Qur’an dari ulama yang dipandang sebagai suatu kebenaran mutlak, artinya pemahaman terhadap Islam tidak diperoleh melalui suatu proses pencarian intelektual yang berlangsung secara dialogis, tapi informasi keislaman diperoleh secara pasif dan sepihak serta tak pernah memikirkan kembali informasi itu secara kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bentuk dakwah apapun temanya adalah sah dan benar sebab Al-Quran selalu terbuka bagi siapa saja untuk menyampaikannya. Tetapi jika cara berinteraksi itu kurang bermanfaat, tidak simpatik dan terkesan arogan, maka Islam seolah menjadi tidak menarik dan tidak bermanfaat. Padahal, Islam diperuntukkan bagi manusia dan bukan untuk Tuhan, sebab Allah menciptakan makhluk dengan konsep Azwaj (berpasang-pasangan). Ada siang dan malam, langit dan bumi, surga dan neraka, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia masing-masing mempunyai pasangan genetik. Konsep pasangan (tajwij) ini dibangun diatas landasan cinta kasih sayang (Mawaddah Wa Rahmah). Mestinya interaksi dan perilaku kita sebagai manusia dan anggota masyarakat dilandasi juga oleh kasih sayang. Bukan sebaliknya, menghina, menjatuhkan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini yang perlu diredefinisi sesuai dengan perkembangan kesadaran sosial sehingga Tuhan yang dihayati tiap muslim akan jauh lebih berimplikasi humanis. Tanpa proses penafsiran ulang itu tentunya akan sempit memahami ayat-ayat al-Qur’an. Disisi lain, Islam tidak hanya menjanjikan masa depan berupa insentif eskatologis yang bersifat metafisis, tetapi juga menawarkan sebuah masyarakat masa depan egalitarianis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak hanya merupakan suatu sistem pengetahuan yang berbicara mengenai teori-teori moral dan eskatologis, tetapi juga menjelaskan serta mengantisipasi permasalahan terkini yang muncul. Jelas bahwa memeluk Islam berarti juga memperjuangkan "ideologi" yang memberikan konsepsi masyarakat masa depan dengan kerangka strategi perjuangan secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, tuntutan bagi kita adalah pertama, keterbukaan sikap keagamaan untuk bersinggungan dengan paradigma lain. Kedua, keterbukaan pemikiran untuk memperkaya perspektif Islam dengan menanggalkan simbol-simbol keislaman tetapi masih tetap memegang teguh konsep dasar nilai-nilai Islam. Ketiga, kita perlu memberanikan diri untuk melepas cara pandang Islam yang idealis dan menggantinya dengan cara pandang yang realis. Keempat, kita membutuhkan suatu metode, alat analisis empiris dan sikap intelektual yang memberi kemampuan lebih untuk memahami dan menyingkap realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kita perlu menerima tuntutan empiris tersebut untuk menerjemahkan Islam dan pesan-pesan Al-Qur’an dalam konteks perkembangan masyarakat. Perlu untuk disadari pula bahwa penyebab utama keterbelakangan Islam selama ini adalah kita memperlakukan kehidupan nyata duniawi secara tidak proporsional. Kita tidak membiasakan diri berpikir secara obyektif, padahal pemikiran obyektif merupakan suatu kerangka metodologi berpikir untuk memahami persoalan-persoalan duniawi. Sebuah pemikiran untuk memperlakukan dunia secara adil, proporsional, dan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kesempatan, Islam memperkenalkan kepada kita adanya dua kehidupan yang secara konseptual berbeda, yaitu dunia dan akhirat. Tapi pemikiran Islam tentang akhirat sudah cukup final, tak ada lagi sisa yang perlu untuk dikembangkan dan sikap kita terhadap akhirat juga telah selesai, bahwa akhirat yang menjadi keyakinan itu adalah hak mutlak Tuhan, dan urusan kebijakan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang belum final adalah pemikiran Islam tentang dunia (masyarakat), yaitu pemikiran yang khas duniawi untuk berbuat apa saja bagi masyarakat dan berupaya melakukan pemanusiaan atas nama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran tentang dunia tidak harus berpacu pada kata-kata Tuhan, sebab manusia diberi hak otonom untuk memperlakukan dunia, memikirkan dan mengelolanya demi tegaknya sebuah peradaban. Urusan dunia adalah hak mutlak manusia sebagai wakil Tuhan tanpa harus meninggalkan nilai-nilai dasar yang telah digariskan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pesan Al-Qur’an (45:13), manusia dalam dimensinya yang terbatas mempunya kemampuan intelektual untuk berpikir, memahami dan menjelaskan kompleksitas dunia nyata sehingga ia dapat merumuskan pengalaman intelektualnya kedalam teori, konsep, bahkan ideologi yang kemudian secara praktis dapat digunakan untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh potensi sumber-sumber duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah pemikiran sebagai sebuah respon terhadap realitas keagamaan dengan cara apapun merupakan transformasi eksistensi untuk menerjemahkan nilai-nilai universal kemanusiaan secara bebas di ruang publik. Pemikiran yang dimaksudkan adalah pilihan sikap rendah hati untuk tidak mengklaim kebenaran sebagai hanya miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, jika umat Islam ingin mencapai kemajuan (modern), maka kemajuan itu tidak boleh merupakan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Ia harus tumbuh secara otentik dari diri sendiri termasuk dalam mencerna sesuatu yang datang dari luar dan menjadikannya sebagai bagian dari diri sendiri. Tantangan bagi umat Islam dimasa depan adalah menuntut dan menjaga eksistensi agama sebagai diskursus ruang publik yang bisa didialogkan secara teologis dan rasional.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-257533819129645065?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/257533819129645065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=257533819129645065&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/257533819129645065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/257533819129645065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/10/perspektif-keberagamaan-umat-islam.html' title='Perspektif Keberagamaan Umat Islam'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-4486321623710054563</id><published>2011-05-16T06:26:00.000+07:00</published><updated>2011-05-16T06:26:02.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Renaissance dan Reformasi Peradaban Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peradaban modern yang notabene dan dikuasai serta berkembang pesat di barat mempunyai rujukan dan arah yang jelas ke mana liberalisasi dan kebebasan harus dialamatkan. Merujuk pada sejarah yang dijalani oleh dunia barat, arah dan alamat yang dituju adalah periode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;dan reformasi yang melanda eropa pada abad ke-16 Masehi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Renaissance &lt;/span&gt;adalah masa kelahiran atau kebangkitan kembali manusia Barat setelah tertidur lama pada masa yang disebut "abad kegelapan" (dark ages).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, "reformasi" adalah gerakan pembaharuan keagamaan Kristen. Inti dari gerakan ini adalah sikap protes terhadap Gereja Katolik yang dinilai otoriter, kaku, dan tak bersahabat terhadap perubahan zaman. Karenanya, gerakan ini kemudian disebut sebagai gerakan Protestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;maupun reformasi menjadi landasan utama bagi sejarah peradaban Barat modern selanjutnya. Dua kata ini kemudian dipakai untuk menjelaskan akar sejarah berbagai konsep pemikiran yang muncul di dunia modern, seperti modernisme, humanisme, rasionalisme, pragmatisme, dan liberalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah kemana gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;dan reformasi dalam Islam harus dialamatkan? Kita sering berbicara tentang kebangkitan dan reformasi Islam, tapi rujukan kita terhadap dua istilah ini tak pernah jelas. Sebagian merujuk kepada gerakan puritanisme agama yang muncul pada pertengahan abad ke-20, sebagian yang lain merujuk kepada gerakan kebangkitan pada awal abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis merasa bahwa kalau kita ingin menyamakan gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;dan Reformasi Peradaban Islam dengan gerakan serupa di Eropa, maka kita harus menyamakan sifat dan karakternya. Di Eropa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;adalah keinginan untuk mengulangi masa kegemilangan peradaban Romawi, yang terjadi pada lima abad terakhir dan tiga abad pertama sebelum dan sesudah masehi. Pada masa tersebut kebudayaan Eropa mencapai puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode kegelapan adalah masa yang terbentang selama "abad pertengahan" (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;medieval&lt;/span&gt;), yakni masa-masa di mana masyarakat Eropa didominiasi oleh pemerintahan dan kekuasaan agama. Para sejarawan biasanya merujuk antara abad ke-4 hingga abad ke-15 sebagai masa-masa peradaban skolastik atau peradaban yang dikuasai oleh para penguasa gereja. Masa-masa ini adalah periode yang ingin dikubur oleh tokoh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga memiliki masa-masa kejayaan dan masa-masa kegelapan. Meski tidak setepat pengalaman Eropa, kita bisa membagi sejarah kegemilangan Islam pada masa-masa antara abad ke-7 hingga pertengahan abad ke-13, atau hampir berbarengan dengan masa-masa kegelapan di Eropa. Setelah masa itu, peradaban Islam menjalani masa-masa kegelapan. Dengan demikian, "abad pertengahan" dalam Islam terjadi antara abad ke-14 hingga abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan paling nyata antara dua periode itu (kegemilangan dan kegelapan) adalah bahwa pada masa kegemilangan, semangat dan pencapaian budaya, seni, pemikiran, dan filsafat Islam begitu besar. Ratusan ilmuwan dilahirkan dan ribuan buku ditulis pada periode ini. Sementara itu, pada masa kegelapan, produksi intelektualisme menurun drastis dan ilmuwan besar tak lagi dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;dalam Islam, jika kita ingin menggunakan konsep ini, adalah semangat untuk kembali kepada nilai-nilai peradaban yang pernah dicapai pada masa kegemilangan Islam. Dengan demikian juga, reformasi adalah pembaruan keagamaan dan protes terhadap model dan cara beragama pada era kegelapan, era ketika ijtihad, rasionalitas, filsafat, dan pemikiran, dikecam dan dicampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Renaissance &lt;/span&gt;dan reformasi Peradaban Islam, bukanlah merujuk kepada gerakan kebangkitan agama dalam maknanya yang puritan, bukan pula gerakan yang kembali kepada semangat ortodoksisme dan konservatisme. Tapi, gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renaissance &lt;/span&gt;dan reformasi dalam Islam adalah gerakan mengembalikan nilai-nilai dan semangat rasionalisme dan liberalisme seperti pada masa-masa kegemilangan peradaban Islam. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-4486321623710054563?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/4486321623710054563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=4486321623710054563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4486321623710054563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4486321623710054563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/10/renaissance-dan-reformasi-islam.html' title='Renaissance dan Reformasi Peradaban Islam'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-4500665603146665386</id><published>2011-04-21T01:42:00.004+07:00</published><updated>2011-04-21T01:42:00.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Dua Sisi Hati itu, Kunamai Satu “Kenangan” dan Satu Lagi “Nostalgia”</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Meski akhir-akhir ini matahari bersinar kurang terang, tetapi nadinya tetap memberi harapan dan semangat baru dalam kehidupan ini dengan berbagai keinginan yang realitanya berwarna-warni. Memang, jika bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita, dua sisi hati ini akan merasakan keindahan. Keindahan yang terasa manakala tiap subuh dan senja bersama, menyeberang diantara mastrib dan magrib bersama, dan memikirkan tentang hidup dan kehidupan bersama pula. Berdasarkan kondisi yang demikian, mungkinkah kita berpikir untuk diri sendiri? Itu hal mustahil. Kita meski memikirkan kelangsungan bersama karena kita ingin bersama. Sebuah kebersamaan dalam satu kata yang indah, kata yang penuh pesona, kata yang penuh irama, kata yang penuh cerita, kata yang penuh duka dan segala macam bentuk kepenuhan dunia dalam satu ikatan yang penuh rahmat dan berkah-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai insan biasa, mesti mempunyai hal menarik tentang ikatan tersebut entah berupa impian, harapan, angan-angan atau mungkin juga berupa cita-cita yang hendak diwujudkan. Tak terkecuali dengan aku, ketika kumulai menatap ikatan itu rasa sedih menghampiri hidupku. Ketika kulantunkan kidung kehidupan dari balik sergapan angin, aku masih tak mampu menganyam kejujuran di dinding hati. Betapa kokoh makna kejujuran itu hingga wewangian hidup yang kau salurkan pada sekujur tubuhmu begitu sempurna membakar jiwaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang musim, kejujuran yang kumiliki menyanjung dirimu, betapa engkau teduh, manis, mempesona, cantik, lembut hati, anggun pribadi dan penuh kemanjaan. Namun, saat kesadaranku muncul betapa jauh kehidupanku dihadapanmu. Meski kukejar bayangmu yang menguntit dipelupuk mata sambil mengingat tunas-tunas dalam hidup, kau pun terus tersenyum di atas kekokohan hati yang tertatih-tatih menuntaskan rangkaian kabut dan pelangi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Instrumen-instrumen yang pernah kita lakukan, isi dan isyarat-isyarat hati yang pernah tercipta hilang meresap dalam tanah. Tak cukup bila saya menguraikan seluruh peristiwa yang menjurus kearah penyelesaian masalah sebab didalamnya terdapat semacam miskomunikasi yang berupa lubang, ya....“lubang di hati”. Dalam lubang itu diri ini masuk dan mengikuti pusaran arus atmosfer tanpa sanggup untuk keluar hingga menjadi semacam misteri "Lubang di Langit".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;"Jangan, jangan kau tampakkan emosimu, engkau dirangkai dari ambisi, emosi dan ketidakberdayaan. Mari belajar dari senyum khas ibu yang mulai hilang mantera-mantera saktinya. Cermati senyumnya, disitu maka kita akan mendapatkan kelembutan. Disitu pula kita akan mendapati ketenangan ayah yang terusik” nasehatku terhadap diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu aku jadi teringat akan instrumen-instrumen yang pernah tercipta dan do’a-do’a yang kukirimkan ke alamatmu. Hatiku pun jadi gelisah, kabut hitam menyelimuti suasana kalbu, langit biru menjadi hitam. Burung-burung terbang dengan sayapnya yang hitam. Awan yang semula putih berubah menjadi hitam. Hanya angin yang tak menjelma menjadi hitam. Semenjak itu, aku menjadi sadar betapa bodoh, gelisah, bingung, khawatir, dan betapa cemasnya aku terhadapmu. Mungkin aku yang lupa atau mungkin juga terlalu bodoh diriku ini karena tidak bisa memahami tentang diri sendiri (siapa aku). Kenaifan dan kebodohanku lagi-lagi telah menutup mata hati dan angan-anganku. Untung mereka telah mengingatkanku hingga aku pun jadi sadar bahwa bumi ini bukanlah taman yang diciptakan Attar dan Arrum. Inilah realita yang harus kusadari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Mereka, orang-orang yang begitu baik padaku mengingatkan padaku untuk memahami cuaca.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Menjadi hak kamu sepenuhnya untuk mencintai bahkan atas namamu dan namanya engkau mesti mengigaukannya. Tapi yakinkan semua itu dengan mengkonfirmasikan pada warna dan atmosfer kehidupan, dimana batu-batu hancur, air menjadi keruh, udara penuh polusi. Baca di lembaran cuaca, maka kau akan mengerti dan memahami bahwa bulan tak selamanya purnama dan purnama pun tak selamanya terang. Camkan itu nak...!” begitulah kira-kira ringkasan nasehat yang mereka sampaikan pada saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata mereka, aku jadi memeras hati. Aku mengambil seonggok hati yang terjatuh entah dimana. Dengan suara yang lirih seperti mendesih, aku merintih “mungkin beginilah hidup” kata ku sembari menekuk ke bumi dengan wajah yang penuh dengan warna dan wangi keibuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku....&lt;br /&gt;Maafkan hambamu yang hina ini,&lt;br /&gt;Aku begitu lemah,&lt;br /&gt;Imanku pun masih begitu lemah,&lt;br /&gt;Tapi, aku tak pernah lelah untuk berusaha,&lt;br /&gt;Sekuat hati, sekuat niatku, sebanyak doaku....&lt;br /&gt;Dan aku juga yakin Ya Tuhanku....&lt;br /&gt;Ada hikmah yg ingin Engkau berikan padaku…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku merindunya. Rindu seumpama subuh yang mengkhitbah bukit dengan cincin embun. Namun, gunung, laut, lembah, air, dan udara telah melempar diriku ke titik nadir dan mengantarku ke gelap malam yang memayungi pepohonan. Masih mungkinkah rinduku terbuka? Sembari menghampiri, kuberusaha mencari jawaban bersama jubah malamku dalam langkah gemertak dan terseret menyusur “pantai” kehidupan. Saat itulah kumerasakan ada “suara” yang menutupi jalan dan aku pun berhenti. Ketika kupungut kata-kata dari “suara” itu, tanpa kusadari semua sudah terperam tanpa ”baju pelindung”. Akhirnya, di ujung malam ini, meski terasa berat dan menyakitkan, tak ada lagi butir-butir tetesan yang menetes ke jubah malamku, sehingga dua sisi hati ini kunamai dengan dua nama, satu ”kenangan” dan satu lagi ”nostalgia”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untukmu yang merasa terusik dan maafkan aku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-4500665603146665386?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/4500665603146665386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=4500665603146665386&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4500665603146665386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4500665603146665386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/04/dua-sisi-hati-itu-kunamai-satu-kenangan.html' title='Dua Sisi Hati itu, Kunamai Satu “Kenangan” dan Satu Lagi “Nostalgia”'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8706033436040489817</id><published>2011-04-11T09:49:00.002+07:00</published><updated>2011-04-11T10:00:38.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Jalan Bahagia Perspektif Rasio</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis berusaha untuk menulis ini lantaran penulis merasa bahwa apa yang penulis alami sudah digariskan oleh-Nya. Tak terkecuali dengan bahagia dan menderita. Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab, yaitu apa yang harus dilakukan untuk menjadi bahagia? Pengalaman penulis setidaknya merujuk pada dua hal, yaitu &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;menerima kenyataan hidup segetir dan sesakit apapun, &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;, menerima diri kita apa adanya lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan hidup yang harus kita terima, bisa saja realita-realita kehidupan yang terjadi di masa lalu atau di masa hidup sekarang. Kenapa kenyataan pahit yang telah menjadi sejarah harus diterima? Karena masa lalu tidak dapat dihapuskan dari pikiran kita. Meski pikiran sadar kita bisa melupakan, tapi pikiran bawah sadar kita akan tetap menyimpannya. Masa lalu yang penuh luka akan tetap dipenuhi luka. karena itulah, cara terbaik adalah menerimanya, dengan begitu kita tidak akan membuat luka itu kembali meradang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu dapat menjadi penghalang pintu kebahagiaan kita, dan ini sangat berbahaya. luka masa lalu dapat menyabotase kemampuan kita dalam berpikir jernih. Ia dapat mengkontaminasi kita dalam berpikir positif. Bayangkan, referensi yang penulis baca, dalam sehari manusia mempunyai pemikiran sebanyak 60.000 kali, yang sebagian terulang dari pemikiran dan pengalaman masa lalu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gambaran-gambaran masa lalu akan muncul dengan tiba-tiba manakala kita mengalami peristiwa yang mirip-mirip. Situasi yang mirip atau hampir mirip dengan trauma masa lalu akan memicu tombol otomatis yang memutar ulang &lt;i&gt;state of emotion&lt;/i&gt; saat itu. Akhirnya kita berulang-ulang masuk dalam emosi yang sama. Kita sulit bahagia. Kita akan terus menerus dibayangi dibayangi masa lalu. Bagaimana kita bisa bahagia jika setiap saat bayangan itu muncul dalam pikiran kita. Saat kita melihat pantai yang indah, bayangan itu muncul kembali. Saat melihat landscape pegunungan yang indah, masa lalu itu hadir kembali. Akhirnya kita tidak bisa bahagia. Pengalaman itu terasa begitu berat hingga kita merasa tidak berdaya. Lihatlah betapa tidak bahagianya hidup kita saat kita membiarkan masa lalu mengontrol hidup kita. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Luka masa lalu memang berbeda-beda derajat keparahannya. Ia dapat beruka luka dalam bagi kita tetapi juga dapat berupa luka kecil yang mungkin sepele. Permasalahannya buka pada dalam atau kecilnya luka itu, tetapi pada lama atau tidaknya luka itu bersarang dalam pikiran kita. Makin lama luka itu berada dalam pikiran kita, ia akan sering hadir dan mengundang kesedihan dalam hidup kita. Dan akan semakin sulit jika terus menunda untuk menrimanya karena berarti kita memberi ruang dan waktu baginya untuk lebih lama bersarang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin bahagia, maka pilihannya adalah menerima masa lalu dan memaafkan orang-orang yang terlibat sekarang juga…..ya…..sekarang juga. Luka masa lalu sudah terjadi dan meninggalkan kita, tetapi seringkali kita sendiri yang memberi kesempatan padanya untuk datang kembali dan menghampiri kita di kehidupan masa kini. Dengan menerima masa lalu, maka kita akan dapat melihat pantai, landscape pegunungan, sungai yang mengalir jernih, sebagai pemandangan yang benar-benar mempesona dan kita menjadi tuan dari masa lalu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Janganlah buru-buru mengatakan sulit, gak bisa, tidak mungkin atau mustahil. Dalam Al-Qur’an telah dicontohkan, misalnya Nabi Yusuf. Bagi Yusuf, kehidupan paling suram adalah masa kecil. Ia dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya. Ia menjadi korban kedengkian saudara-saudaranya. Beliau menghadapi persekongkolan jahat dari orang-orang dekat. Namun, karena ketaqwaannya, Allah menolong Yusuf. Kemudian dia dibawa oleh saudagar dan dibawa ke Mesir. Pengalaman demi pengalaman pahit dia alami. Mulai bekerja sebagai pelayan, dituduh berzina dan yang paling terakhir adalah dijebloskan ke penjara tanpa sebab. Nabi Yusuf tidak mau menyerah. Semua dia hadapi dengan sabar, kebesaran hati, tidap pernah berhenti berdoa pada Allah. Akhirnya Nabi Yusuf memiliki kedudukan yang mulia dihadapan umat dan Allah (Semoga saya bisa mengambil hikmah dari cerita Nabi Yusuf….Amiin….). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kisah inilah yang penulis berusaha pahami dan mencoba mengambil hikmah bahwa masa lalu segetir apapun akan berakhir dengan kebahagiaan jika bisa menerima dan tidak pernah menyerah. Masa lalu adalah bagian dari pelajaran kehidupan yang Allah inginkan agar kita besar, bukan malah menjadikan kita kerdil. Tidak peduli segetir apapun, ia telah kita telan dan pahitnya adalah obat agar kita kuat menghadapi hari esok. Kita boleh menengok sebentar tapi jangan sampai membuat langkah kita mundur karena masa depan begitu indah dan mempesona. Maka tersenyumlah…… :-)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang tak kalah penting adalah menerima kenyataan hidup saat ini. Mungkin saat ini kita merasa tersakiti oleh orang yang berada dalam lingkungan sekitar kita. Jika seperti itu, maka yakinlah bahwa semua yang kita terima dan alami kemarin, hari ini dan yang akan datang adalah sebuah karunia dan sudah digariskan oleh Allah SWT. Mari kita ingat, kapan kita merasa dekat sekali dengan Allah? Kapan kita sering menyebut Asma Allah? Dan bukankah saat itu adalah saat dimana kenyataan yang hadir dalam hidup kita ternyata berbeda dengan apa yang kita harapkan….? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Maafkan aku Ya Allah……saya baru menyadari bahwa &lt;br /&gt;- Ketika kumohon pada-Mu kebijaksanaan, Engkau memberiku permasalahan untuk saya pecahkan&lt;br /&gt;- Ketika kumohon pada-Mu kesejahteraan, Engkau memberiku akal pikiran dan fisik kuat untuk bekerja&lt;br /&gt;- Ketika kumohon pada-Mu keberanian, Engkau memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi&lt;br /&gt;- Ketika kumohon pada-Mu Cinta, Engkau memberiku keikhlasan untuk menolong orang-orang yang bermasalah&lt;br /&gt;- Ketika kumohon pada-Mu bantuan, Engkau memberiku kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ijinkan aku untuk berterima kasih pada-Mu...Ya Allah….Meski saya tidak mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi saya mendapatkan apa yang saya butuhkan….&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8706033436040489817?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8706033436040489817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8706033436040489817&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8706033436040489817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8706033436040489817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/04/jalan-bahagia-perspektif-rasio.html' title='Jalan Bahagia Perspektif Rasio'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7058577480870153208</id><published>2011-04-03T00:02:00.002+07:00</published><updated>2011-04-03T10:14:51.645+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Selayang Pandang Hati Baik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inspirasi tulisan ini adalah ketika penulis bertemu dengan seseorang yang berhati baik. Ketika berbincang-bincang dan mengemukakan pendapat dan lain sebagainya, penulis merasakan betapa mulianya orang yang sedang berhadapan dengan penulis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis menjadi ingat salah satu hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim bahwa jika hati baik maka seluruh tubuh menjadi baik, dan sebaliknya, jika hati jelek maka seluruh tubuh juga jelek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hati yang baik disebut dengan "qalbun salim", hati yang selalu mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah untuk berperilaku dan berperingai yang terpuji. Dan orang biasa menyebutnya dengan ”Hati Nurani” (hati yang bercahaya). Kebalikannya adalah "ghairu salim", hati yang tidak baik dan dimurkai Allah. Dan orang biasa menyebut dengan ”Hati Zhulmani” (hati yang gelap atau zhalim). Itulah dua hati dalam diri manusia, karena kita hanya mempunyai satu hati, maka tinggal kita menilai diri sendiri masuk dalam golongan mana hati kita. Mengapa? Tidak mungkin hati ini separuh jelek separuh baik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Nurani berasal dari kata ”nur” yang berarti cahaya atau petunjuk. Sejauh yang penulis pahami, penulis belum pernah menemukan bentuk jamaknya kata ini dalam Al-Quran (bentuk anwar). Seperti kata ”birru” yang berarti kebaikan, dan ”huda” yang berarti petunjuk. Karena itu, menurut pemahaman penulis yang masih dangkal ini, cahaya atau petunjuk itu hanya satu dan sumbernya pun juga hanya satu. Dalam Qs .Azzumar 22, petunjuk itu hanya datang dari Allah. Hal ini dipertegas dengan sebuah hadist dari Rasulullah, Siapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir maka berkatalah yang benar (baik). Jika tidak bisa, sebaiknya diam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan penulis dengan orang ini, penulis melihat bahwa dia merupakan manusia yang memiliki hati nurani sangat baik dan selalu rindu untuk dekat dengan Allah. Penulis merasa begitu damainya dekat dengan orang baik. Nyaman, tenang, dan damai. Akhirnya penulis jadi berangan-angan seandainya setiap hari bisa bertemu dan bersama orang yang seperti ini, betapa damainya jiwa ini. Hal ini mengingatkan penulis pula pada Qs. Al-Fajr ayat 27 hingga 30. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, penulis menjadi iri dengan orang ini. Iri pada perbuatannya yang selalu baik. Iri untuk selalu dihapuskan dosa karena perbuatan baik yang dilakukan. Iri untuk bisa mendapatkan keringanan-keringanan atas dosa dan kesalahan yang pernah penulis lakukan. Iri untuk mendapatkan sisa-sisa kebaikannya. Iri untuk selalu bisa mendendangkan nurani agar tak kelam. Iri agar selalu ada cahaya meski temaram datang mengetuk pintu hati. Iri untuk selalu bisa merasakan ikhlas atas segala sesuatu. Dan masih seabrek bentuk ke-iri-an penulis pada orang itu. Subhanallah....semoga Allah selalu memberi petunjuk tentang kebenaran dan kebaikan pada penulis agar selalu bisa berbuat baik dan benar agar tidak iri lagi.... Amiin....!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7058577480870153208?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7058577480870153208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7058577480870153208&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7058577480870153208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7058577480870153208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/04/selayang-pandang-hati-baik.html' title='Selayang Pandang Hati Baik'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8076929006138159634</id><published>2011-03-24T01:38:00.003+07:00</published><updated>2011-03-26T22:53:31.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Menerobos Tipisnya Malam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat perjalanan menuju kesalah satu tempat rekreasi, kau begitu memuja panorama alam. Rinai dan desau angin yang seolah-olah menampakkan rintik-rintik air ke dinding, tak mempengaruhi kejernihan hati untuk takjub atas keindahan rerumputan, bunga-bunga, pepohonan atau lubang-lubang jalan. Aku yang semestinya membujukmu, justru larut dalam tarian sayap-sayapmu. Aku yang semestinya memiliki kekuatan untuk tegar dengan memerah hati dan perasaan dingin sekedar menarik rasa simpatimu, justru memanen buah rindu dalam wajah teduh dengan kerling mata tajam yang berkaca. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan sepenuh hati, sepanjang perjalanan itu, saat kau berada dibelakang punggungku dalam kendaraan bermotor yang kita naiki, kau memintaku untuk menerobos tipisnya gelap malam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Aku takut gelap” Itu katamu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lantas engkau pun meresahkan kegalauanku dengan menawarkan sejenak untuk duduk di pasir-pasir itu dengan bersenda gurau dalam gelisah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin merangkak. Seketika aku menjadi gundah akan keadaan yang semakin dimakan oleh kegelapan malam. Ketika aku mencemaskan keadaanmu, kesehatanmu, tubuhmu dan rasa phobiamu terhadap gelap, kau justru menarikan kata-kata. Berceloteh menerbangkan kalimat ke udara yang dingin, lembab dan basah tentang sejarah, dan mimpi-mimpi dalam penglihatan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Impian merupakan motivasi untuk terus melangkah demi terwujudnya sebuah cita-cita. Pantang menyerah dalam menggapainya dan selalu berserah pada taqdir, karena kita punya Tuhan” itu yang kau katakan saat itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cuaca dingin, desir angin, dan gempuran gelap malam takkan lagi sanggup melumpuhkan gairah hidup. Hanya, penyesalanku saat itu adalah saat tidak bisa menemukan tempat yang nyaman hanya sekedar untuk mengisi kosongnya perut. Namun lagi-lagi saya meyakinkan dirimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Percayalah, kita akan baik-baik saja” Itu kalimat yang sering saya ucapkan dalam untaian kata rindu demi menenangkan rembulan yang berada di belakangku &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Kau perlu menghangatkan tubuhmu, mengganti keresahan karena tabiat kewanitaanmu mungkin di SPBU, masjid, mushola atau tempat-tempat fasilitas umum lain” kusodorkan pikiran realitisku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Ah hanya urusan tubuh, gak apa-apa asal cepat nyampai tujuan” sergahmu kala itu dengan penuh canda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kucoba untuk berdamai dengan hatiku sendiri dan kekonyolan sikapmu. Kutetap bertahan karena kutahu, apa yang saya dengar lebih menyerupai sayap-sayap dari efek psikologis. Kumenata diri, mengatur napas dalam-dalam, memusatkan perhatian, menimbang potensi mata, telinga, aroma, dan tentu saja batinku sendiri. Kontradiksi itu memunculkan pertanyaan: apakah ini nyata? Apakah aku tidak berada dalam rel yang salah? Apakah denyut hidupku bisa memantulkan makna dari tingkah lakuku? Apakah malam-malam berikutnya akan slalu ada bintang dalam hari-hariku? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Maaf, bukan maksudku untuk menafikan segenap laku yang telah kita jalani. Begitu engkau tahu akan arti itu -kukira engkau pun juga memahami ini semua-, maka tak perlu aku menggurui dalam segala urusan. Jika begitu, engkau tak perlu untuk menyampaikan rasa terima kasih dan maafmu. Karena kau juga yang telah mengajariku untuk tidak mengucapkan terima kasih dan maaf. Antara kau dan aku sudah sama-sama memahami dalam jebakan hidup seperti ini. Ada rahasia hidup antara aku, engkau dan rahasia itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, kami menembus tipisnya malam. Sepanjang jalan, pepohonan, gedung, rumah-rumah terbungkus getirnya kegelapan. Kami sama-sama melukiskan dengan tekun berdasarkan cara pandang mata kami, jemari kami, angan kami, mimpi kami, tetapi kami sama-sama belum tahu tentang keindahan lukisan diantara kami. Sementara itu, aku terus menggambar derasnya arus jalanan yang mengalir bersama bergugurannya daun-daun jati ditepi jalan. Kadang aku bertanya, makhluk apakah sebenarnya kebahagiaan itu? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Keadaan itu telah melambungkan anganku tentang dirimu. Dimataku, engkau adalah wanita yang berwajah teduh, bermata tajam, berhati lembut dan amat dikasihi Allah. Hampir semua yang kita lakukan seperti selalu mendapat perlindungan-Nya. Apa yang tidak engkau setujui, jika dirunut efeknya akan berakibat tidak baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada saja hal yang mengikutinya. Dan itu berlangsung tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali. Hal ini menambah keyakinanku bahwa engkau memang makhluk yang dikasihi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Betulkan apa yang saya katakan, kita masih dilindungi” itulah kata-kata yang kau ucapkan kala itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Keteguhanmu menunjukkan realitas kehidupan yang kau jalani begitu berat. Membayangkan saja aku tidak sanggup, apalagi dimintai nasehat. Apalah artinya diriku untuk menasehatimu. Meski, sejak sekian tahun yang lalu, aku sudah menyadari akan realitas itu. Aku cukup mengerti dan tahu diri serta tidak layak merebut simpatimu meski aku sebenarnya tersihir oleh keteduhan wajah, tajamnya pandangan mata itu, derai rambut panjangmu, dan lembutnya hatimu. Aku tambah menyadari itu manakala membaca tulisan: hidup seseorang akan berakhir manakala mereka kehilangan kepercayaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali kunyatakan keindahan matamu, kau hanya tersenyum. Itu bukti bahwa engkau pun menyadari dan paham sedalam-dalamnya dirimu sebagai bukan wanita biasa. Meski sesekali engkau berseloroh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah kau tak tahu, apa yang saya lakukan dibalik penampilan ini, iya kan?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya, aku tak pernah percaya engkau pernah melakukan yang tidak seharusnya dilakukan. Atau setidaknya, aku percaya kau memiliki hati yang cukup lembut, sekaligus kuat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang kupercaya, kuketahui dan kuyakini kebenarannya adalah engkau memiliki kelembutan hati” itulah ucapku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Ah sok tahu kamu” itu selorohmu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, engkau pernah resah. Kau mengaku lelah dalam kelembutan itu. Kau merindukan dirimu yang mampu menyangga tubuhmu, jiwamu dan mimpimu. Kepadaku, engkau pernah mengatakan ingin menjadi seperti teman-teman yang lain. Ingin marah, ingin meluap-luap, ingin menghardik, dan segala keinginan yang menyatakan wujud dirimu dalam bentuk yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Aku gak bisa” itu yang kau katakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku pernah menilai bahwa engkau merindukan sebuah pribadi yang rumit, ekspresif dan mengumbar rasa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tidak bisa” kalimat itu lagi yang muncul. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kumenatap tajam matamu. Aku seolah teringat akan semua yang kualami. Semua kejadian-kejadian itu sebagaimana kejadian yang ada dalam mimpiku. Aku sempat bertanya, mengapa aku mengalami hal ini sepertinya sudah yang kedua kali, padahal baru kali ini aku mengalami. Tentang itu, sungguh diluar pikiranku, bagaimana bisa aku mengalami hal yang sama di alam sadar dan bawah sadarku. Namun, aku tidak pernah pusing -mimpi ataukah kenyataan, atau kenyataan mimpi-, sebab yang aku tuliskan ini juga tidak pernah saya cermati kata demi kata. Lagi-lagi tidak pernah aku pedulikan, dan saya hanya berbisik &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Langit yang biru telah melarung diriku bergelut dengan dingin malam”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Meski tak kumengerti, dan aku juga tak mencoba untuk mencari tahu arti akan hal gila yang pernah kami lakukan. Semua mengalir dan kujalani apa adanya, karena saya yakin bahwa itu semua sudah dalam tulisan-Nya. Hanya keyakinanku adalah satu, sekecil apapun yang kami lakukan pasti mempunyai makna yang mengemuka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di jalur udara, di frekuensi itu, kau bertutur dan berkisah tentang surga yang seakan-akan memunguti kata demi kata tentang surgamu, tentang mimpi-mimpi indah, kisah-kisah yang sudah menjadi sejarah, dan segala kisah yang bisa diuraikan dengan kata-kata. Seluruh kisah yang bagiku makin mengukuhkan kelembutan hatimu dibalik mata sendu dan kekonyolan jiwa itu. Dan aku merasa itu semua masih belum cukup. Kita masih butuh bisikan untuk mengekalkan dan menghalalkan semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, aku menjadi mafhum mengapa pak dan mbok selalu berpesan padaku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Lee....laki-laki yang sejak kecil punya sifat nakal dan konyol” Itulah orang tuaku menyebut diriku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Ayunkan langkah di kehidupanmu. Orang tua selalu mengiringi langkahmu dengan doa-doa. Bukan dengan harta benda atau fasilitas hidup lain. Dan juga bukan dengan duka dan nestapa, tapi pak dan mbok selalu mengiringi dirimu dengan kasih dan sayang yang tak mungkin orang lain berikan. Yang terkirim dalam doa adalah harapan dengan keyakinan yang sudah menjadi bagian hidup dari mbokmu. Yaitu sebuah keyakinan akan tumbuh dan berkembang dari benih kasih sayang. Ingatlah, jejak kakimu mesti kau sadari segalanya demi hari depanmu. Bukan demi masa depan pak dan mbok”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kuyakin, orang tuaku sedikit melankolis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Lee...tertawa, gembira sebenarnya bukanlah tujuan hidup. Karena hal itu juga, suka bisa menjadi tipu muslihat mimik wajah kita. Apalah arti semua itu, bila tanpa diikuti dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati yang entah makhluk berbentuk apa tapi selalu diidamkan oleh setiap orang. Karena itu, resapilah selalu betapa pentingnya menempuh jalan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Pahamilah detail ranting-rantingnya demi menuju jalan itu sekecil apapun. Lakukan sebagaimana engkau bersujud yang mesti mengawali dengan doa untuk doa selanjutnya, membasuh ujung jemari untuk membersihkan keseluruhan diri. Demikian pula jalan menuju kebahagiaan itu, bila engkau meresapi dan tempuh, dimanapun engkau berada dalam suasa gelap maupun terang, tetaplah dalam pangkuan Allah dan jiwa pak dan mbok. Tertawalah, bergembiralah, bersukacitalah atas dasar kebahagiaan sejati, dan jangan karena beban hidup. Lakukan semua demi sebuah masa depan yang menuntunmu menyunggingkan senyuman. Tempuh segala jalan kebahagiaan itu dengan penuh keikhlasan dan kesabaran” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Lee...sejujurnya, dalam banyak hal, banyak orang yang merasa iri padamu. Karena engkaulah yang masih terbuka lebar untuk menggali kemampuan bermain, mengeksplorasi suasana batin, mengeksplorasi daya nalar serta panca indera, dan menggali semua potensi. Bersukacitalah, bergembiralah, bermainlah dengan segala daya ledak pikiran, emosi dan hatimu, tanpa ada tipu muslihat disana sini. Nikmatilah semua pemberian dari-Nya” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sisa-sisa pesan yang aku ingat dan telah kita diskusikan bersama. Hal ini yang menjadi inspirasiku ketika menulis sebuah tulisan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah…&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, aku mengadu pada-Mu&lt;br /&gt;Jika ini merupakan detik-detik penghabisanku, ijinkan aku untuk kesal dalam kepasrahanku.&lt;br /&gt;Tuhanku, rangkaian cerita yang Kau tunjukkan dengan penuh keagungan dalam teka-teki hidup bernama taqdir, telah membingungkanku. Cara-cara itu telah membuatku tertawa, gembira, suka sekaligus juga tersindir.... &lt;br /&gt;Namun, ijinkan aku untuk berjalan menggunakan ”Tapak Kecil” menyongsong mentariku tersenyum...&lt;br /&gt;Maafkan aku, Ya Tuhanku....”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun cuma berdoa lantaran engkau sedang berada di tempat yang berbeda, hati yang berbeda, dan dalam aliran darah yang berbeda. Rindu sudah barang tentu. Rindu pada musik yang mengalir dari campuran suara dan laptopmu, pada untaian kata lembut yang mengalir dari hatimu, dan juga pada suara Miss Call hpku pada sepertiga malam saat engkau mengambil air wudhlu dan mengetuk hatiku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Untukmu yang dibelakang punggungku&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8076929006138159634?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8076929006138159634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8076929006138159634&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8076929006138159634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8076929006138159634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/03/menerobos-tipisnya-malam.html' title='Menerobos Tipisnya Malam'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-4201285213968961645</id><published>2011-01-28T02:00:00.001+07:00</published><updated>2011-01-28T02:02:21.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Wisdom and Discernment So Soft Answer</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi ini kelihatan cerah setelah kemarin sore hujan mengguyur lokasi perumahan yang aku tempati. Namun, siang itu menjadi indah dan malam pun menjadi malam yang indah ketika mendengar suara dari seberang sana. Ada hati yang berbunga-bunga ketika semua itu bisa dilalui dalam hari-hariku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Matahari yang bersinar dari balik awan memberi harapan dan semangat untuk menjalani hidup. Pesona keindahan yang terpancar membawa kehidupan menjadi penuh arti dan gairah serta semangat untuk menjalani. Saya pun juga masih belum tahu, apakah dua paradoks kehidupan yang saling mengisi dan meniadakan itu telah menjalar dan mengalun menjdi musik kehidupan. Tak tahu apa yang terjadi dan tak tahu pula apa yang sedang saya hadapi. Yang jelas, dalam menjalani kehidupan ini, semua saya lakukan dengan begitu saja, mengalir apa adanya, tetapi mempunyai arah dan langkah yang jelas. Dan satu lagi, saya tak pernah mengingkari apa yang menjadi kata hati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Semua dapat aku rasakan. Saya merasakan bahwa seseorang yang berada di seberang sana dan yang ada pada dirinya menjadi ‘oase’ bagi saya yang tengah berada di padang sahara kerinduan. Ia menjadi peneduh dan penyejuk jiwa. Bahasanya bukanlah bahasa umumnya, tetapi merupakan kumpulan jiwa orisinil yang menunjukkan karakter “malakatun nafsi”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang keindahan “surga” dengan berbagai macam kenikmatan yang ada didalamnya menjadikan aku mendengarkan dengan seksama. Betapa indah jika menjadi penghuni dengan segenap keridhaan-Nya. Kemerduan kidung yang terlantun mampu menganyam kejujuran di balik dinding hati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Malam penuh bintang yang memancarkan sinar dengan terang. Aku ingat malam itu, saat sebuah kalimat menodong diriku yang mampu menggugah hati dan perasaan. Keindahannya terasa hingga menyatu dalam hidup, membawakan lagu kehidupan tiap subuh dan senja, menyeberang diantara mastrib dan magrib, dan berpikir tentang hidup dan kehidupan. Semua membawa makna bahwa kita harus berjuang demi hidup, bukan hanya menjadi budak takdir. Hidup yang tidak terbelenggu oleh sebuah ungkapan siapa diri, lepas dari rasa malas, langkah yang tidak ada keraguan dan kegamangan. Sebuah kehidupan yang menyajikan semangat dengan kekuatan jiwa terbaik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saya berharap semoga hari-hari menjadi hari yang indah karena saya tahu disana ada jiwa teduh nan elok yang tercermin dalam kehidupan dengan berornamen dan berbingkai cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jit &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-4201285213968961645?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/4201285213968961645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=4201285213968961645&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4201285213968961645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4201285213968961645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2011/01/wisdom-and-discernment-so-soft-answer.html' title='Wisdom and Discernment So Soft Answer'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6560606473987021739</id><published>2010-12-28T00:20:00.000+07:00</published><updated>2010-12-28T00:20:04.923+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Ibu, Sumber Energi Impian Masa Depan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kali aku melintasi taman perumahan yang aku tempati, selalu saja terbesit kesan yang mengesankan di benak. Aku berusaha untuk membuktikan kebenaran kesan itu dengan menelusuri tiap-tiap blok sebagai salah satu cara untuk menikmatinya. Sulit disanggah bahwa tempat ini memang unik, indah dan melahirkan berbagai ragam kenangan yang tak mungkin terlupa dalam perjalanan hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Manusia memang memerlukan impian, yaitu sebuah imajinasi tentang masa depan. Hal ini dikarenakan impian adalah ruang bagi hadir dan berkembangbiaknya benih-benih harapan. Makin lebar dan luas ruang impian maka akan semakin mudah bagi seseorang untuk mengembangbiakkan harapan dan makin mudah untuk menjelajahi masa depan. Imajinasi masa depan dapat menjadi tampak lebih nyata dan tidak samar-samar lagi. Dengan begitu, maka dapat digunakan oleh manusia untuk melangkahkan kaki hidupnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah hidup, seseorang yang dilahirkan dari keluarga yang kurang beruntung dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuan orang tua dalam memberikan fasilitas hidup, ada seseorang yang menatap hidup dengan penuh keyakinan akan wujud impiannya. Wujud impian itu dikejar dan dipelajari dalam-dalam dari surau-surau kecil, rumah-rumah cahaya, langgar, dan tempat-tempat cahaya lain. Hatinya penuh keyakinan bahwa impian masa depan telah dibentangkan oleh Yang Maha Kuasa, tinggal bagaimana harus meraihnya, dan keyakinan itu berkembang bahwa suatu saat akan menjadi kenyataan. Betul juga, apa yang diyakininya telah terkuak. Impian yang diimpikannya mampu membiakkan harapan menjadi sesuatu yang secara nyata dapat dirasakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, jika diantara manusia tidak memiliki atau membangun sebuah impian sebagai harapan, maka dia akan terperosok dalam sumur yang sangat dalam. Ia tidak akan mampu lagi melihat luasnya cakrawala dan langit pun hanya akan tampak seperti lingkaran yang sangat sempit. Hal ini akan membawa ia selamanya hanya akan disitu menikmati sempitnya kehidupan hingga akhir hayat. Mata rantai nasib buruk yang dia jeratkan pada dirinya sendiri sampai di ujung waktu. Mata rantai yang merupakan wujud hari ini akan menjadi wujud negatif dari imajinasi kenyataan hari ini bisa menjangkau masa depan yang gelap manakala dibiarkan berkuasa dan menindasnya tanpa ampun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu energi dahsyat yang luar biasa yang tersembunyi dibalik hadirnya impian adalah kemampuan untuk memutus dan mematahkan mata rantai nasib buruk. Inilah yang kucoba lakukan, aku ingin memutus dan mematahkan mata rantai nasib itu. Dan itu tidak akan berhasil manakala hanya pasrah. Pasrah menjadi anak yang lahir dari kampung dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuan. Kita harus membangun impian. Entah dari sisi mana saja kita harus membangun impian itu. Dan orang yang paling dekat untuk menjadi pembimbing itu adalah ibu. Ibu yang mengajarkan pada kita untuk tidak rapuh dan menyerah pada kemalangan demi kemalangan. Ibu yang membimbing kita agar tahapan dari impian itu sedikit demi sedikit tercapai. Berbagai terpaan hidup sudah selayaknya dijadikan sebagai pengalaman untuk hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin suatu saat kita akan terdampar dalam terminal nasib. Pada tempat ini, akan hadir bermacam-macam tipe manusia. Ada yang pecundang nasib yang biasa menggantang asap alias cuma bermimpi yang tidak produktif karena hanya menghasilkan bualan kosong belaka. Ada pula manusia yang memilih menjadi pemenang kehidupan dengan membangun impian yang produktif. Sebuah impian yang membangkitkan semangat untuk bekerja keras. Impian yang sudah semestinya kita kembalikan pada senyuman sosok perempuan yang bernama Ibu. Sosok ibu yang membangunkan impian pada kita. Dia yang membangunkan istana impian untuk kehidupan di masa depan. Dia punya cita-cita luhur demi masa depan kita. Memang membangun istana impian tidak semudah yang kita bayangkan. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang serius, impian memang serius, dan harapan juga serius. Satu hal yang harus diyakini adalah untuk memasuki hidup, menembus mimpi, dan mewujudkan harapan caranya tidak dengan kecepatan penuh yang menuntut segalanya ala Sim Salabim. Kita harus piawai memaknai rangkaian cerita yang tergores dengan indah. Seorang pengemudi harus bisa mengkombinasikan antara gas, kopling, persnelleng, rem dan stir, bahkan kadang dia harus menyalakan klakson untuk melempangkan jalan atau mungkin juga memutar lagu-lagu mungkin dangdut, pop, rok, kenangan, atau mungkin juga campursari sebagai penyemangat. Semua ada intonasi, ritme, dan nada-nada agar menjadi seimbang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang demikianlah kadang yang mendewasakan kita dalam menjalani kehidupan ini. Pengalaman demi pengalan hidup yang penuh kegetiran, mencemaskan, mendebarkan, kepahitan, dan kemanisan hidup semuanya perlu dikombinasikan agar menjadi lebih bermakna. Jika semua mampu kita lalui, maka tanpa sadar kita akan membangun jiwa, pribadi yang kokoh dan tangguh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lantas pada siapa kita akan menemukan sumber energi yang mematahkan mata rantai nasib itu? Sekali lagi pada sosok Ibulah itu akan kita temukan. Do’a ibu, jelas. Restu ibu, seharusnya. Jika sudah demikian, maka tinggal hal terbaik apa yang telah ditentukan oleh Allah. Apapun yang diberikan harus diyakini sebagai hal terbaik yang diterima. Hal ini harus digunakan sebagai bahan introspeksi dalam rangka memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Sekaligus sebagai harapan baru untuk mengubah harapan agar mendapatkan yang lebih baik. Untuk itu dibutuhkan sebuah kesabaran agar dalam menjalaninya penuh dengan ketawakalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inspirasi dari seorang perempuan di seberang sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6560606473987021739?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6560606473987021739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6560606473987021739&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6560606473987021739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6560606473987021739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/07/ibu-sumber-energi-impian-masa-depan.html' title='Ibu, Sumber Energi Impian Masa Depan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6298398647195027537</id><published>2010-11-17T00:48:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T00:48:59.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Senandung Irama Jiwa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Duka bagiku adalah ketika hatiku tidak bisa belajar untuk sedikit berharap dan mengambil hikmah tentang segala arti kehidupan yang sebenarnya. Hal ini karena aku tidak bisa menyatakan apapun yang bias aku nyatakan dengan penjelasan. Denganmu, bagaimana pun aku bisa merasakan sesempurna apa yang patut untuk kuterima. Pikiranku dipenuhi tanda tanya, hatiku dipenuhi rasa gelisah, dan kecanggungan meliputi segenap sikap karena aku tak bias mendengarkan pikiranku tanpa menghancurkan hati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kegoyahan jiwa yang tidak bisa kutahan ini, telah mengoyak dan membinasakan keinginan hati untuk memaksa segera menemuinya. Kekalutan yang merajai keceriaan di sela-sela hari-hariku, menjemput segala eksistensi diri pada pintu nestapa. Kini aku lunglai, di pagi yang cerah tak lagi kutemukan matahari tersenyum binar. Renta, semua jadi meleleh begitu saja seperti segumpal daging yang bernanah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Taman hijau yang berada di depan rumah, terasa berselimut gersang dalam jiwa, sepi dan bungkam, hanya terdengar riuh jiwa yang menguntit pada detik-detik kepiluan. Aku masih juga tidak percaya, apakah memang pagi ini akan berganti dengan deraian air mata? Atau, apakah hati akan remuk bercerai setelah hati yakin akan dirinya? Waktu terasa diulur mundur dan mengingatkanku akan kegelapan setelah cahaya terpancar dalam alunan indah kerinduan yang kosong. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagu yang kunyanyikan bukan lagu sahdu melainkan dawai kepiluan yang sayu sembari menantikan senandung rindu. Pagi dimana semua makhluk meletakkan rangkaian bunga dalam pusara jiwa menyatakan hari berkabung atas kesedihan ini, tapi aku masih tetap berharap waktu akan sempurna dan menebarkan bunga di taman hati. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pesan untukmu Kawan…!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6298398647195027537?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6298398647195027537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6298398647195027537&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6298398647195027537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6298398647195027537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/11/senandung-irama-jiwa.html' title='Senandung Irama Jiwa'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5022032465098594015</id><published>2010-09-21T02:06:00.001+07:00</published><updated>2010-09-21T02:06:00.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Kesalehan Tradisi Mudik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mudik lebaran merupakan sebuah potret dialektika sosial yang telah menjadi kultur masyarakat dan menjadi setengah wajib untuk dilakukan. Setiap menjelang hari raya idul fitri, selalu menyajikan cerita tentang ritual sosial yang dilakukan sejak berabad-abad silam oleh masyarakat Indonesia. Sebagai bentuk ritual sosial, mudik telah menjadi identitas dan agenda tahunan yang tidak terelakkan setiap menjelang hari raya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini tidak hanya sebatas tradisi, namun ada makna lain yang menarik untuk dicermati. Mengapa masyarakat tetap rela bersusah-susah diri menjalankan tradisi ini hingga tak mengenal lagi rasa lelah, berdesak-desakan, tidak peduli resiko kematian di perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menunjukkan bahwa mudik tidak hanya cukup dikatakan sekedar tradisi biasa, namun ada spirit religiusitas yang mendorong setiap orang untuk melakukannya. Timbulnya ritual mudik berguna untuk mengenang asal-usul dan tujuan hidup, dan mudik yang paling efektif adalah seusai Ramadhan. Bersilaturahim pada saat Lebaran, adalah waktu yang tepat apabila untuk mengenang sejenak asal-usul sosial budaya dikampung bersama keluarga. Hal itu dilakukan oleh pemudik sebagai bentuk manifestasi ikatan dengan tanah leluhur (&lt;i&gt;earth bond&lt;/i&gt;). Mudik menjadi suatu jawaban untuk bisa terus terikat dengan tanah leluhur. Ikatan ini sangat lekat dengan suku-suku perantau di Indonesia. Ibaratnya seseorang telah memiliki rumah di kota atau telah berhasil di perantauan, namun daerah asal (tanah leluhur) akan tetap menjadi rumah sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik adalah mudik bukan hanya milik masyarakat muslim sehingga menandakan ada spirit religiusitas dimana mudik kemudian menjadi simbol tradisi universal yang tidak saja dilakukan dan dirasakan masyarakat muslim semata. Tradisi ini selalu ada dalam perayaan natal, waisak dan perayaan hari raya lainnya, dan contoh paling nyata adalah apa yang selalu di lakukan masyarakat Indonesia pada saat hari raya tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik menjadi sarat makna ketika telah diaktualisasikan dalam bentuk yang lain. Entitas ini tidak hanya batas tradisi akan tetapi bertautan antara sosial-budaya, ekonomi, keberagamaan dan mempererat hubungan emosional yang bisa membangkitkan energi positif untuk jiwa (kesalehan sosial). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya adalah setiap kali menjelang, saat, dan setelah lebaran salah satu prilaku masyarakat yang hingga kini belum didedukasikan adalah perilaku kesalehan diri. Yang lebih ditonjolkan adalah perilaku yang bercorak “membinatangkan” manusia lain, membenarkan atmosfer barbarian dan bukan kesalehan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Islam mengajarkan pada setiap manusia di muka bumi ini untuk tidak hanya hidup secara ekslusif untuk diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara, tetapi juga hidup untuk seluruh umat manusia secara universal. Menjaga keselamatan dan keberlanjutan hidup manusia secara keseluruhan atau masyarakat di mana pun berada merupakan bagian dari kesalehan yang wajib ditegakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sudut Pandang Mudik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mudik, dalam sudut pandang yang lain telah bergerak memasuki ruang makna yang bisa menjabarkan relasi sosial pada ranah solidaritas organik. Mudik sebagai entitas yang mampu menihilkan batas ruang sosial antara kota-desa, kaya-miskin, kepercayaan dan sekat-sekat yang berpotensi melahirkan ketimpangan dan konflik sosial. Dalam pandangan yang demikian, kebudayaan seperti itu memiliki potensi memadukan beragam kutub, termasuk persinggungan dinamis antara arus atas dan arus bawah yang berguna bagi kehidupan yang harmoni dalam lintas batas kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sudut pandang ekonomi. Gerakan kembali ke asal (mudik) adalah proses mengembalikan diri ke arah kebeningan hati, kedamaian laku, dan kepedulian terhadap sesama tentang persoalan kemiskinan. Seseorang yang sukses dirantau pulang dengan berinfaq dan bersedekah kepada kaum fakir. Saat mudik, terjadi perputaran uang dari si kaya ke si miskin. Saling berbagi. Hal ini diharapkan bisa meringankan beban penderitaan kaum fakir yang hidup jauh dari berkecukupan. Bisa diambil sebagai contoh kasus, di Kab. Magetan tempat penulis dilahirkan. Ada sekitar 15 ribu hingga 20 ribu pemudik. Jika setiap pemudik minimal menyedekahkan uang 1 juta, maka akan ada minimal 15 Milyard perputaran uang. Dengan demikian, maka perekonomian akan mampu bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang budaya. Mudik menjadi wahana strategis dalam menata tata ruang kebudayaan dalam arti luas yang bisa tetap dilestarikan. Melestarikan kebiasaan sosial seperti mudik ini sama halnya memelihara salah satu akar budaya nenek moyang. Kebiasaan ini mengingatkan akan ‘romantisme’ setelah lama meninggalkan keluarga, teman dan ruang kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, mudik memberikan cerita ganda di tengah masyarakat. Selain dijadikan sebagai momentum untuk merekonstruksi perikatan sosial yang pernah terkoyak, juga digunakan untuk menghadirkan potret disharmonisasi dan individualisme. Mudik merupakan momentum menjalin atau merajut kembali persaudaraan yang pernah terputus, interaksi yang lama terbelah oleh kesibukan berburu kepentingan atau proses perekonstruksian hubungan antarelemen masyarakat yang selama ini diwarnai corak disparitas, individualisme dan gampang menunjukkan klaim kebenaran. Karena itu, akan menjadi paradoksial jika hal itu ditempuh dengan menggunakan cara memproduk petaka bagi sesama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jito&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5022032465098594015?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5022032465098594015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5022032465098594015&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5022032465098594015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5022032465098594015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/09/kesalehan-tradisi-mudik.html' title='Kesalehan Tradisi Mudik'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5351555670505149795</id><published>2010-09-10T01:59:00.001+07:00</published><updated>2010-09-10T02:37:01.231+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Kecerdasan Spiritual Puasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang "Kecenderungan Manusia". Penulis hanya inign mengajak pembaca yang budiman untuk tidak hanya sekedar memahami dan memaknai puasa sebagai ibadah. Tetapi lebih dari itu, puasa merupakan upaya umat manusia untuk lebih memaknai kehidupan ini dengan keimanan dan ketaqwaan yang sebenarnya. Taqwa yang tidak hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, tetapi bagaimana implementasi keimanan dan ketaqwaan itu dalam memahami dan memaknai kecenderungan manusia dalam menjalani hidup sehari-hari.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingin kaya adalah fitrah manusia. Senang melihat wanita cantik adalah juga fitrah. Senang melihat pria tampan juga merupakan fitrah manusia. Ingin punya segala fasilitas hidup juga merupakan fitrah manusia. Semua keinginan yang membuat manusia nyaman juga fitrah manusia, dan semua itu adalah wajar dan manusiawi. Hanya saja, jika cara dan metode yang digunakan tidak sesuai dengan syariat, maka hal itu akan menjadi bencana yang membahayakan kehidupan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar sebab manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan segala fasilitas hidup guna memudahkan kehidupannya. Hal ini memapu meningkatkan kekuatan yang ada pada manusia, baik kekuatan fisik maupun non fisik. Secara fisik, manusia punya keinginan untuk tampil prima, kemudahan untuk menjalani kehidupan, dan segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani. Secara non fisik, keinginan untuk hidup tenang, damai dan bahagia merupakan salah satu komponen guna menjalani hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang menciptakan manusia merupakan dzat yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Tahu dan Maha dari segala-galanya. Sebagai dzat yang Maha Tahu, Allah mengetahui atas kekurangan dan kelebihan dari hamba-hamba-Nya. Agar manusia tidak larut dan terjerembab dalam jalur kesalahan dan kesesatan, maka Allah memfasilitasi dengan berbagai perisai. Salah satu perisai yang diberikan Allah dan saat ini kita jalani adalah Ibadah Puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa yang kita jalani, dan merupakan kewajiban bagi setiap insan yang beriman pada Allah dan rosulnya. Demi menjalani ibadah ini, manusia rela untuk tidak makan, minum dan melakukan hubungan suami isteri pada waktu siang hari selama satu bulan penuh. Pada kondisi yang demikianlah, tampak keindahan islam tanpa menafikan kenikmatan yang ada dengan melarang manusia untuk berbuat melampaui batas. Allah menunjukkan pada manusia sesuatu yang lebih berharga dari dunia sehingga tidak tenggelam dalam arus kenikmatan dunia. Dengan demikian, manusia menjadikan nikmat itu sebagai sarana untuk lebih banyak taat pada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi yang demikianlah, syariat islam berusaha untuk mendidik, merawat dan meninggikan kedudukan fitrah manusia. Islam mengajak manusia untuk mengendalikan seluruh nikmat itu dengan hanya mendudukkan sebagai sarana untuk lebih banyak taat pada Allah SWT tanpa membekukannya dan mematikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa melatih manusia untuk peka terhadap lingkungan. Puasa melatih orang untuk menata ego. Dengan puasa berubahlah keangkuhan manusia menjadi manusia yang tawadhlu dan peduli. Dengan puasa pula, maka manusia akan menyadari tujuan hidup yang sebenarnya hingga pada titik nadir akan melahirkan akhlak yang luhur yang menghiasi amal sehari-hari. Puasa akan mendatangkan iman dan kepekaan yang mendalam hingga mampu melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup serta memperhalus budi pekerti. Dari titik-titik yang demikianlah, maka derajat manusia akan terjaga dan terus terangkat. Ia tidak sekedar makhluk seperti hewan, tetapi makhluk yang beriman dan bertaqwa dan berkedudukan sebagai hamba Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kecerdasan yang demikian, maka manusia akan mampu mengendalikan nafsu bukan mengumbarnya atau membunuhnya. Pengetahuan akan hakikat perintah dan larangan akan mampu mengarahkan kearah yang positif sekaligus mampu mengendalikannya sehingga tidak terjerumus dalam kegiatan amal yang mengandung nilai-nilai negatif.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus yang lain, kecerdasan spiritual yang demikian akan mampu mengantarkannya pada ketabahan dan kesabaran diri dalam menghadapi segala tantangan dan ujian. Hal ini tentunya selaras dan seirama dengan tuntutan berkaitan dengan puasa. Rasulullah mengajarkan bahwa tuntutan berpuasa adalah menahan amarah, tidak mengucapkan kata-kata kotor, tidak memaki. Jika ada yang memaki maka kita disuruh untuk menyatakan bahwa “aku sedang berpuasa”. Dengan demikian, maka dengan berpuasa maka kita dituntut untuk berperilaku dan berbicara serta bertindak pada waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan kadarnya. Akhirnya, sebagai output terakhir dari berpuasa adalah kita akan tampil sebagai manusia yang bertaqwa, kita akan tampil sebagai manusia yang berakhlak mulia. Manusia menjadi mulia tidak hanya dihadapan sesame manusia, tetapi juga dihadapan Allah SWT. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5351555670505149795?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5351555670505149795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5351555670505149795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5351555670505149795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5351555670505149795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/09/kecerdasan-spiritual-puasa.html' title='Kecerdasan Spiritual Puasa'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3994622089917129470</id><published>2010-09-06T01:02:00.004+07:00</published><updated>2010-09-06T09:07:02.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Kecenderungan Manusia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena kehidupan umat manusia menunjukkan bahwa mereka mau melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan mengerahkan segala kemampuan dan keterbatasannya, manusia menunjukkan eksistensi dirinya. Banyak hal yang yang menunjukkan eksistensi manusia, ada yang memandangnya dari sisi wanita (bagi pria), kemudian ada yang memandangnya dari sisi pria (wanita), ada yang memandangnya dari sisi harta benda, dan&amp;nbsp; lain sebagainya. Semuanya bermuara pada arti satu kata, yaitu “kepuasan”. Yah…kepuasan terhadap hidup di dunia yang sifatnya hanya sementara dan berupa fatamorgana. &lt;br /&gt;Diawal sepertiga akhir bulan Ramadhan 1431 H ini, penulis berusaha untuk mengajak pada pembaca agar lebih detail dalam memahami dan memandang kehidupan dunia ini. Mumpung ini adalah akhir bulan Ramadhan, introspeksi atau mawas diri terhadap kehidupan pribadi dan segala hal yang berkaitan dengannya seyogyanya dapat kita lakukan. Hal ini demi sebuah kehidupan yang kekal kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia berdasarkan konsep kepribadian Islam merupakan makhluk mulia yang memiliki struktur kompleks, meliputi fitrah jasmani, fitrah ruhani, dan fitrah nafsani. Struktur fitrah ruhani lebih dulu ada dibandingkan dengan struktur fitrah jasmani. Kedua struktur itu sama-sama merupakan substansi yang menyatu dalam satu truktur substantif, yaitu fitrah nafsani. Oleh sebab&amp;nbsp; itu maka pemahaman kepribadian manusia tidak hanya tertumpu pada jasmani saja melainkan harus meliputi ruhani.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fitrah jasmani merupakan aspek biologis dari struktur kepribadian manusia. Aspek ini tercipta bukan dipersiapkan untuk membentuk tingkah laku tersendiri, melainkan sebagai wadah atau tempat singgah ruhani. Fitrah jasmani memiliki kekuatan hidup yang mengembangkan proses fisiknya. Walaupun sifat daya ini abstrak namun ia belum mampu menggerakkan tingkah laku. Tingkah laku dapat terwujud apabila jasmani telah ditempati ruhani. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fitrah ruhani merupakan aspek psikologis dari struktur kepribadian manusia. Ia diciptakan untuk menjadi substansi dan esensi kepribadian manusia. Sifat dasarnya suci dan mengejar dimensi spiritual tanpa mempedulikan dimensi material. Diri dan kesendiriannya mampu bereksistensi meskipun sifatnya di dunia abstrak. Tingkah laku menjadi aktual apabila fitrah ruhani menyatu dengan fitrah jasmani. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fitrah nafsani merupakan struktur psikofisik dari kepribadian manusia. Fitrah ini diciptakan untuk mengaktualisasikan semua rencana dan perjanjian Allah kepada manusia di alam arwah. Aktualisasi itu terwujud dalam bentuk kepribadian. Struktur nafsani bukanlah struktur “jiwa” sebagaimana yang dipahami Psikologi barat. Ia merupakan panduan integral antara struktur jasmani adan ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai hal, manusia mempunyai kecenderungan terhadap fitrah jasmani untuk menunjukkan eksistensinya. Salah satu yang sering mengemuka dan menjadi tujuan utama manusia adalah kecenderungan terhadap kehidupan dunia. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam salah satu ayat-Nya, yang artinya “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui ayat tersebut Allah menjelaskan pada manusia hal-hal yang melenakan. Allah mengawalinya dengan menyebut wanita, kemudian anak, kendaraan, dst. Wanita disebut pertama karena fitnah yang ditimbulkan wanita sangatlah berat. Hal ini sesuai dengan sabda rosul “Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang lebih bahaya bagi kaum laki-laki daripada wanita”. Namun, pada hadist yang lain dinyatakan juga bahwa “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik hiasan adalah wanita sholihah. Jika dia (suami) memandangnya, dia (istri) menyenangkan. Jika memerintahkan, maka dia menaatinya. Dan jika ia tidak berada di sisinya, dia senantiasa menjaga dirinya dan menjaga harta suaminya” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga urusan kecintaan manusia pada urusan dunia yang lain. Hanya saja, kadang kecintaan manusia terhadap dunia bukan dalam rangka patuh dan taat pada Allah. Rasa cinta itu justru kadang digunakan untuk menyombongkan diri bahkan berbangga-bangga. Bahkan tidak sedikit untuk menindas yang lemah dan fakir. &lt;br /&gt;Banyak manusia yang cinta pada dunia sering diiringi ketidaktahuan untuk apa ia mengumpulkannya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang manusia tidak tahu untuk apa ia mengumpulkan kendaraan banyak, memiliki rumah dimana-mana, deposito bertumpuk-tumpuk. Padahal untuk mendapatkannya, mereka harus melakukan banyak hal yang kadang-kadang luput dari aturan (syariat). Kalupun dengan cara halal, terkadang mereka lupa akan waktu. Ia sibuk mencari harta dengan menghabiskan seluruh waktunya. Padahal yang menikmati rumah dengan segala fasilitas mewahnya adalah pembantu. Keadaan tersebut tentunya menunjukkan ketidaksehatan spiritualnya. Spiritualnya tumpul dan tidak terasah. Padahal semakin tumpul kecerdasan spiritual seseorang maka akan semakin sulit untuk mendapatkan hidayah.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, kepribadian manusia yang terstruktur dari fitrah nafsani merupakan panduan integral antara fitrah jasmani dan fitrah ruhani bukanlah seperti kepribadian malaikat dan hewan yang diprogram secara deterministik. Ia mampu berubah dan dapat menyusun drama kehidupannya sendiri. Kehidupan semacam itu akan terwujud apabila terjadi interaksi aktif antara aspek fisik dan aspek psikis dari fitrah nafsani. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Islam menyerukan umatnya untuk merawat fisik fitrah nafsani. Fungsi perawatan ini adalah untuk kelestarian aspek psikisnya dalam membentuk dan mengendalikan kepribadian. Metode perawatan aspek fisik dalam Islam ditempuh melalui dua cara, yaitu bersifat positif dan negatif. Metode yang bersifat positif adalah mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, sedangkan metode yang bersifat negative adalah meninggalkan larangan-larangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jito&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3994622089917129470?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3994622089917129470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3994622089917129470&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3994622089917129470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3994622089917129470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/09/kecenderungan-manusia.html' title='Kecenderungan Manusia'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6563156067355635637</id><published>2010-08-11T09:35:00.000+07:00</published><updated>2010-08-11T09:35:26.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Pesan Ramadhan: Selamat Ramadhan 1431 H</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marhaban Yaa Ramadhan....!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Ramadhan 1431 H sudah kita jalani meski belum sepenuh hari, tapi kesuciannya menempati urutan teratas dibanding bulan yang lain. Di bulan ini, Allah Swt menjanjikan berbagai bonus dan diskon istimewa. Karena itulah, sebelum bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw telah menyambutnya. Bulan Sya'ban adalah bulan persiapan. Sejak bulan ini, Rasulullah menganjurkan agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan "tamu mulia" ini. Adapun cara yang dilakukan adalah dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum. Yang belum terbiasa shaum pada hari Senin dan Kamis, diharapkan pada bulan Sya'ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu, cukup dengan tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental sekaligus fisik dalam menghadapi bulan yang disucikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Muslim yang akan memasuki arena Ramadhan, hendaknya pada bulan ini mempersiapkan diri dalam menghadapi suasana indah Ramadhan. Suasana itu tergambar dalam hati dan terukir dalam benak pikiran. Kehadiran bulan mulia tersebut senantiasa dirindukan dan dinanti-nantikan. Ibarat orang berada dalam penjara yang selalu menghitung hari pembebasannya, maka setiap hari sangatlah berarti. Begitulah gambaran seorang Muslim, terutama para sahabat Nabi di masa yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat yang menyala-nyala. Ada sebuah tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban, para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini, kebiasaan Rasulullah dan para sahabat tersebut perlu dihidupkan lagi. Biarlah hari raya 'Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan ber&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahniah&lt;/span&gt;, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tahniah&lt;/span&gt;, saling mengucapkan "selamat" adalah kebiasaan baik yang ditradisikan Rasulullah. Dengan demikian, mestinya ummat Islam lebih serius mengirim kartu Ramadhan daripada kartu lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah contoh pesan yang disampaikan Rasulullah dalam kutbahnya menyambut Ramadhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam dimana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari; dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikan-kebaikan pada bulan ini maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti jika dia menunaikan suatu ibadah di bulan-bulan lain pada tahun itu. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapatkan tujuh puluh kali lipat ganjaran orang yang melakukan ibadah di bulan bulan lain pada tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran yang sejati adalah surga. Inilah bulan yang penuh simpati terhadap sesama manusia; ini juga merupakan bulan di mana rizqi seseorang ditambah. Barangsiapa memberi makan orang lain untuk berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan dijauhkan dari api neraka, dan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang diberinya makan untuk berbuka puasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, tak semua orang di antara kami mempunyai cukup persediaan untuk memberi makan orang lain yang berpuasa. Rasulullah Saw menjawab, Allah memberikan pahala yang sama bagi orang yang memberi orang lain yang sedang berpuasa sebuah kurma dan segelas air minum atau seteguk susu untuk mengakhiri puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bulan yang bagian awalnya membawa keberkahan dari Allah Swt, bagian tengahnya membawa ampunan Allah, dan bagian akhirnya menjauhkan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada bulan ini ada empat perkara yang harus kalian lakukan dalam jumlah besar, dua di antaranya adalah berbakti kepada Allah, sedang dua lainnya adalah hal-hal yang tanpa itu kamu tidak akan berhasil. Berbakti kepada Allah adalah membaca syahadat yang berarti kamu bersaksi akan keesaan Allah. La ilaaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah) dan memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan. Sedangkan dua hal lainnya yang tanpa itu kalian tak akan berhasil adalah kalian harus memohon kepada Allah untuk dapat masuk surga dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari sumber airku, air yang jika diminum tak akan pernah membuatnya haus hingga pada hari dia memasuki surga" (Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada berbagai kasus, diperlukan kepeloporan dari kita semua untuk memulai tradisi baru dalam menyambut Ramadhan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kita perlu sedikit kreatif untuk memulainya. Ide-ide baru juga perlu dimunculkan untuk menggagas kegairahan ummat dalam menyambut bulan suci tersebut. Perlu ada energi khusus untuk mengalihkan pusat perhatian ummat yang hanya tertuju pada hari raya kepada bulan Ramadhan. Hal ini bukan pekerjaan ringan, karena kebiasaan yang ada saat ini sudah mendarah mendaging.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat menunaikan ibadan di bulan suci Ramadhan 1431 H, semoga kita dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan berikutnya....! Amiin....!!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;jito&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6563156067355635637?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6563156067355635637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6563156067355635637&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6563156067355635637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6563156067355635637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/08/pesan-ramadhan-selamat-ramadhan-1431-h.html' title='Pesan Ramadhan: Selamat Ramadhan 1431 H'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-1462379075153898260</id><published>2010-07-30T23:21:00.005+07:00</published><updated>2010-12-26T09:29:37.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Merajut Cinta Dalam Bingkai Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini bermula ketika saya dan teman-teman mendiskusikan tentang hidup dan kehidupan di masa depan. Ya, sebuah pembicaraan yang menyenangkan, mengasikkan dan juga menggelikan karena sumbernya tidak pernah diduga, tidak diinginkan, dan diselingi dengan nada-nada canda tawa khas kami.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, pembicaraan kami tanpa ada awalan. Satu hal yang ingin saya garisbawahi pada pembicaraan kami adalah hidup di dunia ini hambar rasanya tanpa cinta dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah, cantik dan menawan hati. Muara dari pembicaraan kami yang tanpa &lt;i&gt;guideline &lt;/i&gt;adalah Allah menganugerahkan fitrah dalam diri setiap manusia sebuah perasaan tertarik terhadap lawan jenis. Apabila perasaan tersebut menghinggapi, maka kita bisa merasakan bagaimana nafsu merasuk, benih-benih cinta tumbuh perlahan dan getar asmara meliputi jiwa. Dan berbahagialah jika diantara kita bisa menikmati semua itu.&amp;nbsp; Hal ini menjadi pertanda jika kita adalah manusia normal. Pada tahap berikutnya kita bisa merasakan indahnya kehidupan melalui fitrah yang Allah berikan yang untuk selanjutnya disalurkan dengan cara yang benar, membangun dan melanjutkan proses kehidupan sebagai manusia untuk memakmurkan bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jika kebutuhan di atas adalah sebuah fitrah, maka itu harus dijaga agar tetap fitri (bersih), tidak disalahgunakan dan disalurkan dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat (aturan)-Nya. Karena itu, untuk menjaga agar kebutuhan itu tetap fitri, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai aturan dan sistim hidup, serta mengutus Rasul untuk menjelaskannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Itulah dua pedoman hidup setiap muslim agar senantiasa berada di atas jalan yang benar dan lurus, termasuk bagaimana mengelola dan menyalurkan kebutuhan yang fitri tersebut. Pada sisi lain, naluri ketertarikan manusia pada lain jenis diiringi dengan naluri syahwat yang "kata orang" melenakan dunia. Untuk itu, naluri ini harus dibingkai dalam sebuah aturan agar tidak menyimpang hingga membuatnya menjadi lebih rendah daripada binatang. Hal ini terjadi manakala akal dan pikiran kita mengabaikan dan tidak mau mengikuti aturan yang diberikan Alah (QS. Al-A’raf:179).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan buku-buku ataupun pelajaran yang pernah saya peroleh, satu hal yang membedakan kita dengan binatang adalah Moral. Ya, moralitas membuat kita berbeda dengan binatang, sebab bagi binatang hidup adalah kebebasan. Mereka tak butuh aturan yang harus menata pola hidup mereka. Lain halnya dengan manusia, alur hidup manusia terkontrol oleh aturan tata nilai kebenaran yang dipancarkan hati nurani dan akal fikiran. Dengan itu, kata salah satu sumber bacaan, kita dapat mengendalikan tarikan instink biologis kebinatangan yang ada dalam diri. Membuat kita hidup teratur saat berada dalam bingkai dan norma-norma yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga ini, Allah membingkai dalam Al-Isra ayat 32. Kita saat ini mungkin bisa merasakan, bagaimana perbuatan keji (tindakan zina yang dibungkus kalimat lebih halus perselingkuhan), telah menciptakan berbagai jenis kerusakan; runtuhnya sebuah rumah tangga hingga terjadinya pembunuhan. Maraknya perzinahan atau perselingkuhan dan berbagai penyimpangan orientasi seksual adalah prilaku yang tidak hanya menciptakan penyakit fisik, tapi juga penyakit sosial, mental dan moral di tengah masyarakat. Akhir-akhir ini, artis idola masyarakat bahkan idola kaum muda mudi telah membuat teror moral dengan menyuguhkan sebuah tontonan yang ”maaf” inthehoii. Betapa tidak, bangunan sosial yang dibangun masyarakat hancur dalam sesaat. Sungguh sebuah tindakan yang tidak hanya tidak terpuji, juga tindakan yang sangat sangat kotor dan hina.&amp;nbsp; Maaf saya tidak ingin melanjutkan lagi...!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada tema pembicaraan kami di atas, ketika Allah ciptakan pada diri kita insting biologis dan naluri seksual, maka penyaluran yang benar melalui proses pernikahan. Jalan yang sah adalah menikah bila merasa diri telah sanggup memberi nafkah untuk istri. Bila belum, maka ada cara mengendalikan nafsu seksual yaitu berpuasa. Inilah wadah dan bingkai yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur lain, menikah tidak hanya merupakan wadah yang sah untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Tetapi juga untuk merasakan ketenangan dan kedamaian dengan kehadiran seorang istri tercintai sebagai tempat berbagi, membangun keluarga dan untuk mendidik generasi baru. Karena itu, prioritas utama dalam berikhtiar mencari istri adalah kategori agama. Dalam hal ini adalah teguh dalam beragama, baik budi pekertinya dan mulia akhlaknya. Demikian pula bagi wanita hendaknya bersandar pada kriteria ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di akhir perbincangan kami, kami berharap semoga bisa mendapatkan pendamping yang ”cantik”, ”tampan”, ”kaya raya” dan berakhlak mulia, sebab Rasulullah saw. bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang baik (sholehah)!” (HR. Ibnu Majah). Dalam pemenuhan&amp;nbsp;insting biologis dan naluri seksual, penyaluran dan pengelolaan yang benar akan menurut tuntunan-Nya agar hidup terasa indah baik lahir maupun batin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jit&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-1462379075153898260?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/1462379075153898260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=1462379075153898260&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1462379075153898260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1462379075153898260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/07/merajut-cinta-dalam-bingkat-kebenaran.html' title='Merajut Cinta Dalam Bingkai Kebenaran'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2107253411245680730</id><published>2010-07-29T03:05:00.002+07:00</published><updated>2010-07-29T03:05:00.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Menyemai Hasrat Separuh Hati dari Secangkir Kopi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam ini entah sudah berapa kali aku menghirup kopi di cangkir malamku. Kopi pertama buatan saudariku telah lunas tertelan dalam perutku, dengan alasan aku mau ngerjakan sesuatu maka secangkir kopi sudah tersedia. Yah, kopi yang menemaniku malam ini, mulai cappuccino, mocca, nescafe, hingga kopi bubuk merek "sidomukti". Meski segala rasa kopi dengan berbagai rasa tersedia, tapi rasa itu tetap menyerap segala rasa yang menyertai kehidupanku hingga menusuk dada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melirik arloji dinding dengan merk ”Snechel” German di depanku, terlihat sudah menunjukkan jam 01.35 Wib. Berarti sudah 4 jam lebih aku duduk di meja pemberian temanku “Remon”. Sebuah meja besar warna hitam yang nyaman digunakan untuk sekedar memelototi laptop jadulku. Saat kutoleh keluar rumah, seketika aku menghela nafas panjang. Aku mendapati malam yang indah dan mempesona untuk dinikmati melalui jendela berbingkai lebar. Gerimis menyiram bumi. Irisan-irisan tipis air itu menerpa dedaunan di depan rumah yang membuatnya tampak segar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Gerimis ini seolah menunjukkan keadaan hati sang penikmat pagi. Hanya aku tidak juga menampakkan wajah muram sebagai pertanda psikologis. Kunikmati lagi secangkir kopi. Ini adalah cangkir ketiga kopi sidomukti yang aku bikin. Untung saja ada kopi yang selalu setia menemaniku memandangi laptop jadul. Untungnya lagi ada akses internet yang kugunakan untuk menjelajah dunia maya dengan akses telkom flash.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Memang, jika di malam hari mengerjakan sesuatu sendirian, serasa merupakan sebuah pekerjaan yang membosankan. Mungkin, akan lain ceritanya jika menunggu perempuan bermata kejora. Pasti akan menimbulkan sensasi tersendiri dan membuat waktu selalu akan menjadi lebih bersahabat. Selama apapun itu. Mungkin kali ya...!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah jam menunjukkan angka 2 berlalu dan tenggorokanku mulai terasa pahit setelah menelan 3 cangkir gelas kopi, membuatku sedikit tak jelas. Tapi semua itu aku rasakan tidak apa-apa. Aku berusaha berdamai dan bersahabat dengan diri sendiri. Semua kulakukan demi sebuah bintang kejora yang berada di pelupuk mata. Untuk yang ini, selalu ada pengecualian dan maaf tak bertepi. Aku jadi ingat, secara terduga, dulu aku pernah menyimpan separuh hati dan kuadukan kepada Tuhanku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan kegembiraan, karena menemukan kembali diriku yang sempat melayang entah terbawa kemana. Meski aku seolah menjadi lelaki pencumbu malam, tapi aku berhak bertanya pada diriku ”apa kabarmu separuh hati?” Masih selalu terngiang dalam benakku saat kalimat itu muncul yang seketika membuat jantungku berdegup kencang seakan meloncat keluar. Ia begitu bahagia dan tak menyangka, dunia mempertemukan secara tak terduga. Setelah interaksi itu terjalin, bercerita, tertawa dan saling berbagi rasa dalam berkomunikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini tak banyak yang bisa aku cerita. Kucoba membuka kenangan masa lalu yang mengalir deras lewat bayang-bayang yang berseliweran. Tentang puisi-puisi bintang, padang rembulan dan aneka warna benda yang terbang di angkasa serta selalu dilampirkan pada ”buku pelajaran” alam yang menghampar. Tentang indahnya awan, perjalanan masa kanak, remaja hingga kepedihan karena perpisahan harus berpindah ke kota lain. Aku masih memandangi langit di luar rumah dengan mengambil sebuah tempat yang membuatku leluasa menyaksikan berterbangannya benda-benda angkasa. Berbagai perasaan terus berkecamuk dalam hati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini harusnya musim sudah berganti, tetapi gugusan mendung yang ranum masih menitikkan tetes hujan hingga aku harus menyibakkan kabut keraguan agar merapat ke dermaga. Malam ini harusnya aku mampu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu pada Illahi Rabbi. Namun, di penghujung malam ini, aku membingkai binar-binar kehidupan dalam pelupuk mata bersama gelegak gairah jiwa agar menjadi lukisan yang indah di lekuk cakrawala. Dalam leleh cahaya bulan yang melumuri langit, kemudian ditingkahi semilir angin dan tarian dedaunan yang membelai lembut jiwa, kuhadirkan diri dan hati pada hadirat penguasa diri dan jagad raya. Kutengadahkan tangan untuk selalu terjaga dari lelap tidur guna merajut impian dalam genangan cinta dipalung kalbu agar getar cumbu tak berkesudahan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Optimisku muncul manakala fajar shodiq menyingsing dari ufuk timur sebagai pertanda Subuh sudah menghampiri. Sebentar saja aku bercakap dalam senyap dengan bahasa langit yang hanya aku yang tahu. Aku semai pagi dengan harap yang kerap datang mengendap lalu meresap kedalam hati. Aku tersenyum manakala di ujung sana seketika langit bersahaja, menyapa larik-larik kenangan dan meniti setiap selasar waktu bersama desir rindu yang tertoreh di kalbu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untukmu yang ada dalam inspirasiku. :-)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2107253411245680730?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2107253411245680730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2107253411245680730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2107253411245680730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2107253411245680730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/07/menyemai-hasrat-secangkir-kopi.html' title='Menyemai Hasrat Separuh Hati dari Secangkir Kopi'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8492767281138203335</id><published>2010-07-09T20:33:00.003+07:00</published><updated>2011-01-23T09:25:24.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Ibu Manifestasi Feminisme Kasih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita yang telah melahirkanku, dan biasa aku memanggil dengan sebutan “mbok”. Ibuku merupakan manifestasi pemikiran jiwa yang penuh dengan kearifan, yang melihat kebenaran tidak hanya dari prosedur dan bentuk lahir, dan juga bukan bentuk maknawinya. Tapi penuh dengan keterlibatan sikap, ketulusan cinta kasih, kelembutan hati, yang tidak dapat dijelaskan dengan kata, tetapi hanya dapat dirasakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ibuku merupakan manifestasi aspek feminim, mewakili sifat welas asih dan segala sesuatu yang lembut. Sebaliknya aspek maskulin tidak selalu lembut, kadang kala bahkan terasa sangat keras.&amp;nbsp; Pada salah satu hadis yang indah, sosok ibu lembut sekali, feminim sekali, yaitu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,: seorang lelaki menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang harus paling kuhormati?” Nabi SAW bersabda, “Ibumu”. Laki-laki itu berkata, “Siapakah setelah ibuku?” Nabi SAW bersabda, “Ibumu”. Laki-laki itu berkata, “Siapa lagi setelah Ibuku?” Nabi SAW bersabda, “Ibumu”. Laki-laki itu berkata lagi, “Lalu Siapa sesudahnya?” Nabi bersabda, “Ayahmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembutan hati ibu, ketulusan kasih ibu, tidak dapat dirasakan. Kasih yang mewarnainya, tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dirasakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu cerita, seorang wanita pernah bercerita tentang kehidupannya: &lt;br /&gt;Seorang wanita kehilangan suaminya dalam usia muda. Ia harus membesarkan anaknya yang masih berusia tanggung. Takut seorang ayah tiri tidak akan mampu memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama kepada anaknya, ia memutuskan tidak akan menikah lagi. Ia bekerja keras, bukan hanya untuk kelangsungan hidup, tetapi juga untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Bekerja sambil berdo’a, berdo’a sambil bekerja, -itu yang dilakukan oleh sang ibu. Akhirnya jerih payah dia membawakan hasil. Anaknya berhasil meraih gelar sarjana. Dalam waktu dekat, ia pun memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Gajinya cukup tinggi, ditambah dengan fasilitas yang cukup baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya sang ibu! Itulah ketulusan ibu. Dia rela berkorban demi anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sekarang, di zaman yang serba modern ini, tuntutan seorang perempuan modern untuk selalu tampil menjadi sosok yang utuh dan sempurna, namun tetap kuat dalam menjalankan perannya sebagai ibu dan istri serta aktivitas sosial lain tentunya membutuhkan kekuatan serta keseimbangan diri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perempuan zaman sekarang harus punya kekuatan diri yang bagus untuk menyeimbangkan berbagai peran tersebut. Salah satu unsur penting dalam keseimbangan diri bagi perempuan adalah memelihara kecantikan secara holistic, jiwa dan raga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini yang menjadikan Islam sebagai agama yang membawa pedoman-pedoman hidup mengajak pada perempuan untuk semakin memperkaya kecantikan jiwa dan raga dengan menyingkapkan rahasia hidup. Perbedaan budaya, adat istiadat dan kondisi keseharian membutuhkan resep dan prioritas-prioritas yang berlangsung dari generasi ke generasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Keelokan yang sudah menjadi kodrat bagi wanita itu, akan tambah mengkilap manakala ditambah dengan cermin kehidupan dengan bingkai kuning berornamen yang membiaskan cahaya lampu-lampu sehingga terangnya lebih luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku...! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8492767281138203335?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8492767281138203335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8492767281138203335&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8492767281138203335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8492767281138203335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/07/ibuku.html' title='Ibu Manifestasi Feminisme Kasih'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2008933705063716399</id><published>2010-06-14T16:28:00.002+07:00</published><updated>2010-06-20T12:49:35.738+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Sapuan Udara Taman Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi itu, setelah menjalankan rutinistas pagi tidak biasanya aku berhenti di taman komplek perumahan yang aku tempati. Hari masih terlalu pagi bahkan satpam belum mematikan lampu penerangan jalan. Entah mengapa aku pengen sekali untuk berhenti dan duduk di taman yang dibangun 8 tahun lalu. Kuhempaskan nafas bersama sejuknya udara pagi. Segar dan cerah, membikin suasana menjadi ingin untuk tetap disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di pagi hari yang sejuk itu biasanya diramaikan oleh suara burung yang bebas beterbangan kesana kemari menyambut cerahnya sang mentari. Siulan riuh rendah dengan alunan nyaring irama yang riang gembira, membuat senang siapa pun orang yang mendengarkan keceriannya. Bahkan beberapa penduduk menangkapinya, lalu memeliharanya dalam sangkar sebagai penghibur dan penghias didalam rumah atau diperjualbelikan di pasar-pasar sebagai mata pencaharian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung-burung liar nan cantik itu biasanya hinggap dari satu dahan ke dahan yang lain dengan menebarkan keceriannya. Mereka saling bercumbu rayu dengan pasangannya. Pejantan saling memamerkan keindahan bulu dan suara merdunya untuk menarik perhatian sang betina dalam terangnya hari yang menghangatkan udara pagi. Pagi ini menggugah manusia untuk memulai kegiatan hari-harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan tampak bukit-bukit hijau berderet dengan kokoh bagaikan liukan tubuh seekor naga raksasa yang sedang berjalan. Gugusan awan yang membara ditimpali sapuan putih, mega-mega membuat panorama begitu menenteramkan hati, jika mata menatap cakrawala yang tak terbatas nun di hamparan luasnya alam jagad raya. Dari kejauhan, pemandangan itu layaknya sebuah permadani yang tergelar sedemikian lebar. Gemericik suara burung yang hinggap di dahan pohon-pohonan adalah senandung lagu keseimbangan atas indahnya kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu adalah gambaran suasana hari kemarin. Tidak demikian halnya yang terjadi dengan pagi ini. Pagi ini, kabut putih dari sisa-sisa tetesan embun yang menguap kembali karena sinar kuning mentari yang menghangatkan udara pagi seolah menandakan bahwa hari ini berbeda dan jauh berbeda dengan hari kemarin. Kabut itu masih saja menggelantung dalam bayangan hati seperti meninggalkan rengkuhan pada pohon-pohon dan dedaunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seperti malas untuk beranjak pergi dari pembaringan guna meninggalkan rengkuhannya agar kembali mengawang di langit sana. Ia begitu kerasan untuk menyelimuti gunung dan bukit-bukit disekitar. Hati menjadi begitu lengang, waktu seakan terasa sedang berhenti dari perputaran. Cahaya sang surya tak mampu menghangatkan suasana pagi itu, sedangkan burung-burung akhirnya malas bernyanyi seperti biasa. Tampaknya penduduk masih enggan untuk bepergian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengherankan lagi adalah udara terasa lembab, padahal hari sudah mulai beranjak siang. Suasana pagi yang seolah-olah mengetahui suasana hati dari sang penikmat hari itu, kegundahan dan suasana hati yang sedang lesuh menyelubungi raut wajah hingga kecerahan itu kini serasa tersaput awan mendung kegelisahan. Pikiran melayang-layang melamunkan diri sambil duduk memandangi taman yang menghijau sambil menyandarkan lengan ke dagu. Mata menerawang ke langit-langit seolah menandakan tak biasanya wajah kemuraman menyelimuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelisah apa yang memainkan peranan dalam pikiran ini hingga terbangun dari keterlelapan kemesraan peraduan ketika sepi begitu hening dan rembulan membekukan gerak waktu? Rahasia apa yang sedang bermain hingga terlamunkan sampai ke gema mimpi-mimpiku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cahaya redup lampu jalanan karena kontras dengan mentari, sepertinya kemurungan mewarnai sebagian langit-langit hati hingga menyamarkan saputan asap harum wewangin hidup yang masih membakar. Hamparan lamunan tentang kesunyian itu akhirnya bisa kunikmati di pagi ini tanpa menghiraukan arah gerak lamunan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malang, Juni 2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2008933705063716399?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2008933705063716399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2008933705063716399&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2008933705063716399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2008933705063716399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/06/sapuan-udara-taman-hati.html' title='Sapuan Udara Taman Hati'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2349691617796928702</id><published>2010-05-27T00:10:00.001+07:00</published><updated>2010-06-01T00:32:07.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Merekam Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini bermula dari kesukaan penulis ketika menikmati debur ombak&amp;nbsp;di Pantura Kabupaten Tuban tanggal 21-23 Mei 2010 kemarin. Meski tak seindah Balekambang atau Sendang Biru atau Ngliyep, setidaknya, sejauh mata memandang aku bisa menikmati hembusan angin laut. Dalam kenikmatan yang dianugerahkan oleh Illahi Rabbi ini, penulis mencoba berziarah terhadap diri sendiri. Ketika itu, langit yang mendung sedang bergelayut seakan ingin melindungi diriku dari teriknya mentari. Teduhnya suasana siang itu, seteduh dan senyaman hati hingga mampu kurasakan suka dan duka yang merasuk tulang-tulang hingga urat nadi. Tak terbayangkan dan tak terpikirkan olehku jika hari itu aku berada di kabupaten ini. Diluar jangkauanku, tiba-tiba orang yang selama ini begitu baik padaku menyuruh untuk mengganti perannya di kabupaten ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malamnya, dalam keremangan cahaya lampu pinggiran jalan, aku mencoba menerka terhadap kehidupan yang kujalani. Bagiku, kehidupan ini adalah anugerah yang sangat luar biasa. Begitu besar anugerah itu hingga aku merasa bahwa pembawaan diri merupakan sebuah cerminan dari pengetahuan intelektual dan empiris yang intuitif dan selalu mengalir begitu saja. Disana, kugoreskan tinta kehidupan dalam lembaran hidup dengan menggerakkan emosi-emosi yang mengalir dalam deretan sang waktu. Kegelisahan, kejengkelan dan luapan emosi mengalir dalam diri dengan torehan nyanyian hidup sebagai medium. Ungkapan itu merupakan sebuah ekspresi kehidupan dengan langkah-langkah elementer yang bila tiap nafas penuh dengan rasa syukur, maka kita akan mampu menjalani hidup apa adanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan hidup dalam rangkaian waktu memuat berjibun-jibun informasi yang dalam realitanya mampu menyesakkan hati dan pikiran. Tanpa bermaksud menyindir seorang gadis yang berada di seberang sana, adanya realita psikologis masyarakat yang tertera dalam lembaran kehidupan telah melahirkan sebuah egositas dan egoism semu. Kemunduran terhadap apa yang telah dijalani menambah keyakinan dan kepercayaan diri mengenai harus kemana mengarahkan hati dan pikiran. Meski aku berikhtiar mencampakkan keamburadulan sudut-sudut informasi yang dijejalkan oleh pemahaman yang tidak seimbang dan jagad penuh kekalutan, tapi aku tetap penuh harap untuk menjalani kehidupan ini bersama. Dan aku pun menjadi yakin bahwa hidup bukan berada dalam alam harapan tetapi harus membuat sebuah langkah yang jelas dan transparan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas sikap yang ditampakkan olehnya, membuat aku menjadi tergagap dalam menyaksikan kenyataan. Dunia seakan ikut bergerak mendekati beberapa &lt;em&gt;tipping points&lt;/em&gt; yang memainkan peran penting dalam proses alami. Namun, tak peduli akan semua itu, aku tetap melangkah demi menggoreskan tinta emas dalam lembar demi lembar informasi yang berharga. Pada awalnya memang muncul kegelisahan, tetapi setelah rangkaian cerita tergores dengan indah maka aku mampu membangun sebuah ruang kesadaran empiris yang menggelora hingga mampu menampakkan ekspresi diri secara wajar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian, bukanlah diriku jika tidak ada sesuatu yang mempesona. Sebagai seorang yang berusaha ksatria (maaf mungkin agak sombong) dan suka berimprovisasi, hal itu tidak menjadikan diriku marah, memaki, mengumpat atau lainnya,&amp;nbsp;tetapi kujadikan sebagai perintis jalan. Aku tidak menceraikan diri dari pergaulan yang berkobar-kobar bahkan aku berani berterus terang dalam hidup yang bebas dan tak ada beban. Kujalani semuanya dengan fair dan tidak ada yang aku tutupi. Aku yakin bahwa ekspresi merupakan perwujudan dari luapan emosi yang terdokumentasi lewat medium jasad tubuh dan memberdayakan etos kreatif untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hanya berusaha untuk mencapai level aktualisasi diri yang lebih manusiawi, lebih asli, dan tak terpengaruh oleh pesona lain meski berada pada suatu budaya tertentu dalam sebuah komunitas. Aku hanya berusaha menemukan diri yang lepas dari kebutuhan penghargaan dalam mencapai kebutuhan aktualisasi diri hingga memungkinkan untuk memberi ekspektasi tinggi terhadap nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan dan nilai-nilai sejenis dalam memposisikan diri sebagai seorang manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses menjadi diri sendiri yang demikian harus didorong oleh etos kreatif untuk mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik. Potensi diri akan dibantu oleh pengetahuan dan pengalaman belajar yang diperoleh sesuai dengan perkembangan hidup. Ketika mencapai tahapan tertentu, maka seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri melalui proses kehidupan. Pada saat itu, kehidupan akan menemui kesepian yang memunculkan keharusan untuk memilih kegelisahan hidup. Kegelisahan yang kreatif akan mendorong kesadaran batin untuk menelan pil pahit berbagai pengalaman, dan berusaha menemukan ke-aku-an untuk menunjukkan personal diri. Membedakan antara “aku” dan konsep ego ke-aku-an merupakan sebuah fenomena riil yang harus dilakukan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menyadari bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini membutuhkan sebuah proses. Proses inilah yang menjadi bagian eksistensi diri. Pada kesempatan ini saya menyatakan bahwa proses yang kujalani dalam kehidupan ini belumlah berhasil tetapi aku tidak berhenti dan berputus asa. Bila anugerah dan kesempatan masih ada, maka aku akan melakukan aktivitas guna mengaktualisasikan diri dengan berbagai macam alasan. Aku berusaha untuk menjadi representasi diri yang kuat, lembut, apa adanya, santun, meski persona diri dalam kekalutan, dan kegelisahan. Hal ini bukan berarti saya menjalani kehidupan ini tanpa tujuan, tapi saya selalu mempunyai target-target hidup yang ingin saya capai entah dengan dia atau tidak. Dan, saya tidak menjadikan target-target tersebut sebagai tujuan hidup, sebab tujuan hidup yang jelas adalah mempersiapkan diri menghadap Illahi Rabbi. Oleh karenanya, sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan maka resolusi kehidupan sudah kurencanakan demi masa depan untuk kujadikan harapan baru dalam jangka panjang. Semua kulakukan atas dasar bahwa diri ini dipenuhi stamina yang kuat dan mempesona sekaligus keinginan yang menggelorakan hidup agar hidup menjadi lebih bermakna. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan ekspresi ini, kujalani hidup demi menemukan jawaban terhadap diri sendiri. Kubangun sebuah pengertian, pemahaman, dan implementasi tentang nilai-nilai etika dan estetika, sikap saling menghargai dan menghormati. Pada akhirnya, saya berharap kondisi yang demikian akan melahirkan nilai-nilai positif guna menemukan sebuah teka teki hidup tentang siapa, untuk apa, kemana, dimana, mengapa, dan masih banyak yang perlu ditemukan jawaban. Hal itu akan terjawab manakala diri ini masih diberi anugerah oleh Allah SWT untuk menyadari kegairahan hidup. Semoga…..! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tuban, 23 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2349691617796928702?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2349691617796928702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2349691617796928702&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2349691617796928702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2349691617796928702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/05/merekam-kenangan.html' title='Merekam Kenangan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-1540521480464695459</id><published>2010-05-09T01:31:00.005+07:00</published><updated>2010-05-09T01:46:41.172+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Makna Ketidaktahuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudahkah anda mengenali ketidaktahuan diri sendiri? Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mempunyai kesadaran tinggi untuk mengenal akan diri dan lingkungan. Hal ini dikarenakan, manusia merupakan makhluk Tuhan yang dikarunia sebuah anugerah rasa yang besar, yaitu rasa cinta. Kehadiran rasa ini disertai dengan sebuah kesadaran bahwa manusia pada awalnya merupakan makhluk yang tidak tahu. Rasulullah bersabda bahwa bayi ketika lahir ke dunia dalam keadaan putih bersih seperti kertas, bayi tersebut mau ditulisi dengan apa saja tergantung pada orang tua. Dari dasar seperti inilah maka yang ada pada manusia pada dasarnya adalah ketidaktahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….! &lt;br /&gt;Pada kaitan ini, penulis mengajak pada pembaca bahwa dalam mengenal dan mengembangkan segala sesuatu, seyogyanya kita mendasarkan pada rasa cinta bukan pada kesadaran sejati. Hal ini setidaknya didasarkan pada alasan bahwa cinta bersumber pada kelembutan hati untuk memberikan rasa, dan kesadaran bersumber pada logika empiris aktualistis. Karena landasan inilah, maka manusia akan selalu merasa dan berada dalam ketidaktahuan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan ini, mungkin diantara kita belum memahami makna akan “ketidaktahuan”. Maaf….! Ketidaktahuan yang dimaksud disini bukan berarti kebodohan. Berbeda sekali. “Ketidaktahuan” berawal dari rasa penasaran dan keingintahuan kita terhadap sesuatu. Rasa penasaran yang selama ini kita pendam dan terkunci dengan tanda tanya besar. Perjalanan waktu dan persoalan hidup, tanpa sadar membuat kita melupakan rasa penasaran itu, namun ternyata waktu pula yang membangkitkan arwah penasaran itu dari “liang kubur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman…! &lt;br /&gt;Kita sebagai makhluk yang tidak tahu, sulit untuk memisahkan makna ketidaktahuan itu sendiri. Kadang kita menyatakan sesuatu yang kita tidak tahu dengan pernyataan-pernyataan yang seolah-olah kita tahu. Begitu juga sebaliknya. Pada akhirnya yang muncul adalah sifat dari dalam diri yang tidak bersumber pada hati nurani sehingga muncul sifat-sifat yang merupakan manifestasi dari ketidaktahuan kita dalam wujud tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini setidaknya menyadarkan penulis pada pelajaran yang pernah penulis alami, bahwa ketidaktahuan manusia seperti batas antara terang dan gelap, layaknya tirai yang bergoyang dihembus angin. Penulis tidak tahu ada apa dibalik tirai. Tidak tahu juga apa yang terjadi jika kita menyibak tirai ketidaktahuan itu. Untuk membuka itu, kita harus jujur dengan diri sendiri sebab kita tidak berhak menyembunyikan segala sesuatu yang ada dalam diri kita.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua pertanyaan atas ketidaktahuan tersebut harus dijawab, biarlah menjadi sebuah “tanda tanya” begitu adanya, biarkan waktu yang menjawab.&amp;nbsp;Tanda tanya itu biarlah seperti misteri kehidupan itu sendiri. Bahkan kata teman saya “buat apa menghapus tanda tanya yang akan membuat permasalahan baru?” Namun, sayang sekali, kesadaran penulis akan ketidaktahuan ini bukan seperti kesadaran Nabi Musa ketika di Bukit Tursina. Jauh, sangat jauh dari itu. Ketidaktahuan Nabi Musa saat itu, karena beliau penasaran ingin melihat Allah, tapi ketidaktahuan penulis hanya karena ingin mengetahui kemauan dari sesama manusia. Oleh karena itu, maafkan aku Ya Allah atas kesalahanku yang demikian bertumpuk.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….! &lt;br /&gt;Ketidaktahuan tersebut menyebabkan kita sulit untuk menyadari dan memaknai akan kehidupan ini. Apabila kita tidak memiliki rasa kesadaran yang tinggi, maka sulit bagi kita untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang jelek dan mana yang baik, dan masih banyak hal-hal yang membutuhkan pembedaan. Kesulitan yang kita alami dikarenakan kita mengemukakan segala sesuatu tidak mendasarkan dengan penuh kesadaran, tapi masih dibayang-bayangi pernyataan-pernyataan yang berasal dari ego. Kita menyatakan seolah-olah dari dasar hati yang paling dalam meski tidak tahu seberapa dalam hati nurani yang kita kemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan memiliki kebijaksanaan yang hebat manakala dalam menjalani hidup ini, kita mampu membedakan mana yang buruk dan baik, yang asli dan palsu, yang benar dan salah, yang jujur dan bohong, dan sejenisnya. Paradox ketidakpastian antara dua sisi dalam hidup ini memberikan pelajaran berharga yang akan kita peroleh dari orang-orang yang berada disekitar kita. Karenanya, pemaknaan terhadap kehidupan ini atas diri sendiri tidak usah disembunyikan. Belajar untuk membuka diri merupakan suatu tindakan yang mulia sebelum membuka diri terhadap orang lain. Dengan demikian, yang asli tidak usah dipalsukan dan yang palsu tidak usah diaslikan, yang salah tidak usah dibenarkan dan yang benar tidak usah disalahkan, yang suka tidak usah dibencikan dan yang benci tidak usah disukakan, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Sejauh yang penulis pahami, untuk mendapatkan kebijaksanaan tersebut maka kita harus melakukan penyelidikan batin. Pada waktu itu (pelaksanaan penyelidikan batin), kita harus memisahkan diri dari perasaan dan pikiran. Hal ini karena rasa cemas, gelisah, takut, sedih, derita, bahagia, semua ketakutan dan kelemahan ini berhubungan dengan pikiran dan perasaan. Pikiran yang tidak murni dan kekeliruan kita dalam menyikapi segala sesuatu, akan menyebabkan kelemahan hati sehingga batin kita akan mengalami kekaburan dan tenggelam dalam duka dan penderitaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saat dimana dua entitas waktu yang berbeda dihubungkan, seperti antara gembira dan sedih, antara siang dan malam, antara berkumpul dan berpisah, antara suka dan benci, antara bahagia dan duka, dan saat-saat lain, biasanya hal itu akan berlangsung tidak lama. Dan, sudah tentu kita menginginkan kebahagiaan, bukan kesedihan. Untuk mencapai ini, maka jalan yang tepat adalah jalan kebijaksanaan. Sebuah jalan yang akan menolong kita agar tetap berada dalam kebahagiaan abadi. Oleh karena semua harmoni kehidupan ini berada dan sedang berjalan pada "rel"nya, maka kita sebagai manusia yang menyadari akan keberadaan diri, hanya bisa mempelajari, memahami dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang sedang mengiringi langkah hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….! &lt;br /&gt;Satu pelajaran yang penulis bisa ambil dari semua peristiwa yang mengoyak keyakinan akan masa depan untuk menjadi lebih baik adalah sebuah kesadaran bahwa kesabaran akan memberikan hasil yang maksimal. Sabar dalam memberi kesempatan untuk menjalankan tugas dan wewenang terhadap sesama merupakan sebuah upaya menuju kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Kesabaran kita saat diguncang bom waktu kehidupan dapat diambil menjadi sebuah hiasan hidup ditengah amuk amarah meski sisi kehidupan kita terus bergejolak. Sebuah sikap kedewasaan untuk tetap bertahan, dan tidak tersulut emosi harus mampu kita tunjukkan dalam rangka menata kembali tatanan puing-puing kehidupan diatas kesabaran dan asa yang tidak mudah retas akan bencana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan tersebut akan ditandai dengan peningkatan kemampuan berpikir yang terwujud dalam sikap dan tindakan kita. Kemampuan tersebut akan dipengaruhi oleh kemampuan dan taraf berpikir kita yang tampak pada pandangan dan pilihan solusi manakala menghadapi kesulitan. Indikasi yang bisa dilihat adalah kita mampu menyelesaikan tiap permasalahan baik yang menyangkut pribadi maupun lingkungan sekitar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Islam sebagai sebuah pandangan hidup dan sekaligus cara berpikir yang khas, telah memberikan jalan atau solusi untuk memecahkan berbagai persoalan yang ada. Tiap manusia memiliki persoalan hidup dengan berbagai macam konsekuensinya. Namun, sebagai seorang muslim, solusi dari tiap persoalan hidup selayaknya dikembalikan pada “guider” muslim, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkan kita bersikap yang demikian? Wallahu'alam.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat….! Amiin….! &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Jit&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-1540521480464695459?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/1540521480464695459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=1540521480464695459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1540521480464695459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1540521480464695459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/05/makna-ketidaktahuan.html' title='Makna Ketidaktahuan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3179030150750674853</id><published>2010-05-01T07:13:00.002+07:00</published><updated>2010-05-01T07:19:25.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>"PENJARA" Kurikulum Nasional Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini merupakan bagian dari laporan kegiatan penulis ketika melakukan kegiatan penelitian evaluasi pelaksanaan kurikulum pendidikan di tanah air. Sample wilayah yang diambil untuk Jawa Timur adalah Kabupaten Kediri, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Madiun, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini berlangsung dalam tahun 2006. Meski terlambat, setidaknya tulisan ini mampu memberikan sesuatu yang baru dalam hal pelaksanaan kurikulum di tanah air. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Hal ini mungkin membuat orang jaman itu menamainya dengan Sekolah. Sekolah yang dalam bahasa aslinya, yakni skhole, scola, scolae, atau schola berarti 'waktu luang' atau 'waktu senggang'. Waktu senggang ini digunakan oleh orangtua Yunani untuk menitipkan anaknya kepada orang yang dianggap pintar agar memperoleh pengetahuan dan pendidikan tentang filsafat, alam, dan lain sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Realitanya sekarang ini sangat bertolak belakang dengan asal muasal sekolah di atas. Kebanyakan anak maupun remaja sekarang justru menganggap sekolah sebagai beban. Menurut pengalaman saya dulu ketika masih berstatus sebagai pelajar, institusi pendidikan seperti sekolah tidak mengajarkan hal-hal yang saya anggap menarik untuk saya pelajari, melainkan mengajarkan segala pelajaran yang ditentukan oleh kurikulum yang berlaku. Seakan-akan seluruh ajaran yang diajarkan sekolah terkurung oleh sistem kurikulum yang ada saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja membawa berbagai efek buruk. Anak-anak yang ingin mengejar prestasi harus berusaha keras menguasai beban kurikulum yang didapat, bahkan sampai harus mengikuti berbagai les tambahan. Belum lagi ketika nanti sudah mencapai kelas 3 baik di SMP maupun SMA, anak-anak dituntut harus bisa menguasai seluruh pelajaran. Anak-anak remaja yang pasrah akan keadaan, seringkali berbuat hal yang buruk di luar jam sekolah seperti berkelahi/tawuran. Ini terjadi karena keengganan mereka untuk mempelajari hal-hal yang tidak mereka sukai. Bukan itu saja, dari pengalaman saya, tidak semua pelajaran yang saya dapat di sekolah dasar maupun menengah berguna bagi saya di perguruan tinggi, dan tidak semua pelajaran yang saya dapat di perguruan tinggi berguna di lapangan pekerjaan. Mengutip pernyataan Eka, kurikulum yang sangat tidak efektif, dan sangat banyak membuang waktu dan pikiran mengakibatkan Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang handal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alternatif Solusi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Teman saya menganalogikan seperti ini, seorang guru ekonomi mungkin tidak dapat menjelaskan rumus Newton yang paling sederhana. Begitu pula seorang guru fisika, mungkin tidak mengerti dan hafal apa yang disebut sebagai Hukum Gossen dalam ekonomi. Padahal mereka sama-sama mempelajari hal tersebut ketika masih di sekolah menengah. Jadi jika saya bercita-cita untuk menjadi seorang ilmuwan fisika, haruskah saya mempelajari ekonomi sekolah menengah? Begitu pula sebaliknya, jika saya ingin menjadi ahli ekonomi, saya seharusnya tidak terlalu mendalami fisika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sistem pembelajaran yang dianut bangsa ini hingga saat ini adalah “Semakin dalam kita mempelajari, maka semakin sempit yang kita pelajari”. Artinya, makin tinggi pendidikan kita, makin kecil lingkup yang kita pelajari namun semakin dalam. Sistem yang seharusnya kita berikan dalam sistem pembelajaran kita adalah mempelajari lingkup yang kecil sejak dini, sehingga ketika lulus seorang murid memiliki spesialisasi yang hebat dalam lingkup yang ia pelajari, dengan tidak menyia-nyiakan kemampuannya. Jika sejak dini seorang murid diberikan pelajaran yang cocok dengan bakat dan kemampuannya dan dengan tidak memberikan beban pelajaran lain yang tidak sesuai dengan kemampuannya, maka sudah pasti murid tersebut akan merasa nyaman dan tidak seperti terpenjara pendidikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Biarlah anak mempelajari fisika karena dia memang memiliki bakat dalam bidang fisika. Jika ia memiliki bakat dalam bidang ekonomi, biarlah ia mendalami ekonomi. Jika ia memiliki bakat dalam bidang olahraga, biarlah ia mendalami olahraga. Biarlah bakatnya yang menuntun ke arah mana dia harus menjalankan kehidupannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3179030150750674853?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3179030150750674853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3179030150750674853&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3179030150750674853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3179030150750674853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/05/penjara-kurikulum-kita.html' title='&quot;PENJARA&quot; Kurikulum Nasional Kita'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6270693310244096997</id><published>2010-04-25T02:57:00.005+07:00</published><updated>2010-04-25T10:21:38.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Pembelajaran Hidup 2 (Berpikir Jernih Demi Kedamaian Hati)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama yang ingin saya sampaikan adalah maafkanlah atas segala semua yang telah saya lakukan.&lt;br /&gt;Saya berangkat ke Surabaya Rabu kemarin dengan pikiran yang menurut saya risau. Teman saya meminta saya untuk berangkat meski suasana hatiku tidak tenang memikirkan apa yang terbaik yang harus saya lakukan. Kegelisahan saya bertambah ketika memikirkan konsep apa yang harus saya tawarkan pada undangan demi sebuah kegiatan di hari-hari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan yang demikian membuat saya benar-benar tidak bisa menikmati perjalanan sekaligus membuat saya lupa bahwa saya sedang mengendarai sebuah kendaraan yang rodanya besar dan melebar keluar sekitar 5 cm. Akibatnya, dalam perjalanan tersebut, saya kurang konsentrasi sehingga ketika ada pengendara motor menyalip dan memotong jalan dari samping dengan tergesa-gesa, membuat saya kurang sigap menginjak rem. Berikutnya adalah sepeda motor tersebut terjatuh meski bukan kesalahan fatal dariku, tapi sebagai pengendara kendaraan yang lebih besar, saya berusaha untuk tenang dan membuktikan sedikit rasa tanggungjawab. Akhirnya meski dengan perasaan risau, saya menyelesaikan urusan tersebut di kantor pos Polisi terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan hati saya bermula semenjak 1 minggu lalu, dimana saya berangkat ke sebuah kota dengan menyarter teman saya yang kebetulan paham dengan lokasi tujuan saya. Meski dengan hati yang risau, saya menyampaikan dengan tenang, penuh semangat dan hati yang damai. Ketenangan ini dikarenakan saya merasa bahwa maksud hati yang saya sampaikan mempunyai tujuan baik dan pasti tidak dimurkai oleh Allah SWT. Akhirnya saya menyampaikan juga dengan perasaan yang terasa singkat karena berlangsung menyenangkan. Dan pada sisi lain, saya bisa merasakan seperti sebuah terapi batin dalam rangka latihan yang tepat untuk mengasah hati agar lebih jernih dalam berpikir dan lebih bijak dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, esok pagi, teman saya yang bernama Ervan (saya biasa menyebut dengan Cacak), kawan baik saya yang mengantar, mengirim pesan pada saya: “Aku melihat yang ada pada dirimu kemarin.” Saya pun menjawab “Apakah terlihat mengharukan dan menyedihkan, Cak?” Dia membalas: “Tidak, kau terlihat begitu tenang, berwibawa dan karismatis. Dan seperti itulah seharusnya temanku". Saya pun juga heran dengan jawaban teman saya. Saya akui bahwa saya harus berterima kasih pada kawan saya tersebut, sebab dia tidak tahu tujuan saya minta dianter ke kota tersebut. Terima kasih juga aku sampaikan pada Yang Maha Kuasa sebab saya masih diberi teman yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang terapi batin yang saya dapatkan, saya kira hal itu tidak banyak bahkan mungkin tidak ada dalam agenda kurikulum pendidikan kita. Saya menduga karena pembuat kebijakan pasti tidak pernah mengalami hal serupa sehingga kurikulum yang dibuat di bangku sekolah merupakan hal-hal yang datar-datar saja (normatif). Padahal, ketika hal itu melanda, -mungkin kita alami juga- maka kita mengerahkan segenap rasa, seluruh pikiran, mengingat, berlogika, menganalisa, menerapkan pengetahuan, membuat berbagai sintesis, dan masih banyak lagi yang perlu kita kemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengalaminya, hal itu menuntut penggunaan bahasa yang&amp;nbsp; baik dalam menyampaikan isi pemikiran kita yang disertai dengan logika-logika. Kita dituntut untuk memberikan pemikiran yang jernih, terbuka, tajam, dan sederhana meski batin kita masih berada dalam posisi kegamangan. Disinilah saya merasa mendapat ujian yang sebenarnya tentang bagaimana saya mengaplikasikan apa yang saya pahami hingga saat ini. Saya belajar untuk tidak panik, saya belajar untuk tidak gelisah, saya belajar untuk berlapang dada, saya belajar untuk bersabar dan masih banyak yang bisa saya pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya seperti itu? Sesuai dengan pemahaman dan keyakinan saya bahwa sesuatu yang paling banyak menyita perhatian, pikiran, waktu, tenaga, yang berakibat mampu mengurangi akal pikiran dan kemampuan beribadah adalah rasa gelisah atau cemas. Padahal, perasaan gelisah tidak akan menyelesaikan sebuah persoalan bahkan akan membuat hati semakin sengsara dan menderita. Untungnya, saya sedikit ingat (sebab saat itu lupa persisnya, maafkan aku Ya Allah) sebuah ayat yang saya yakini kebenarannya (QS. 64:11 dan 57:22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam kaitan ini saya melakukan usaha untuk mewujudkan apa yang menjadi do’a. Dan pada akhir cerita, saya tetap percaya dan mengembalikan segala harapan hati, urusan hati, tumpuan hati, maupun usapan hati kepada Allah SWT. Sebab saya juga yakin bahwa segala sesuatu yang dialami oleh seluruh makhluk pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang telah diketahui, direncanakan, diatur dan digariskan secara cermat, penuh kebijaksanaan dan penuh kasih sayang oleh Allah tanpa melakukan kompromi dengan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, saya bisa mengambil hikmah dibalik ini semua, karena itu maafkanlah atas segala yang telah kuperbuat.&lt;br /&gt;Ya Allah, ampuni dosa-dosaku…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jit&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6270693310244096997?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6270693310244096997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6270693310244096997&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6270693310244096997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6270693310244096997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/pembelajaran-hidup-2-berpikir-jernih_25.html' title='Pembelajaran Hidup 2 (Berpikir Jernih Demi Kedamaian Hati)'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5146323724495975735</id><published>2010-04-24T01:45:00.000+07:00</published><updated>2010-04-24T09:19:43.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Sosial'/><title type='text'>Liberalisasi Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembaca yang budiman...! Mohon maaf sebelumnya, penulis mencoba mengambil tema ini dikarenakan carut marutnya sistem tatanan di negara kita. Mulai tatanan ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Carut marutnya sistem ini dikarenakan adanya keinginan dari berbagai komponen dalam bangsa ini yang kurang punya s&lt;i&gt;ense of crisis &lt;/i&gt;terhadap keinginan untuk membawa bangsa ini maju. Semoga kita semua diampuni Allah SWT...!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Derasnya dorongan globalisasi dan modernisasi telah membawa sekian jauh masyarakat Indonesia untuk berkecimpung dan bersusah payah mengikuti perkembangannya. Perspektif sejarah eksistensi global dan modern mempunyai tujuan dan mendesakkan pada satu tipe paradigma sosial baik dalam wilayah ekonomi, politik, hukum maupun sistem-sistem sosial lain. Paradigma-paradigma tersebut nota bene telah berkembang dan menjadi budaya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara Eropa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus globalisasi dan modernisasi telah sedemikian kuat membentuk satu paradigma bagi masyarakat dunia. Contoh paling sedehana adalah manusia modern mendefinisikan dirinya sebagai masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan konstelasi dunia dan cara berfikir dunia. Eksistensi modernisasi menyebabkan terjadinya perubahan besar utamanya perubahan pada tingkatan lembaga-lembaga publik dan termasuk didalamnya sistem nilai, sikap dan pola prilaku masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi dan modernisasi dalam konstelasi lokalitas Indonesia harus disikapi dengan kehati-hatian. Bangsa Indonesia merupakan negara berkembang dan berada dalam transisi menuju Indonesia baru dan bermartabat yang dalam banyak hal mengalami kekurangan dan masih melakukan pembenahan diberbagai tempat.&amp;nbsp; Eksistensi bangsa Indonesia sebagai negara berkembang harus disadari betul karena sangat mudah terjatuh pada arus imprealisme baru. Ironi yang terjadi adalah bangsa Indonesia tergadaikan kepada negara-negara maju yang berakibat banyak peraturan dan kebijakan yang menguntungkan negara-negara maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak globalisasi dan modernisasi tidak lain merupakan imperialisme global dan telah mengubah tatanan sosial masyarakat. Globalisasi berhasil mendesakkan mendunianya sesuatu yang berupa kapital, moral, ilmu, sains dan teknologi yang nota bene dikuasai oleh para komplotan negara-negara maju Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Effek yang paling jelas saat ini adalah terjadinya krisis moral yang diakibatkan oleh globalisasi. Moral religius sedikit demi sedikit dikikis oleh gelombang kapital global yang melanda kehidupan manusia sedunia. Manusia dalam kondisi global saat ini dibentuk menjadi &lt;i&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt; (manusia sebagai srigala) dan &lt;i&gt;homo economicus &lt;/i&gt;(manusia ekonomi). Manusia dewasa ini seperti srigala yang memangsa terhadap manusia yang lainnya karena ukuran kemanusiaan terhadap manusia yang lain tidak lain dari sekedar dari tujuan ekonomi dan materi belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai yang kita agungkan dari prinsip persaudaraan, solidaritas, kesetiakawanan dan kebersamaan telah berubah menjadi nilai yang berorentasi materi dan ekonomi belaka. Semuanya sudah dihitung untung rugi. Konsep perhitungan untung rugi (&lt;i&gt;Benefit cost ratio&lt;/i&gt;) merupakan supra struktur dan infra struktur sistem ekonomi neo yang nota bene berlawanan dengan sistem ekonomi kerakyatan yang dimiliki bangsa Indonesia. Konsep yang demikian merupakan sistem tatananliberal. Liberalisme merupakan sebuah konsep yang berwajah multi dimensi. Selain memiliki wajah geo politik ia juga memiliki wajah ekonomi dan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, gagasan liberalisme sepintas masuk akal dan baik, sebab pada intinya merupakan pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas sempurna di pasar, pengakuan kepemilikan pribadi sebagai faktor-faktor produksi serta penertiban harga pasar yang dilakukan oleh negara melalui perundang-undangan. Namun, seiring dengan munculnya IMF dan World Bank (lembaga alat negara maju), gagasan tersebut menjadi media yang ampuh melakukan imperealisasi terhadap negara-negara berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan dalih janji percepatan pemulihan ekonomi terhadap negara-negara berkembang dan miskin, mereka mensyaratkan untuk, pertama, pelaksanaan kebijakan anggaran ketat termasuk penghapusan subsidi negara atas pelayanan publik. Kedua, pelaksanaan liberalisasi dalam sektor keuangan. Ketiga, liberalisasi dalam sektor perdagangan dan keempat privatisasi BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan agenda tersebut, mereka membuat skenario global. Seperti pertama, penawaran sistem pemikiran, design pembangunan dan kerangka pertumbuhan ekonomi melalui para pakar dan aktor intelektual yang dikirim ke negara-negara sasaran. Dimana mereka menawarkan berbagai pemikiran seperti multikulturalisme, demokrasi liberal, budaya pop, kurikulum pendidikan dan hal lain yang kesemuannya mempermudah jalan lapang kapitalisme dan kepentingan ekonomi komunitas global. Kedua, infilterasi intelijen dengan memunculkan isu-isu strategis sebagai langkah destabilisasi keamanan contoh rielnya adalah isu terorisme diberbagai tempat. Ketiga, melakukan invasi militer sebagaimana terjadi di Afganistan, Irak, Palestina, Libanon serta para negara yang jelas dan tegas melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan para sekutunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Indonesia? Bangsa ini telah melaksanakan agenda-agenda liberal sejak pertengahan tahun 1980-an yang nota bene melalui kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, namun momentum krisis di penghujung tahun 1997 menjadi sejarah besar bagaimana agenda-agenda liberalisme itu sangat sistemik di Indonesia. Pemerintah Indonesia pada saat itu secara resmi mengundang IMF&amp;nbsp; untuk memulihkan kondisi perekonomian Indonesia. Sebagai prasyarat pencairan dana IMF tersebut, pemerintah berkewajiban melaksanakan agenda liberal melalui penandatanganan &lt;i&gt;Letter Of Inten&lt;/i&gt; (LOI). Dengan penandatanganan tersebut pemerintah terjebak pada prinsip kebijakan liberalisme dan hal tersebutlah yang menjadi fundamen&amp;nbsp; krisis multi dimensi sampai detik ini. Bermula dari politik ekonomi global dan penghianatan para birokrat&amp;nbsp; Indonesia berakibat pada krisis yang menyesengsarakan rakyat yang terjadi sampai detik ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5146323724495975735?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5146323724495975735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5146323724495975735&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5146323724495975735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5146323724495975735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/liberalisasi-indonesia.html' title='Liberalisasi Indonesia'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-565379139534051333</id><published>2010-04-22T23:12:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T23:16:40.560+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Tradisi "dan" Kekerasan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, penulis mengucapkan Mohon Maaf jika kurang berkenan....!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maraknya aksi unjuk rasa akhir-akhir ini, disertai dengan sikap-sikap arogan, anarkis dan merusak sebagaimana tragedy Koja dan mungkin tragedy-tragedi lain di Indonesia merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan dan patut disesalkan. Seperti aksi penggusuran kompleks makam Mbah Priok, unjuk rasa dengan merusak bangunan sekolah seperti di Makassar, mernbakar gedung perkantoran dan mengintimidasi person-person yang dianggap lawan politik, yang terjadi di beberapa daerah termasuk di Jawa Timur. Sikap arogan, anarkis dan destruktif ini justru muncul di saat bangsa Indonesia baru saja terlepas dari kungkungan pemerintahan orde baru dan berusaha melakukan perbaikan-perbaikan menuju pemerintahan yang reformis dan cenderung demokratis demi kehidupan di masa yang akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di sekitar kita yang lebih memprihatinkan lagi adalah anarkisme, arogansi, non egalitarial dan sikap merusak ini dimotori oleh kelompok-kelompok tertentu yang sangat kental dengan simbol-simbo! agama (Islam). Bahkan perilaku yang violence (kekerasan) tersebut semacam mendapat dukungan/pembenaran dari kaum elit agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Paradox realita ini menunjukkan bahwa agama sebagai&amp;nbsp; simbol-simbol pencerahan moral dan etika umat, yang mengajak pemeluk/pengikutnya untuk mengedepankan aspek kesalihan pribadi dan kesalihan social senantiasa menganjurkan kepada umatnya untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman. Sementara pada sisi yang lain, elit agama yang secara aspek ritual, intelektual, mistikal bahkan sosial punya nilai lebih dibanding masyarakat biasa (awam) tidak bisa dijadikan panutan atau guru spiritual masyarakat. Namun kenyataan yang terjadi justru seolah-olah agama menjadi simbol-simbol kekerasan, anarkisme dan sikap arogan. Sementara elit agama menjadi pihak-pihak yang mensuport dan mengamini tindakan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mari kita dari sudut pandang Islam, sebab kebetulan penulis meyakini akan kebenaran salah satu agama yang di akui di Indonesia ini. Sebenarnya Islam adaiah agama yang mengajak kepada ummatnya untuk&amp;nbsp; senantiasa menciptakan kedamaian dan ketentraman. Hal ini seiring dengan definisi islam itu sendiri yang diartikan "kedamaian" atau "keselamatan". Jika kita kaji lebih jauh Al-Qur'an membuktikan bahwa Islam membawa misi damai. Hal ini selaras dengan isi dari Surat 36 ayat 58 dalam Al-Qur’an. Salam, as-salamu'alaikum (semoga kesejahteraan bagimu) pun mengindikasikan kedamaian ini. Juga kata yang diucapkan Allah itu penuh dengan kedamaian, "salam sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang maha Penyayang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang penyayang dan menyukai kedamaian. Dan bagi mereka yang menolak untuk beriman, Allah juga. Menyampaikan salam damai, “Dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman’. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah, ‘salam’. Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka buruk) (QS. 43:88-89). Surga juga merupakan sebuah tempat yang tiada lain kecuali penuh dengan kedamaian, “Mereka tidak mendengar di dalam perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam” (QS. 56:25-26).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas, diwahyukan ketika nabi Muhammad menghadapi kehidupan yang aniaya, dan selaras dengan konteks Mekah ketika itu. Semua menjadi bukti bahwa sebenarnya yang ingin diperjuangkan Islam adalah kehidupan yang damai. Jika kita mau sedikit berusaha untuk memahami ini sebenarnya sudah jelas bahwa Islam melarang penggunaan cara yang tidak etis (kekerasan) untuk meraih tujuan. Persoalannya adalah mengapat kekerasan yang merupakan tradisi masyarakat Jahiliyah muncul di dalam institusi Islam? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Memang tradisi Islam lahir pada masa jahiliyah dan kemudian berusaha sekuat tenaga menolak semua yang terkait dengan zaman jahiliyah. Tetapi tradisi dan praktek sosial tidak dapat terputus secara tiba-tiba dan tegas. Walaupun Islam secara frontal melawan tradisi jahiliyah, akan tetapi, transisi Islam yang baru tidak dapat sepenuhnya menghapus atau berdiri diatas tradisi jahiliyah. Suka atau tidak, pola-pola tertentu masih berbau Jahiliyah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Jahiliyah dikenal penuh dengan kekerasan antar suku. Ketika itu, perang berlangsung terus-menerus dan tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir, sehingga menimbulkan pertumpahan darah. Kondisi gurun pasir yang tandus dan sangat tidak ramah, di mana orang mampu bertahan hidup hanya dengan mengorbankan orang lain menambah kerasnya kehidupan tersebut. Konsep Hammiyah di antara suku-suku Arab menjadi hal yang sangat lazim, mempertahankan kesukuan menjadi kebenaran yang utama, dan kekerasan menjadi bagian integral dari kehidupan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Realitas sosial mereka menunjukkan bahwa mereka sulit memahami orang lain di luar sukunya. Tata aturan hidup mereka terbatas pada adat kesukuan yang tidak tertulis. Mereka sangat bangga dengan nenek moyangnya. Jika perasaan kesukuan tersebut sampai tersinggung, maka akan terjadi pertumpahan darah dalam waktu yang panjang, bahkan berlangsung sampai beberapa generasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip apa yang disampaikan oleh Ahmad Amin, Jahiliyah tidak sepenuhnya bermakna kejahatan (makra literal) seperti yang dipahami orang, namun juga bermakna “kekerasan”, “kemarahan yang tidak terkendali” dan kesombongan. Dia juga menyebutkan bahwa Islam secara langsung bertentangan dengan jahiliyah, dalam pengertian Islam menekankan kedamaian. Al-Qur'an mengatakan, “ Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahat menyapa mereka, mereka mengucapkan kata yang baik”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi&amp;nbsp; fenomena&amp;nbsp; kekerasan, anarkisme dan arogansi yang melanda ummat sekarang ini, sebenarnya bukan representasi agama Islam, sebab Islam sangat menentang sikap-sikap bodoh tersebut, akan tetapi aktualisasi budaya/tradisi jahiliyah yang masih lekat dalam institusi agama, dan dalam konteks bangsa Indonesia sekarang ini bisa disebut Neo Jahiliyah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa sikap-sikap tersebut merupakan representasi sikap-sikap Jahiliyah. Pertama, tindak kekerasan dengan merusak, membakar, mengintimidasi adalah bagian integral kehidupan Jahiliyah. Kedua sulitnya mereka diajak kompromi, memahami permasalahan yang ada dengan kepala dingin, menyerahkan urusan kepada pihak yang lebih berwenang baik itu Lembaga Perwakilan Rakyat atau aparat penegak hukum. Ketiga, kultus individu/kelompok, dan rasa fanatik golongan akan muncul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam belum mengakar betul pada masyarakat,&amp;nbsp; bahkan&amp;nbsp; institusi agamapun masih jauh dari harapan ummat. Oleh karenanya, tugas rumah yang masih besar ini harus disikapi dengan kesabaran dan doa sebab kekerasan dibalas dengan kekerasan sama halnya keburukan dibalas dengan keburukan yang hal itu justru tidak menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-565379139534051333?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/565379139534051333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=565379139534051333&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/565379139534051333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/565379139534051333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/tradisi-dan-kekerasan.html' title='Tradisi &quot;dan&quot; Kekerasan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7608399504097553032</id><published>2010-04-19T01:07:00.007+07:00</published><updated>2010-05-08T22:03:44.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Pembelajaran Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya, maafkan atas semua yang telah kuperbuat….! &lt;br /&gt;Hari Sabtu kemarin, sebuah hari yang cerah tiba-tiba mendung bergelayutan di awan. Pagi aku berangkat ke sebuah kota yang tidak jauh dari Kota Malang. Aku menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama kurang lebih 2,5 jam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, siang itu, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dan tak mungkin akan terlupa. Sebuah pembelajaran dalam hidup yang menuntun pada kehidupan untuk menjadi lebih bermakna. Semula aku merasa berada dalam situasi yang banyak menampilkan kegelisahan, hingga penyampaian secara nyata aku lakukan terhadap tema yang sangat aku perlukan agar setiap perbedaan pemikiran, cita-cita dan keinginan tetap terjaga dengan penuh keharmonisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada hari ini aku mendapatkan sebuah pembelajaran yang tidak aku dapatkan baik di buku-buku, sekolah maupun di bangku kuliah. Aku belum bisa menyimpulkan, tapi setidaknya memahami apa yang disampaikan. Aku  merasa yakin bahwa keharmonisan dapat terwujud apabila didukung dan dilaksanakan dua elemen pribadi sebagai komponen pembentuk ikatan. Dengan demikian, upaya mewujudkan keharmonisan serta keselarasan harus dimulai dengan membangun mental spiritual tiap pribadi yang pada hakikatnya penuh dengan perbedaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalankan kehidupan, perbedaan adalah hal yang sangat wajar. Mulai dari perbedaan daun pada setiap jenis telinga, perbedaan pandangan dalam melihat fenomena kehidupan, hingga perbedaan yang ada pada diri setiap orang. Ketika seseorang telah mampu menerima perbedaan yang ada pada dirinya, seharusnya ia juga mampu memperluas pengertian keberadaan perbedaan dalam pola pikir diri sendiri. Ada nilai-nilai yang sering berubah sejalan dengan bertambahnya waktu dan perkembangan kebijaksanaan. Jika dahulu suatu perbuatan dikatakan baik, dengan berlalunya waktu, kadang perbuatan yang sama bisa juga dikatakan tidak baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi perbedaan yang terdapat pada pola piker tersebut, seseorang hanya bisa berusaha menerima perbedaan itu sebagaimana adanya. Apabila ia telah mampu menerima, barulah ia bisa memanfaatkan perbedaan itu untuk mendapatkan kemajuan. Sama halnya dengan perbedaan pola pikir dan sikap hidup seseorang terhadap orang lain di sekitar, adanya berbagai perbedaan bukanlah untuk dijadikan sumber permusuhan. Perbedaan haruslah dihargai dan diterima sebagaimana adanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Seseorang hendaknya memahami bahwa tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama tentang satu atau lain hal. Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan sikap yang berbeda. Ketika seseorang mampu menerima adanya perbedaan dalam pola pikir maupun sikap hidup orang lain,&amp;nbsp;ia justru akan mampu menjadikan perbedaan itu sebagai pelajaran. Ia dapat menambah wawasannya dengan belajar kepada mereka. Mempelajari hal yang berbeda dari orang lain bukan selalu berarti mengikuti orang tersebut. Mempelajari hal yang baru dan berbeda adalah kesempatan untuk membuka kemungkinan mengubah atau memperbaiki pola pikir maupun sikap hidup yang telah dimiliki dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk meningkatkan kualitas diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menerima dan mempergunakan perbedaan yang ada untuk meningkatkan kualitas diri telah banyak dicontohkan oleh nenek moyang kita. Nenek moyang kita telah menurunkan pola dan prilaku hidup yang seharusnya dilakukan oleh anak cucu mereka. Namun, manusia lupa akan sejarah dan kepribadian yang di tinggalkan oleh nenek moyang. Umat manusia haruslah selalu menganggap bahwa adat istiadat dan kebudayaan merupakan tinggalan (warisan) nenek moyang yang sudah seharusnya diikuti jejak dan perilakunya. Namun, sayang sekali, mereka lebih suka dan lebih menerima prilaku yang dibawa oleh orang-orang asing dengan berbagai jargon modern dan global.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Umat manusia saat ini, di tengah berbagai perbedaan pola pikir, budaya, agama, tingkat sosial maupun sikap hidup hendaknya mampu menerima segala bentuk perbedaan secara alamiah. Kemampuan menerima perbedaan merupakan tanda kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang untuk mewujudkan kehidupan harmonis dalam masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan ini timbul dari perenungan bahwa segala yang ada dalam diri sendiri pun selalu berbeda dari waktu ke waktu, apalagi dengan orang lain. Ketika mampu menerima dan memanfaatkan perbedaan yang ada untuk meningkatkan kualitas diri, maka timbullah kebijaksanaan dalam dirinya. Ia tidak lagi berusaha menyamakan hal yang sudah jelas berbeda. Ia juga tidak &amp;nbsp;ingin membedakan hal yang memang sudah sama. Ia mampu bergaul dan bersahabat dengan mereka yang sama pola pikirnya maupun yang berbeda pandangan hidup dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dimaksud dengan paradoks yang menggiring pada wacana tentang identitas budaya. Suatu identitas yang dibangun melalui pergulatan dan ketegangan dalam berdialektika dengan berbagai ragam komunitas budaya. Pada satu sisi berusaha masuk dalam percaturan internasional yang menepis batas-batas geografis, batas-batas etnis, bangsa atau identitas budaya, di sisi lain justru muncul semangat untuk kembali pada etnisitas, lokalitas, mempertimbangkan batas-batas geografis, mempertimbangkan entitas kebangsaan atau mempertimbangkan warna budaya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara internal, kita masih menyimpan sejumlah persoalan, kita masih terperangkap pada lingkaran persoalan tradisional dan modern. Tradisi dan modern menjadi dua kutub yang saling tarik menarik. Di satu sisi mempersoalkan nilai-nilai, di sisi lain mempersoalkan efektivitas dan efisiensi. Terlebih lagi di tengah keragaman budaya yang masing-masing semakin kuat posisi tawarnya. Multikulturalisme menjadi pencaharian yang sangat panjang mengenai hak keseimbangan yang tidak tampak antara kebenaran mayoritas dan kebenaran minoritas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekelumit tentang pelajaran hidup yang aku dapatkan dan yang tak mungkin terlupakan. Tak sanggup aku untuk melanjutkan kata-kata lagi, seakan hati bergetar ketika ingin menuliskan lebih banyak dari selintas kisah yang aku jalani kemarin. Banyak sekali pelajaran hidup yang dapat aku ambil dari orang yang belum lama aku kenal, sehingga meski baru dua kali bertatap muka sepertinya sudah lama sekali. Semoga semangat hati, semangat bertindak tetap membara di hati......!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jit &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7608399504097553032?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7608399504097553032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7608399504097553032&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7608399504097553032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7608399504097553032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/pembelajaran-hidup.html' title='Pembelajaran Hidup'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8654850068018749980</id><published>2010-04-15T01:41:00.004+07:00</published><updated>2010-05-08T20:16:53.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Seberkas “Cinta” Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Malam ini, entah mengapa aku menjadi ingat akan sebuah kisah nyata di Dhaka, Bangladesh, mungkin juga pernah terjadi di Indonesia. Ada kisah menarik dan menggelitik hati. Bapak dan anak saling membunuh karena cinta. Penggambaran sebuah kisah yang menunjukkan kebodohan manusia dan amat memalukan. Menurut berita yang pernah penulis baca di salah satu surat kabar, ceritanya berawal dari kebiasaan bapak dan anak tersebut untuk berbagi cinta dengan seorang gadis. Mungkin saja seorang tuna susila dan berusaha merebut cinta gadis tersebut. Tragedi bermula saat si gadis tidak tahu jika dua lelaki yang sering menjadi teman asmaranya pada waktu berbeda adalah ayah dan anak. Pada suatu saat, mereka datang pada waktu yang bersamaan. Keduanya sangat marah sehingga pertengkaran pun tidak dapat dihindari, dan terjadilah perkelahian yang berakhir dengan si ayah mati akibat tertusuk di perutnya. Namun, sebelum rebah ia berhasil menancapkan belati di jantung anaknya. Matilah keduanya. Tragis…!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saya menjadi ingin mengajak pada pembaca untuk sama-sama merenung mengenai hakikat dan bagaimana cinta yang sejati, tulus dan suci itu sebenarnya. Penulis mengawali dengan sebuah fenomena bahwa sesungguhnya perjalanan hidup manusia akan sentiasa dipenuhi dengan warna-warni cinta. Bahkan jika boleh saya ungkapkan kehadiran manusia di muka bumi ini disebabkan Allah SWT mencampakkan suatu perasaan di dalam jiwa manusia, itulah CINTA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Jika kita ingin membicarakan tentang cinta, maka hal itu ibarat mengurai air laut dalam yang kaya dengan berbagai khazanah alam. Tak kan pernah habis dan kita sentiasa akan menemui berjuta macam benda. Mulai dari ikan yang paling kecil hingga ikan paus yang terbesar, mulai kerang sampai mutiara, dan masih banyak lagi yang akan kita temui.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Usia sejarah cinta seumur dengan sejarah manusia itu sendiri. Jika di suatu tempat ada 1.000 manusia maka di situ ada 1.000 kisah cinta. Jika di muka bumi ini ada lebih 5 million manusia, maka sejumlah itu pulalah kisah cinta akan digelar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Meski banyak nuansa cinta yang menjelma menjadi sebuah syair, drama, film, lagu dan berbagai bentuk hasil seni lain, namun pada hakikatnya cinta itu hanya ada dua versi, yaitu cinta nafsu (&lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;) dan cinta Rabbani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Persoalannya adalah mampukah kita membedakan mana yang cinta syahwat dan mana cinta Rabbani? Derasnya arus &lt;i&gt;ghazwul fikr &lt;/i&gt;(serangan pemikiran) melalui kesenian telah mampu membungkus cinta syahwat sehingga ia tampil sebagai cinta “suci” yang mesti diperjuangkan, dimenangkan dan diraih seterusnya untuk dinikmati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Manusia seakan lupa pada sejarah. Lupa pada kisah-kisah tragis yang berakhir di ujung pisau atau dalam segelas ‘penawar’ rumpai. Mereka rela diseret dan dijeremuskan ke dalam lubang ‘neraka’ hanya untuk mengejar salah satu rasa dari sekian banyak rasa yang ada disudut hati manusia, itulah cinta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Cinta memiliki kekuatan luar biasa, dan kekuatan cinta (&lt;i&gt;the power of love&lt;/i&gt;) mampu menjadikan manusia menjadi pribadi yang sangat nekad atau sangat taat. Nekad dalam konteks sangat berani dalam melanggar peraturan-peraturan Allah seperti berrkasih-kasihan lelaki dan perempuan, mempertontonkan adegan birahi “percuma” di khalayak ramai apalagi dalam sembunyi. Atau jika cinta tak mendapat restu dari orang tua, pasangan akan nekad, terus lari dari rumah atau berzina (&lt;i&gt;na’udzubillah min dzalik&lt;/i&gt;). Tidak sedikit pula yang begitu nekad sanggup melakukan perbuatan yang dilaknat Allah, yaitu membunuh diri demi cinta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Pribadi-pribadi nekad seperti ini menjadikan cinta sebagai tujuan bukan sebagai sarana mencapai tujuan. Oleh karena itu, tidak heran jika kita temui berbagai kelakuan aneh para pencari cinta yang tak masuk akal, sebab apa yang mereka tuju adalah suatu yang abstrak, tidak jelas dan bukan perkara yang pokok. Mereka sibuk mencari dan mengertikan makna cinta sementara lalai terhadap Dzat yang menganugerahkan cinta. Dzat yang menumbuh suburkan rasa cinta. Dzat yang memberikan kekuatan cinta. Dzat yang paling layak dicintai, karena Dia juga Empunya nikmat cinta. Allah Rabbul ‘Alamin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kisah tragis di awal tulisan ini memberikan gambaran jelas sikap manusia yang rela mengorbankan diri demi sepotong cinta. Bapak anak yang rela saling bunuh untuk mendapatkan cinta gadis yang pada dasarnya belum mengenali hakikat cinta. Cinta yang mereka kenal selama ini adalah cinta yang ditunggangi oleh nafsu syahwat. Dan joki penunggangnya adalah syaitan yang terkutuk. Pada momen ini syaitan berteriak kegirangan sambil mengibar-ngibarkan bendera kemenangan karena berhasil menjerumuskan anak cucu Nabi Adam dalam neraka jahanam dengan dalih cinta yang begitu murah nilainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Itulah tragedi cinta. Cinta memang tak kenal warna. Cinta tak kenal baik atau buruk. Cinta tak kenal pantas atau tidak.&amp;nbsp; Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya, karena yang mampu mengenal warna, baik-buruk, pantas-tidak adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal fikiran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sebaliknya cinta juga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apa pun walau ia amat cinta pada sesuatu. Namun karena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang mereka amat cintai demi memperoleh keridhaan Dzat Pemberi cinta. Jiwa mereka tidak gundah gulana karena kehilangan cinta duniawi karena Allah sebagai Dzat pemberi ketenteraman pribadi. Pribadi taat ini amat menyadari bahwa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada restu Allah sebagai Pemberi cinta. Maka yang mereka cari adalah ridha dan cinta Allah, bukan cinta yang bersifat sementara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Begitulah cinta. Ia mampu melambungkan manusia pada derajat kemuliaan yang tak terhingga manakala frekuensi atau gelombang cintanya juga sudah selaras dengan frekuensi atau gelombang cinta yang Allah kehendaki. Semuanya akan senada seirama. Tak ada dengung sumbang, tak ada nada ternoda. Demikian indah dan asli irama cinta sejati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Inilah kehidupan dunia, semuanya bergerak sesuai sunnatullah 'hukum alam' yang tak bakal berubah. Hal yang perlu disadari lebih dalam adalah semuanya merupakan bentuk ujian yang akan menentukan kualitas kehidupan di sisi Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Namun, seringkali tujuan hidup manusia terhalang oleh kemilaunya angan-angan cinta yang menyilaukan. Padahal, semua itu menjebak dirinya. Angan-angan untuk cinta dan hidup layak di masa mendatang seringkali menutup kesadaran manusia bahwa hidup ini, bagaimanapun lamanya, pasti dibatasi oleh empat garis batas. Karena itu, kesadaran akan adanya batas-batas moral dan hukum lenyap ditelan ramainya persaingan, sehingga kedamaian dan kenyamanan hidup menjadi barang mahal yang tak sanggup dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sekarang pertanyaannya adalah mungkinkah kewaspadaan terhadap kemilaunya angan-angan yang membius itu bisa menjadi penawar bagi kegersangan dan kegundahan hati, seperti yang dituntunkan oleh baginda Rasul kita? Semoga berkah dan rahmat Allah menaungi perjalanan hidup kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8654850068018749980?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8654850068018749980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8654850068018749980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8654850068018749980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8654850068018749980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/seberkas-cinta-hati.html' title='Seberkas “Cinta” Hati'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7181611564032602247</id><published>2010-04-10T03:36:00.001+07:00</published><updated>2010-04-11T17:06:08.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Melankolisme Masa Lalu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kota Malang menyisakan bagian terdalam kisah perjalanan hidup yang berganti aneka rupa. Aku berdiri di salah satu sudut kota yang rindang, tenang dan penuh dengan wewangian hidup. Disini kudapati gedung-gedung yang mempesona, taman-taman hidup yang rindang dan teman-teman yang jenaka serta beraneka ragam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menapaki jalanan di sekitar kompleks yang aku tempati, kulihat langit mulai memucat seperti kain kafan yang terbentang, sesekali kulihat burung parkit di taman berputar-putar mencari mulut anak-anaknya yang bergerak ketika minta disuapi. Sesekali pula aku mengusir orang-orang yang ingin merusak taman dengan menangkap burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disela-sela rutinitasku, tiba-tiba seseorang menyapaku dengan sapaan yang lembut sembari menyimpulkan senyuman yang menawan. Dia menyeruak dari balik tunas-tunas hidup yang berkembang. Balutan dirinya yang menawan, serasi dan dipadu dengan wajah yang terbuka serta dekik lesung pipi, menyorotkan cahaya kehidupan. Sorot mata yang mengatakan akan arti sebuah kisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung malam ini, aku berusaha untuk bermuhasabah. Aku datang ke kota ini dengan penuh harap untuk menapakkan kaki dan memantapkan segumpal hati dalam menjalani hidup. Pesona kehidupan datang silih berganti menghampiri diriku. Pada akhir sisa asa, seperti tak ada jalan, tak ada tempat harapan menumbuhkan tumpuan. Semua perkara dan peristiwa yang pernah kujalani seperti menjadi duri. Aku sengaja untuk menghilangkan diri dari keramaian orang-orang di sekeliling sembari mengharap asa akan ruang dan waktu bak rambatan momentum partikel dalam ruang Hilbert kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya dari matanya mampu menggetarkan seluruh tubuh, dan mampu menghadirkan kemelut rindu di hati. Ada hasrat yang bergejolak dalam setiap angan hingga ujung malamku. Meski ikhlas kumenerima semua yang ada, namun ada rindu di malamku; ada resah tiap menjelang tidurku; ada kisah di hatiku; dan ada senyum di mata yang menyiksa pandanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kumerasa jengah ketika mengingat semua yang pernah tergores di dada. Haruskah aku marah pada dia? Marah adalah sifat setan yang tak boleh aku mendekatinya. Bukan berarti aku lemah, tapi hatiku menyatakan tidak ada alasan bagiku untuk marah. Kadang kuhempaskan rasa cemburu itu ketika melihat senyum polos dan lepas, meski menahan kegetiran tanpa bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menatapnya, aku menjadi tersadar bahwa dalam perjalanan ini terdapat bahasa yang terkarungi dengan indah, mengisi jiwa, dan merindukan kisah yang tak kan pernah bisa akan terluka. Sebuah kisah yang mampu menggoyangkan keseimbangan sisi hidup. Entah apa yang mendasari hingga seperti ini, semua tidak jelas dan masih buram. Aku hanya bisa berharap, bila rindu ini masih milik kita, maka pada sisi hati kuhadirkan tanya, untuk berapa lama aku harus menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, biarlah sejarah kehidupanku mencatat bahwa pada masa indah, satu masa yang tak bisa terlupa, pernah ada lambaian tangan, pernah ada senyum mengalir, pernah ada kasih dan ada pandangan mata yang mampu melenturkan jiwa dengan segenap rasa. Meski wajahnya tersembunyi dibalik matahari, bintang, dan rembulan, tapi aku masih yakin dan punya mimpi terhadap gadis manis diujung sepi yang mendulang mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir malamku ini, aku jadi teringat, sejak bertemu dengannya, hidup pun jadi lebih bermakna, lentera malam telah bersenandung dalam sebuah nyanyian. Aku hanya diam, aku hanya pasrah atas semua rasa itu sebab aku tak bisa merubah atau mengelak. Semua itu kulihat dalam ketermenunganku. Namun, meski malam yang menyapaku berlalu tanpa memberi respon dengan lagu rindu, perasaanku pun tetap bahagia karena malam ini telah memberiku waktu untuk mengadukan pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yach…maafkan aku Ya Tuhanku…! Aku selalu mengadu demi membahagiakan diriku tanpa mendekat pada-Mu. Walau demikian, aku tetap mengharap belas kasih-Mu dengan berharap Engkau membukakan hati atas kejujuran”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kesadaranku telah menghantarkan diri bahwa waktu tidak akan terulang. Apa yang kuhadirkan mungkin terlalu melankolis dari masa lalu, tetapi tidak ada maksud untuk memelankoliskan masa lalu dengan mengingat dan mengulasnya karena aku pun tidak ingin jadi orang yang hanya hidup di masa lalu. Masa lalu adalah sejarah, sekarang adalah realita dan nanti/besok/masa depan adalah cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif masa depan ada pada masa lalu dan masa sekarang. Segala ujian dan cobaan dari-Nya di masa lalu, seyogyanya dapat mengingatkanku akan makna solidaritas dan tanggung jawab rangkaian sejarah peradaban yang belum usai. Semoga diberi kekuatan untuk melewati masa-masa sulit guna membangun kembali puing-puing sepenggal perjalanan hidup yang sempat porak poranda. Mengambil hikmah dengan menjadikannya sebagai sebuah pembelajaran dalam hidup merupakan satu titik perhatian yang tidak boleh aku lupakan dalam rangka membangun kembali sejarah perjalanan hidup. Karena itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampuni aku Ya Tuhanku, demikian bertumpuk kesalahan-kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat. Tunjukkan padaku, apa yang harus kulakukan demi masa depanku…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 10 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jit&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7181611564032602247?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7181611564032602247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7181611564032602247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7181611564032602247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7181611564032602247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/melankolisme-masa-lalu_6302.html' title='Melankolisme Masa Lalu'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8524942084290124140</id><published>2010-04-03T02:51:00.000+07:00</published><updated>2010-04-03T22:52:36.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Kasidah Takdir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Mohon maaf sebelumnya....! Mungkin anda merasa terkejut terhadap headline di atas. Tapi, headline tersebut berupa pertanyaan. Satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri sendiri, dan tidak perlu untuk dijawab tapi cukup menjadi renungan adalah apakah kita dibiarkan mendapat semua yang kita inginkan? Penulis mencoba mengurai apa yang menjadi pengalaman dan sempat mengombang-ambingkan kisah perjalanan hidup. Judul dalam tulisan ini, penulis ambil dari salah satu kata yang diucapkan oleh seseorang pada penulis. Kalimat tersebut hanya menyatakan apakah penulis bersahabat dengan takdir ataukah takdir yang bersahabat dengan penulis. Paradox yang patut diajukan pada diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Kita pasti mempunyai berbagai macam keinginan yang banyak, dan mungkin juga aneh. Kita ambil suatu contoh, kita punya keinginan, kemudian kita memperjuangakan keinginan tersebut mati-matian untuk mencapainya. Namun, pada akhir cerita ternyata keinginan itu tidak dapat kita capai. Lantas apakah kita berhak untuk 'mencaci' Allah?  Apakah itu kemudian membuat kita sah menyalahkan takdir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa, sudah pasti dan jelas. Saya bisa membayangkan kekecewaan pada wajah kita.  Mengapa? Rangkaian kisah hidup yang kita jalani menunjukkan bahwa kita merasa sudah berusaha maksimal dan layak untuk mendapatkannya. Usaha yang kita lakukan pun bukan lagi sepele. Kesungguhannya nyata sekali. Sudah tidak terhitung lagi berapa besar usaha yang kita lakukan. Tapi, sekali lagi, kita mengalami kegagalan pada saat-saat terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hal-hal yang seperti itu, saya sedikit belajar dan memahami tentang dinamika kehidupan ini. Kita harus belajar dan mengambil hikmah dibalik semua itu. Satu hal yang bisa saya ambil adalah kita harus bisa memaafkan diri sendiri sebelum memberi maaf pada orang lain, dan menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah penentu dari segala apa pun yang terjadi pada diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Ketidaksuksesan kita dalam mengejar mimpi, bukanlah akhir dari segalanya. Hal ini tidak terkait dengan mampu atau tidak, tapi -sekali lagi- kita bukan yang menentukan. Seyakin dan sebesar apapun usaha yang kita lakukan, jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi. Inilah yang bisa saya nyatakan bahwa mempunyai mimpi bukanlah hal yang memalukan, dan kemudian menjadi aib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, saya masih menyimpan sebuah impian yang berimplikasi panjang. Sungguh dan maaf –sekali lagi- saya tidak menjadikannya itu sebuah aib, tapi akan saya jadikan sebagai penopang untuk mencapainya. Kalaupun nantinya “gagal”, “tidak berhasil” itu adalah takdir yang harus saya terima dengan lapang dada. Sakit; mungkin iya, kalut; memang, gelisah; pasti, dan sedih; jelas sekali. Dalam kondisi yang demikian, berdamai dan menyatu dengan takdir adalah hal yang paling bisa dimaklumi sebagai wujud usaha untuk menerima pemberian-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Pernah, seorang teman saya mengatakan, bahwa “segala sesuatu yang penting adalah niat". Dalam kaitan ini, pernyataan ini untuk saya kurang sreg. Berbagai hal yang kulakukan menunjukkan bahwa kurang besarkah niat saya, kurang keraskah usaha yang saya lakukan, kurang besarkah do’a yang kupanjatkan, dan masih banyak lagi hal-hal lagi yang kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun hingga saat ini saya tak juga 'mampu' untuk mewujudkannya, bukan lantas saya berhak dengan semena-mena mematikan impian saya yang saya anggap 'mulia’. Mimpi adalah cita-cita yang kita bangun dari dasar hati terdalam dengan penuh kesadaran, dan wajib memperjuangkannya secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa besar kemampuan pemberian fasilitas yang bisa saya berikan untuk mewujudkan cita-cita dengan ekonomi dibawah pas-pasan seperti saya? Bahkan, saat kuliah pun saya harus pontang-panting mengejar bayaran SPP, kos dan sebagainya. Saat sudah tidak ada lagi kiriman, rasanya pupus sudah harapan untuk mewujudkan cita-cita, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Saya masih tetap kuliah. Selesai kuliah pun juga demikian, harus terbentur pada sebuah kenyataan yang berkaitan dengan ekonomi. SK TID saya jadi tidak ada harganya sama sekali. Lantas, apakah saat itu saya mencaci dan mengeluh pada Allah? Namun, lagi-lagi yang patut disyukuri, kehendak Allah bicara lain. Ternyata, takdir bersahabat dengan saya, dan sayangnya saya menyadari setelah sekian tahun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Dengan semua itu, impian yang saya bangun rasanya tidak akan ikut terbang hilang melayang. Dan saya tidak boleh menganggap takdir sebagai kesemena-menaan diberlakukan terhadap saya. Saya selalu percaya Allah punya rencana tersembunyi atas setiap makhluk. Allah memiliki rancangan atas hidup seseorang tanpa harus menunggu orang itu menyetujui atau tidak. Seperti saat ini, saat saya terantuk pada tepi jurang kegagalan dari sebuah mimpi saya, yang saya lakukan adalah memutar ulang pemikiran saya, menelusuri kembali cara pandang saya terhadap hidup, dan memutuskan untuk berusaha kembali atau mungkin memulai kembali sebuah impian baru. Hidup bukanlah kegagalan sepanjang kita berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya lakukan menurut saya adalah sebuah proses. Biarlah orang lain menganggapnya itu sebagai sampah yang layak dan patut untuk dibuang di tempat sampah. Bagi saya, fase-fase seperti ini mungkin harus saya lewati sebelum saya menemukan kembali impian yang saya bangun atau mungkin mimpi-mimpi yang lain. Jika fase itu tidak saya lewati, saya yakin saya tak akan pernah sampai pada kondisi yang saya impikan. Kegagalan bagi saya adalah sebuah proses perjalanan. Selanjutnya, adalah terserah pada diri kita masing-masing, apakah kita akan berhenti atau membuyarkannya sebelum sampai ke tujuan atau kita melanjutkannya dengan berbagai konsekuensi dari perjalanan itu sendiri. Kegagalan bukanlah sesuatu yang 'tidak berguna,' sebab kegagalan itulah yang menempa kita, memberi pembelajaran tentang kematangan, konsep persaingan atau barangkali Allah tengah menguji kita untuk meyakini bahwa Dia-lah penentu segala urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman….!&lt;br /&gt;Belajar bersahabat dengan takdir, menerima kegagalan yang 'dikaruniakan' Allah kepada kita adalah seperti kita menekuni jenjang-jenjang pendidikan mulai taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga kuliah. Kita tidak memerlukan ijazah, tetapi kita menjalani proses. Yang kita perlukan dalam hidup bukanlah 'ijazah' kesuksesan, tetapi 'proses' dan 'menjadi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca sebuah pesan dari seorang ulama “Hidup bukanlah kekalahan sepanjang kita berusaha menjadi pahlawan”. Sebuah kalimat yang menjadi lagu dalam menjalani proses kehidupan yang sepatutnya saya -mungkin juga kita- dendangkan saat kita menemui kegagalan dalam hidup. Asal, jangan menjadi lagu yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8524942084290124140?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8524942084290124140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8524942084290124140&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8524942084290124140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8524942084290124140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/04/kasidah-takdir.html' title='Kasidah Takdir'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7999458937850605290</id><published>2010-03-24T12:09:00.001+07:00</published><updated>2011-05-21T05:53:44.951+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Antara Tawadhu dan Takabbur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Man atsbata li nafsihi tawadhuan fahuwa al mutakabbiru haqqanl&lt;/span&gt;” disambung dengan kalimat "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laisa al Mutawadhi’u al-ladzi idza tawadha’a ra’a annahu fauqa ma shana&lt;/span&gt;’.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWTkarena atas rahmat-Nya kita masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan ini. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan ke junjungan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman....!&lt;br /&gt;Penulis mencoba menggali apa yang pernah penulis peroleh dan pernah lakukan baik terhadap sesama maupun terhadap makhluk yang lain. Apa yang berada dalam tulisan ini merupakan pengamatan yang dipadukan dengan pemahaman penulis. Namun, bukan berarti merupakan tafsir atau pengajaran penulis. Ini hanya merupakan refleksi pemahaman dan pengalaman sikap untuk selalu tawadhu’ yang penulis dapatkan dalam menjalani kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dirahmati Allah...!&lt;br /&gt;Penulis ingat satu kalimat yang diungkapkan oleh seorang ulama’ besar, yaitu siapa yang yakin bahwa dirinya merasa tawadhu’, berarti dia benar benar telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;takabbur &lt;/span&gt;atau dalam bahasa arab “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Man atsbata li nafsihi tawadhuan fahuwa al mutakabbiru haqqanl&lt;/span&gt;”. Kalimat tersebut jika kita mau mendalami isi dan maknanya akan sangat –sekali lagi- sangat jauh dari apa yang sekedar kita baca. Kalimat tersebut disambung lagi oleh ulama’ lain, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laisa al Mutawadhi’u al-ladzi idza tawadha’a ra’a annahu fauqa ma shana&lt;/span&gt;’...". Kalimat ini menurut pemahaman penulis maksudnya -semoga tidak salah- adalah tidak merendahkan diri jika seseorang merasa melakukan di atas yang dilakukannya. Misalnya, seorang mahasiswa merasa tawadhu’ dengan duduk tenang di kursi pada saat temannya presentasi, tapi pada saat yang sama ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah pemateri. Orang yang demikian, sebenarnya bukan orang yang tawadhu’, melainkan orang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa orang yang benar-benar rendah hati? Dalam penjelasan berikutnya disampaikan bahwa orang yang rendah hati adalah ketika melakukan sesuatu ia merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu yang dilakukannya. Ia merasa masih belum pantas menerima sesuatu. Ia tidak merasa bisa dalam mengerjakan sesuatu, tapi akan melakukan dengan penuh tawakkal. Itulah orang yang tawadhu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tawadhu’ ini merupakan sifat orang-orang mulia. Tawadhu’ adalah sifat para nabi dan rasul. Kebalikan dari tawadhu’ adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;takabbur&lt;/span&gt;, sombong. Sikap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;takabbur &lt;/span&gt;diharamkan dalam Islam. Yang berhak untuk sombong hanyalah Allah saja, yang berhak memiliki hanya Allah. Tidak boleh ada satu makhluk pun yang menyaingi Allah dalam hal ini. Siapa yang menyaingi Allah dan merasa berhak memiliki sifat takabbur maka dia akan mendapat murka dari Allah. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman, "Sombong adalah selendangKu, dan agung adalah pakaian-Ku. Siapa yang menyaingiKu dalam salah satu dari keduanya maka akan Aku lempar dia ke dalam neraka Jahannam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena rasa sayang dan cinta Allah memerintahkan Rasulullah Saw. untuk tawadhu’. Lalu karena rasa sayang dan cinta juga Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk tawadhu’. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan aku agar tawadhu’, jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain, jangan sampai ada yang congkak pada orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah telah member teladan bagi orang berakhlak mulia. Beliau makhluk Allah paling mulia namun juga orang paling tawadhu’ dalam sejarah ummat manusia. Sejak muda Rasululah selalu rendah hati. Rasulullah tidak merasa risih sama sekali meski bekerja menjadi penggembala kambing. Dari contoh ini dengan menggembala kambing beliau tidak hanya rendah hati pada manusia juga, tetapi pada binatang. Bayangkan jika hal ini menimpa pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang bau dan kotor. Beliau menjaga dan melayani kambing dengan penuh kasih sayang. Jika ada kambing yang melahirkan beliau membantu persalinannya. Tidak ada jarak antara beliau dengan kambing yang digembalakannya. Rasulullah tawadhu’ tidak hanya pada manusia juga pada binatang ternak yang digembalakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain yang Rasulullah berikan adalah beliau masih mau memakan makanan yang jatuh ke tanah. Bayangkan jika hal ini menimpa kita, dengan alasan jijik, kotor dsb maka kita akan membuangnya. Setiap ada makanan jatuh ke tanah, Rasulullah Saw. tidak membiarkannya. Beliau pasti mengambilnya dan membersihkannya. Beliau membuang kotoran seperti debu yang menempel padanya lantas memakannya. Beliau selalu menjilati jarijarinya setelah makan. Beliau tidak merasa risih akan hal itu sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib juga menghiasi dirinya dengan sifat rendah hati. Suatu hari Ali bin Abi Thalib membeli kurma satu dirham dan membawanya dalam selimut. Saat itu Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang memimpin ummat Islam seluruh dunia. Ada seorang lelaki melihatnya dan berkata padanya, “Wahai Amirul Mu’minin, tidakkah kami membawakannya untukmu?” Ali menjawab dengan rendah hati, “Kepala keluarga lebih berhak membawanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman…!&lt;br /&gt;Sejarah membuktikan bahwa hancurnya seseorang juga hancurnya suatu bangsa di antaranya adalah kesombongan dan kecongkakan. Seorang ulama menjelaskan hakikat sombong adalah jika seseorang merasa pantas melakukan dan merasa bisa padahal sejatinya tidak pantas bahkan mungkin tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kita ini akan bisa binasa jika masih banyak orang yang sombong, bahkan sombong yang telah membudaya. Misalnya, ada seorang yang masuk CPNS dengan membayar uang yang berjuta-juta rupiah jumlahnya kepada pihak tertentu. Ia tetap memaksakan diri masuk CPNS. Ia merasa pantas, padahal sejatinya ia tidak pantas. Kemampuannya masih kurang. Tapi ia merasa pantas karena memiliki uang. Kepantasan itu ia beli dengan uang. Ia tidak hanya sombong. Lebih sombong lagi, ia membiayai kesombongannya itu. Maka yang akan jadi korban selain dirinya sendiri ya bangsa ini. Akan muncul di negeri ini, ribuan tenaga PNS yang tidak tahu apa-apa, sehingga kebobrokan ada di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang lain, banyak orang yang merasa layak menjadi pemimpin. Merasa layak jadi negarawan yang mengatur bangsa. Padahal mengatur diri sendiri saja tidak bisa. Mengatur keluarganya saja tidak bisa. Tapi ia merasa layak ditinggikan sebagai pengatur negara. Sesungguhnya yang mendorong itu semua adalah kesombongannya, maka jika sudah demikian hukuman dari Allah tinggal ditunggu kapan datangnya. Dan masih banyak lagi contoh kasus yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ini bukanlah tafsir. Ini hanyalah ungkapan yang penulis pahami dan rasakan ketika mencoba memahami fenomena yang terjadi di sekitar kita. Penulis bukanlah seorang penafsir yang mempunyai ribuan referensi dan pemahaman mendalam akan makna hidup. Penulis, hanyalah mencoba menggali pemahaman dalam menjalankan ajaran dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7999458937850605290?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7999458937850605290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7999458937850605290&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7999458937850605290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7999458937850605290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/03/antara-tawadhu-dan-sombong.html' title='Antara Tawadhu dan Takabbur'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8779362206103172844</id><published>2010-03-20T10:59:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T12:46:10.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Sepenggal Asa, Secerah Surya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah ada yang salah? Sebuah pertanyaan yang patut dikemukakan dalam kehidupanku akhir-akhir ini. Betapa tidak, entah benar atau salah, apa yang sedang kurasakan saat ini, semuanya berkecamuk tanpa bisa dikompromikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang semakin memburuk dari hari ke hari, kini malah menjadi semakin terpuruk. Keadaan yang baru aku alami dari dia yang mengisi sisi hati, baru saja aku terima dan sepertinya membuat aku merasa sedih dan pilu. Betapa tidak, diawal perjumpaan kami, dia yang melambaikan tangan, dia yang mengulurkan tangan, dia yang menebarkan senyum, dia yang membuka hati, dan masih seabrek hal yang membuat hati ini menyambutnya, kini, setelah semuanya terbuka dan perjalanan hidup menjadi lebih bermakna, dia yang dulu selalu tersenyum kini menjadi terdiam, dia yang dulu selalu menghiasi inbox kini menjadi gersang, dan masih banyak lagi. Meski aku masih tak percaya dengan apa yang aku duga, tapi aku merasa seperti biasa saja seolah telah tahu bahwa hal ini akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada sebuah kenyataan yang tak bisa kuhindari. Ketika dia menatapku, dadaku terasa berdebar, jiwaku terasa terbang melayang dan spontan kuukir bayang-bayang wajahnya. Pada sisi batin ini, sambil mencoba menerka apa yang menjadi keinginannya, muncul sebuah teka-teki yang berkecamuk dalam hati. Mengapa dia pergi saat aku menghampirinya hingga mampu merebahkan dan membakar nyali. Yach, aku merasa malangnya angin karena tak berhembus datang terhadapku sehingga terasa menyakitkan. Atau mungkin aku yang tak tahu diri terlalu bermimpi di siang hari…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memang ini akhir dari perjuanganku selama ini? Bentuk loyalitas dan kesabaran yang aku miliki serta segudang harapan seakan tak memiliki harga sama sekali. Meski aku selalu berusaha menjadi kuat dengan segala situasi dan kondisi yang seperti ini, namun aku merasa lemah dan tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Mungkinkah semua ini adalah ketentuan dari-Mu, kami harus melepas semua yang telah ada&lt;br /&gt;Jika ini yang terbaik buat kami, berikanlah kami kekuatan agar kami bisa menghadapi segala ujian dari-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Masih tersisakah asa yang ada?&lt;br /&gt;Haruskah aku bertahan atas semua rasa, rasa yang bergejolak tanpa bisa berharap, rasa yang penuh dengan tanya dan masih mungkin bisa terjawab.&lt;br /&gt;Aku pasrah atas semua rasa yang Kau beri tanpa bisa menolak baik di awal maupun akhir perjumpaan kami, hanya Engkau yang tahu segala yang terbaik dalam hati yang bergejolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah…&lt;br /&gt;Semoga Engkau selalu memberi kekuatan tuk kami. Semoga kami masih memiliki asa walau hanya tersisa. Semoga kami mempunyai secercah harapan yang secerah mentari. Semoga rahmat dan berkah-Mu selalu menaungi perjalanan hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amiin...!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8779362206103172844?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8779362206103172844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8779362206103172844&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8779362206103172844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8779362206103172844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/03/sepenggal-asa-secerah-surya_19.html' title='Sepenggal Asa, Secerah Surya'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3325391825872718257</id><published>2010-03-13T10:12:00.000+07:00</published><updated>2010-03-13T10:36:58.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Kedudukan dan Peran Perempuan Dalam Khazanah Keislaman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puji syukur  semoga senantiasa  terlantun ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, saat ini kita masih diberi kesempatan untuk menghirup nafas kehidupan dan melakukan berbagai kerja sesuai dengan kemampuan kita. Segala ujian dan cobaan-Nya, termasuk segala hal yang berkaitan dengan kehidupan kita seyogyanya dapat mengingatkan kita akan makna solidaritas dan tanggung jawab kita sebagai umat yang belum usai. Kita hanya dapat berharap, semoga kita dapat melewati setiap masa-masa sulit yang menimpa kita dan kita diberi kekuatan untuk dapat membangun kembali puing-puing sepenggal perjalanan hidup yang sempat porak poranda. Mengambil hikmah dengan menjadikannya sebagai sebuah pembelajaran dalam hidup merupakan satu titik perhatian yang tidak boleh kita lupakan dalam rangka membangun kembali sejarah perjalanan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan salah satu pilar pembelajaran untuk mendidik dan mencerahkan umat manusia. Pembelajaran menempati posisi penting dan strategis dalam khasanah pendidikan baik pendidikan umum maupun Islam. Spirit keagamaan, semangat keikhlasan, kemandirian, perjuangan membangun, dan semangat mempertahankan jalinan merupakan khasanah yang walau bagaimanapun harus tetap dipertahankan meski &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trend modernisme &lt;/span&gt;yang serba materialistik  dan  hedonistik tengah menyeruak dari kerubutan semak-semak. Melalui tulisan sederhana ini, saya hanya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman  tentang upaya  membangun  nuansa keadilan antara lelaki-perempuan sebagai  salah satu  ibadah mu’amalah  yang  menjadi ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret dan cerminan perempuan dalam konstruksi diskursus ke-Islaman klasik seperti yang selama ini ada di Indonesia, cenderung sangat bertentangan dengan semangat perwahyuan Al-Qur’an. Al-Qur’an dalam Al Hujurat ayat 13, mengajarkan bahwa Islam datang untuk memberikan kebahagiaan dan kedamaian hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan lil alamin&lt;/span&gt;) bagi seluruh manusia tanpa membedakan jenis kelamin, suku, bangsa,dan variabel-variabel struktur sosial lainnya, walau secara teknis melalui pendekatan kebahasaan, budaya dan sosial, Al Qura’an terkesan telah menggariskan perangkat normatif yang memberikan ketentuan hukum yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip moral keadilan mengajarkan bahwa Allah tidak mungkin bersikap diskriminatif terhadap setiap hamba-Nya. Teori hukum Islam mengajarkan bahwa seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mu'allaf &lt;/span&gt;hanya bertanggung jawab terhadap segala aturan hukum yang dia lakukan secara sengaja dan sadar, artinya tidak logis jika harus bertanggung jawab terhadap tindakan yang tidak kita pilih, menjadi laki-laki atau perempuan. Jika itu diterima sebagai suatu postulat kebenaran dan hukum, maka kita harus menerima suatu kesimpulan bahwa ketimpangan gender sudah terbentuk sejak zaman azali, kebenaran asumsi ini bertentangan dengan universalitas keadilan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua alasan tersebut, mengajarkan kepada kita bahwa perlakuan dan pembebanan hukum yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan tidak dapat diterima menurut logika keadilan Allah dan asas pertanggungjawaban. Oleh sebab itu ketentuan dan  pembebanan hukum yang berbeda antara laki-laki dan perempuan walau dikatakan bersumber pada Al Qur’an bukan konstruksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ilahiyah&lt;/span&gt;, tetapi ia lebih sebagai produk historis (sosial budaya) dimana sejarah Islam diterjemahkan ke dalam bahasa sosial budaya tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah Fiqhiyah menyebutkan bahwa hukum berubah seiring dengan pergerakan perubahan waktu. Eksistensi ketentuan hukum berotasi sesuai dengan alasannya. Kaidah  ini secara implisit menegaskan bahwa ketentuan hukum bukan suatu ketetapan azali yang didasarkan pada faktor biologis yang bersifat kodrati. Perbedaan hukum seseungguhnya merupakan fenomena sosial; budaya (terkadang politik); persoalan kemanusiaan dalam upaya hidup mendunia. Dimensi teologi Islam yang membedakan ketentuan hukum bagi laki-laki dan perempuan yang bahkan secara teknis ditampakkan dan dibahasakan dalam struktur linguistik bahasa dan relativitas budaya yang diterima Al-Qur’an; tidak harus dipahami sebagai perbedaan yang bersifat kodrati yang mengacu pada faktor biologis manusia tetapi sebagai proses hidup manusia mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran yang dipaparkan tadi telah diproduksi dan direproduksi disatu sisi seakan ketentuan tersebut tidak dapat berubah, tetapi kaidah hukum (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ushul fiqh&lt;/span&gt;) yang juga dipelajari memberi peluang untuk adanya perubahan. Oleh karena itu, sebagai tindakan penguatan wacana dalam melakukan proses perubahan dan penyadaran dilakukan dengan 1) Penambahan, pemantapan dan penyamaan wawasan dengan cara melakukan pertemuan rutin yang telah mendapatkan pelatihan, 2) Memperluas jaringan melalui pembentukan jaringan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;network building&lt;/span&gt;), dan 3) Sosialisasi untuk menyamakan wawasan melalui pendidikan rutin, terintegrasi dengan kurrikulum pendidikan lain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disadari bahwa langkah-langkah tersebut baru merupakan langkah awal dan kecil, tapi menyadari bahwa jika tidak dilakukan secara terus menerus, harapan bahwa perempuan akan dihargai sebagai manusia yang sama terhormatnya dengan laki-laki hanya akan menjadi impian utopia yang takkan pernah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3325391825872718257?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3325391825872718257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3325391825872718257&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3325391825872718257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3325391825872718257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/03/kedudukan-dan-peran-perempuan-dalam.html' title='Kedudukan dan Peran Perempuan Dalam Khazanah Keislaman'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3966628611203307745</id><published>2010-03-08T11:12:00.000+07:00</published><updated>2010-03-08T11:19:25.307+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Tugas Kuliah</title><content type='html'>Bagi mahasiswa penempuh matakuliah Mekanika Kuantum, Fisika untuk Kimia, dan Fisika untuk Olah Raga yang dibina oleh Sujito, diharap harus mempersiapkan diri untuk menghadapi UTS 1. Pelaksanaan ditentukan kemudian. Untuk tugas, silahkan Download dari tag disamping.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3966628611203307745?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3966628611203307745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3966628611203307745&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3966628611203307745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3966628611203307745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/03/tugas-kuliah.html' title='Tugas Kuliah'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5241756852502966462</id><published>2010-02-22T20:28:00.000+07:00</published><updated>2010-02-22T20:45:50.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Sosial'/><title type='text'>Budaya Afirmatif Perempuan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Dalam sejarah perkembangan Indonesia, posisi perempuan selalu termarginalkan. Hak-haknya selalu berada dalam &lt;em&gt;second class &lt;/em&gt;di bawah kaum laki-laki. Padahal semua manusia di muka bumi adalah sama, baik secara hukum maupun agama, khususnya dalam pandangan Agama Islam. Akhir-akhir ini diskursus mengenai perempuan dan politik menjadi isu yang paling santer muncul ke panggung dunia politik. Terakhir, rencana perundang-undangan mengenai Nikah Siri mencuat dan bergema dalam segala aktivitas kehidupan. Perbincangan mengenai hal ini, bergema ke segala penjuru pelosok baik di kota maupun desa. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sikap yang ambivalen terhadap kekerasan yang diterima oleh perempuan, disadari atau tidak, didukung sendiri oleh perempuan. Keadaan ini terbentuk, dan terlestarikan dalam budaya dan ideologi patriarki yang menciptakan &lt;em&gt;stereotype gender&lt;/em&gt;. Kekerasan hanya akan lahir, kemudian berlangsung dalam suatu struktur sosial yang kondusif untuk mendukung terjadinya kekerasan dan hanya dapat dipahami melalui konteks sosial dan analisa gender. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sejauh ini kekerasan terhadap perempuan belum banyak yang terungkap meskipun hal itu merupakan kenyataan hidup yang tidak dapat dipungkiri. Banyak kelompok di sekitar kita yang memandang bahwa kekerasan terhadap wanita secara legal-material cenderung menekankan pada hukum-hukum formal sehingga hanya menangkap gembong kekerasan pada perempuan. Kekerasan dikonsepsikan sebagai kekerasan jika ada bukti yang merugikan pihak lain dan melanggar hukum. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kelompok lain juga mempunyai pandangan bahwa kekerasan pada dasarnya tidak mutlak dan tidak semata-mata dibuktikan oleh bukti material. Kekerasan tidak akan ada tanpa penilaian dan penerimaan atau pelaku dan perasaan tidak suka diambil secara sewenang-wenang, tetapi biasanya mengacu pada tolok ukur “batas kepantasan” yang subyektif. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kelompok obyektif, berpandangan bahwa suatu tindakan akan bernilai tetap dan tidak akan berubah oleh penilaian mereka yang terlibat, baik sebagai korban, pelaku maupun pihak lain dalam penilaian instrumen hukum positif. Berdasarkan padangan ini berarti bahwa definisi kekerasan dalam cakupan yang sangat luas, baik cakupan, tempat kejadian, sebab-sebab maupun dampaknya. Namun mempunyai batasan yag jelas, yaitu aturan-aturan substansi, seperti agama. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Disisi lain aliran modernis memandang bahwa ketidakadilan dalam penafsiran agama juga dipandang sebagai kekerasan. Tidak hanya terjadi pada fokus fisik saja, tetapi juga pada peraturan dan bahkan pada cara berpikir dan kepercayaan; tidak hanya dibedakan pada berat ringannya tindakan itu, tetapi juga karakteristiknya. Kelompok legal formal lebih memandang bahwa kekerasan dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan sepanjang mengandung unsur-unsur pindana. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Fenomena yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia menunjukkan bahwa secara adat menempatkan pihak perempuan mempunyai berbagai hak khusus dalam keluarga yang didominasi oleh sistem &lt;em&gt;matrilineal&lt;/em&gt;. Suatu contoh misalnya di Provinsi Sumatera Barat, pemikiran kaum lelaki di pengaruhi oleh nilai-nilai lama yang berdampak pada hubungan laki-laki dan perempuan dan berbentuk stigma-stigma &lt;em&gt;stereotipe gender&lt;/em&gt; seperti pameo dalam masyarakat “tempat perempuan adalah dapur, sumur dan kasur”, “suami adalah imam bagi istri” dan lebih parahnya lagi tidak ada kontrol serta akses bagi perempuan. Lebih jauh lagi dalam menyikapi hal-hal tersebut perempuan cenderung untuk bersikap pasif karena harus tunduk dan patuh terhadap adat istiadat dan agama. Namun secara umum masyarakat menyadari bahwa kekerapan pada perempuan terjadi dalam berbagai persepsi, meskipun sulit untuk dihilangkan karena terbentur dengan adat istiadat dan agama, serta ketidaktahuan bagaimana cara mengatasinya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di wilayah lain suatu misal di Propinsi Nusa Tenggara Barat, menunjukkan bahwa masyarakat hidup dalam ideologi patriarkhi yang sangat kental. Hal itu tercermin pada hubungan sosial perempuan dan laki-laki yang menempatkan perempuan dalam posisi sub ordinat. Dan lebih parah lagi jika ajaran agama yang dipahami masyarakat memperkuat masalah ini. Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan banyak mengkaitkan dengan permasalahan mas kawin/belis, masalah ini telah menempatkan perempuan dalam hal yang berbeda karena perempuan telah dibeli sehingga sang suami berhak memperlakukan perempuan sesuai dengan hatinya. Padahal belis/mas kawin merupakan penghargaan laki-laki terhadap pihak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam keadaan seperti itu, perempuan terperangkap dalam stigma &lt;em&gt;stereotipe&lt;/em&gt; peran dan kedudukan yang diperoleh dari proses sosialisasi dan pemahaman agama sejak kecil. Mereka menjadi rentan terhadap tindak kekerasan karena telah menjadi korban kekerasan sejak kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengaruh Relativisme budaya terhadap kekerasan Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Temuan dan semua upaya untuk menanggulangi kekerasan terhadap perempuan baru berada pada ujung yang paling awal dalam suatu perjalanan. Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dihilangkan dengan target waktu, dan dengan upaya yang bergantung pada proyek. Disinilah keseriusan untuk menanggulangi kekerasan terhadap perempuan diuji. Target penyadaran harus menyasar pada jantung persoalan, yakni seperangkat nilai-nilai. Hal ini karena bangunan kekerasan terhadap perempuan tidak akan bisa dilenyapkan tanpa membongkar tiang-tiang penyangganya. Ini merupakan pekerjaan yang besar dan membutuhkan waktu yang sangat panjang dengan pasang surutnya perkembangan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Persoalan relativisme budaya dalam persoalan penghapusan kekerasan terhadap perempuan merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini terlepas dari manipulasi interpretasi teks bahwa bangunan kekeraan terhadap perempuan memang sangat dpengaruhi oleh seperangkat nilai-nilai budaya yang dikukuhi masyarakat. Relativisme budaya merupakan praktik-praktik dalam suatu kebudayaan yang mengandung keunikan sistem nilai. Bagi penganut faham ini tidak ada standart universal dan moralitas sertra nilai-nilai suatu kebudayaan tidak bisa diperbandingkan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persoalan semacam ini telah mendominasi pemikiran sosial, politik dan akademis saat ini. Permasalan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari &lt;em&gt;relativisme&lt;/em&gt; budaya membuat orang segera bersinggungan dengan &lt;em&gt;etnosentrisme&lt;/em&gt;, yaitu suatu faham yang meyakini penilaian terhadap budaya yang lain untuk menggambarkan suatu bentuk superioritas budaya. Dengan semangat yang &lt;em&gt;multikulturalisme&lt;/em&gt;, persoalan &lt;em&gt;relativisme&lt;/em&gt; budaya kembali mengemuka. Sebagian feminis dengan tegas menolak praktik-praktik yang diyakini sebagai relativisme budaya, seperti &lt;em&gt;female genital multilation&lt;/em&gt;. Karena praktik-praktik semacam itu paa prinsipnya sangat bertentangan dengan hak asasi manusia. Kondisi sebagaimana tersebut di atas, meski tampak jelas dan tampaknya juga tidak perlu untuk dipersoalkan namun perdebatan mengenai &lt;em&gt;universalisme&lt;/em&gt; versus &lt;em&gt;partikularisme&lt;/em&gt; selalu akan muncul dalam berbagai persoalan berkaitan dengan perempuan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Diambil dari Berbagai sumber &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5241756852502966462?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5241756852502966462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5241756852502966462&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5241756852502966462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5241756852502966462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/02/budaya-afirmatif-perempuan.html' title='Budaya Afirmatif Perempuan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6190663278104392025</id><published>2010-02-22T19:36:00.000+07:00</published><updated>2010-03-04T16:08:40.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Gadis Manis di Sisi Hati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mungkin ini yang kesekian kalinya aku akan mengganggu. Kucoba untuk tatap langsung, namun keadaan yang belum memungkinkan membuat aku tak bisa untuk menahan kerinduan pada sosok yang bersemayam dalam hati. Ketika kesadaran itu muncul, hal itu membukakan mata dan hatiku untuk mengitari lembah-lembah dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Kudekati dan kucoba menyentuhnya dengan rasa-rasa takut, dingin, keras dan….. aku berlari masuk kedalam dengan kesadaran penuh dan pernyataan-pernyataan yang membirukan telinga. Kusadari bahwa saat ini bukanlah 5 atau 4 bulan lalu, dimana aku masih bisa berdiri di hadapannya. Aku ingat malam itu, saat menulis kata-kata yang begitu jenaka sembari memandang bulan yang cuma sepotong disertai dengan hembusan angin malam yang menyentuh kuncup bunga. Kata-kata yang mampu menggugah hati dan perasaan. Kutatap terus bulan yang cuma sepotong dengan hati berat yang akhirnya menghilang dibalik awan. Bulan seolah-olah menunjukkan bahwa tak seharusnya mengingkari kata hati. Ironisnya, semua itu kujalani dengan kesadaran penuh……... &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Musim terus berganti, angin terus menyusuri sanubari. Angin memberiku pemahaman tentang lagu kehidupan, langgamnya, rancaknya, iramanya dan sejenisnya. Kumainkan dawai gitar kehidupan, kupetik senarnya, sebuah irama dan nada-nada hidup muncul yang membuatku trus selalu ingin, ingin dan ingin…….. Keceriaan pun makin menjadi karena makin tahu dan makin jelas sebuah kisah perjalanan tentang apa, mengapa dan bagaimana yang pada ujung-ujungnya makin jelas siapa aku. Keindahannya mampu merasuk dan menusuk kedalam jiwa yang membuatku hanyut dalam ketermenungan. &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pucuk-pucuk bambu diterpa angin&lt;br /&gt;Merunduk rendah menyentuh banyu biru&lt;br /&gt;Seketika alam menjadi diam seperti sedang merindukan mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Senja makin tenggelam berganti dengan malam. Aku dan kawan-kawan berceloteh riang, memperdebatkan lampion-lampion alam yang indah dan tergantung di langit-langit semesta. Kadang membaca lembaran-lembaran yang berserakan di tanah, sesekali memekik terkejut melihat alam, kemudian tertawa, lagi, lagi dan lagi…..&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di malam yang makin larut, kerapkali aku memohon untuk Bapak, Ibu, adik-adik, saudara-saudara, orang-orang dekat, orang-orang yang telah berbuat baik padaku, orang-orang yang mendhalimiku, orang-orang yang merasa telah kukecewakan, dan tak terlupa untuk gadis manisku yang masih belum bernama. Dari sana aku makin tahu, apakah Bapak masih merasa bahagia dengan aku, apakah Ibu juga demikian, atau apakah adik-adik masih merasa bangga dengan aku, atau apakah masih banyak orang yang merasa kecewa dengan keberadaanku, atau apakah gadis manisku selalu menghiasi hati, dan masih banyak pertanyaan yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Subhanallah…… Hanya Allah yang tahu semuanya. Manakala ku menyadari hal itu, tak terasa air mata meleleh membentuk aliran sungai yang membasahi surban malamku. Kujelajahi dengan langkah yang terseret dalam kelelahan batin. Usai do’a, sesekali kubuka syair terindah, kubaca pelan, kusenandungkan seindah mungkin seperti apa yang pernah kupelajari di surau-surau kecil, atau di rumah guru-guru. Pupus sudah kesedihan itu seiring dengan melantunnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bayati Nawa &lt;/span&gt;untuk mengawalinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Diantara bunga-bunga, kusadari sosok yang telah hadir dan mengisi keseharianku beranekaragam, diantara sekian banyak satu yang mengunci pemikiranku. Sosok yang awalnya tidak begitu istimewa bahkan terasa menjengkelkan, namun akhirnya ia yang paling banyak menyita perhatian. Sadar dengan apa yang kualami, kurasakan pipiku memerah, jantungku berdebar, kutertunduk dalam-dalam sambil menengadahkan tangan. Aku tak peduli dan aku terus melangkah karena aku sendiri tak tahu mengapa. Perjalananku begitu panjang dan berliku, namun terasa sangat singkat, karena fikirku selalu terkunci pada satu sosok jiwa, sikap, ucap, dan masih segudang hal yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pernah suatu ketika kucoba untuk melupakannya dalam tiap renungan, melupakan semua yang tergores pada telapak tangan, dan juga pernah kucoba untuk meyakinkan fikiranku bahwa dia sebenarnya tak pernah ada. Namun, buru-buru langit kembali memutih menyambut kedatangan sang fajar, tetes embun pagi di daun bambu mengalir turun melewati ranting pergi bersama aliran sungai. Air mataku mulai jatuh, menyentuh senar gitarku, hingga suaranya hilang, dan jari-jariku terhenti memetiknya. Saat itu juga mataku melintas keluar ruangan, kulihat mega (mendung) merah sudah mulai tampak pertanda pagi sudah hampir tiba. Harum bunga-bunga mulai tertiup angin, tapi semua terasa menyakitkan, bahkan kalau boleh meminta jangan sampai pagi datang, biarlah malam mematikan semua, biarlah keheningan dan kesunyian malam terus melingkupinya. Namun, kusadari semuanya mustahil karena alam akan mulai bicara dengan hukum-hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya, pagi yang dinantikan tiba, serasa ada dawai yang berdentang dalam hati menyambut pagi cerah yang seolah-olah tak ada sesuatu yang kupikirkan dan kutuliskan semalam. Hanya………&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ya Allah….. apa dayaku, aku hanyalah seonggok daging yang tak memiliki kuasa untuk mengubah dan menjadikan semua. Hanya Engkau Ya Allah, yang bisa memberi dan mendamaikan hati yang berada diantara mastrib dan magrib.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bersediakah kamu menjadi &lt;em&gt;my special girl &lt;/em&gt;yang Insyaallah akan menikah denganku? Begitulah kira-kira pertanyaan yang aku ajukan padanya. Pertanyaan itu masih nyaring terdengar di hati. Aku hanya bisa mendesah perlahan, kutarik nafas dalam-dalam, kemudian kusandarkan kembali hati pada keberadaan dan kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari-hari berjalan begitu pelan. Entah sudah berapa kali tunas bambu berganti, Jalan Veteran sudah tak asri lagi, bahkan Teratai di Alun-Alun Tugu Kota Malang sudah tak semerbak lagi. Aku tersentak kaget manakala angin membuyarkan angan-anganku. Aku tidak tahu apakah aku gembira ataukah bersedih, semuanya telah tercurah hanya untuk mengakui segala sesuatu yang berkaitan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perjalanan ini membawaku pada sebuah kesadaran bahwa disisi hatiku, ada seonggok makhluk ciptaan Illahi Rabbi yang mengisinya. Sesuatu yang wajar jika terjadi dalam hati seorang hamba. Namun, pada salah satu sudut sisi hati ini,  aku ingin membersihkan hati dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Kusadari sepenuhnya bahwa keyakinan dalam berislam hanya dapat melingkupi hati yang bersih. Karena itu, menjaga kebersihan hati dari segala debu tetap harus diusahakan, dan satu hal yang tak lupa bahwa ada sesuatu yang telah mengisi hari-hari ini hingga jangan sampai menyia-nyiakan petunjuk yang diberikan-Nya. Aku hanyalah manusia biasa yang tak mampu sepenuhnya menghindar.  &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada kondisi yang demikian, aku berusaha menahan kepedihan hati, aku merasa sulit, berat, sakit, memang sakit, sakit sekali rasanya. Untung aku masih ingat sebuah ayat yang kuyakini kebenarannya, An-Nur:30. Pertanyaannya sekarang adalah siapa sesungguhnya yang dapat mengelak dari sesuatu yang sebenarnya merupakan anugerah terindah dari Allah? Pada kondisi demikian, menjaga diri dari perbuatan kotor yang bersifat syar’i dapat kulakukan, tetapi menjaga hati supaya berada dalam koridor ikhlas ketika beribadah pada Allah ternyata sulit. Akhirnya aku teringat kembali pada sebuah syair dari Ali RA, “adakah zat cair yang lebih patuh dari pada air? Yang mengalir mengikuti takdir ke suatu tempat yang telah ditentukan?” Ibarat air, biarlah ia mengalir, mengikuti alam dan patuh pada Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Langit temaram menaungi hariku pertanda hari sudah senja, burung-burung parkit pun mendadak menjadi ikut diam seolah-olah mengerti apa yang terjadi dihadapannya. Malam terasa indah, langit pun demikian cerah, bintang-bintang berkedip sumringah, kuambil Gitar, kupetik syair-syair indah bergaya ala Ebiet G Ade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun jauhnya aku mengembara tak dapat ku lepaskan&lt;br /&gt;Suaramu berbisik lewat kedalaman jiwa&lt;br /&gt;Ketika kau manggil lautan melambung memecah keheningan&lt;br /&gt;Aku rindu kehadiranmmu meski hanya lewat mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukirimkan untaian kata indah dalam nyanyian&lt;br /&gt;Lewat matahari, rembulan dan taburan bintang&lt;br /&gt;Kau berikan cintamu membentangkan samudera&lt;br /&gt;Kuarungi dengan sejuk dan ketulusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun rindunya aku ingin bertemu denganmu&lt;br /&gt;Terasa panjang hari-hari yang harus kulewati&lt;br /&gt;Berapa banyak kanvas kugores lukisan wajahmu&lt;br /&gt;Namun tak pernah dapat kureka keteguhannya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nada dan dentingnya menjalar-jalar menciptakan lembah dan bukit gelombang dalam satu hentakan sekaligus. Menuaikan rasa, mencengkeram membuat syaraf-syaraf yang sakit bekerja lebih cepat. Membingkai keterasingan pada kumpulan &lt;em&gt;musculus, ganglion&lt;/em&gt;, vena mungkin juga tulang-tulang.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku ingin merasakan apa yang dirasakan olehnya, namun aku berusaha untuk seperti daun bambu yang merunduk kemana arah angin bertiup. Aku tak akan melawan angin lagi karena aku pasti akan patah. Angin yang selalu mewarnai hari-hariku, angin yang memberikan ketegaran dan keistiqomahan dalam hampir tiap tindakanku. Aku menjadi makin yakin karena hidayah dan Islam adalah angin itu. Udara yang kuhirup yang tanpanya aku mati, biarlah angin membawaku.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Angin malam mulai menyusup lewat daun-daun jendela. Ah… aku yakin ia pasti tengah sibuk dengan ritualnya. Dan...! Do’a panjangku selesai saat di seberang sana kudengar sayup-sayup seseorang berteriak meneriakkan sesuatu. Segera aku berjalan menyusuri jalanan sepi menuju kearah suara itu. Sambil bergumam dalam batin aku berucap “Semoga Allah meridhoi keinginanku". Sepi dan dinginnya pagi itu kurasakan merasuk kedalam relung hati hingga menggigil. Dan, terakhir aku berharap, semoga dengan ini semakin terjaga hati dari segala sesuatu yang berbau syetan, semoga ini berdasarkan kerinduan hati untuk mendekati Sang Khaliq.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun, keinginan adalah cita-cita yang terbawa. Aku tak kuasa untuk mengubah dan menjadikannya. Usaha tetaplah usaha, tapi hasil Sang Penentu yang menjadikan. Apapun yang menjadi keputusanmu, itu adalah jawaban terbaik bagiku dari Sang Penentu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Malang, Februari 2010&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6190663278104392025?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6190663278104392025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6190663278104392025&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6190663278104392025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6190663278104392025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/02/gadis-manisku-disisi-hati.html' title='Gadis Manis di Sisi Hati'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-9066857956792480716</id><published>2010-02-22T19:17:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T06:25:07.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kenangan'/><title type='text'>Kala Kerinduan Tiba</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kala itu, entah mengapa dan apa yang ada dalam pikiranku. Yang jelas, hati begitu kwatir, takut, resah, gelisah, dan entah apa yang menjadi penyebabnya. Pada akhirnya, memunculkan satu keputusan untuk menghindar dari kehidupannya. Rasa sakit, gelisah, rindu, dan takut menjadi sajian kerinduan hati. Sebuah kerinduan, ingatan, ketakutan akan kehilangan seseorang. Seseorang yang menjadi titik nadir rindu, seseorang yang menjadi cerminan jati diri. Ingin rasanya untuk terbang guna merasakan apa yang jadi cita-cita. Ingin rasanya mempersembahkan sebuah alunan musik kehidupan yang bagus nan indah. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku sadar bahwa hidup ini singkat, apalagi ketika sedang merasakan sakit, sakit yang menjalar ke sekujur tubuh. Setiap harinya, detiknya, jadi berarti saat mengingat sebuah tanda merambatnya hawa dingin dari ujung kaki hingga menuju ubun-ubun. Menjadi teringat kembali kesalahan yang pernah kulakukan baik sengaja atau tidak, karenanya aku menyampaikan rasa “maaf” beribu-ribu maaf yang tidak terkira, karena mungkin saja hari ini merupakan hari yang terakhir bagiku untuk bisa menikmati alunan musik kehidupan seraya memandang lekat oriental wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kulihat waktu sedang berada di keheningan menuntaskan keinginan orang untuk menikmati malam, entahlah, apa kita akan mampu memulai pagi dengan mentari yang cerah ataukah dengan pagi yang berkabut. Semua terserah pada Syang Hyang Kuasa. Jalani hidup dengan apa adanya. Ibarat sungai, airnya mengalir mengikuti alunan lengkak lengkok musik kehidupan sepanjang sungai. Namun, sebelum semua itu dimulai aku ingin satu hal semoga kamu menjadi orang yang mengerti dan memahami akan aku. Pengertian dan pemahaman yang bisa diberikan oleh orang yang mencintai dan dicintai. Sebuah kehidupan yang dijalani dengan atas nama dan atas dorongan cinta kasih. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Cinta itu indah tapi juga menyakitkan, apalagi kalau kita tidak menginginkan lagi untuk tidak menjalin rasa itu pada orang lain. Ingin rasanya melupakan semuanya, melupakan semua kenangan yang ada, namun hal itu sangat sulit untuk dilakukan, jika seseorang yag ingin kita lupakan setia menemani selalu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pada salah satu pertanyaannya, seseorang pernah menanyakan hakikat yang satu ini. “Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta”. Itulah sedikit jawaban yang ku nyatakan entah berkenan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Rasulullah memberikan sebuah contoh kehidupan yang membahagiakan, baik untuk lingkungan diri sendiri maupun lingkungan masyarakat. Seiring kehidupan ini yang makin berkembang, dan terus bertambahnya umur maka ini kuucapkan selamat menjalani hari-harimu, semoga menjadi hari-hari yang penuh dengan keindahan. Satu hal yang ingin kusampaikan adalah ingin hati ini kelak untuk menjalani kehidupan ini bersama-sama dalam satu tali ikatan yang penuh rahmat dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-9066857956792480716?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/9066857956792480716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=9066857956792480716&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/9066857956792480716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/9066857956792480716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/02/kala-kerinduan-tiba.html' title='Kala Kerinduan Tiba'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-4273346048698904865</id><published>2010-02-19T00:43:00.000+07:00</published><updated>2010-02-19T08:57:05.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Mengapresiasi Pancasila sebagai Kontrak Sosial dalam Bermasyarakat dengan Beragamnya Kepercayaan di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Indonesia adalah sebuah negara yang didasarkan pada Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara tidak menyatakan satu agama sebagai agama Negara. Berdasarkan Pancasila, Indonesia menganut model &lt;em&gt;generally religious policy. &lt;/em&gt;Agama menyediakan basis moral dan spiritual dalam kehidupan negara dan masyarakat seperti dalam sistem hukum dan budaya politik. Negara masuk kedalam urusan agama pada batas-batas otoritas fungsional, seperti menyediakan pelayanan keagamaan, pendidikan agama, dan mencegah perilaku politik dan sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan Negara Pancasila adalah Negara non-sektarian yang berusaha menegakkan prinsip-prinsip kehidupan. Prinsip-prinsip yang berusaha dikembangkan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat adalah peduli tetapi tidak diskriminatif (&lt;em&gt;no preference&lt;/em&gt;), bukan tidak peduli sama sekali (&lt;em&gt;wall of separation&lt;/em&gt;). Dengan dasar seperti itu, dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat kita dituntut mempunyai sikap untuk saling menghormati (&lt;em&gt;mutual respect&lt;/em&gt;), mengakui eksistensi masing-masing (&lt;em&gt;mutual recognition&lt;/em&gt;), berpikir dan bersikap positif (&lt;em&gt;positive thinking and attitude&lt;/em&gt;), serta selalu memupuk kepercayaan dengan melakukan pengayaan iman (&lt;em&gt;enrichment of faith&lt;/em&gt;) yang dilakukan secara terus-menerus. Sikap lain yang perlu dikembangkan adalah kebenaran bernegara ditentukan oleh norma yang disepakati dan berlaku bersama-sama anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sikap yang demikian hendaknya diteruskan dengan sikap toleransi (&lt;em&gt;tasamuh&lt;/em&gt;). Pada sikap yang demikian mengandung arti bahwa prinsip toleransi pada setiap individu yang beriman tidak bisa tidak kecuali membiarkan penganut agama lain menyatakan dan menerapkan keimanannya (toleransi pasif) atau ikut membantu melaksanakan keimanannya tersebut (toleransi aktif). Dengan demikian, terciptanya toleransi dalam kehidupan beragama dan bersuku bangsa akan meminimalisasi terjadinya politisasi dan radikalisme agama. Jika dalam implementasi keberagamaan tidak memiliki nilai-nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasamuh&lt;/span&gt;, maka sikap yang demikian tentu akan membentuk dan mengarah pada sikap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fanatisme &lt;/span&gt;berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya nilai toleransi tersebut telah melembaga dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Pluralitas (&lt;em&gt;ta’addudiyah&lt;/em&gt;) merupakan sikap penting lain yang harus di sadari. Tuhan telah menciptakan berbagai bangsa, suku, ras, dan lain-lain, agar selalu berhubungan dan menjalin komunikasi dengan penuh rasa solidaritas (&lt;em&gt;ta’aruf&lt;/em&gt;). Komunikasi dan solidaritas berarti saling mengenal satu sama lain, yakni berlangsungnya proses mengenal dan mengakui adanya perbedaan atau keragaman. Hal ini menyebabkan munculnya rasa toleransi dalam tahap ini. Proses selanjutnya adalah usaha untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama demi kepentingan yang lebih besar, misalnya urusan publik atau urusan kemanusiaan secara umum. Dari sini lahir solidaritas atau kesetiakawanan yang lebih luhur. Formulasi komunikasi dan solidaritas (&lt;em&gt;ta’aruf&lt;/em&gt;) dapat berbentuk persaudaraan seluruh umat manusia (&lt;em&gt;ukhuwah basyariyah&lt;/em&gt;), persaudaraan kebangsaan (&lt;em&gt;ukhuwah wathaniyah&lt;/em&gt;), maupun dalam bentuk persaudaraan umat islam (&lt;em&gt;ukhuwah islamiyah&lt;/em&gt;). Komunikasi dan solidaritas yang baik akan menghindarkan sikap penyeragaman atau homogenisasi. Bentuk ekstremnya adalah menganggap semua agama sama. Pandangan itu jelas tidak akan diterima oleh sebagian besar masyakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Elemen berikutnya adalah mengambil jalan tengah (&lt;em&gt;tawasuth&lt;/em&gt;). Sejarah panjang bangsa ini yang didukung oleh situasi kosmologis menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia akan selalu mencari jalan tengah. Pancasila itu sendiri merupakan jalan tengah di antara agama dengan Negara. Dalam konteks sekarang, mencari jalan tengah sering disebut sebagai upaya moderasi. Sikap moderasi tidak berjalan sendiri. Selain berdasarkan prinsip-prinsip &lt;em&gt;religious&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pluralis&lt;/em&gt;, sikap tersebut dibarengi dengan keseimbangan (&lt;em&gt;tawazun&lt;/em&gt;) dan keadilan. Keseimbangan sebagai suatu paradigma  memberi batasan bagi kebebasan agar tidak kebablasan. Keseimbangan dalam menyikapi kebebasan individu, misalnya. Sebagai makhluk sosial, kebebasan antar-individu tentu harus pula disertai penghormatan dan menjaga hak asasi/kebebasan individu lain. Sehingga dengan adanya keseimbangan tidak akan ada &lt;em&gt;fanatisme&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;ekstremisme&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;radikalisme&lt;/em&gt;. Bahkan, dalam ajaran islam, antara kepentingan dunia dan akhirat harus dijalankan secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Amat sangat tidak arif bila kita selalu menjadi pembenar dengan mendiskreditkan kelompok-kelompok lain yang berbeda agama. Akan tetapi pemahaman tentang keberagaman agama dan saling menghargai di antara umat berbeda agama agaknya belum cukup. Dalam konteks nasional, keadilan sosial tidak akan mungkin dicapai melalui usaha yang hanya dilakukan oleh satu ormas agama (elemen masyarakat) saja, namun harus merupakan upaya konstruktif dan koordinatif antar umat agama. Semua agama mempunyai kewajiban yang sama baik secara konseptual maupun praksis, dalam mencapai keadilan sosial. Sikap toleransi dan kerja sama seperti itu sesungguhnya sudah menjadi bagian dari keberagaman bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kondisi riil yang ada dalam masyarakat dengan banyaknya kejadian-kejadian yang mengatas namakan agama untuk melakukan hal-hal yang diluar kontekstual agama dan memandang bahwa wawasan agama yang tidak diimbangi dengan wawasan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Atas dasar realitas tersebut perlu adanya keseimbangan wawasan agama sebagai dasar berakhlak/hubungan vertikal dengan sang khalik dan pancasila sebagai kontrak sosial suku, ras, adat, dan agama. Di Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar berbangsa, bernegara dan bermasyarakat/hubungan horizontal mengendepankan lima aspek yakni prinsip peduli tapi tidak diskriminatif (&lt;em&gt;no preference&lt;/em&gt;), toleransi/&lt;em&gt;tasamuh&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pluralitas/ta’auddiyah&lt;/em&gt;, komunikasi dan komunikasi dan solidaritas sosial/&lt;em&gt;ta’aruf&lt;/em&gt;, mengambil jalan tengah/&lt;em&gt;tawasuth&lt;/em&gt;, dan keseimbangan hak dan kewajiban diri/&lt;em&gt;tawazun&lt;/em&gt; sehingga diharapkan akan adanya persatuan bangsa dan Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-4273346048698904865?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/4273346048698904865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=4273346048698904865&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4273346048698904865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4273346048698904865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/02/mengapresiasi-pancasila-sebagai-kontrak.html' title='Mengapresiasi Pancasila sebagai Kontrak Sosial dalam Bermasyarakat dengan Beragamnya Kepercayaan di Indonesia'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3229765576834258724</id><published>2010-01-30T16:12:00.001+07:00</published><updated>2010-01-31T02:36:43.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Revolusi Pendidikan Di Era Global</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Era global telah melanda dunia berlangsung cepat dan menimbulkan dampak global yang menuntut kemampuan manusia unggul untuk mensiasati dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang sedang dan akan terjadi. Globalisasi akan membuka diri bangsa dan berhadapan langsung dengan bangsa lain. Batas-batas keadaan baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya antar bangsa semakin kabur dan hampir tidak ada sekat. Persaingan menjadi semakin ketat dan tak dapat dihindari, terutama dibidang ekonomi dan IPTEK. Negara yang unggul dalam bidang ekonomi dan penguasaan Iptek akan mampu mengambil manfaat atau keuntungan yang banyak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bidang ekonom misalnya, globalisasi ditandai dengan adanya persetujuan GATT pada putaran Uruguay di Marrakesh yang telah diratifikasi WTO dan dilanjutkan dengan kesepakatan APEC di Bogor tahun 1994. Pada tahun 1995, di Osaka mengupayakan terbentuknya kawasan perdagangan bebas di Asia-Pasifik pada tahun 2020. Sedangkan sejak tahun 2003, terbentuk kesepakatan bahwa kawasan perdagasan bebas (AFTA) ASEAN. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang paling nyata adalah pada 1 Januari 2010 kemarin dibuka perdagangan bebas antara Asean dan Cina (&lt;em&gt;FreeTrade Agreement &lt;/em&gt;ASEAN-China). Negara-negara di kawasan ini seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai, Vietnam, Filiphina, Kamboja, Laos, Thailand, dan Myanmar. Adapun kesepakatan yang dilakukan adalah bea masuk produk manufaktur China ke ASEAN, termasuk Indonesia, ditetapkan maksimal 5 persen, sedangkan sektor pertanian 0 persen tanpa pajak sama sekali. Kerangka kerja sama FTA ASEAN-China ini sebenarnya telah disepakati pada tahun 2002 di masa pemerintahan Megawati dan baru dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2010. Namun baru akhir penghujung tahun 2009 ini indonesia menyuarakan keberatannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dampak yang nyata adalah produk dalam negeri menghadapi saingan yang berat, karena harga produk yang sama dari Cina harganya lebih murah. Dengan kondisi ini, mau tidak mau, cepat atau lambat membawa Indonesia memasuki babak baru yang makin rumit. Pada sisi lain, industrialisasi merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk sangat besar dan berpotensi untuk menjadi pasar. Masuknya investor asing mengandung konsekuensi logis berupa globalisasi. Globalisasi tidak hanya terjadi di bidang ekonomi, namun juga terjadi hampir di seluruh bidang kehidupan manusia, bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hankam, budaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan global yang paling cepat adalah bidang teknologi informasi. Penguasaan teknologi informasi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh masyarakat jika ingin memenangkan persaingan di kompetisi global. Kondisi tersebut menuntut sumber daya manusia yang memiliki keunggulan komperatif dan kompetetif. Manusia global adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa (bermoral), mampu bersaing, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki jati diri. Salah satu wahana yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi, ketersediaan modal, barang, sumber daya manusia (SDM) akan mengalir deras dari berbagai belahan dunia yang tidak mungkin dapat dihindari. Terkait dengan kondisi tersebut, tuntutan akan reformasi pendidikan (“revolusi pendidikan”) sangat diperlukan, mengingat model pendekatan pendidikan kita selama ini dinilai cenderung bersifat indoktrinatif, dogmatis, gaya bank, dan opresif birokratis, orientasi pendidikan tidak sesuai dengan jiwa dan semangat reformasi pendidikan yang mendambakan keunggulan individu, masyarakat dan bangsa di tengah-tengah era otonomi daerah, era demokratisasi, era teknologi informasi dan kehidupan global. Akibatnya kualitas SDM yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita relative sangat rendah dan tertinggal dengan negara-negara tetangga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, kualitas pendidikan yang diandalkan sebagai wahana dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia masih memprihatinkan. Penilaian yang pernah dipublikasikan di Harian Kompas tanggal 5 September 2001 memberitakan bahwa Abdul Malik Fajar selaku Mendikbud juga mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih terburuk di kawasan Asia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Political and Economic Risk Consultancy &lt;/em&gt;(PERC) melakukan survei yang hasilnya dari 12 negara yang disurvei menyebutkan bahwa Indonesia menduduki urutan 12, sedangkan Korea Selatan dinilai memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang, Taiwan, India, Cina dan Malaysia. Hasil survei dari human development indeks tahun 2002, kualitas SDM kita berada di peringkat ke 110 dari 173 negara yang disurvai. Sedangkan hasil sensus BPS, rata-rata indeks pendidikan Madura berada di bawah rata-rata indeks Jawa Timur. Hal ini menunjukkan secara kuantitatif masih banyak anak-anak kita yang tidak mendapat layanan pendidikan secara memadai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari kondisi tersebut, perubahan orientasi pendidikan kita harus segera dilakukan reformasi (”revolusi”) secara mendasar (&lt;em&gt;mind set &lt;/em&gt;pelaku) pada semua komponen dalam sistem pendidikan kita. Perubahan orientasi pendidikan tidak hanya berkutat pada perubahan kurikulum semata, namun yang terpenting saat ini adalah adanya “revolusi” sikap mental, pola pikir dan perilaku pelaku pendidikan (aparat, pengelola dan pengguna pendidikan) secara mendasar. Kebijakan ini dilakukan agar dapat mewujudkan pendidikan yang lebih demokratis, memiliki keunggulan komparatif dan kompetetif, memperhatikan kebutuhan daerah, mampu mengembangkan seluruh potensi lingkungan dan potensi peserta didik serta lebih mendorong peran aktif dari masyarakat. Untuk mendukung pencapaian kondisi tersebut, pengelola pendidikan hendaknya memiliki pemahaman konsep pendidikan yang komprehensif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan era informasi dalam dunia global ini, pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Kondisi tersebut tidak dapat dielakkan, sebab dalam proses pendidikan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman peserta didik yang perlu dibentuk, tetapi sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi peserta didik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tugas pendidik dalam konteks ini membantu mengkondisikan pesera didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi  agents of modernization  bagi dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Pendidikan diarahkan pada upaya memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi dan humanisasi, maksudnya pelaksanaan dan proses pendidikan harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral, berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas). Para peserta didik perlu dibantu untuk hidup berdasarkan pada nilai moral yang benar, mempunyai watak yang baik dan bertanggungjawab terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan. Dalam konteks inilah pendidikan budi pekerti sangat diperlukan dalam kehidupan peserta didik di era global ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disarikan dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3229765576834258724?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3229765576834258724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3229765576834258724&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3229765576834258724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3229765576834258724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/01/revolusi-pendidikan-di-era-global.html' title='Revolusi Pendidikan Di Era Global'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-1957866003332341175</id><published>2010-01-10T20:08:00.000+07:00</published><updated>2010-01-10T20:19:46.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kelayakan PTK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah telah melakukan berbagai macam upaya untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, mulai  perubahan kurikulum yang tiap beberapa tahun ganti, hingga wacana peningkatan kesejahteraan guru. Adanya wacana ini yang membuat guru-guru sibuk menyiapkan administrasi hanya sekedar  mengejar mimpi yang belum tentu ada hasil.  Hal ini sebenarnya belum menyentuh substansi  permasalahan sebenarnya dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa upaya peningkatan mutu pendidikan yang telah dilakukan antara lain peningkatan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, pelatihan dan pendidikan, atau pemberian kesempatan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran dan non pembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan yang terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya tersebut perlu dilakukan mengingat guru mempunyai peran yang dominan dalam pembelajaran, dimana berhasil tidaknya pendidikan banyak tergantung pada faktor guru. Seperti penelitian yang dilaksanakan di 16 negara, penentu keberhasilan pembelajaran di sekolah adalah faktor guru (34%), manajemen (22%), waktu belajar (18%) dan sarana (26%). Karena faktor guru menjadi penentu keberhasilan pembelajaran, maka guru dituntut lebih profesional dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran. Salah satu wujud profesionalitas guru adalah kemampuan melaksanakan penelitian tindakan. Agar guru mempunyai bekal untuk meneliti, maka perlu adanya bimbingan teknis menyusun proposal penelitian sampai dengan membuat laporan penelitian dan menyusun artikel hasil penelitian. Disadari sesungguhnya bahwa kemampuan berinovasi telah dimiliki oleh sebagian besar guru. Namun, guru memiliki kendala dalam menyusun rancangan kegiatan tersebut dalam bentuk tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan apa yang dilakukan di masa depan berbeda dengan upaya di masa lalu. Upaya peningkatan kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat top-down dan bersifat teoritis akademik. Akhir-akhir ini banyak dilakukan Penelitian Berbasis Tindakan (PBT) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pendidikan, dapat diaktualisasikan secara sistematis. Upaya-upaya inilah yang kemudian kita kenal dengan sebutan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).&lt;br /&gt;Penelitian Tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Dengan demikian, penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggungjawab guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, saat ini cukup banyak guru yang belum berkemampuan dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi terutama dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan penelitian. Kemampuan tersebut banyak dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengalaman guru sehingga perlu dilakukan pengenalan, pembelajaran, dan pelatihan, serta fasilitasi dalam kegiatan penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syarat PTK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, penulis mencoba memberikan beberapa kriteria kelayakan sebuah penelitian tindakan. Dalam pandangan penulis, sebuah penelitian layah dikatakan sebagai penelitian tindakan jika mengandung syarat-syarat berikut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, peneliti, kolaborator dan murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Komitmen tersebut harus terwujud dalam keterlibatan mereka secara proporsional keseluruhan dalam kegiatan PTK. Andil tersebut terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, peneliti dan kolaborator menjadi pusat penelitian sehingga dituntut untuk bertanggungjawab atas peningkatan yang akan dicapai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, tindakan yang dilakukan hendaknya didasari pada pengetahuan baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoritis maupun pengetahuan teknis prosedural yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah kerah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, peneliti harus memantau secara sistematik agar mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan yang semuanya berkanaan dengan pemahaman yang lebih baik terhadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;, peneliti perlu membuat deskripsi otentik obyektif tentang tndakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video dan audio, riwayat subyektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi dan riwayat fiksional.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedelapan&lt;/span&gt;, peneliti perlu memberikan penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik. Hal ini mencakup 1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh wawasan teoritik yang relevan, pengaitan hasil dengan penelitian lain, 2) mempermasalahkan deskrioptif terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasil, dan 3) teorisasi yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesembilan&lt;/span&gt;, perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk 1) tulisan tentang hasil refleksi diri dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri, 2) percakapan tertulis yang dialogis dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut, 3) narasi dan cerita, 4) bentuk visual seperti diagram, gambar dan grafik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kesepuluh&lt;/span&gt;, perlu untuk membuat validasi pernyataan tentang keberhasilan tindakan melalui pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti-bukti baik dilakukan sendiri maupun bersama teman, meminta bantuan sejawat untuk memeriksa dengan meminta masukan yang digunakan untuk memperbaiki, dan menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (publikasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-1957866003332341175?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/1957866003332341175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=1957866003332341175&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1957866003332341175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1957866003332341175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2010/01/kelayakan-ptk.html' title='Kelayakan PTK'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-820425661334841030</id><published>2009-12-30T01:13:00.000+07:00</published><updated>2010-01-02T02:18:59.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Berislam Tanpa Budaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gerakan keberagamaan puritan wahabisme pada awalnya digunakan untuk menandai kekhasan identitas para pengikut ajaran Muhammad Ibn Abdul wahhab (1115-1206 H) yang lahir di Uyainah, Najed, Jazirah Arab. Pengikut golongan ini mengklaim diri mereka sebagai golongan yang melaksanakan ajaran Islam secara murni dan berkiblat pada Islam yang pure (murni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan ini juga menamakan diri mereka sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muwahiddun &lt;/span&gt;–pendukung ajaran yang memurnikan keesaan Allah (tauhid), tetapi mereka tidak mau disebut sebagai mahzab atau kelompok aliran baru. Mereka hanya mau dikenal dengan jamaah yang mengikuti dakwah untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang paling benar. Klaim kebenaran mutlak dalam beribadah ada pada mereka, umat lain salah dan tidak sesuai dengan tuntunan. Bahkan dalam beridabah pun, golongan ini terkadang tidak mau mengikuti atau bermakmum pada yang lain. Mereka beranggapan bahwa ajaran yang paling benar dan kebenaran yang paling hakiki hanya ada pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tersebut bisa terjadi lantaran seiring dengan perjalanan menuju proses kedewasaan dalam pematangan diri terlebih lagi pemikiran menjadi semakin tinggi. Perkenalan dengan kelompok ini nyaris seolah-olah mencuci otak dan memutarbalikkan pemahaman seseorang hingga tidak ada yang tersisa dan pemahaman terdahulu nyaris menjadi tanpa arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, penyebab utama yang melandasi keadaan tersebut adalah adanya ketidakmampuan diri dalam mengelola dan memecahkan persoalan hidup secara memuaskan sehingga membuat agama yang semula menjadi pelarian untuk menenangkan diri, terbukti menjadi sumber mata air jernih pelepas dahaga. Satu hal yang terjadi dan menjadi konsekuensi dari proses tersebut adalah adanya sebuah perubahan yang sangat mungkin menyelisihi kebiasaan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Meskipun perbedaan itu dalam tahap tertentu masih dapat ditoleransi, namun pada saat-saat lain menimbulkan keinginan kuat untuk merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keberadaan gerakan tersebut di Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktivis gerakan ini cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Secara fenomenologis, gerakan ini termanifestasikan dalam berbagai bentuk institusi yang bermain dalam wilayah publik. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah wahabisme dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota-kota besar, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun. Ada tengara bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada pemikiran tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. Ia ingin membersihkan Islam dari beban historis yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya, Al-Qur'an dan As-Sunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi) itu. Tetapi, pada kenyataannya  wahabisme tidaklah seindah yang dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan tuduhan bid'ah kepada umat Islam yang tidak seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dalam bertauhid semuanya sama, tidak ada yang mengagung-agungkan kuburan, semua  berdakwah untuk memurnikan tauhid, jika berdoa maka selalu meminta pada Allah, selalu berusaha menjauhkan segala macam kesyirikan karena tidak akan diampuni oleh Allah dosa syirik, dan semua berusaha untuk menegakkan kalimat tauhid &lt;span style="font-style: italic;"&gt;laa ilaaha illallah&lt;/span&gt; beserta konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini mereka melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup menonjol yang penting diketahui dari gerakan wahabisasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, mereka tidak setuju Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif. Semboyan mereka cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar negara dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas dari murka Allah dan bebas dari keterpurukan. Mereka lupa bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat islami. Tak tampak di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, mereka menolak demokrasi, karena demokrasi dianggap sebagai sistem kafir. Bukan hanya itu, mereka pun menolak dasar-dasar hak asasi manusia (HAM) yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep kebebasan beragama (hifdz al-din), kebebasan berpikir (hifdz al-'aql), dan sebagainya. Menurut mereka tidak ada hak asasi manusia (HAM), karena yang ada adalah hak asasi Allah (HAA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular-partikular syari'at dan biasanya mengabaikan terhadap syari'at universal seperti pemberantasan korupsi-kolusi-nepotisme. Hal ini tampak dari sikap tidak kritis kelompok mereka terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan, ambil contoh Saudi, -merupakan sistem pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh kelompok Wahabi. Kelompok ini cukup puas ketika salat berjemaah, puasa, zakat diformalisasikan. Sementara itu, kejahatan terhadap kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari mereka. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, mereka juga intensif menggelorakan semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid'ah, takhayul, dan khurafat yang mesti diberantas. Pakaian yang lazim dikenakan oleh perempuan Islam-Jawa hendak diarabkan. Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang-ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokok tersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yang telah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkan secara berangsur dan satu arah ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meninjaunya secara psikologi analitik (Ridwan M), dalam hal ini akan menemukan sebongkah corak ketidaksadaran kolektif yang dialami oleh golongan wahabi dibalik ideology kaku dan naïf tersebut, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sense of looseness&lt;/span&gt;. Sebuah perasaan kalah terhadap peradaban modern yang menenggelamkan peradaban Islam, secara kebetulan lahir dan berkembang di barat. Modernism telah membawa benturan nilai yang amat keras dalam segala level kehidupan dan mempunyai efek psikologis yang sangat besar. Secara psikologis, hal ini bisa dipahami sebab dalam posisi kalah akan muncul agresivitas yang tinggi yang menjadi urat akar oposisionalisme dalam membangun gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, gerakan wahabi dari dulu hingga sekarang mempunyai pola penetrasi yang sama, yaitu menjadi agen sosial yang memecah tubuh dan jiwa kebudayaan yang dalam pandangan mereka tidak sehaluan dengan Islam. Kebudayaan lokal dalam pandangan mereka adalah bid’ah, khurafat, tahayul dan sebutan sejenis lainnya. Kebencian terhadap budaya lokal dan anasir sintesis dan sinkretis ritual agama mereka buktikan dengan mengkafirkan pada mereka yang melakukannya. Kemudian, mereka beramai-ramai mencari-cari budaya lokal Arab yang mereka sangka sebagai bentuk tindakan yang Islami dan murni. Skema pandangan kognitif kaum wahabi teraktualisasi dalam skripturalisme dan penolakan mereka terhadap usul fiqih aqliyah dan perkembangan hermeneutika modern. Jika demikian, maka betapa keringnya cara berislam, berislam tanpa inovasi dan improvisasi. Yang hanya melakukan perintah dan menjauhi larangan seperti robot yang bergerak jika diperintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran dalam pandangan mereka adalah apa yang tertulis secara leterlek dalam kamus-kamus teks yang memiliki kecenderungan skripturalistik atas Al-Qur’an dan Sunnah. Landasan yang mereka gunakan lebih banyak bermahzab pada Imam Hambali yang mempunyai kecenderungan untuk menafsirkan secara skripturalistik. Mereka menerima teks-teks fiqih yang mereka anut. Padahal menurut Ridwan, teks-teks fiqih bukanlah teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Illahiyah &lt;/span&gt;yang sakralitasnya absolute, melainkan teks insaniyyah yang memiliki basis kontekstual dan epistemologi zaman. Dan hal ini memerlukan ijtihad ulang manakala watak zaman dan tuntutan-tuntutan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, harus ada langkah tegas, baik dari kelompok agamis, para pakar, pemerintah, aparat dan elemen-elemen lain dalam upaya mencegah terjadinya gelombang Wahabisme yang makin besar. Perlu adanya pemisahan antara ruang akidah dan muamalah. Hal ini perlu dilakukan karena seringkali kedua ruang tersebut dicampuradukkan sehingga menjadikan umat Islam terjebak pada penilaian hitam-putih atau salah-benar terhadap apa yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup pada tulisan ini, merujuk pada yang disampaikan oleh Ghazali, marilah memperkuat basis kultural masyarakat dengan model keagamaan yang arif dan bijak, bukan model ekstrim dan radikal. Selama ini, aspek ini sering dilupakan karena ide-ide progresif lebih berorientasi akademik dari pada orientasi praksis di lapangan. Sehingga, ide-ide yang dicetuskan dalam rangka membentuk Islam yang humanis justru tidak mampu ditangkap oleh masyarakat karena kesulitan "menerjemahkan" gagasan yang "melangit" ke dalam gagasan yang "membumi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-820425661334841030?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/820425661334841030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=820425661334841030&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/820425661334841030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/820425661334841030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/12/keislaman-tanpa-budaya.html' title='Berislam Tanpa Budaya'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-1638515657482611990</id><published>2009-12-24T11:57:00.000+07:00</published><updated>2009-12-24T12:00:17.401+07:00</updated><title type='text'>Pemberitahuan</title><content type='html'>Ujian Akhir Semester (UAS) Kapita Selekta Fisika Sekolah Off AA-CC dan A-C dilaksanakan  pada tanggal 9 Januari 2010, Jam 08.00-10.00 WIB di gedung Fisika.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-1638515657482611990?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/1638515657482611990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=1638515657482611990&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1638515657482611990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1638515657482611990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/12/pemberitahuan.html' title='Pemberitahuan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-365207773528494767</id><published>2009-10-29T06:35:00.000+07:00</published><updated>2009-10-29T06:38:55.691+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Sosial'/><title type='text'>Kilas Perjalanan Ekonomi Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan ekonomi indonesia dewasa ini kelihatan mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Perkembangan tersebut ditengarai dengan membaiknya indikator-indikator makro ekonomi nasional. Namun, jika dilihat lebih detail, kondisi perekonomian indonesia sebenarnya sangat rapuh, lemah dan berada pada posisi yang mengkwatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang dapat dilihat adalah beberapa bulan yang lalu adanya kenaikan indeks di pasar saham (Bursa) yang mencapai 50%, dan keuntungan dari bank yang berkisar 25%. Mengapa perekonomian berada pada kondisi yang mengkwatirkan? Jika kita mengamati perkembangan dunia dewasa ini, perekonomian di negara-negara lain di dunia sedang mengalami depresi (tekanan). Hal ini menyebabkan para investor menarik dana dan mencari tempat yang aman untuk berinvestasi. Pada kondisi riskan yang memberikan kenyamanan sesaat untuk berinvestasi, para investor memandang Indonesia adalah tempatnya. Maka jadilah Indonesia sebagai tempat berinvestasi. Disisi lain, kebijakan pemerintah Indonesia yang menaikkan suku bunga cukup tinggi mendorong investor untuk masuk ke pasar modal dan menanamkan modalnya di Indonesia. Hingga saat ini, suku bunga yang diberikan oleh pemerintah Indonesia tergolong cukup tinggi dibanding di negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut, sebenarnya sangat riskan dan berbahaya bagi kondisi perekonomian Indonesia sebab dana investor yang masuk merupakan “hot money”. Dana tersebut akan diambil sewaktu-waktu oleh pemilik modal, dan mereka akan membawa dana dari Indonesia. Artinya, perkembangan perekonomian Indonesia tidak didasari oleh perkembangan fundamental ekonomi sehingga kondisi tersebut sangat riskan jika ada gejolak baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keriskanan fenomena tersebut akan terjadi jika perekonomian di negara-negara lain mengalami perbaikan (mulai membaik) dan investor menarik dana mereka. Pada dasarnya investor sudah mendapatkan keuntungan dari suku bunga yang cukup tinggi di Indonesia. Hal ini sangat mungkin terjadi sebab indonesia bukanlah negara yang mempunyai status “paling kondusif” untuk berinvestasi jangka panjang baik dari segi ekonomi maupun politik. Jika kondisi tersebut terjadi, maka krisis ekonomi sebagaimana yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 akan terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia 10 tahun lalu menunjukkan penderitaan yang berkepanjangan dan menyengsarakan bagi bangsa Indonesia. IMF yang katanya sebagai penolong malah memberikan kesengsaraan bagi rakyat, sebab kesediaan IMF menolong disertai dengan pakta-pakta “agreement” syarat-syarat tertentu dengan pemerintah Indonesia. Pengalaman menunjukkan bahwa IMF mempunyai agenda-agenda lain yang tersembunyi dengan mengatasnamakan “membantu”. IMF yang katanya menjadi “Dewa Penyelamat” bagi perekonomian bangsa, tetapi pada kenyataannya malah menjadi “Dewa Amputasi” bagi perekonomian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang bisa kita amati terkait usaha IMF yang mengatasnamakan “pertolongan” tetapi merupakan upaya “pembunuhan” terhadap perekonomian Indonesia adalah 1) Indonesia harus menutup 16 bank. Upaya penutupan tersebut harus dilakukan. Karena sebelumnya tidak ada persiapan untuk itu, dan pemerintah Indonesia mau tidak mau harus melakukan, maka kondisi perekonomian malah kalang kabut. Mengapa? Pada saat itu untuk melakukan perluan tersebut, pemerintah Indonesia harus mengeluarkan dana yang sangat besar, yaitu mencapai 144 Trilyun. Hal ini menjadi dilema. Salah satu kasus yang bisa kita lihat adalah pemerintah mengalami dilema, dengan tergesa-gesa dan tanpa persiapan yang matang, pemerintah menyuntik Bank Sinar Mas dengan dana segar sebesar 4 Trilyun. Yang terjadi selanjutnya adalah gonjang-ganjing kondisi perbankan yang tak berakhir. 2) Pemerintah harus membayar utang luar negeri ke bank-bank asing yang jumlahnya sangat besar. Lebih parahnya lagi adalah pemerintah membayar menggunakan dana utangan dari IMF. Lucu dan ironis sekali, dana yang berasal dari hutang digunakan untuk membayar hutang. Parahnya lagi, hutang dana untuk membayar hutang pada negara yang akan dibayari hutang.  Dua hal tersebut menjadi penyebab utama turunnya perekonomian Indonesia. Penurunan perekonomian pada saat itu mencapai -8% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga saham dalam Bursa efek dalam hitungan bulan turun dari 20$ menjadi hanya 20 sen. Sungguh hal tersebut menjadi bencana bagi perekonomian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, meski tidak sama keadaannya, tetapi kondisinya serupa. Ketika perekonomian negara lain sudah mulai membaik, investor menarik dana mereka yang ada di Indonesia digunakan untuk berinvestasi di negara. Pada minggu yang lalu (pertengahan Oktober 2009), investor menarik dananya di Indonesia mencapai 4 Trilyun. Investor hanya mengambil untung dari selisih bunga yang cukup tinggi. Lagi-lagi perbankan menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap kondisi perekonomian. Jika pada krisis ekonomi tahun 1998, bank-bank swasta menjadi pemicunya termasuk BCA, Sinar Mas dan lain-lain, maka pada akhir-akhir ini bank century menjadi kasus utama. Akankah krisis ekonomi Jilid II akan menimpa Indonesia? Kita berharap semoga hal tersebut tidak terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-365207773528494767?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/365207773528494767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=365207773528494767&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/365207773528494767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/365207773528494767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/10/kilas-perjalanan-ekonomi-indonesia.html' title='Kilas Perjalanan Ekonomi Indonesia'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5798273599028491573</id><published>2009-10-24T22:38:00.000+07:00</published><updated>2009-10-24T22:56:34.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Sosial'/><title type='text'>Agenda Utama Pembaharuan Desa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai hampir 250 juta jiwa merupakan potensi yang sangat besar jika mampu dikembangkan untuk kepentingan bangsa. Distribusi jumlah penduduk tersebut sebagian besar berada di wilayah Pedesaan yang notabene merupakan wilayah penghasil bahan makanan di Indonesia. Desa merupakan sebuah wilayah otonom yang paling kecil dalam sistem pemerintahan di negara Indonesia dan memiliki potensi yang cukup besar. Namun, ironisnya potensi yang besar tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan baik bahkan cenderung menelantarkan keberadaan penduduk. Hal ini sangat kelihatan sekali dalam catatan sejarah bangsa Indonesia khususnya dalam catatan kemiskinan. Tengoklah pada tahun 2008 kemarin, jumlah penduduk Indonesia yang hidupnya berada dibawah garis kemiskinan mencapai 38 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan dan kelaparan merupakan persoalan kemanusiaan sangat besar yang belum terpecahkan hingga jaman modern ini. PBB mencatat dari enam miliar penduduk dunia terdapat 1,2 miliar jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan atau hidup dengan biaya kurang dari 1 dollar AS (Rp 9.000 per hari). Jika indikator kemiskinan dinaikkan menjadi 2 diolar AS per hari, maka jumlah kaum papa mencapai 2 miliar orang. Kenyataan itu lah yang mendorong para aktivis melakukan kampanye untuk menggugah nurani para pemimpin dunia agar lebih serius memikirkan kemiskinan. Kampanye itu membuahkan hasil ketika Para pemimpin dunia yang hadir dalam Millennium Summit (pertemuan tingkat tinggi Millenium) September 2000 mendeklarasikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Millennium Development Goals &lt;/span&gt;(MDGs). Dalam deklarasi tersebut, 191 negara anggota PBB sepakat untuk melakukan berbagai upaya serius mengurangi kemiskinan hingga setengahnya pada tahun 2015. Secara umum, ada delapan poin tujuan pembangunan Abad Milenium yang dirinci lagi ke dalam 18 target-target. Sukses tidaknya pencapaian delapan poin MDGs itu diukur berdasarkan 48 indikator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan poin MDGs itu adalah: Memberantas kemiskinan dan kelaparan, Mewujudkan pendidikan dasar bagi semua, Mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan, Mengurangi tingkat kematian anak, Meningkatkan kesehatan ibu, Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, Menjamin kelestarian lingkungan, dan Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Indonesia berkepentingan dengan keberhasilan MDGs karena delapan nilai dasar dari MDGs itu sejalan dengan amanat konstitusi negara UUD 1945 dan persoalan kemiskinan rakyat. Penduduk miskin Indonesia tahun 1996 berjumlah 22,5 juta (11,3 persen). Krisis ekonomi tahun 1997 membuat jumlah penduduk miskin meningkat hingga 49,5 juta (24,2 persen). Saat deklarasi MDGs diluncurkan tahun 2000, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 37,3 juta (sekitar 19 persen). Tahun 2001, jumlah penduduk miskin sedikit turun menjadi 37,1 juta dan tahun 2004 kembali turun menjadi 36,1 juta (16,6 persen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Yudhoyono saat membuka pertemuan tingkat menteri negara-negara kawasan Asia Pasifik mengenai MDGs di Jakarta awal Agustus 2005 menegaskan bahwa MDGs tidak hanya digerakkan oleh satu negara, namun merupakan hasil dari pemikiran kolektif banyak negara. MDGs tidak membedakan negara kaya atau miskin karena sebagai anggota masyarakat global, setiap negara mempunyai target dan tujuan yang sama, yaitu memerangi kemiskinan. Saat ini, mayoritas penduduk dunia masih hidup di bawah garis kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup terus menghantui kualitas hidup masyarakat. Sementara itu, di kawasan Asia Pasifik, terdapat sekira 700 juta orang atau hampir 2/3 populasi (57 persen) masyarakat miskin dunia yang masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1 dolar AS per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005 baru saja berlalu dan ternyata berbagai negara tidak mampu untuk mencapai MDGs. Wakil ADB GHPB van Der Linden mengatakan, kenyataannya setiap hari ratusan wanita Asia Pasifik menghadapi ancaman nyawa. Ribuan anak meninggal karena kelaparan dan penyakit. Ratusan juta warga miskin berjuang untuk lepas dari daerah-daerah kumuh dan desa tertinggal. Problem seperti itu malah lebih memburuk di Asia Pasifik ketimbang di Afrika. Hal tersebut kontras dengan tingkat kemakmuran global yang justru meningkat. Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan Ekonomi Jomo Kwame Sundaram juga mengatakan, angka kemakmuran global meningkat, tetapi potret kemiskinan semakin buram. Jutaan warga semakin miskin dan distribusi kemakmuran dunia semakin tidak merata, demikian menurut Sundaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengurangan kemiskinan memang membutuhkan inisiatif global, tetapi tidak akan efektif jika masalah kemiskinan itu sendiri tidak dipahami dengan benar oleh para pembuat kebijakan. Jika keliru, maka dana untuk pengurangan kemiskinan habis tanpa hasil. Karena itu, untuk memberantas kemiskinan dengan MDGs saja tidak cukup. Kemiskinan disebabkan masalah-masalah struktural dalam suatu bangsa dan oleh karena itu diperlukan kerja keras untuk mengurangi jumlah orang miskin dalam arti yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan dalam diskusi MDGs Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5798273599028491573?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5798273599028491573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5798273599028491573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5798273599028491573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5798273599028491573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/10/agenda-utama-pembaharuan-desa.html' title='Agenda Utama Pembaharuan Desa'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2373660653282498604</id><published>2009-10-09T07:03:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T19:40:42.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Teologi Bencana (Gempa)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara kita, mungkin masih ingat kejadian bencana alam yang menimpa bangsa kita. Pada tahun 2004, memori otak kita masih mencatat betapa gempa berkekuatan besar dan badai tsunami mengguncang, meluluhlantakkan dan menyapu bersih bangunan, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan yang ada di Aceh dan Sumatra Utara. Pada tahun 2006, Gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada tahun 2007, Gempa bumi dan badai tsunami menerjang pantai selatan, tepatnya Ciamis dan Cilacap. Pada tahun 2008, meski tidak terlalu hebat bencana serupa melanda Nias dan sekitarnya. Kini, dalam tahun 2009, giliran gempa bumi menimpa Padang dan sekitarnya. Dalam waktu sekejap, ratusan ribu nyawa melayang, bangunan roboh dan hancur berkeping-keping. Lebih menyentakkan lagi adalah bencana-bencana lain melanda wilayah bangsa Indonesia meski dengan bentuk lain dan skala yang tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis yang tidak mengerti apa-apa (orang awam), masih bingung dan belum bisa memahami apalagi memaknai mengapa Tuhan menjatuhkan bencana alam kepada manusia khususnya bangsa Indonesia begitu bertubi-bitu? Mengapa bencana melanda bangsa kita silih berganti dari sabang hingga merauke? Mengapa harus bangsa kita yang menanggung bencana ini? Apakah dosa-dosa yang dilakukan oleh umat bangsa ini sehingga Tuhan tega melimpahkan bencana yang maha dahsyat dan menakutkan? Mungkinkah ini merupakan manifestasi dari Kasih dan Sayang yang diberikan oleh Tuhan? Atau mungkinkah ini merupakan bentuk kutukan Tuhan terhadap umat bangsa ini? Penulis menjadi bingung dan semakin bingung bahkan tidak juga mengerti dan memahami apa maksud Tuhan menimpakan semua ini. Sebagai orang yang hampir tiap hari selalu merasakan perjuangan dalam menjalani kehidupan ini, penulis merasa betapa besar anugerah yang diberikan pada penulis sehingga bencana tersebut tidak menimpa penulis. Atau jangan-jangan ini hanya merupakan salah satu bentuk “istidrot” dari Tuhan pada penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal tersebut terjadi, penulis berandai-andai, seandainya penulis seperti seorang Nabi Muhammad SAW, maka penulis akan memohon pada Allah untuk di-Mi’raj-kan lagi guna bertemu dengan Allah sekedar meminta klarifikasi dan menanyakan langsung pada Tuhan : “Ya Allah, mengapa Engkau berikan musibah yang bertubi-tubi ini?” Atau penulis menjadi teringat pada apa yang dilakukan oleh Nabi Musa. Andai penulis bisa seperti Nabi Musa, maka mungkin penulis akan pergi ke gunung Sinai, disana penulis mengkonfirmasikan pada Tuhan untuk membuat janji berupa jadwal pertemuan dengan Tuhan guna bertanya mengenai musibah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penulis bukanlah seorang Nabi atau Rasul. Penulis hanyalah manusia biasa bahkan tidak mempunyai kelebihan sama sekali yang bisa diandalkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Penulis tidak punya kuasa untuk itu. Penulis tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan, apalagi bertanya. Dan celakanya, jika  penulis bertanya pada sesama manusia, niscaya mereka akan menjawab berdasarkan asumsi dan interpretasi yang didasarkan pada kemampuannya masing-masing. Penulis akan semakin bingung dan semakin tidak mengerti apalagi memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, hati kecil penulis setidaknya sedikit -meski tidak banyak- masih berusaha untuk mengerti dan memahami kegiatan alam yang dikendalikan oleh Tuhan. Setidaknya, akal penulis sedikit bisa mengerti dan memahami yang didasarkan pada kedalaman kemampuan akal setiap gejala yang terjadi di alam ini. Tuhan dalam banyak hal dan tempat baik yang tersurat maupun yang tersirat telah memberikan sunnatullah-Nya (hukum alam) kepada manusia untuk diketahui, dipahami, dipelajari, dan selanjutnya ditundukkan guna kemanfaatan dan kesejahteraan kehidupan di dunia ini. Banyak tamsil-tamsil dan teka-teki sekaligus misteri Tuhan yang harus dipecahkan oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis yang orang awam ini, Allah SWT dalam surat Al-baqarah ayat 164, menegaskan bahwa semesta alam adalah “ayat-ayat” yang dipertunjukkan kepada manusia. Dia ingin menunjukkan eksistensinya pada manusia lewat tanda-tanda sebagai petunjuk atas adanya Penguasa yang menandai. Karena itu, Allah menciptakan alam agar eksistensi-Nya dapat diketahui oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Arabi, seorang sufi dari Persia, beliau menjelaskan dengan gambalang bahwa alam adalah "cermin" sekaligus "bayangan" Tuhan. Dalam penjelasannya, beliat melanjutkan bahwa lewat alam ini, Tuhan sebetulnya ingin memperlihatkan, mengenalkan, sekaligus melihat diri-Nya sendiri lewat pantulan dalam "cermin" itu. Terminologi yang disampaikan tersebut, dalam tasawuf dikenal dengan ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tajalli&lt;/span&gt; lewat alam. Siapa yang ber-tajalli? Allah ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tajalli&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah yang menjadi alasan, kenapa ayat dalam Al-Qur’an pertama kali yang turun dan dibacakan kepada Nabi Muhammad saw adalah surat Al ‘Alaq. Pengetahuan penulis menangkap bahwa pada ayat 4 dan 5 Allah SWT mengajarkan segala hal pada manusia terhadap apa yang tidak diketahui dengan perantaraan “qalam”. Qalam adalah “tamsil”, “isyarat”, atau “tanda” yang mampu digunakan untuk membuka cakrawala ilmu pengetahuan manusia termasuk membuka pengetahuan tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan penulis yang sangat dangkal ini, apa yang dimaksudkan dengan “qalam”, secara umum adalah alam semesta ini. Dan manusia merupakan alam yang kecil. Selanjutnya, tidak berlebihan jika dengan mendasarkan pada ayat tersebut, menarik sebuah benang merah bahwa Tuhan sebenarnya ingin memperkenalkan sekaligus mengajarkan pada manusia lewat sebuah “tamsil” atau “tanda”. Sudah menjadi kewajiban kita sebenarnya untuk mempelari dan memahami tanda-tanda tersebut sebab dengan memahaminya, tersingkaplah rahasia-rahasia. Dengan demikian, kita mempelajari dan memahami fenomena alam sama halnya dengan mempelajari dan memahami (ilmu) Tuhan. Dan mempelajari (ilmu) Tuhan merupakan amal ibadah yang sangat luhur dan bisa mendatangkan pahala yang berlimpah. Maka dari itu, jika mau meneliti lebih mendalam mendalam, sebenarnya tidak ada perbedaan antara yang sakral dan tidak, karena dua-duanya bersumber dari Tuhan sebagai Dzat yang sakral. Semuanya merupakan ayat-ayat Tuhan yang secara terwujud dalam dua bentuk, yaitu ayat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-maktubah &lt;/span&gt;dan ayat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; al-kauniyyah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memahami Rahasia “Gempa”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sedikit uraian di atas, sudah menyebutkan bahwa bahwa apa saja yang ada di alam merupakan tanda-tanda dari kesekian banyak kekuasaan Tuhan, tak terkecuali Al-Qur’an. Tanda-tanda tersebut banyak yang termanifestasikan dalam bentuk kitab suci, ayat al-maktubah (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-qur'an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengetahuan penulis, dalam Alqur’an misalnya, disana-sini yang terjabarkan dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang terakumulasi dalam satu mushaf. Tanda-tanda tersebut menyatakan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persoalan manusia, baik menyangkut hubungan vertikal (transendental) maupun horisontal (sosial). Semua itu merupakan rahasia Tuhan yang dibeberkan kepada manusia untuk dipelajari dan dipahami jika ingin mengetahui segala rahasia yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, menurut Jamaluddin jika kita mau mengambil satu ayat Surat Al-Baqarah ayat 155, kemudian dikaitkan dengan Gempa dan segala macam bencana yang melanda bangsa kita, maka kita akan mendapatkan bahwa Allah sedang menguji saudara-saudara kita yang terkena musibah tersebut dengan perasaan takut, tertimpa kelaparan, kekurangan harta, kehilangan harta benda, orang tua, anak, saudara dan tetangga karena semuanya telah mati. Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa orang-orang sabar merupakan “tanda” dari Allah dan tanda-tanda itu akan kembali kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmat penulis, inti dari ayat ini adalah kata “sabar”. Dalam ayat berikutnya dijelaskan orang yang ketika tertimpa musibah maka akan berkata: ‘Sesungguhnya semua milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya’. Artinya, ketika kita terkena cobaan atau ujian dari Tuhan, yang pertama kali kita tanamkan dalam hati adalah kesadaran bahwa semua yang ada di alam ini, termasuk harta dan jiwa kita, adalah milik Tuhan. Orang yang sabar dalam menerima cobaan adalah mereka yang bersikap kritis, aktif dan produktif atas segala apa yang terjadi dan dialaminya. Ia akan selalu bersikap optimis dan berpandangan positif dalam menilai dan menghadapi apapun yang datang dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam pandangan penulis yang –sekali lagi- dangkal ini, penulis menyampaikan bahwa membaca dan memahami gempa bumi berarti mempelajari gejala-gejala dan berbagai kemungkinan yang ditimbulkan sebagai efeknya. Kemudian, mencari solusi yang tepat untuk menanggulangi dan jika memungkinkan mencegahnya. Gempa bumi merupakan salah satu tanda dari sekian tanda-tanda Tuhan yang ditunjukkan kepada manusia. Semuanya untuk diketahui, dipelajari dan dipahami. Sebab orang akan tertarik pada sesuatu setelah ia melihat, merasakan atau mendengarnya. Sebagian dari kita mungkin akan mengamati dan mencoba untuk memahami dan tidak serta merta hanya melihat dan menilai sebagai fenomena alam biasa, apalagi sampai menghakimi dan menuduh Tuhan sebagai pihak yang paling bersalah dalam memberikan hukuman pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana alam termasuk diantaranya adalah gempa bumi merupakan tanda yang diberikan Allah SWT untuk seluruh umat manusia di muka bumi, khususnya bangsa Indonesia. Tujuannya adalah agar manusia yang dibekali dengan akal pikiran memiliki kecerdasan dalam memahami seluruh misteri fenomena alam yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2373660653282498604?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2373660653282498604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2373660653282498604&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2373660653282498604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2373660653282498604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/10/bencana-gempa-bumi-dalam-sudut-pandang.html' title='Teologi Bencana (Gempa)'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2551856288426022308</id><published>2009-09-15T14:31:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T06:25:49.381+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Ramadhan Bil Hikmah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur sudah selayaknya kita panjatkan kehadirat Illahi, sebab atas kemurahan-Nya kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, bulan yang penuh ampunan dan bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah salah satu bulan diantara dua belas bulan Hijriyah. Secara fisik, tidak ada beda antara Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Perbedaan sesungguhnya terletak pada pemaknaan atasnya yang bisa terkait dengan momentum sejarah, bisa juga karena secara sengaja telah ditetapkan oleh Sang Pencipta dimana kita disunnahkan untuk memuliakannya. Ramadhan selain disengaja oleh Allah untuk disucikan dan dimuliakan, di dalamnya juga terdapat berbagai peristiwa sejarah yang sangat monumental. Sejarah itu tidak saja terjadi pada Rasulullah salallaahu 'alaihi wa sallam, tapi juga pada masa-masa kenabian jauh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hadits dan keterangan yang lain disebutkan bahwa semua kitab suci diturunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan. AL-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lauhil-Mahfudz &lt;/span&gt;ke langit dunia di bulan ini, kemudian dari sana diturunkan secara berangsur-angsur mengikuti keadaan dan kejadian selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Selain itu, Nabi Ibrahim a.s menerima &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shuhuf&lt;/span&gt;nya pada hari pertama atau ketiga. Nabi Daud a.s juga menerima kitab Zabur pada hari kedua belas atau delapan belas bulan yang sama. Demikian juga Nabi Musa As dan Nabi Isa As, masing masing menerima suhufnya pada hari keenam, dan hari keduabelas atau ketigabelas pada bulan ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyambut Ramadhan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesengajaan itu dalam berbagai tafsir dijelaskan semata-mata ditujukan untuk mensucikan dan memuliakannya. Memang, ada empat bulan lain yang dimuliakan Allah, tapi Ramadhan tetap menempati urutan teratas. Bukan hanya karena momentumnya, tetapi terlebih karena Allah Swt menjanjikan berbagai bonus dan diskon istimewa. Karena alasan itulah, jauh sebelum bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw telah menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Sya'ban adalah bulan persiapan. Sejak bulan ini, Rasulullah menganjurkan agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan "tamu mulia" ini. Adapun cara yang dilakukan adalah dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum. Yang belum terbiasa shaum pada hari Senin dan Kamis, diharapkan pada bulan Sya'ban sudah mulai menjalankannya. Jika belum mampu, cukup dengan tiga hari di tengah bulan. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mempersiapkan mental sekaligus fisik dalam menghadapi bulan yang disucikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Muslim yang akan memasuki arena Ramadhan, hendaknya pada bulan ini mempersiapkan diri dalam menghadapi suasana indah Ramadhan. Suasana itu tergambar dalam hati dan terukir dalam benak pikiran. Kehadiran bulan mulia tersebut senantiasa dirindukan dan dinanti-nantikan. Ibarat orang berada dalam penjara yang selalu menghitung hari pembebasannya, maka setiap hari sangatlah berarti. Begitulah gambaran seorang Muslim, terutama para sahabat Nabi di masa yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat yang menyala-nyala. Ada sebuah tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban, para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini, kebiasaan Rasulullah dan para sahabat tersebut perlu dihidupkan lagi. Biarlah hari raya 'Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan ber&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahniah&lt;/span&gt;, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tahniah&lt;/span&gt;, saling mengucapkan "selamat" adalah kebiasaan baik yang ditradisikan Rasulullah. Dengan demikian, mestinya ummat Islam lebih serius mengirim kartu Ramadhan daripada kartu lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah contoh pesan yang disampaikan Rasulullah dalam kutbahnya menyambut Ramadhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam dimana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari; dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan kebaikan-kebaikan pada bulan ini maka dia akan mendapatkan ganjaran seperti jika dia menunaikan suatu ibadah di bulan-bulan lain pada tahun itu. Dan barangsiapa yang menunaikan suatu ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapatkan tujuh puluh kali lipat ganjaran orang yang melakukan ibadah di bulan bulan lain pada tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran yang sejati adalah surga. Inilah bulan yang penuh simpati terhadap sesama manusia; ini juga merupakan bulan di mana rizqi seseorang ditambah. Barangsiapa memberi makan orang lain untuk berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan dijauhkan dari api neraka, dan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang diberinya makan untuk berbuka puasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami (para sahabat) bertanya, wahai Rasulullah, tak semua orang di antara kami mempunyai cukup persediaan untuk memberi makan orang lain yang berpuasa. Rasulullah Saw menjawab, Allah memberikan pahala yang sama bagi orang yang memberi orang lain yang sedang berpuasa sebuah kurma dan segelas air minum atau seteguk susu untuk mengakhiri puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bulan yang bagian awalnya membawa keberkahan dari Allah Swt, bagian tengahnya membawa ampunan Allah, dan bagian akhirnya menjauhkan dari api neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada bulan ini ada empat perkara yang harus kalian lakukan dalam jumlah besar, dua di antaranya adalah berbakti kepada Allah, sedang dua lainnya adalah hal-hal yang tanpa itu kamu tidak akan berhasil. Berbakti kepada Allah adalah membaca syahadat yang berarti kamu bersaksi akan keesaan Allah. La ilaaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah) dan memohon ampunan Allah atas kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan. Sedangkan dua hal lainnya yang tanpa itu kalian tak akan berhasil adalah kalian harus memohon kepada Allah untuk dapat masuk surga dan memohon kepada-Nya untuk dijauhkan dari api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari sumber airku, air yang jika diminum tak akan pernah membuatnya haus hingga pada hari dia memasuki surga" (Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan kepeloporan dari kita semua untuk memulai tradisi baru dalam menyambut Ramadhan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Kita perlu sedikit kreatif untuk memulainya. Ide-ide baru juga perlu dimunculkan untuk menggagas kegairahan ummat dalam menyambut bulan suci tersebut. Perlu ada energi khusus untuk mengalihkan pusat perhatian ummat yang hanya tertuju pada hari raya kepada bulan Ramadhan. Hal ini bukan pekerjaan ringan, karena kebiasaan yang ada saat ini sudah mendarah mendaging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ziarah Kubur &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah salah bila seseorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ziarah&lt;/span&gt; kubur saat menjelang Ramadhan sebagaimana berziarah kubur di hari-hari yang lain. Hanya saja tradisi itu perlu diluruskan dengan memberi pemahaman kepada mereka tentang tata cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ziarah&lt;/span&gt; kubur terutama tujuannya. Jangan sampai mereka salah niat dan tujuan. Jangan pula salah tata cara. Ini penting karena menyangkut "Aqidah" sebagai seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga dipahamkan, mengapa mereka lebih menyukai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ziarah&lt;/span&gt; kepada orang yang sudah mati, sedangkan kepada orang yang masih hidup mereka enggan untuk men”ziarahi”nya. Padahal yang masih hidup itu bisa jadi adalah orang tua mereka sendiri, paman-bibi, saudara-saudara, dan handai taulannya sendiri. Menziarahi kubur orang yang sudah mati itu baik, tapi men”ziarahi” orang yang masih hidup jauh lebih dianjurkan lagi. Tujuan ziarah kubur untuk mengingatkan kita akan kematian. Sedangkan tujuan ziarah kepada orang yang masih hidup adalah untuk menyambung "silaturrahim" yang intinya adalah untuk menjaga kalangsungan hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menganjurkan pada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahniah&lt;/span&gt;, memohon maaf, dan meminta nasehat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan yang berisi tiga hal di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makna Ibadah Puasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pada bulan ini kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dan Allah SWT telah menjadikan shalat tarawih pada malam harinya sebagai sunnah. Hal tersebut benar-benar ditegaskan rasulullah sehingga semua imam madzhab sepakat bahwa Shalat Tarawih adalah sunnah. Kemudian rasulullah menganjurkan untuk melaksanakan ibadah fardhu dan sunnah-sunnah lainnya. Diterangkan pula bahwa pahala mengerjakan amalan sunnah pada bulan Ramadhan disamakan dengan pahala mengerjakan amalan wajib pada bulan lainnya, sedangkan pahala mengerjakan amalan wajib pahalanya sama dengan mengerjakan tujuh puluh amalan wajib di luar Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai ibadah dalam Islam, puasa di bulan Ramadhan barangkali merupakan ibadat wajib yang paling mendalam bekasnya pada jiwa seorang Muslim. Pengalaman selama sebulan dengan berbagai kegiatan yang menyertainya seperti berbuka, tarawih dan makan sahur senantiasa membentuk unsur kenangan yang mendalam di hati seorang Muslim. Maka dari itu ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang Muslim, dan menjadi sarana pendidikannya di waktu kecil dan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, dalam bulan ini, kita mesti memikirkan tentang keadaan ibadah kita. Kita memerlukan amalan shalih, sehingga dalam bulan yang penuh dengan keberkahan ini sudah seharusnya memikirkan seberapa jauh perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan-amalan sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan Tentang Kesucian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut  para  ahli,  puasa merupakan salah satu bentuk ibadat yang paling mula-mula  serta  yang  paling  luas  tersebar  di kalangan  umat  manusia.  Bagaimana puasa itu dilakukan, dapat berbeda-beda dari satu umat ke umat yang lain, serta dari satu tempat  ke  tempat  yang  lain.  Bentuk puasa yang umum selalu berupa sikap menahan diri dari  makan  dan  minum serta dari pemenuhan kebutuhan biologis. Juga ada puasa berupa penahanan diri  dari  bekerja,  malah  dari  berbicara. Puasa berupa penahanan diri dari berbicara dituturkan  dalam  Al-Qur'an pernah dijalankan  oleh  Maryam,  ibunda  Nabi  Isa  al-Masih. Karena  terancam akan diejek oleh masyarakatnya bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan  keji  (sebab  ia  telah  melahirkan seorang  putera tanpa ayah), maka Allah memerintahkannya untuk melakukan puasa dengan tidak berbicara kepada siapapun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok amalan (lahiriah) puasa ialah pengingkaran  jasmani dan ruhani sukarela dari  sebagian kebutuhannya, khususnya dari kebutuhan yang menyenangkan. Pengingkaran jasmani dari kebutuhannya, yaitu makan dan minum, dapat beraneka ragam. Kaum Muslim berpuasa dengan menahan diri dari makan dan minum itu secara mutlak (artinya, semua bentuk makanan dan minuman dihindari, tanpa kecuali), sejak dari fajar sampai terbenam  matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak bahwa ibadah puasa memang sangat berkaitan dengan ide latihan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riyadlah&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;exercise&lt;/span&gt;), yaitu latihan keruhanian menuju ke hal-hal yang makin baik dan utama, karena semakin kuat membekas pada jiwa dan raga orang yang melakukannya. Sebuah Hadits menuturkan tentang adanya firman Allah (dalam bentuk Hadits Qudsi): "Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberinya pahala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hal ini Ibn al-Qayyim al-Jawzi memberi penjelasan bahwa puasa itu berbeda dari amal-amal yang lain dan hanya untuk Allah seru sekalian Alam. Sebab seseorang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu apa pun melainkan meninggalkan syahwatnya (makanannya dan minumannya) demi sesembahannya (Ma'budu), yakni Allah. Orang itu meninggalkan segala kesenangan dan kenikmatan dirinya karena lebih mengutamakan cinta Allah dan ridla-Nya. Puasa itu rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, yang orang lain tidak mampu melongoknya. Sesama hamba mungkin dapat melihat seseorang yang berpuasa meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan makan, minum, dan syahwatnya demi Sesembahannya, maka hal itu merupakan perkara yang tidak dapat diketahui sesama manusia. Itulah hakikat puasa. (Dar al-Fikr I, 1973:154).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah puasa. Yang mempunyai nilai pendekatan kepada Allah bukanlah penderitaan  lapar dan dahaga itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt;, melainkan rasa taqwa yang tertanam melalui hidup penuh prihatin  itu. Dengan perkatauan lain, Tuhan tidaklah memerlukan puasa kita seperti keyakinan mereka yang memandang Tuhan sebagai obyek sesajen atau sakramen. Puasa adalah untuk kebaikan diri kita sendiri baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi salah satu  hakikat  ibadah  puasa  ialah  sifatnya  yang pribadi atau personal, dan merupakan rahasia antara seorang hamba dengan penciptanya (Allah). Segi  kerahasiaan  itu merupakan letak dan sumber hikmah yang kerahasiaannya terkait  erat  dengan makna keikhlasan dan ketulusan. Antara  puasa  yang  sejati  dan  puasa  yang  palsu  hanya dibedakan  oleh,  -misalnya seteguk air yang dicuri minum oleh seseorang ketika ia berada sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh pemikir Islam modern lain, Ali Ahmad Al-Jurjawi, dalam uraiannya tentang hikmah puasa menyatakan bahwa puasa merupakan sebagian dari sepenting-pentingnya syar’i (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manifestasi religiositas&lt;/span&gt;) dan seagung-agung amalan dalam mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana tidak, puasa adalah rahasia antara seorang hamba dan Allah yang tidak termasuki oleh sikap pamrih. Seseorang yang berpuasa menahan diri dari syahwat dan kesenangan sebulan penuh, dibalik itu ia tidak mengharapkan apa-apa kecuali Wajah Allah Ta'ala. Tidak ada pengawas atas dirinya selain Dia. Maka hamba itu mengetahui bahwa Allah mengawasinya dalam kerahasiaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;privacy&lt;/span&gt;) dan dalam keterbukaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;publicity&lt;/span&gt;). Maka ia pun merasa malu untuk melanggar larangan-Nya dengan mengakui dosa, kezaliman, dan pelanggaran larangan (yang pernah ia lakukan). Ia merasa malu jika nampak oleh-Nya, bahwa ia mengenakan baju kecurangan, penipuan dan kebohongan. Karena itu ia tidak berpura-pura, tidak mencari muka, dan tidak pula bersikap mendua (munafik). Ia tidak menyembunyikan persaksian kebenaran karena takut kekuasaan seorang pemimpin atau pembesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa  ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke-MahaHadir-an (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;omnipresence&lt;/span&gt;) Allah. Kesadaran inilah yang melandasi ketaqwaan atau merupakan  hakikat ketaqwaan itu, dan yang membimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Dengan begitu dapat diharapkan bahwa seseorang akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti  luhur, bersikap amanah, fathonah, dan ber-akhlaq karimah. Kesadaran akan hakikat Allah yang Maha Hadir itu dan konsekuensinya yang diharapkan dalam tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puasa dan Tanggungjawab Kemasyarakatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari  uraian singkat di atas, dapat diambil pemahaman bahwa puasa merupakan suatu hal yang pertama dan utama dalam menghadirkan dan menghayati pendidikan tanggungjawab pribadi. Ia bertujuan mendidik agar kita mendalami keinsyafan akan Allah yang selalu menyertai dan mengawal kita dalam setiap saat  dan tempat. Atas dasar keinsyafan itu hendaknya kita tidak menjalani hidup ini dengan santai, enteng dan remeh, melainkan dengan penuh kesungguhan dan keprihatinan sebab apapun yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan kepada Khaliq kita secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua, tentu sudah sejajar dengan berbagai penegasan dalam Islam bahwa manusia dihargai dalam pandangan Allah menurut amal perbuatan berdasarkan taqwanya, suatu ajaran tentang orientasi prestasi yang tegas, dalam pengertian pandangan bahwa penghargaan kepada seseorang didasarkan kepada apa   yang   dapat   diperbuat  dan  dicapai  oleh  seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Islam melawan orientasi prestise, yaitu pandangan yang mendasarkan penghargaan kepada seseorang atas pertimbangan segi-segi askriptif seperti faktor keturunan, daerah, warna kulit, bahasa dll. Orientasi prestasi berdasarkan kerja ini kemudian dikukuhkan dengan ajaran tentang tanggung jawab yang bersifat mutlak pribadi di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian jauh kita mencoba melihat hikmah ibadah puasa sebagai sarana pendidikan Ilahi untak menanamkan tanggungjawab pribadi. Tetapi justru pengertian "tanggungjawab" itu sendiri mengisyaratkan adanya aspek sosial dalam perwujudan pada kehidupan nyata di dunia ini. Dan sesungguhnya tanggungjawab sosial adalah sisi lain dari mata uang logam yang sama, dimana sisi pertamanya ialah tanggungjawab pribadi. Ini berarti bahwa dalam kenyataannya kedua jenis tanggungjawab itu tidak bisa dipisahkan, sehingga tidak ada salah satu dari keduanya akan mengakibatkan peniadaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zakat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para ulama senantiasa menekankan bahwa salah satu hikmah ibadah  puasa ialah penanaman rasa solidaritas sosial. Hal ini dengan mudah dapat dibuktikan dalam kenyataan, yaitu ibadah puasa selalu disertai dengan anjuran untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama dalam bentuk tindakan menolong, meringankan beban kaum fakir miskin, yaitu zakat, sedekah, infaq, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut  pandang  itulah  kita  harus  melihat  kewajiban membayar  zakat fitrah pada bulan Ramadhan, terutama menjelang akhir bulan, sebagai konsep kesucian asal pribadi manusia yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci  bersih.  Karena itu zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang sangat langsung dan jelas. Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat atau "sedekah" (shadagah, secara etimologis berarti "tindakan kebenaran") pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-riqab &lt;/span&gt;(mereka yang terbelenggu, yakni, para budak; dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh "kemiskinan struktural") dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-gharimun&lt;/span&gt; (mereka yang terbeban berat hutang), serta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ibn al-sabil&lt;/span&gt; (orang yang  terlantar dalam perjalanan), demi usaha ikut meringankan beban  hidup  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial, seperti sasaran amil atau panitia zakat sendiri, kaum mu'allaf, dan sabil-Allah ("sabilillah", jalan Allah), kepentingan masyarakat dalam artian yang seluas-luasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah puasa selama sebulan itu diakhiri dengan Hari  Raya Lebaran atau Idul Fitri (Id-al-fithr, "Siklus Fitrah"), yang menggambarkan tentang saat kembalinya fitrah atau kesucian asal  manusia setelah hilang karena dosa selama setahun, dan setelah pensucian diri dosa itu melalui puasa. Dalam praktek yang melembaga dan mapan sebagai adat kita semua, manifestasi dari Lebaran itu ialah sikap-sikap dan perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan pembayaran zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir miskin, diteruskan dengan bertemu sesama anggota umat dalam perjumpaan besar pada shalat Id, kemudian  dikembangkan dalam kebiasaan terpuji silaturahmi kepada sanak kerabat dan teman sejawat, keseluruhan manifestasi Lebaran itu menggambarkan dengan jelas aspek sosial  dari hasil ibadah puasa. Bersyukur atas nikmat-karunia yang merupakan hidayah Allah kepada kita itu maka  pada hari Lebaran kita dianjurkan untuk memperlihatkan kebahagiaan dan kegembiraan kita. Petunjuk Nabi dalam berbagai Hadits mengarahkan agar pada hari Lebaran tidak seorang pun tertinggal dalam bergembira dan berbahagia, tanpa berlebihan dan melewati batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, zakat fitrah sebenarnya lebih banyak merupakan peringatan simbolik tentang kewajiban atas anggota masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yang terdiri dari para fakir miskin. Dari segi jumlah dan jenis materialnya sendiri,  zakat fitrah mungkin tidaklah begitu berarti. yang lebih asasi adalah maknanya sebagai lambang solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, zakat fitrah adalah lambang tanggung-jawab kemasyarakatan kita yang merupakan salah satu hasil pendidikan ibadah puasa, dan yang kita menifestasikan secara spontan. Tetapi, sebagai simbol dan lambang, zakat fitrah harus diberi substansi lebih lanjut dan lebih besar dalam seluruh aspek hidup kita sepanjang tahun, berupa komitmen batin serta usaha mewujudkan masyarakat yang sebaik-baiknya, yang berintikan nilai Keadilan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2551856288426022308?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2551856288426022308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2551856288426022308&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2551856288426022308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2551856288426022308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/09/ramadhan-bil-hikmah.html' title='Ramadhan Bil Hikmah'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7953479257564232741</id><published>2009-09-01T14:05:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T06:27:17.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Bercengkerama Dengan Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puasa sebagaimana yang disinyalir dalam Al-Qur’an (2:183) merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri pada Allah, sarana mendidik diri membentuk karakter yang bertaqwa pada Allah. Taqwa yang tidak semata-mata diartikan takut pada Allah dan tidak pula diartikan hanya menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang selalu disuarakan khotib dalam mimbar-mimbar Khutbah baik Jum’at maupun sholat-sholat lainnya. Hal ini dikarenakan pengertian yang demikian cenderung untuk “merobotkan” sendi-sendi dan keutamaan manusia sebagai makhluk Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa semestinya lebih bersifat aktif sebagaimana yang diterjemahkan oleh Muhammad As’ad dalam "The Messages of the Qur’an" sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;God’s Conscious&lt;/span&gt;. Taqwa yang demikian akan menjadikan manusia selalu berinisiatif untuk menghadirkan Allah dalam setiap langkah dan tindakannya sehari-hari. Pada tahap tertentu, dengan ketaqwaannya seseorang akan senantiasa merasa rindu pada Allah sebagai perasaan takjub atas nikmat dan berkah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Kerinduan terhadap Allah akan menuntun kesadaran yang tinggi untuk gemar melakukan kebaikan dan ringan meninggalkan ketercelaan. Manusia yang berada dalam kerinduan selalu melihat yang dirindukan, sementara orang lain tidak melihat kerinduan yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Hal ini karena seseorang yang sedang asyik itu memiliki mata hati yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mata hati tersebut akan bersinar terang tatkala yang bersangkutan taat pada Allah. Sebaliknya matahati itu redup tatkala dia durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa yang demikian akan menjadi ruh segala aktivitas positif baik yang berhubungan dengan kepentingan dunia -seperti karir, jabatan, prestasi, keberhasilan, dsb- maupun yang berhubungan dengan aktivitas murni keagamaan dalam mencari rahmat dan berkah serta ridho dari Allah. Dengan bekal kerinduan dan kesadaran ini, maka segala aktivitas akan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas. Deru kesibukan di segala kegiatan keseharian tidak akan menjadi sepi dari ruh religius yang pada gilirannya akan menciptakan keseimbangan dan manfaat yang tidak kunjung henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideal, dengan bekal taqwa ini cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang cinta damai dalam persaingan dan sejahtera dalam keragaman bisa terwujud tidak hanya sekadar utopi dan retorika belaka. Sebaliknya timbul dan tumbuh suburnya budaya kekerasan, pertikaian yang tak kunjung selesai, saling melempar kesalahan, kearifan yang semakin langka dalam masyarakat akhir-akhir ini salah satu penyebabnya adalah tercerai berainya modal taqwa yang ada dalam setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa di bulan ramadhan seharusnya tidak hanya mengulang rutinitas kegiatan yang dilakukan sebulan dalam setahun. Melainkan senantiasa harus dibarengi dengan kreativitas untuk perbaikan tingkah laku sehari-hari. Dalam dunia tasawuf, puasa yang dilakukan sekadar menahan lapar dan haus tanpa penghayatan, sejatinya adalah puasa yang tidak bermakna. Kalau puasa itu hanya sekadar tidak melakukan aktivitas makan dan minum, mestinya fakir dan miskin tidak dikenakan kewajiban tersebut. Sebab mereka setiap hari sudah dicekam rasa lapar dan dahaga. Persoalannya, puasa bukan sekedar itu, bukan sekadar yang tidak pernah lapar supaya merasakan lapar seperti orang miskin, bukan sama sekali bernilai penyiksaan terhadap diri. Menahan makan, minum dan aktivitas seksual di siang hari hanya bagian kecil dimensi puasa yang begitu luas dan komplek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa merupakan proses pengendalian diri terhadap hedonisme tiap manusia baik itu kaya maupun yang miskin, pejabat maupun rakyat, presiden maupun pesinden, politisi maupun pegawai, pengusaha maupun pengutang. Memang hedonisme atau kebutuhan pancaindrawi pada dasarnya dibutuhkan untuk menyangga fisik kita. Tetapi sering kali kita larut dalam kendali hedonisme. Dengan kata lain, kita terjerat pada nafsu Lauwwamah, Sabu’iyah, dan Syaithaniyah. Nafsu angkara murka, nafsu kebinatangan dan nafsu setani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya adalah batasan hedonisme itu sangat relatif dan seringkali kita menjadi naïf. Kita tidak pernah puas dengan apa yang sudah kita jejalkan pada pancaindrawi kita. Pemenuhan terhadap hedonisme itu layaknya minum air laut yang tiada habisnya, semakin direguk semakin kehausan. Dan baru akan berhenti tatakala nyawa ini telah direnggut melalui kematian. Semakin kita bersikeras memenuhi hedonisme, maka akan semakin lemah meaning fully, kedalaman nilai fitrah manusiawi kita. Meaning fully dalam kata lain adalah nafsu mutmainnah jiwa yang bersih dan damai. Untuk memperkuat meaning fully maka haruslah dengan prihatin, menunda kesenangan demi kesenangan yang lebih hakiki, yaitu surga. Derajat inilah  yang hendak dicapai dengan puasa sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah “Yaa ayyuhan nafsul mutma’innah irji’i ila rabbiki radliyatan mardliyah fadhuli fi ‘ibadi wad huli jannati” Wahai jiwa yang bersih dan damai, pulanglah ke haribaan Tuhanmu dengan kerelaan, dan datanglah keharibaan-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu puasa hendaknya dijadikan sebagai ajang pengukuran kesadaran diri untuk berpikir, merenung, berikhtiar secara kreatif mengejawantahkan ajaran-ajaran mulia keagamaan dalam kehidupan nyata. Di bulan ini kita dilecut kesadaran untuk melihat relung hati kita yang paling dalam, “Siapa aku, Siapa Engkau”. Aku ada, karena engkau ada. Paradigma demikian yang perlu kita lecutkan untuk meng-counter konsep Descartes yang menyatakan “Aku berpikir, karena itu aku ada”, sebuah konsep yang cenderung berimplikasi pada kehidupan individualistik. Dan akan kita luruskan melalui puasa dengan mengusung konsep togethersness yang berimplikasi amat luas baik ekonomi maupun sosial dalam pengertian yang komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, kecemerlangan sebuah peradaban salah satunya dipengaruhi oleh akal kreatif untuk menterjemahkan nilai-nilai luhur sebagai spirit meraih kemajuan dan kehidupan yang lebih baik. Tanpa akal kreatif ini umat manusia sudah lama punah. Kejayaan peradaban Eropa dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, tidak lepas dari kreativitas otak ilmuwan barat yang kreatif dan inovatif serta peradaban Islam yang cemerlang. Dalam sejarah, Renaissance Eropa terjadi setelah mereka mengadopsi peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam, sebagai agama mulia, berhasil mengantarkan generasi pendahulu menuju zaman kecermelangan. Keberhasilan para pendahulu dalam sejarah Islam ditentukan –salah satunya- oleh penghayatan mendalam dan pelaksanaan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. Peradaban yang dibangun berdasarkan semangat Islam tersebut yang menyebabkan para pemerhati Islam menyatakan bahwa Islam bukan hanya sekadar sebuah agama, melainkan peradaban yang paripurna. Islam isn’t only religion but also a great civilization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan, sebagai bulan yang penuh berkah, selayaknya dijadikan sebagai bulan cinta kasih antar kita sesama umat. Sekaligus sebagai sarana dan momen yang paling tepat untuk memperbaiki diri dalam membalas cinta dan kasih yang ditebarkan Rasulullah. Ramadhan seharusnya dijadikan sebagai sarana “berasyik ria”, “bermesraan” dengan Allah lewat ibadah-ibadah mahdhah serta sebagai ajang tali kasih antar sesama umat manusia, sebagai makhluk individu dan sosial. Sehingga pada nantinya berbagai macam kasus pencurian, korupsi, ancaman, pengeboman dan berbagai macam tindakan mungkar tidak akan terjadi di negeri yang kita cintai ini. Tanpa kepekaan sosial, ajaran islam tidak sempurna dan terhenti pada hablum minallah saja, dengan melupakan hablum minannas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan sebagaimana yang digambarkan di atas, puasa mempunyai arti yang sangat penting dan luas, puasa bukan ritus eksklusif tetapi ritus yang sangat inklusif. Karena itu, maka manusia perlu untuk melakukan puasa, sebab sebagaimana yang dilukiskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia mempunyai potensi yang tak terbatas untuk menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang baik atau yang buruk. Dalam kondisi yang demikian, puasa mengingatkan pada potensi yang tak terbatas itu jangan sampai terjerembab dalam lembah nista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sesungguhnya sangatlah rugi mereka yang menjumpai Ramadhan, tetapi tidak mau mengambil hikmah dari Ramadhan. Sebab telah berulangkali Rasullullah memberi nasehat mengenai keutamaannya yang pada hakikatnya semua itu bertujuan agar kita tidak sekadar mensyukuri dan mengetahui nilainya, tetapi agar kita juga mau berusaha untuk menyempurnakannya dengan berbagai bentuk amalan-amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7953479257564232741?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7953479257564232741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7953479257564232741&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7953479257564232741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7953479257564232741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/09/bercengkerama-dengan-bulan-ramadhan.html' title='Bercengkerama Dengan Bulan Ramadhan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3565110217327163608</id><published>2009-08-21T09:16:00.000+07:00</published><updated>2010-03-10T06:28:26.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Selamat Beramadhan 1430 H</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alhamdu Lillahi Rabbil ‘Alamin, Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Penguasa Alam Semesta. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w., dan tertumpahkan pada kita semua hingga hari kiamat. Semoga Allah swt, Dzhat Yang Maha Agung menjadikan kita sebagai orang yang apabila mendapatkan rizqi bersyukur, apabila mendapatkan cobaan bersabar dan apabila melakukan dosa atau kesalahan mau meminta ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur juga sudah seharusnya kita panjatkan kehadirat Illahi, sebab atas kemurahan-Nya kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Bulan Ramadhan, masih bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah Shalat Tarawih dan menjalankan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan yang didalamnya diwajibkan ibadah puasa bagi orang-orang beriman (Al-Baqarah:183), merupakan sebuah momentum yang tepat bagi kaum muslimin untuk menyamakan persepsi bahwa kaum muslimin sebenarnya adalah satu tubuh. Bulan ini juga merupakan ajang untuk "bertadharru', meratap kepada Allah agar dijauhkan dari segala kesusahan, kedhaliman dan perlakuan diskriminasi. Saat ini umat Islam sedang berada dalam masa-masa kecemasan, hampir semua negara-negara Islam mengalami penderitaan, kemiskinan, penindasan, pembantaian, penjajahan yang tidak nyata dsb. Semoga umat Islam juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan ini pada kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci Allah, Maha Besar Allah, tak seorang pun bisa menyamai-Nya, hanya Dia Tuhan Penguasa Alam Semesta (Al-Fatihah:2). Sebuah ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan penguasa semesta alam, yang berarti menerima kepemilikan tunggal Allah atas segala sesuatu di alam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya adalah sudahkah kita menerima Allah sebagai Pemilik Tunggal Alam Semesta? Kita masih menyatakan kepemilikan kita. Kita masih belum menerima Kepemilikan-Nya, Kebesaran-Nya. Kesombongan, arogansi dan ego membuat kita tidak rela menerima Kepemilikan Tunggal Allah atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menerima atau tidak, Dia yang memiliki segala sesuatu. Rasa kepemilikan yang ada pada kita hanyalah sekadar ilusi, khayalan belaka. Semua kebesaran tidak ada artinya dihadapan Allah. Kita bukanlah apa-apa. Namun, dalam banyak hal kita masih saja mengaku sebagai sesuatu dengan membawa gelar-gelar kosong, bahkan kita juga berusaha untuk memberikan nilai-nilai tertentu pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak apa yang disampaikan Rasulullah s.a.w dalam Riadhus Sholihin! Selama seseorang masih “mengaku sebagai sesuatu” dan ingin memberi nilai pada diri sendiri, dia akan menjadi hina, lebih hina, dan paling hina. Ketika seseorang ingin memberi nilai pada diri sendiri, dia akan melihat dan menyandarkan pada kekuatan diri, pengetahuannya, gelarnya, posisinya, statusnya, jabatannya, kerabatnya, keluarganya, kemampuannya, usaha yang dimilikinya, rasnya, kekayaan dan masih banyak hal yang diaku. Berdasarkan semua itu, dia ingin memberi suatu nilai pada diri sendiri yang pada kenyataannya menjadikan dia semakin hina, dan telah menjatuhkan diri dalam “tong sampah” dan menjadikan dirinya sendiri sebagai “sampah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, itu adalah nilai bagi orang yang “mengaku sebagai sesuatu” dan yang memberi nilai pada diri sendiri. Orang-orang yang demikian tidak menggunakan akal. Mereka seperti anak kecil. Mereka gembira dan bangga dengan segala macam hal yang tidak penting. Padahal perlu diingat bahwa kebanggaan hanya milik Tuhan Pemilik Surga. Dia yang memiliki hak untuk menjadi bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakan Allah s.w.t sebagai Tuhan Semesta Alam berarti berserah diri kepada Kehendak-Nya. Memuji Allah Yang Maha Kuasa berarti meleburkan ego. Mengikis habis kesombongan, berarti tidak menyombongkan diri sebagai pemilik sesuatu. Betapa besar hukuman dari Allah swt terhadap orang-orang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan" (Hadits Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, betapa besar ego dan kesombongan kita. Berapa kali dalam sehari kita mengulang “Aku" yang begini, “Aku" yang begitu. Semua hal berpulang pada “Aku”. Padahal, selama kita masih menganggap diri kita sebagai pemilik, sebenarnya kita belum menerima Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Kita belum menerima Tuhan sebagai Pemilik Tunggal. Sabda Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hiduplah di dunia ini seolah-olah kamu adalah orang asing atau sebagai pengembara" (Hadits Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak pernah mengindahkan anjuran Nabi Muhammad SAW, kita selalu sibuk menyatakan kepemilikan kita atas dunia benda. Kita selalu sibuk dengan urusan kebanggaan dengan menyatakan “ini” dan “itu”, atau mungkin masa-masa ini adalah masa-masa kebanggaan. Setiap orang merasa bangga. Padahal ketika merasa bangga, seseorang akan menjadi cemburu, iri, tidak ada rasa kasih sayang, merasa dirinya adalah superior,  melihat orang lain rendah, dan menjadi orang yang tidak adil. Semua karakter tersebut asalnya adalah kebanggaan. Dengan kebanggaannya dia telah menyatakan diri sebagai golongan setan, sebab diantara seluruh makhluk, makhluk pertama yang merasa bangga adalah Setan. Dia mengaku bangga dan seluruh malaikat menendangnya dari posisi tertinggi ke posisi terendah (QS. Al-Baqarah). Hal inilah yang dinamakan dengan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah kita akan selalu berada dalam lingkaran dan kekuasaan ego? Tidak, sebab Baginda Khatamul Anbiya’, Rasulullah saw menyebutkan bahwa segala sesuatu mempunyai pintu, dan pintunya ibadah adalah puasa. Tanpa berpuasa, kita tidak dapat menjadi seorang pelaku ibadah sebab ego kita tidak akan memperkenankan. Pertama Ego akan menyangkal, lalu keberatan dan menolak. Itulah, betapa buruknya karakteristik ego. Dia adalah makhluk terburuk yang pernah diciptakan Allah swt. Tetapi dia sangat kuat. Dia selalu ingin menentang aturan Surgawi. Dia ingin bebas. Dia tidak ingin berada dibawah kendali atau perintah siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu mengapa sejak orang pertama hingga kini, puasa adalah Perintah Surgawi dan merupakan sebuah ibadah yang penting. Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa Puasa bisa membuat rendah hati, sebab ketika merasa kenyang, seseorang akan cenderung untuk merasa angkuh, padahal kita tidak mempunyai hak untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lapar merupakan salah satu upaya yang paling efektif untuk membuat ego kita lemah. Dalam salah satu riwayat dijelaskan bahwa Ketika Allah menciptakan ego, Dia bertanya, “Siapa kamu dan siapa Aku?” ego menjawab, “Engkau ya engkau, Aku ya aku.” Ego tidak berkata, “Engkau Tuhanku dan Aku hamba-Mu!” Kemudian Allah memerintahkan ego untuk terjun ke dalam Api Neraka selama 1000 tahun. Setelah itu ego ditanya dengan pertanyaan yang sama dan dia menjawab dengan jawaban yang sama. Dia lalu diperintahkan untuk masuk ke Neraka yang dingin selama 1000 tahun, lagi-lagi dia memberikan jawaban yang sama. Kemudian dia diperintahkan untuk pergi ke lembah kelaparan selama 1000 tahun. Ketika dia dikeluarkan dan ditanya, “Siapa Aku dan siapa dirimu?”, lalu ego menjawab, “Engkau adalah Tuhanku, Tuhan yang Mahakuasa, dan Aku adalah hamba-Mu yang lemah.” Dia menjawab dengan gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada selain kelaparan yang membuat ego menyatakan penghambaannya. Karena itu, sejak manusia pertama, umat manusia diperintahkan untuk berpuasa. Perintah itu ada di dalam Taurat, Zabur, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan di dalam semua kitab suci lain yang diturunkan dari Surga. Puasa di dalam kitab suci itu sangat sulit. Puasa yang paling mudah adalah puasa yang diberikan kepada umat Muhammad s.a.w. Pada awalnya puasa ini sangat sulit. Selama beberapa periode awal, sahabat Rasulullah saw hanya diperbolehkan membatalkan puasanya antara Maghrib dan ‘Isya. Setelah ‘Isya mereka diperintahkan untuk berpuasa kembali, sehingga mereka berpuasa selama 22 jam. Kemudian Allah membuatnya lebih ringan. Kita dapat makan, minum dan menikmati sepanjang malam hingga subuh. Walaupun itu adalah puasa yang termudah, banyak orang yang tidak melaksanakannya. Tetapi itu adalah perlakuan yang paling baik bagi tubuh dan juga perlakuan terbaik bagi ego. Itu juga perlakuan terbaik bagi jiwa, membuatnya naik ke surga. Ketika kita berpuasa, jiwa kita ingin mencapai level yang lebih tinggi di Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, marilah kita penuhi panggilan Allah s.w.t, jika kita merasa masih baru dan belum pernah berpuasa, cobalah berpuasa, tetapkanlah niat. Itu adalah faktor paling penting dalam kepatuhan dan ibadah. Allah tidak akan menerima suatu ibadah tanpa niat. Kita harus berniat untuk melakukan ibadah hanya untuk mendapat ridha Allah. Berniatlah untuk mengikuti Perintah Suci-Nya. Jika tidak, itu bukanlah ibadah. Setiap tindakan yang ingin dilakukan oleh seorang hamba, harus dilakukan dengan mengingat Allah. Dengan demikian, berpuasa di bulan ramadhan tidak hanya mengulang rutinitas kegiatan yang dilakukan sebulan dalam setahun. Tetapi dibarengi dengan kreativitas untuk perbaikan tingkah laku sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tasawuf, puasa yang dilakukan sekadar menahan lapar dan haus tanpa penghayatan, sejatinya adalah puasa yang tidak bermakna (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;meaningless&lt;/span&gt;). Puasa merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri, sarana mendidik diri membentuk karakter yang bertaqwa pada Allah. Taqwa yang semata-mata tidak hanya takut pada Allah dan tidak pula diartikan hanya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan. Tetapi taqwa yang bersifat aktif (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;God’s Conscious&lt;/span&gt;). Oleh karena itu, puasa hendaknya dijadikan sebagai ajang pengukuran kesadaran diri untuk berpikir, merenung, berikhtiar secara kreatif mengejawantahkan ajaran agama dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa semacam ini menjadikan manusia selalu berinisiatif untuk menghadirkan Allah dalam tiap langkah dan tindakan. Pada tahap tertentu, dengan ketaqwaannya seseorang akan senantiasa merasa rindu pada Allah sebagai perasaan takjub atas nikmat dan berkah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Kerinduan terhadap Allah akan menuntun kesadaran yang tinggi untuk gemar melakukan kebaikan dan ringan meninggalkan ketercelaan. Manusia yang berada dalam kerinduan selalu melihat yang dirindukan, sementara orang lain tidak melihat kerinduan yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karena seseorang yang sedang asyik itu memiliki mata hati yang tidak dimiliki oleh orang lain. Mata hati yang akan bersinar terang tatkala yang bersangkutan taat pada illahi. Sebaliknya mata hati itu redup tatkala dia durhaka. Taqwa yang seperti itu menjadi ruh segala aktivitas positif yang berhubungan dengan kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menuntun kita untuk melengkapi puasa kita di Bulan Ramadhan ini sepenuhnya. Puasa merupakan jalan setahap demi setahap untuk mencapai target. Jangan berkata bahwa kita tidak dapat melakukannya, dan jangan terlalu ketat. Bahkan anak-anak yang tidak suka untuk beribadah, ajarilah mereka secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, secara bersama-sama marilah kita mengingat kembali jati diri kita sebagai manusia, atau bahkan meningkatkan kualitas kemanusiaan kita. Manusia yang tidak hanya terdiri dari daging, tapi juga roh; tidak hanya raga, tapi juga jiwa. Sebelas bulan kita seperti hanya terus dan selalu memanjakan daging, melupakan roh; membangun badan dan tak kunjung menyentuh pembangunan jiwa. Inilah saatnya yang tepat untuk menyempurnakan hati kita sebagai manusia. Siapa tahu, karena intens kita menghidupi dan menghayati kesucian bulan ini, kita dapat menyerap kesudian-Nya bagi kesucian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3565110217327163608?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3565110217327163608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3565110217327163608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3565110217327163608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3565110217327163608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/08/selamat-beramadhan-1430-h.html' title='Selamat Beramadhan 1430 H'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6888837541195513232</id><published>2009-07-31T10:29:00.001+07:00</published><updated>2009-07-31T10:35:15.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Fenomena Kewirausahaan Bagi Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemberian matakuliah kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dimaksudkan untuk memberikan nilai lebih pada para lulusan perguruan tinggi yang bersangkutan. Maksud diberikannya matakuliah ini adalah agar mahasiswa mampu membuka lapangan pekerjaan sendiri atau menjadi sosok entrepreneurship yang mandiri kelak setelah mereka lulus. Namun, sayangnya matakuliah ini hanya menjadi matakuliah pilihan di beberapa perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matakuliah ini masuk kelompok pendidikan adaptif yang digabungkan kedalam kelompok matakuliah lain sesuai dengan program kuliah masing-masing mahasiswa. Disinilah dibutuhkan peran seorang dosen pengampu matakuliah yang mampu mengubah dan menggugah perilaku mahasiswa agar mempunyai pemahaman dunia usaha dalam masyarakat sehari-hari khususnya di lingkungan mereka. Nantinya diharapkan mereka mampu untuk menerapkan prilaku kerja yang inovatif sesuai dengan kemampuannya. Focus pada matakuliah ini adalah pengembangan perilaku mahasiswa yang mampu  mengubah pola pikirnya menjadi mahasiswa yang berjiwa entrepreneurship sebagai sebuah fenomena empiris yang terjadi di lingkungannya. Pada kasus lain, mahasiswa dituntut lebih adaptif terhadap fenomena ekonomi lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran kewirausahaan ini diharapkan mampu menghasilkan prilaku wirausaha dan jiwa kepemimpinan dalam diri mahasiswa. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu untuk mengelola usaha dan berusaha secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kontribusi UMKM Pada Perekonomian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memasuki masa reformasi yang ditandai dengan perkembangan ekonomi yang mengarah pada persaingan global, UMKM dituntut kesiapannya untuk menghadapi persaingan dan merespons pasar. Keberadaan UMKM dihadapkan pada kelambatan UMKM untuk melakukan amalgamasi (merger), sehingga banyak fungsi-fungsi koperasi skala kecil yang sejenis menjadi tidak efisien. UMKM justru saling bersaing berebut pangsa pasar yang sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi krisis negara yang multi dimensional telah membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) telah menunjukkan peran yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi baik dalam lingkup nasional maupun daerah. Sejalan dengan itu, perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap sektor UMKM pun dari waktu ke waktu semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terbukti dengan banyaknya inisiatif yang ditujukan untuk pengembangan usaha kecil menengah (UMKM) oleh berbagai pihak. Peran UMKM dalam perekonomian sebuah negara, termasuk Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Begitu juga sebaliknya, posisi kewenangan penuh pemerintah telah direspon positif oleh masyarakat daerah guna mendukung terwujudnya kestabilan ekonomi, politik, budaya dan sosial yang bersifat permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan ekonomi berbasis UMKM akan membawa manfaat yang berlipat ganda. Pertama, nilai strategis sektor ini dalam skema pertumbuhan ekonomi yang dikontribusikan oleh sektor manufaktur, bisnis eceran dan penyerapan tenaga kerja. Kedua, memiliki potensi untuk menjadi lokomotif pemerataan. Selama ini perekonomian nasional diwarnai ketimpangan akibat tidak meratanya penyebaran dan perputaran uang yang terkonsentrasi di Jakarta dan kota besar lain. Kantong-kantong kemiskinan tumbuh dimana-mana dan disparitas ekonomi-sosial semakin melebar. Disinilah sektor UMKM sangat berperan untuk mendorong tumbuhnya industri kecil, kerajinan rakyat, kerja informal dan koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh adalah keberadaan UMKM di Jawa Timur, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim tahun 2007, jumlah penduduk mencapai miskin 7,1 juta orang, dan 800 ribu di antaranya pengangguran. Oleh karena itu, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, idealnya perekonomian harus ditopang dan digerakkan oleh sektor industri dan produksi. Namun kondisi usaha di Indonesia saat ini belum sepenuhnya pulih dari krisis, sehingga kontribusi sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi belum optimal. Untuk menghindari pertumbuhan ekonomi dari kerapuhan, sektor UMKM harus dipacu untuk lebih maju. Sektor informal lebih berpeluang untuk menggerakkan perekonomian daerah dari sisi produksi dan bukan konsumsi. Setidaknya hal ini dikarenakan potensi dan pangsa pasar produksi UMKM sangat besar. Dan untuk menunjang hal tersebut, pemerintah telah memfasilitas kredit lunak, yang mana angka kredit bermasalah UMKM relatif lebih rendah dibandingkan NPL kredit korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, Di Jatim terdapat 2.320.000 Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah (PMKM) yang tersebar di berbagai sektor usaha. Jatim juga menjadi prioritas Kementerian Negara Koperasi dan UKM RI untuk mengembangkan wirausaha baru sebanyak 1.010.000 unit pada 2006-2009, dan 11.640 koperasi berkualitas pada waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk wirausaha baru, selama 2007 pertumbuhannya mencapai 277.333 unit, atau melebihi 110,09% dari yang ditargetkan sebanyak 251.908 unit. Angka pertumbuhan itu bisa dikatakan suatu prestasi yang diraih pada 2007, sebab pada tahun sebelumnya hanya mampu merealisasikan 226.389 unit wirausaha baru, atau kurang 89,05% dari yang ditargetkan sebanyak 254.218 unit. Jika demikian, maka target yang akan diraih pada 2008 tinggal 227.366 unit dari yang ditargetkan semula yakni 252.791 unit. Jika pada 2008 terus melampaui target, maka otomatis target 2009 sebanyak 251.083 unit juga akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika angka peningkatan wirausaha baru terus menggembirakan, maka hal itu akan menunjang peningkatan ekonomi Jatim, pasalnya Potensi UKM di Jatim menurut data Badan Pusat Statistik Propinsi Jatim 2006 sebanyak 2,5 juta unit di sektor informal, dan mikro kecil 1,7 juta jadi totalnya 4,2 juta. Jumlah tersebut pada akhir 2007 memberi kontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim 2007 hingga 53%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kendala UMKM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan UMKM di Jatim terkendala oleh beberapa hal di antaranya, masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), rendahnya manajemen usaha, daya saing produk, akses permodalan dan belum optimalnya jaringan kerjasama usaha. Karena itu, Pemprop Jatim terus merumuskan upaya konkret dalam rangka pemberdayaan UKM dan koperasi, sehingga kelompok pelaku usaha ini mampu mengambil perannya sebagai pelaku ekonomi kerakyatan. Kondisi UMKM tersebut sulit untuk berkembang dikarenakan kurangnya permodalan, pembinaan, pemberdayaan, peluang, struktur pasar yang lemah, daya saing rendah, mutu produk kalah dengan mutu produk luar, analisa peluang tidak pernah utuh, kurangnya promosi, sumber daya manusia (skill), hal ini tidak didukung oleh trush (kepercayaan) pemerintah/perbankan dalam memberikan pinjaman modal, terbukanya akses teknologi yang kurang mendukung, etos kerja / enterpreneurship yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat bertahan di era persaingan ini, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perlu memikirkan strategi untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Salah satu strateginya adalah menggunakan Information Technology (IT) yang mencakup teknologi informasi dan Komunikasi. Hal ini perlu dilakukan mengingat dengan penggunaan TI informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Komunikasi juga dapat lebih efektif dan efisien. Kemudahan mengakses informasi dan kemudahan dalam berkomunikasi memberikan peluang bagi UMKM untuk mencari peluang ekspor maupun peluang bisnis lainnya. Salah satu faktor penting yang akan menentukan daya saing UMKM adalah teknologi informasi (TI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat pada perkembangan teknologi informasi dan tuntutan pasar yang semakin singkat dan kompetitif serta lingkungan pengoperasian yang semakin kompleks, maka pengembangan UMKM di lingkungan mahasiswa perlu untuk ditingkatkan. Upaya tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit dilakukan, sebab dari aspek manapun baik teknologi, SDM, maupun skill mahasiswa mempunyai kelebihan-kelebihan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produk-produk yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran Dosen Kerwirausahaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitu berat tuntutan dan apresiasi yang diberikan terhadap matakuliah kewirausahaan ini, maka dosen kewirausahaan harus mempunyai metode dan system pembelajaran yang beragam guna menyampaikan materi pada mahasiswa. Materi yang diberikan tidak terfokus pada teori, tetapi lebih pada aplikasi praktik yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa. Di lingkungan kampus, mahasiswa mulai semester satu hingga semester akhir perkuliahan dituntut untuk selalu adaptif terhadap lingkungan baru yang lebih beragam. Peran dosen pengampu matakuliah ini sangat penting (jika tidak disebut vital) dalam metode pembelajaran dan penumbuhan jiwa kewirausahaan mahasiswa dalam ruang lingkup adaptif. Dosen memberikan uraian singkat yang jelas, terang dan mendalam disertai dengan uraian serta analisis contoh-contoh nyata, sehingga kemampuan mahasiswa yang semula nol kewirausahaan menjadi meningkat dan langsung dapat praktek baik di internal maupun eksternal kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang dosen pengampu matakuliah ini sangat mumpuni, maka tinggal kemauan mahasiswa untuk menerapkan hal tersebut secara sungguh-sungguh. Bahkan tidak menutup kemungkinan bagi mahasiswa yang mumpuni, akan terus melanjutkan wirausahanya menjadi sebuah bisnis digeluti setelah lulus dari kuliah sehingga tanpa perlu mencari pekerjaan lain. Namun, sudah menjadi kebiasaan umum yang sudah tentu ada kendala dan rintangan dalam perjalanan. Baik mengenai produk yang dijual, daya saing, promosi, harga, persaingan pembeli, atau pemasaran. Kendala yang paling berat adalah rasa malu (gengsi) dari diri mahasiswa untuk menjual produknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa diperlukan ketelatenan dari seorang dosen pengampu matakuliah ini baik dalam memberikan contoh langsung maupun jenis praktek yang diujicobakan mahasiswa ketika menempuh matakuliah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bantuan modal kewirausahaan jika dioperasionalkan oleh mahasiswa dengan baik maka akan memberi kontribusi yang besar terhadap kehidupan mahasiswa. Minimal dalam jangka pendek, mahasiswa yang bersangkutan mampu untuk mandiri selepas lulus tanpa kebingungan mencari pekerjaan karena tidak menganggur. Kalaupun nantinya mereka ingin bekerja di tempat yang sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni, minimal menjadi bekal ketika terjun ke lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyaknya mahasiswa yang terjun kedalam kewirausahaan ini menjadi semakin banyaknya wirausahawan baru yang berpendidikan tinggi. Kedepan, banyaknya tenaga terampil di sector swasta menjadikan perekonomian Indonesia mampu berkembang. Dengan menjadi pengusaha mereka bekerja untuk diri mereka sendiri yang tidak mengandalkan sector pemerintah yang sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-6888837541195513232?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/6888837541195513232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=6888837541195513232&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6888837541195513232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/6888837541195513232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/07/fenomena-kewirausahaan-bagi-mahasiswa.html' title='Fenomena Kewirausahaan Bagi Mahasiswa'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7419703727967983679</id><published>2009-07-06T16:24:00.000+07:00</published><updated>2009-07-14T15:11:37.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Kritisisme Terhadap Modernitas Negatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini merupakan sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;responsibility &lt;/span&gt;terhadap fenomena peradaban umat Islam yang tidak bisa lepas dari kungkungan peradaban modern (Barat, jika tidak mau disebut Kristen). Fenomena saat ini menunjukkan bahwa peradaban modern (Barat) menjadi superior di bidang sains dan teknologi terhadap peradaban Islam (timur). Hal ini ironi sekali, sebab sumber sains dan teknologi berasal dari dunia timur yang notabene asal muasal peradaban Islam, tetapi bisa dikuasai dan berkembang dengan begitu cepat, taktis dan fantastis di Eropa. Lebih ironi lagi, umat Islam hanya menjadi pengguna sekaligus penonton terhadap fenomena ini, sementara Eropa dengan berbagai kemajuan yang telah diraihnya, begitu leluasa dan berkuasa atas dunia timur. Sungguh suatu hal yang sangat -sekali lagi sangat- menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Modernitas Negatif &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sedang terjadi pada diri umat Islam pada saat ini, sebenarnya merupakan cerminan rasa ambigu terhadap peradaban modern yang berasal dan berkembang di barat. Di Negara-negara barat, modernitas merupakan konsekuensi logis yang mereka terima ketika sekularisme berkembang. Sejarah telah mencatat bahwa perkembangan peradaban modern barat diwarnai “pembangkangan” sekelompok orang tertentu terhadap dominasi dan otoritas agama (Kristen), bahkan berada dalam tepi jurang yang “mematikan” Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sejarah peradaban dunia timur baik sejarah Islam maupun Judaisme, merupakan dua entitas yang memiliki karakter dan alur yang sangat jauh berbeda dengan peradaban modern barat yang notabene sangat didominasi oleh Kristen. Sejarah mencatat bahwa baik dalam Islamisme maupun Judaisme, dengan segala bentuk kontroversi dan perbedaan yang berkembang dalam ranah teologi, tidak pernah “mematikan” atau “menihilkan keberadaan Tuhan dengan segala bentuk konsekuensinya. Bahkan dalam Islam, perbedaan pendapat merupakan rahmat (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari kondisi tersebut, maka dua peradaban besar dunia berkembang sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Di dunia barat, Kristiani, sekularisasi melahirkan modernisasi yang memberikan keleluasaan, subyektivitas, dan kritisisme. Peradaban ini memberikan ruang gerak bagi perkembangan sains dan teknologi sedemikian leluasa sehingga mampu meraih kemajuan yang luar biasa dan menakjubkan. Disisi lain, respek terhadap sesame warga memberi kemungkinan bagi persamaan warga Negara dihadapan hokum dan peraturan Negara dalam konteks Negara modern yang konstitusional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut berbalik seratus delapan puluh derajat dengan dunia timur (Islam). Modernisasi dengan segala ikon, jargon dan ajaran yang dimuatnya dialami secara negative tidak sebagaimana yang terjadi di Negara-negara barat. Dunia Islam, memasuki modernitas dengan segala atributnya (kebanggaan (nasionalisme), demokrasi, kapitalisme, teknologi, dan sains) justru dengan imposisi dari luar. Formasi keberadaan Negara (dalam konteks bentuk Negara, fondasi, dsb) seringkali hanya dijadikan sebagai retorika politik dari kaum elite politik untuk bertindak otoriter dan despolitik. Demokrasi yang dilangsungkan tanpa disertai dengan perluasan basis-basis produksi politik di tingkat massa. Sebagaimana yang terjadi di Iran, sebagai salah satu Negara yang paling berseberangan dengan dunia barat, seharusnya Iran mampu menunjukkan gaya demokrasi yang sesuai dengan konstitusi yang mereka sebut sebagai demokrasi ala Islam). Pemilu yang dilangsungkan akhir-akhir ini menunjukkan demokrasi di Iran tidak jauh berbeda dengan demokrasi yang berlangsung dan sedang dilangsungkan di Negara-negara barat. Padahal, Iran merupakan salah satu Negara di dunia dari kalangan Islam yang menjadi kritisisme dan absoluteisme peradaban barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus yang lain, kapitalisme malah menjadi momok bagi kaum miskin. Namun, tragis dan sangat ironi sekali, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari dunia Islam berhasil dikembangkan di barat dan kita hanya menjadi konsumen hasil perkembangan sains-teknologi modern tersebut. Dengan demikian, modernitas yang seharusnya bisa dikuasai umat Islam malah berbuah “kutuk” dan bukannya menjadi berkah. Dan realitas ini sulit akan kita hilangkan manakala masyarakat masih berkutat pada realitas problem kesenjangan atau kegagalan Negara dalam merealisasikan keadilan dan kejahteraan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Realitas dan Sejarah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membaca atau mengamati realitas social yang terjadi dan melanda umat Islam hampir di seluruh dunia, mengingatkan kita pada sejarah kenabian Nabi Yusuf. Kita membutuhkan sebuah pemikiran yang mampu mengeluarkan kita dari bencana social. Sebuah pemikiran yang tidak hanya mendedah tafsir secara tematik, sebab hal ini bukan merupakanjalan keluar. Memang pada level diskursus teologi, posisi akal budi, dan iman tetap harus kita pertahankan di hadapan teks-teks suci Al-Qur’an. Namun, pada posisi praktis, kita harus mampu melakukan sebuah ikhtiar nyata sebagaimana yang dilakukan Yusuf sebagai konsekuensi logis dari penafsiran mimpi kaisar. Hal ini perlu dilakukan agar upaya yang kita lakukan tidak membentur langit kosong sejarah kedepan. Sejarah pertarungan yang belum berhasil  adalah menegakkan kekuatan pemikiran untuk mewujudkan keadilan dan penghapusan pemiskinan structural tidak hanya sebatas memenuhi syarat-syarat koherensi, metode, dan teori tertentu, tetapi juga kesanggupan mengungkapkan kontradiksi, negativism, dan diagnose terhadap distorsi-distorsi kekuasaan yang terus berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan pemikiran terletak pada kemampuan untuk mempertalikan teori dan kritisisme obyektif realitas yang berlangsung dan menjadi sejarah masyarakat. Khazanah pemikiran berhenti sebagai sebuah idealisme ketika apa yang terjadi tidak berjejak dan membekas pada kondisi social historis masyarakat. Realitas tidak beroprasi atau berlangsung di luar sejarah, tetapi menjadi bagian dari sejarah dan merealisasikan diri dalam mengatasi rintangan, dalam dan melalui sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan dengan komitmen terhadap perbaikan “kehidupan” baik bidang social, politik, ekonomi dan budaya harus mampu mendorong kearah yang lebih baik, persaingan yang sehat, partisipatif, dan pemerkuatan sendi-sendi kehidupan demokratis. Namun sebuah pemikiran betapapun memesona, hanya dapat bertahan dan meraih konstituensi yang luas karena negasinya atas realitas yang timpang dan eksploitatif. Kecanggihan tafsir dalam rangka memperkaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hermeneutika &lt;/span&gt;Islam mungkin hanya berakhir menjadi kegenitan intelektual muslim, bahkan mungkin menanggung nasib daya pukau menara gading. Padahal, iman, realitas, rasio dan mungkin juga filsafat, mempunyai tanggungjawab yang sama terhadap kondisi realitas obyektif sejarah untuk merespons dan bergerak dalam masyarakat. Jika sebaliknya, berarti melepaskan diri dari tanggungjawab sejarah social historis yang berlangsung, bahkan radikalisme mungkin akan mendominasi dan menjadi kuat karena dianggap merepresentasikan artikulasi mayoritas yang termarjinalisasikan oleh struktur ekonomi, politik, dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7419703727967983679?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7419703727967983679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7419703727967983679&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7419703727967983679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7419703727967983679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/07/kritisisme-terhadap-modernitas-negatif.html' title='Kritisisme Terhadap Modernitas Negatif'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-8697244584676823980</id><published>2009-06-30T21:12:00.000+07:00</published><updated>2009-06-30T21:18:20.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Proses Penyadaran adalah Inti, Bukan Pemaksaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marilah kita menyimak saat pertama kali Rasulullah SAW menerima wahyu. "Bacalah," kata orang asing yang belum pernah dilihatnya itu. "Aku.. tidak bisa membaca," jawabnya berdebar-debar. Orang asing itu tiba-tiba memegang dan merangkulnya erat hingga ia susah bernafas, tubuhnya lemas. Setelah dilepaskan, orang asing itu berkata lagi, "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang paling pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan al-qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki yang tidak bisa membaca dan menulis itu (ummiy) itu kemudian mengulang bacaan tersebut dengan hati bergetar, tubuhnya berguncang hebat, sekujur tubuhnya basah oleh peluh. Muhammad bin Abdullah lalu bergegas pulang menemui istrinya sambil berkata, "Selimuti aku, selimuti aku!" Setelah badannya tidak lagi menggigil ia bertanya kepada istrinya dan menceritakan apa yang dialaminya. "Aku khawatir terhadap keadaan diriku," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghibur sang suami, sang istri membawanya kepada seseorang bernama Waraqah dan ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata, "Yang datang itu adalah Jibril, malaikat yang pernah datang kepada Musa." Kemudian ia melanjutkan," Demi yang diriku berada di tangan-Nya, engkau adalah benar-benar Nabi umat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah peristiwa dahsyat yang menjadi klimaks perjalanan spiritual Muhammad. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk mondar-mandir ke gua sepi itu. Siapa nyana, ternyata pilihannya untuk mengasingkan diri di sana sebetulnya merupakan skenario Allah. Dengan cara itu ia tengah dipersiapkan untuk menerima sebuah beban risalah yang amat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang terlalu istimewa pada gua itu. Panjangnya hanya sekitar empat hasta dan lebarnya antar tiga perempat sampai satu hasta. Terletak di Jabal Nur, sebuah bukit sepi, dua mil dari kota Makkah. Tapi, di gua tersebut laki-laki suci itu kerap menyendiri. Dengan bekal roti gandum dan air secukupnya, ia menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bertafakkur di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua bernama Hira itu setia menemani perenungan panjang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun itu. Apa yang membawanya berkhalwat di tempat itu adalah kegelisahan menyaksikan kejahiliyahan kaumnya yang makin merajalela. Dadanya bergolak ingin melakukan perbaikan yang lebih revolusioner dan berarti, karena upayanya selama ini hanya sebatas muamalah hasanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekad laki-laki lembut hati ini tidak main-main, "Masyarakat ini harus mengubur ideologi dan tradisi kemusyrikannya." Tapi ia merasa belum memiliki kekuatan jiwa yang memadai serta belum ada panduan dan langkah-langkah kongkrit yang semestinya ditempuh. Akhirnya, gejolak jiwa itu bermuara di gua tersebut. Harapannya, dengan memisahkan diri (uzlah) dari kesibukan duniawi dan kebisingan hidup ia bisa memiliki kejernihan hati dalam merealisasikan cita-citanya yang luar biasa dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun ketiga pengasingannya, selama enam bulan, suami seorang janda kaya itu selalu mengalami mimpi yang hanya menyerupai fajar yang tengah menyingsing di pagi hari. Akhirnya di bulan Ramadhan Allah berkehendak melimpahkan rahmatnya kepada penghuni bumi dengan menurunkan wahyu kepada laki-laki itu melalui malaikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari saat ayat pertama al-Qur'an diterimanya, Senin tanggal 21 Ramadhan atau 10 Agustus tahun 610 M, menjadi saat yang paling monumental bagi kehidupan Muhammad. Di usianya yang genap 40 tahun lebih 6 bulan 12 hari menurut kalender hijriyyah atau 39 tahun lebih 3 bulan 22 hari menurut kalender masehi, ia mengalami kejadian yang luar biasa. Hari itu, disaksikan gua Hira dan alam semesta, Allah melantiknya menjadi utusan-Nya. Hari itu ia resmi menjadi Nabi dan Rasul-Nya yang bertugas membawa risalah berat, menyelamatkan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-8697244584676823980?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/8697244584676823980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=8697244584676823980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8697244584676823980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/8697244584676823980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/proses-penyadaran-adalah-inti-bukan.html' title='Proses Penyadaran adalah Inti, Bukan Pemaksaan'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-1117076984823698824</id><published>2009-06-30T21:00:00.000+07:00</published><updated>2009-06-30T21:08:31.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Kondisi Lingkungan Tengger</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Geografis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Adat Tengger bertempat tinggal di daerah Pegunungan Tengger pada ketinggian antara 1.000 – 3.676 m di atas permukaan laut. Kawasan Tengger secara geografis terletak pada garis lintang 7054’ – 8013’ LS dan  garis bujur 112051’ – 113004’ BT. Pegunungan Tengger merupakan sebuah pegunungan yang luas dan merupakan rangkaian Gunung Berapi dengan ketinggian ± 2.800 m di atas permukaan laut. Pegunungan ini merupakan pegunungan kedua yang berimpitan dengan Gunung Semeru di sebelah utara, dan berasal dari bekas letusan kelompok-kelompok gunung berapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegunungan Tengger mempunyai kawah berbentuk ellips (bulat telur) dengan puncak berbentuk dinding melingkar, luasnya mencapai 6.290 Ha, panjangnya ± 9 km dari utara ke selatan dan ± 10 km dari barat ke timur. Kawah Gunung Bromo dan Gunung Semeru selalu mengeluarkan asap yang mengepul dan menggelembung ke angkasa. Kawah Gunung Bromo posisinya berada di atas kawah (kaldera) Tengger, keunikan itu disebut dengan Crater In a Crater (kawah dalam kawah). Oleh orang Tengger, kawah tersebut dikenal dengan sebutan Pelabuhan, karena di tempat ini Masyarakat Adat Tengger melakukan labuhan sebagian hasil bumi atau ternak sebagai pelaksanaan dari pesan leluhur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Gunung Bromo dan Gunung Semeru tersebut mempengaruhi topografi kawasan Tengger, yaitu kaldera yang mengelilingi Laut Pasir terjal dengan kemiringan sekitar 60o – 80o dan ketinggian antara 200 – 600 m. Gunung Bromo tergolong gunung yang terendah di antara deretan pegunungan di kawasan Tengger. Oleh  Masyarakat Adat Tengger, Gunung Bromo bukan hanya dianggap sebagai gunung suci tetapi juga gunung yang membawa berkah. Daerah pegunungan Tengger terdiri dari gunung-gunung kecil, seperti Gunung Kendi, Baruklinting, Argowulan, Pananjakan, Mungal, Cemara Lawang, Batok, Pasung Centang, Bromo, Pundak, Widodaren, Pundak Lembu, Ijo, Walangan, Ideri, Kursi, Ider-ider, Jantur dan Pulosari. Diantara gunung-gunung terdapat sebuah laut pasir yang luasnya ±  4.265 km2 dan oleh orang setempat dikenal dengan Segara Wedhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara administratif, Masyarakat Adat Tengger tersebar di 4 (empat) kabupaten, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Pasuruan. Jumlah desa di seluruh 4 Kabupaten yang didiami oleh Masyarakat Adat Tengger sebanyak 33 desa, yaitu&lt;br /&gt;1) Kabupaten Probolinggo. Di Kecamatan Sukapura, yaitu Desa Jetak, Desa Wonoroto, Desa Ngadas, Desa Wonokerto, Desa Ngadirejo, Desa Sapikerep, Desa Sariwani, Desa Pakel dan Desa Kedasih. Di Kecamatan Lumbang, yaitu Desa Sapih. Kecamatan Sumber, yaitu Desa Pandesari, Desa Ledok Ombo, Desa Wonomerso, Desa Sumber Genito, Desa Anom Pasur.&lt;br /&gt;2) Kabupaten Pasuruan. Di Kecamatan Tosari, yaitu Desa Sedaeng, Desa Tosari, Desa Wonokitri, Desa Mororejo, Desa Kandangan, Desa Ngadiwono, Desa Podokoyo, Desa Kalitejo, dan Desa Balidono. Di Kecamatan Tutur, yaitu Desa Kayu Kebek, Desa Ngadirejo. Kecamatan Puspo, yaitu Desa Kedawung.&lt;br /&gt;3) Kabupaten Lumajang. Hanya di Kecamatan Senduro, yaitu Desa Argosari, dan Desa Ranupani.&lt;br /&gt;4) Kabupaten Malang, di Kecamatan Poncokusumo yaitu Desa Ngadas, Desa Gubug Klakah, dan Desa Duwet.&lt;br /&gt;Desa Ngadisari merupakan desa paling tinggi dan paling dekat lokasinya dengan Kawah Gunung Bromo dibanding desa-desa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iklim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Tengger mempunyai iklim yang sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, yaitu iklim tropis. Saat musim hujan tiba, hari-hari penuh dengan kabut tebal yang menyebabkan kelembaban udaranya mencapai rata-rata 80%. Begitu juga dengan suhu udara, Kawasan Tengger mempunyai suhu udara yang relatif dingin, dan curah hujan yang cukup tinggi. Pada musim penghujan suhu udara mencapai 2oC bahkan pada saat tertentu di bawah 0oC dan minus, sedangkan curah hujan mencapai 2.500 mm per tahun. Pada musim kemarau cuaca agak bersih dari kabut, tetapi keadaan diganggu oleh banyaknya debu yang berterbangan karena tertiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada saat sore hari, sedangkan di sekitar Puncak Bromo kabut terjadi pada pagi hari sampai matahari mulai terbit. Khusus siang hari, suhu udara di daerah sekitar Gunung Bromo mencapai 20 derajat celcius.  Untuk memenuhi kebutuhan air, penduduk mengambil dari dua mata air alam yang mereka alirkan sepanjang ± 2.000 m dengan pipa air minum. Sedangkan untuk pertanian, air yang mereka butuhkan tergantung pada air hujan dan embun pagi sehingga pada musim kemarau tanah-tanah kelihatan gersang. Keadaan tanahnya miring dan terdiri dari campuran tanah liat dan padas dengan komposisi pasir yang lebih dominan (gembur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kondisi Tanah dan Tanaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hamparan pasir yang luas dan kawah Gunung Bromo merupakan sebuah pemandangan yang indah. Gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan lekak-lekuk lereng dan tanaman serta tumbuhan yang menghijau, menjadikan Gunung Bromo sebagai primadona, baik bagi wisatawan manca-negara maupun wisatawan nusantara. Modal yang dimiliki daerah ini adalah pemandangan yang indah, terutama menjelang Matahari terbit, dan ketika Bulan Purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kondisi tanah dan suhu udaranya, jenis tumbuhan yang banyak dijumpai di wilayah Pegunungan Tengger adalah jenis tumbuhan Cemara atau Pinus. Namun, dewasa ini terlihat adanya pohon akasia, pakis, mentigi dan sebagainya. Pohon-pohon ini diusahakan oleh pihak kehutanan untuk bahan arang dan bahan memasak kulit. Sedangkan tanaman pertanian yang banyak dijumpai adalah Wortel, Kobis, Kentang, Bawang Merah, Bawang Putih dan Jagung sebagai bahan makanan pokok. Pada umumnya tanaman ini yang mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya.  Jenis binatang yang ada adalah Kera Lutung, Kijang, Kuda, Lembu, Biri-biri, Ayam, Babi, Itik, dan sebagainya. Hanya untuk binatang buas bisa dikatakan sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-1117076984823698824?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/1117076984823698824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=1117076984823698824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1117076984823698824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/1117076984823698824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/kondisi-geografis-lingkungan-tengger.html' title='Kondisi Lingkungan Tengger'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2789093711535628587</id><published>2009-06-30T20:57:00.000+07:00</published><updated>2009-06-30T20:58:26.097+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Peranan Dukun dalam Masyarakat Adat Tengger</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dukun merupakan pimpinan Masyarakat Adat Tengger yang berperan dalam memimpin berbagai macam upacara keagamaan. Kedudukan dukun lebih tinggi dibandingkan dengan modin dalam Islam. Di Tengger, dulu ada 36 orang dukun. Satu diantaranya menjadi kepala dukun pendhita yang memberi wejangan atau arahan serta petunjuk bagi para dukun lainnya. Calon dukun (pulun) dipilih oleh sesepuh desa melalui musyawarah desa, kemudian pulun hasil keputusan direkomendasikan oleh kepala desa untuk mengikuti pulunen (ujian dukun) pada saat Upacara Kasada. Setelah lulus pulunen dihadapan para dukun Tengger, pulun disahkan oleh kepala dukun melalui musyawarah dukun. Dukun berfungsi memimpin upacara keagamaan dan dibantu oleh legen (wakil dukun). Pada waktu memimpin upacara keagamaan, dukun mengenakan baju antra kusuma atau rasukan dukun dengan ikat kepala dan selempang serta dilengkapi dengan alat-alat upacara seperti prasen, genta, dan talam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, meskipun sudah memeluk agama Hindu Dharma, dukun tengger masih mempertahankan tradisi keagamaan yang memuja dewa penjaga Gunung Bromo, sebuah tempat peribadatan suci yang dipercayai sebagai warisan leluhur mereka. Para sarjana barat menyebut tradisi tersebut sebagai tradisi animis, yaitu tradisi yang memuja makhluk halus penguasa gunung dan sebagai tradisi dari orang-orang yang secara dangkal terpengaruh oleh Hinduisme pada zaman pra modern (Sutarto, 2001:30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hinduisme Tengger dibangun dari sistem yang disepakati oleh masyarakat dan diatur secara resmi oleh dukun atau orang-orang yang mengerti ritual. Dukun merupakan pewaris alat-alat ritual dan do’a-do’a peribadatan dari para dukun terdahulu. Syarat menjadi seorang dukun dalam Masyarakat Adat Tengger, adalah 1) berkemampuan, tekun, mampu menggali legenda, dan bertempat tinggal dekat dengan lokasi, 2) disetujui oleh masyarakat melalui musyawarah, dan 3) menguasai adat dan mantra-mantra, 4) sudah kawin, 5) berbuat kebaikan, dan 6) masih mempunyai ikatan saudara dengan dukun terdahulu dengan maksud suoaya segala peralatan yang dipunyai oleh dukun bisa diwariskan kepada penerusnya seperti gentha, perapen, primbon, dan tempat dupa. Pada umumnya, seorang dipandang bisa menjadi dukun setelah berumur 40 tahun dan menguasai adat serta berbagai mantra. Mantra-mantra tersebut dulu diwariskan secara lisan dan memiliki fungsi untuk memperoleh atau menghasilkan sesuatu serta memohon perlindungan dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga karisma, dukun diwajibkan menjalankan laku tertentu, yaitu pada awal bulan kapitu tahun Saka melakukan diharuskan melakukan megeng patigeni, yaitu ambisu selama satu hari satu malam (tidak bicara, tidak makan, tidak minum, tidak kumpul isteri). Kemudian dilanjutkan dengan mutih selama 28 hari, yaitu tidak boleh makan garam, gula, dan tidak kumpul dengan istri. Kerja sehari-hari tetap dilaksanakan, hanya dibatasi waktunya supaya tidak terlalu lelah. Di akhir bulan ditutup dengan melakukan megeng patigeni seperti pada awal bulan. Laku mutih ini diibaratkan sebagai pengasah kemampuan batiniah. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Sudja’i dukun Desa Ngadisari dan sekaligus pemangku adat Tengger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua dukun wajib melakukan megeng patigeni pada awal bulan kapitu tahun Saka yang dilanjutkan mutih selama 28 hari ditutup dengan megeng patigeni lagi. Sebenarnya semua masyarakat wajib melakukan kegiatan ini, hanya pada masyarakat awam dituntut sekuatnya sedangkan pada dukun wajib. Saya akui, ini adalah lakon yang berat khususnya tidak kumpul dengan isteri, tapi itu adalah kewajiban”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Adat Tengger percaya bahwa roh leluhur mereka masih berada di sekitar mereka dan belum meninggalkan dunia yang fana. Roh-roh tersebut hanya dapat diundang oleh dukun melalui mantra-mantra yang dirapalkannya. Jadi dukun dapat menjembatani atau menghubungkan orang kebanyakan dengan roh-roh leluhur serta dewa-dewa yang berada di kayangan. Orang kebanyakan hanya dapat berkomunikasi dengan sing cikal bakal (penghuni pertama), sing mbau rekso (penjaga desa), dan roh-roh biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping menjadi pewaris aktif sejarah, asal-usul dan tradisi Tengger, dukun juga merupakan pewaris aktif mantra Tengger. Para dukun memperlakukan mantera Tengger sebagai aset yang suci dan berharga. Dalam menjalankan aktivitasnya dukun Tengger mengucapkan mantra sesuai dengan bentuk dan tujuan upacara. Mantra-mantra yang diucapkan oleh Dukun Tengger berbeda dengan mantra-mantra yang diucapkan oleh dukun jawa. Mantra-mantra dukun tengger hanya berfungsi untuk dua hal, yaitu untuk memperoleh atau menghasilkan sesuatu, dan memohon perlindungan dan keselamatan bagi seseorang, keluarga dan Masyarakat Tengger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya Masyarakat Adat Tengger kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan ajaran agama Hindu, meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong dan saat itu tidak ada pendeta, pedanda, resi atau biksu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Masyarakat Adat Tengger secara resmi mayoritas memeluk agama Hindu Dharma, namun mereka memunyai toleransi yang cukup tinggi terhadap pemeluk agama lain. Mereka tetap mempertahankan tradisi melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya, geblog lor dan geblog kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara telah memeluk agama Islam sedangkan selatan tetap dengan tradisinya. Atas dasar itu pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi perlu terus dilakukan dan hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern. Selain upacara-upacara adat, secara formal ibadah keagamaan juga dilakukan dengan melaksanakan persembahyangan bersama di pundhen sanggar, seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Pager Wesi dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2789093711535628587?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2789093711535628587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2789093711535628587&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2789093711535628587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2789093711535628587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/peranan-dukun-dalam-masyarakat-adat.html' title='Peranan Dukun dalam Masyarakat Adat Tengger'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-3892006875636791754</id><published>2009-06-30T20:50:00.000+07:00</published><updated>2009-06-30T20:55:56.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Agama dan Kepercayaan Masyarakat Adat Tengger</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak dulu Masyarakat Adat Tengger menganut kepercayaan yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara, seperti Upacara Karo, Entas-Entas, Unan-Unan, Perkawinan, Kematian, Pendirian Rumah dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakekanya untuk meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keselamatan di dunia berkaitan dengan memohon keselamatan kelangsungan hidup dalam berumah tangga, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani, pembersihan dari dosa dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan dunia untuk masuk surga atau moksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Adat Tengger percaya pada dewa-dewa, salah satu dewa yang mereka sembah adalah Dewa Bumi Truka Syang Hyang Dewata Batur. Agama yang dianut oleh Masyarakat Adat Tengger masih belum jelas. Artinya mereka belum melaksanakan ibadah agama sebagaimana ditentukan oleh agama-agama besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Masyarakat Adat Tengger belum melaksanakan ibadah sebagaimana yang ditentukan oleh agama-agama besar, mereka mempunyai kepercayaan yang tinggi terhadap adanya roh, arwah orang meninggal, makhluk halus yang mereka sebut Adma. Adma mereka personifikasikan sebagai danyang atau penunggu desa. Dalam sistem kepercayaan terhadap danyang, mereka memperlakukannya dengan hormat supaya tidak marah. Tempat khusus yang mereka sediakan untuk melakukan penghormatan kepada danyang adalah pundhen danyang. Pundhen adalah tempat yang dikeramatkan, macamnya ada dua yaitu pundhen danyang, dan pundhen sanggar. Pundhen danyang merupakan tempat untuk menghormati adma, sedangkan pundhen sanggar merupakan tempat untuk melakukan Upacara Unan-unan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan tersebut tercermin pada legenda yang berkaitan dengan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Kedua tempat itu dianggap sebagai tempat yang suci dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tempat suci yang utama adalah laut pasir (Segara Wedhi). Nah, berkaitan dengan sistem kepercayaannya tersebut, Masyarakat Adat Tengger melakukan upacara-upacara, baik upacara yang bersifat kemasyarakatan maupun kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahun 1973, berdasarkan Surat Keputusan Parisada Hindu Dharma Prop. Jawa Timur tanggal 6 Maret 1973 No. 00/PHD.Jatim/Kept./III/73, ditetapkan bahwa agama yang dianut orang Tengger adalah Budha Mahayana. Namun demikian, ditilik dari cara beribadah dan upacara keagamaannya, agama tersebut kurang menunjukkan adanya tanda ke-Budhaan kecuali pada mantra yang dimulai dengan kata Hong, biasa memang dipakai oleh Umat Budha. Walaupun demikian Masyarakat Adat Tengger tetap menyebut dirinya sebagai pemeluk Agama Hindu Dharma. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Mudjono, ketua Parisada Hindu Dharma Probolinggo di Tengger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upacara-upacara yang kami lakukan lebih menunjukkan adanya salah satu upacara agama Hindu, seperti Upacara Galungan, Kuningan, Nyepi, Saraswati dan lain-lain. Disamping itu sejumlah mantra yang kami ucapkan pada setiap upacara adat banyak mengandung ajaran agama Hindu. Kami menyebut Tuhan dengan sebutan Syang Hyang Widhi Wasa. Dan kami juga percaya pada Syang Hyang Agung sebagai pencipta alam semesta, penguasa alam raya, penentu segala kehendak dan perbuatan manusia, dan sebagai penguasa atas segalanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pedoman kitab agama atau buku suci adalah Primbon. Isi Primbon ini dituliskan di atas daun lontar, sedangkan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta. Kitab ini tidak bisa dimiliki oleh siapa pun kecuali Dukun atau pemangku adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Masyarakat Adat Tengger sebenarnya dianggap cenderung kepada agama Budha Mahayana, meskipun bila ditinjau dari cara beribadah dan kepercayaannya lebih cenderung pada perpaduan antara Budha, Hindu, dan kepercayaan tradisional. Untuk menghindari perpecahan karena polemik ini, diadakan pertemuan antar sesepuh Masyarakat Adat Tengger di Balai Desa Ngadisari untuk mencapai kata sepakat tentang agama mereka. Pada saat itu diputuskan bahwa mereka memeluk Agama Hindu dan secara khusus mereka melestarikan ucapan Hong sebagai permulaan salam. Salam khusus yang disetujui adalah Hong Ulun Basuki Langgeng, artinya Semoga Tuhan Tetap Memberkati Keselamatan atau Kemakmuran Yang Kekal Abadi Pada Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah secara resmi agama Hindu Darma masuk di Tengger, mereka diajari keimanan pada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu ajaran Panca Sradha. Ajaran ini adalah percaya kepada :&lt;br /&gt;1) Syang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Pencita Alam. 2) Adanya Adma(n),  yaitu roh leluhur atau rohnya sendiri. 3) Adanya karmapala, yaitu hukum sebab akibat. Percaya pada adanya karmapala merupakan inti ajaran Agama Hindu dan Budha yang bermakna bahwa semua perbuatan manusia pasti terikat pada hukum sebab akibat yang di alami oleh manusia baik sekarang maupun hidup yang akan datang. 4)  Punarbawa (reinkarnasi). Kepercayaan ini berasal dari agama Hindu dan Budha, bahwa manusia terikat pada hukum hidup berkali-kali sesuai dengan dharma hidup sebelumnya. 5) Moksa (Sirna), yaitu bila manusia telah mencapai moksa maka tidak akan terikat pada Punarbawa. Mereka akan berada pada tempat kedamaian abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran keimanan pada Syang Hyang Widhi Wasa ini tidak didasarkan pada konsep religius avatara yang berarti percaya akan adanya perwujudan Tuhan. Tetapi mereka tetap percaya bahwa Syang Hyang Widhi tidak dapat dilihat secara konkret dan nyata. Adapun konsep-konsep religi yang mereka anut adalah 1) konsep monoisme, yaitu segalanya adalah Tuhan, 2) konsep monoteisme immanent, yaitu Tuhan meliputi segala ciptaannya, 3) konsep Personal God, yaitu Tuhan dapat berwujud sebagai makhluk hidup seperti dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan kegiatan upacara keagamaan, Masyarakat Adat Tengger mempunyai kalender tersendiri. Satu tahun dibagi dalam dua belas bulan, yaitu Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasepuluh, Kadesta, dan Kasuda. Mengenai hari dalam seminggu menurut Masyarakat Adat Tengger adalah Dite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukro’ (Jum’at), dan Tumpuk (Sabtu). Sedangkan hari-hari pasarannya adalah Petakan (Legi dalam Bahasa Jawa), Abritan (Pahing dalam Bahasa Jawa), Jene (Pon dalam Bahasa Jawa), Cemengan (Wage dalam Bahasa Jawa), dan Manca Warna (Kliwon dalam Bahasa Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari laporan kegiatan tentang Masyarakat Adat Tengger, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-3892006875636791754?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/3892006875636791754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=3892006875636791754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3892006875636791754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/3892006875636791754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/agama-dan-kepercayaan-masyarakat-adat.html' title='Agama dan Kepercayaan Masyarakat Adat Tengger'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-4195961161474695041</id><published>2009-06-22T10:47:00.000+07:00</published><updated>2009-06-24T18:02:03.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Dua Sisi Mata Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk dalam kondisi sempurana yang berpasang-pasangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Azwaj&lt;/span&gt;), baik dari apa yang tumbuh dari makhluk yang bersangkutan maupun dari diri apa yang tidak diketahui (alam). Kebesaran Allah tersebut mengisyaratkan bahwa kehidupan ini senantiasa berpasangan sebagaimana yang telah disampaikan dalam Surat Yasyin ayat 36. Beberapa konsep berpasangan yang kita kenal di alam ini diantaranya adalah ada siang dan malam, ada laki-laki dan perempuan, ada ingat dan lupa, ada bagus dan jelek, ada malas dan rajin, ada dzikir jahar dengan lisan dan dzikir khofi dalam hati, dan masih banyak lagi pasangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau mencermati keberadaan tersebut, seharusnya mampu menggugah hati kita untuk tidak menyepelekan konsep fitrah alam. Disampint itu, dengan konsep yang kita kenal tersebut seharusnya mampu menyeimbangkan keberadaan dan kadar keimanan kita sebagai makhluk yang beriman.  Hal ini perlu untuk kita sadari bersama sebab kita sebagai manusia oleh Allah dibekali dengan hati yang sangat lembut dan mempunyai fitrah yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang berada dalam tubuh manusia tidak hanya sekedar segumpal darah, tetapi hati manusia merupakan sumber inspirasi, sumber hikmah dan sumber keimanan. Dalam salah satu karyanya, Imam Ghozali menyatakan bahwa hati adalah ruh kehidupan manusia yang patut dijaga kebaikannya karena akan berpengaruh terhadap kinerja anggota badan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati, sebagaimana ungkapan di atas, merupakan anugerah terindah dan menakjubkan yang diberikan oleh Allah pada manusia. Ia merupakan sumber hikmah, tetapi sekaligus menjadi sumber lawannya. Jika timbul harapan, maka akan muncul ketamakan yang menundukkannya. Jika ketamakan telah berkobar dalam diri manusia, maka ia akan dibinasakan oleh kekikiran. Jika berada dalam kelapangan, maka kesombongan akan muncul. Jika melihat orang lain mendapat berkah, maka ia akan menafikan dengan menyatakan berasal dari jalan yang haram (salah). Jika ia gagal dalam menjalankan hikmah, ia tidak mengintrospeksi diri, tetapi mencari jalan pembenaran dengan membuat dalih yang aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW dalam HR Bukhari mengingatkan pada kita  agar menjaga hati, sebab sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyidina Ali, hati senantiasa berada diantara dua tepi yang berbeda dan bertolak belakang sekaligus sangat berbahaya. Baik dan buruknya tingkah laku seseorang, bagus dan jeleknya perangai seseorang, semuanya bermuara dari dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia dalam&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ihya ‘Ulumuddin &lt;/span&gt;dibagi menjadi empat karakter. Pertama, hati yang selalu terbungkus kilauan cahaya sangat terang karena berdzikir. Hati ini dimiliki oleh orang mukmin yang ahli ibadah. Kedua, hati yang hitam dan gelap. Hati ini dimiliki oleh orang kafir. Ketiga, hati yang tertutup dan tetap dalam kegelapan. Hati ini dimiliki oleh orang munafik. Keempat, hati yang merupakan kolaborasi antara hati orang munafik dan mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tarikh &lt;/span&gt;kitab zabur, dikisahkan bahwa Nabi Musa bertanya pada Allah, mengenai keberadaan-Nya. Dan Allah menjawab begitu tegas bahwa Allah berada dalam hati hamba yang beriman. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW (HR Thabrani).  Ajaran yang disampaikan Rasulullah tersebut mendidik umat manusia untuk senantiasa merasakan kehadiran Allah dengan hati yang selalu meningat Allah. Namun, hadits tersebut jangan disalahartikan dengan memahami secara sembarangan, sebab sifat Allah sangat berbeda dengan makhluk, tidak memiliki tempat layaknya manusia, tidak terbatas ruang dan waktu. Hal ini dikarenakan keberadaan tersebut lebih dekat daripada urat nadi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana agar kita dapat merasakannya? Tentu manusia harus melakukan latihan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;riyadhoh&lt;/span&gt;), tanpa latihan ini tentu tak akan dapat dicapai kehadiran-Nya. Kemudian, untuk dapat mencapai ini, maka manusia harus mendapatkan tuntunan dari seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mursyid&lt;/span&gt; (guru) sebagaimana pesan Ali RA. Beliau dalam salah satu pesannya menyebutkan bahwa ada enam syarat bagi seseorang dalam menuntut ilmu, salah satunya adalah petunjuk guru. Begitu juga yang disampaikan oleh Syekh Abdul Qodir Jailani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, apakah bagi mereka yang sudah melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riyadhoh &lt;/span&gt;lantas apa yang dilakukan selalu benar? Belum pasti, karena hati dan keimanan manusia dalam hitungan detik selalu berubah. Kadar keimanan dan ketaqwaan manusia selalu mengalami fluktuasi yang cepat. Hal ini yang patut untuk dipahami bersama, sebab beberapa kalangan menganggap bahwa jika mereka sudah melakukan proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riyadhoh, &lt;/span&gt;maka tindak tanduk dan tingkah laku yang mereka lakukan sudah pasti benar&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;Beberapa hal patut dicermati, sebab mereka yang ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;riyadhoh &lt;/span&gt;tersebut, kadang menggunakan sulu’ untuk mencari pembenaran terhadap apa yang dilakukan. Begitu cepat mereka menghakimi orang lain dengan salah, haram dan bahkan kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal pemahaman yang dangkal, pengambilan keputusan yang tergesa-gesa dan tanpa pemikiran yang komprehensif adalah syetan. Sebab syetan selalu mengintip dalam bilik hati kita. Manakala kita lengah, maka kita akan ditembus dengan pelurunya. Karena begitu luar biasanya hati manusia, maka hati adalah titik bidik iblis dan perangkatnya ketika manusia lupa akan Allah. Dan kebanyakan yang menimpa umat Indonesia, jalan yang mereka tempuh hanya digunakan untuk menutupi terhadap kebengisan dan kedengkian hati (kemunafikan) mereka terhadap kenikmatan yang diterima orang lain. Atau mungkin juga digunakan untuk menutupi ketidakmampuan diri dalam menjalankan tugas yang diembankan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang patut kita cermati. Manusia selalu berada diantara dua sisi hati yang berbeda dan mempunyai tujuan yang bertolak belakang, tepi yang satu dalam kekuasaan iblis dan perangkatnya, dan sisi yang lain malaikat dengan segala nasehatnya untuk selalu berbuat baik pada sesama. Kedua hal inilah yang setiap hari selalu berlomba-lomba untuk saling menguasai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, tidak hanya iblis dan perangkatnya yang bercokol dalam diri manusia, tapi nafsu juga mempunyai peran yang tidak kalah berat. Nafsu (selain mutmainnah) merupakan mitra syetan untuk ikut mempengaruhi ke hal-hal yang buruk. Untuk itu nafsu harus bisa dikendalikan, dan satu-satunya alat pengendali nafsu adalah dzikir (An Nur, 21). Dengan dzikir hati akan dihuni malaikat sebagai sahabat yang menenteramkan, dengan dzikir hati menjadi tenteram dan teguh. Keteguhan merupakan modal yang sangat berharga ketika kita menghadapi gunjangan dan terjangan lawan (Al-Anfal ayat 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikir merupakan perangkat yang utama untuk mengendalikan syetan, dalam salah satu hadits riwayat Bukhari, rasulullah mengajarkan untuk berdzikir dengan kalimat Thayyibah (Laa Ilaha Illallah). Namun, dzikir ini tidak akan berpengaruh sama sekali jika hanya diucapkan dengan seenaknya, dzikir ini menurut Syekh Abdul Qodir Jaelani, harus menyatu dengan ruh dan abadi tertanam dalam hati. Lantas bagaimana mendapatkannya? Menurut hemat penulis, datanglah ke ahlinya; bertanya, minta diajari, belajar dengan ikhlas dan tuma’ninah, tawadlu’, dan mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita termasuk orang-orang yang memiliki hati kerap lupa pada Allah, maka sering-seringlah hadir ke majelis dzikir. Ruh, menurut Mubarok, bagaikan angin. Jika angin melewati wewangian, maka akan terbawa ikut wangi. Jika yang dilalui tempat sampah, maka yang tercium juga bau yang tidak sedap. Begitu juga dengan hati, jika kita banyak bergaul dengan orang-orang yang ahli dzikir dan bahkan ikut bergabung dengannya, maka hati kita akan mengikuti kebiasaannya untuk berdzikir pada Allah. Jika bergaul dengan orang-orang yang lupa Allah, maka kita akan terbawa lupa. Dengan demikian, jika masih ada orang yang menghakimi kelompok dzikir dengan pernyataan haram, maka orang tersebut perlu untuk dipertanyakan kembali jiwanya. Oleh karena itu, berhati-hatilah membawa diri dalam bergaul…..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-4195961161474695041?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/4195961161474695041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=4195961161474695041&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4195961161474695041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/4195961161474695041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/dua-sisi-mata-hati.html' title='Dua Sisi Mata Hati'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2370111175543986585</id><published>2009-06-11T20:01:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T20:07:03.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan Nasional Indonesia dan Tuntutan MDG's</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini merupakan sequence dari Laporan penelitian yang penulis lakukan pada Tahun 2007 dengan frame ”Implementasi MDG’s di Indonesia”. Penulis merasa perlu untuk mempublikasikan ini karena terdorong oleh berbagai macam kasus yang menimpa dunia pendidikan di tanah air. Memang semangat mereka perlu untuk diapresiasi dengan sepenuh hati, tapi beberapa dari mereka justru menodai usaha yang begitu keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jika kita mau berpikir untuk merunut kebelakang, mungkin tulisan ini dapat membantu mencari asal muasal dari berbagai kebijakn dan tindakan-tindakan tersebut. Semoga kasus-kasus tersebut tidak terulang dalam tahun-tahun mendatang...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==============================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat keberhasilan pelaksanaan UNAS dari berbagai kalangan akhir-akhir ini perlu untuk diapresiasi. Hal ini patut diberikan sebab demi keberhasilan peserta didik dalam menghadapi ujian tersebut, semua stakeholder pendidikan berusaha semaksimal mungkin hingga beberapa kalangan menggunakan segala cara. Meski pada hakekatnya, tujuan dari pendidikan bukanlah menyeragamkan kemampuan anak didik hingga harus memahami seluruh muatan pendidikan dan lulus ujian. Tetapi, semangat yang sebenarnya adalah bagaimana ada kemampuan mengidentifikasi dan mengembangkan karakter-karakter unggul yang dimiliki peserta didik. Oleh karena itu, sudah saatnya kita memperbaiki kebutuhan pendidikan kita khususnya tingkat dasar yang sudah lama tidak banyak berubah agar nantinya lebih menghargai fitrah manusia. Dan kebutuhan dasar tersebut telah direspon oleh PBB dalam sebuah forum internasional dalam sebuah agenda besar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Millenium Development Goals &lt;/span&gt;(MDGs) atau tujuan pembangunan Millenium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Millenium Development Goals &lt;/span&gt;(MDGs) yang telah disepakati oleh para pemimpin dunia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium pada bulan September 2000 adalah memprioritaskan komitmen dari komunitas internasional terhadap pengembangan visi pembangunan yang secara kuat mempromosikan pembangunan manusia sebagai kunci untuk mencapai pengembangan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam Tujuan Pembangunan Millenium ini, target harus mengacu ke Tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan MDGs dibidang pendidikan, mengerucutkan rumusan tujuan program pendidikan yaitu “Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua” dengan rumusan targetnya bahwa pada Tahun 2015 semua anak di manapun baik laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan pendidikan dasar. Terdapat 6 (enam) indikator utama yang digunakan sebagai ukurannya, yakni : (1) angka partisipasi murni (APM) di SD, (3) APM di SMP, (4) proporsi murid yang berhasil menamatkan SD, (5) proporsi murid kelas I yang menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar, dan (6) angka “melek” huruf usia 15-24 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menandatangani stratifikasi internasional tersebut, sehingga Indonesia juga ikut meratifikasi Tujuan Pembangunan Millenium. Sangat jelas, apa yang harus dicapai dan bagaimana mencapainya hingga Tahun 2015, yaitu fokus kepada anak-anak di SD dan sekolah lanjutan pertama, serta mereka yang buta huruf pada usia 14-24 tahun. Jika hak pendidikan mereka tidak terpenuhi, berarti pemerintah telah melanggar hak asasi anak-anak Indonesia. Artinya, memastikan pada tahun 2015 semua anak Indonesia usia 7-15 tahun terlayani hak pendidikannya, dan mereka yang berusia 15-24 tahun terbebas dari buta huruf adalah pekerjaan yang amat substansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perlu ditempuh strategi nasional agar kepastian pemenuhan itu terjadi, misalnya benar-benar ada gerakan nasional program penuntasan pendidikan dasar. Selama ini gerakan nasional itu tidak ada, kalaupun ada tidak konsisten dijalankan. Partisipasi masyarakat juga perlu dikembangkan guna memastikan terjadinya pemenuhan hak-hak pendidikan anak itu berlangsung, dan bukannya dimatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;United Development Program &lt;/span&gt;(UNDP) dapat dijadikan acuan untuk melihat mutu manusia Indonesia dibandingkan negara-negara lain, yang terangkum dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Human Development Index&lt;/span&gt; (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dari 177 negara, posisi Indonesia hanya berada pada ranking 111.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter untuk menilai mutu manusia dibagi dalam empat faktor yaitu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Life Expectancy at birth &lt;/span&gt;atau LEB; yaitu angka harapan hidup, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adult literacy rate &lt;/span&gt;atau ALR; yaitu persentase anak umur 15 tahun atau lebih melek huruf, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Combined primary, secondary and tertiary gross enrollment ratio &lt;/span&gt;atau CGER atau Angka Partisipasi Kasar (APK), yaitu rasio murid/mahasiswa yang terdaftar, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gross Domestic Product &lt;/span&gt;atau GDP, yaitu Pendapatan Domestik Bruto (PDB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang Republik Indonesia tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi, dan tujuan pendidikan yang bermutu, relevan, dan kebutuhan masyarakat yang berdaya saing dalam kehidupan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi pendidikan Indonesia adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas dan produktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dari visi di atas telah diturunkan tujuh misi pendidikan yang secara keseluruhan bermuara pada pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah kebijakan pembangunan pendidikan dirumuskan merujuk pada konvensi internasional mengenai pendidikan atau berkaitan dengan prinsip pembangunan pendidikan seperti ‘Pendidikan Untuk Semua’ atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;education for all,&lt;/span&gt; Konvensi Hak Anak, Tujuan Pembangunan Milenium (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Milenium Development Goals&lt;/span&gt;, MDGs), dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;World Summit on Sustainable  Development&lt;/span&gt;. Dalam rangka mencapai sasaran di atas, telah ditetapkan tiga pilar utama pembangunan pendidikan Indonesia :&lt;br /&gt;- Peningkatan dan perluasan akses&lt;br /&gt;- Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing&lt;br /&gt;- Peningkatan tata kelola (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Good Governance&lt;/span&gt;), akuntabilitas dan citra publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan hanya dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu indikator kekurangberhasilan ini salah satunya ditunjukkan dengan hasil ujian siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif sangat kecil. Dari kacamata tersebut, stakeholder pendidikan melakukan berbagai upaya untuk memperlihatkan bahwa peserta didik mereka mengalami peningkatan kualitas, dan salah satunya berbuat curang hingga terkuak seperti akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2370111175543986585?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2370111175543986585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2370111175543986585&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2370111175543986585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2370111175543986585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/pendidikan-nasional-indonesia-dan.html' title='Pendidikan Nasional Indonesia dan Tuntutan MDG&apos;s'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-5642718593538396815</id><published>2009-06-10T23:36:00.000+07:00</published><updated>2009-06-10T23:44:24.088+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belajar Agama'/><title type='text'>Puasa Indikator Modernitas Bermasyarakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinul islam melarang umatnya untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT. Putus asa selain perbuatan yang disukai setan, juga akan melahirkan sikap dan perilaku tidak tahan banting. Padahal manusia diturunkan ke dunia, tidak lain dan tidak bukan, adalah guna melatih diri untuk bias survive dari berbagai bentuk halangan, rintangan dan cobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Islam sudah menjelaskan bahwa sejak Nabi Adam AS dikeluarkan dari Surga-Nya, tidak lain disebabkan pelanggaran yang dilakukan olehnya dan ibunda Hawa. “Penyesalan” Nabi Adam yang terus berkepanjangan hingga menurunkan generasi selanjutnya –termasuk pada kita, menandakan betapa hebat perjuangan Nabi Adam dan Ibu Hawa dalam melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;struggle of life &lt;/span&gt;(perjuangan mempertahankan hidup). Tanpa dilengkapi dengan peralatan canggih dan fasilitas yang memadai sedikit pun oleh Allah SWT tentang bagaimana hidup di dunia. Keduanya, hanya bermodalkan kelengkapan anggota badan dan kecerdasan insuisional (In-Q). Al hasil, Nabi Adam mampu mengatasi kesulitan dan beratnya medan kehidupan di bumi yang belum dikenal sebelumnya, Nabi Adam banyak belajar dari hewan dan alam sekitar. Ini menunjukkan pada kita bahwa hidup di dunia fana ini sesungguhnya sangat dibutuhkan kerja keras dan semangat untuk berani hidup dengan berbagai halangan dan rintangan sebagai ciri kehidupan makhluk di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas gambaran dari perjuangan hidup Nabi Adam seharusnya memberikan teladan, bagaimana seharusnya melakukan kegiatan dalam menghadapi kehidupan ini. Kemudian, di kisah-kisah lain juga dijelaskan, bagaimana daya juang para nabi dan Rasul dalam mempertahankan hidup dan menyebarkan ajaran Allah. Ambil kasus, bagaimana perjuangan nabi Nuh, di saat beliau harus tetap hidup dari terjangan banjir bandang. Dalam sejarah lain, juga dijelaskan bagaimana Nabi Yunus tenggelam dalam lautan lepas yang kemudian di makan ikan. Kisah Nabi Ibrahim juga memberikan gambaran jelas, bagaimana beliau berjuang berkelana kesana kemari untuk mencari Tuhan. Serta masih banyak lagi kisah-kisah dalam tariks Islam yang memenggambarkan betapa gigihnya para nabi dan rasul berjuang supaya tetap hidup termasuk didalamnya perjuangan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para tabiin, ulama wali dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah peran ajaran Islam yang berkompeten agar pemeluknya mampu keluar dari keterpurukan dan kesengasaraan hidup. Sungguh, hal seperti itu telah diajarkan dalam agama kita, Islam. Disisi lain, Rasulullah juga telah memberikan pelajaran yang sangat berharga demi mendapatkan kebahagiaan hidup hakiki di dunia dan akhirat. Memang, dalam kehidupan ini banyak hal yang harus dihadapi baik berupa persaingan antar manusia dalam menyongsong globalisasi dan modernitas kehidupan, maupun dengan ganasnya lingkungan sekitar yang tak ada kompromi. Belum sempat kita mengantisipasi dan memaknai derasnya arus globalisasi dan teknologi, bencana alam  (banjir, gempa, gunung meletus, badai, kekeringan dsb) telah datang memporak porandakan bangunan peradaban yang sedikit demi sedikit kita bangun. Sayangnya, itu adalah sunnatullah yang tidak mungkin untuk menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah berganti dengan kemajuan peradaban yang dilahirkan oleh hasil olah pikir manusia. Dengan kemampuan daya olah pikir, cipta, rasa dan karsa, manusia mampu melahirkan peralatan-peralatan untuk memudahkan menjalani kehidupan yang modern. Sudah barang tentu, hal itu harus lebih mampu lagi dalam mempertahankkan hidup dan kehidupan, dengan kata lain, harus menunjukkan ciri sebagai masyarakat yang berani hidup. Sebab, untuk memiliki sikap mental dan perilaku “berani hidup” jauh lebih sulit ketimbang memiliki sikap mental dan perilaku “berani mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang konon hidup di zaman “modern”, maka tidak ada jalan lain kecuali menjadikan Ajaran Islam sebagai motivator keagamaan dan keberagamaan dalam hidup sehari-hari. Dimana, segenap fasilitas ada untuk menjadi manusia yang sejahtera. Meski sebagian besar penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, tetapi pendidikan Islam belum mampu membumi secara Implementatif, emansipatoris dan transformatif. Hal ini berdampak pada tidak adanya keberpihakan cara keberagamaan terhadap kemanusiaan, khususnya kaum yang terpinggirkan oleh sistem kekuasaan yang hegemonic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rendahnya Keyakinan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis beranggapan bahwa rendahnya keyakinan di kehidupan kaum muslimin dikarenakan proses pendidikan dan pengajaran keberagamaan keislamaan kurang dapat memberikan akselerasi terhadap perubahan zaman yang makin hari makin cepat dan sulit diramalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu contoh, seringkali kita mendengar seruan dari seorang khatib atau ustad atau da’i, “bertakwalah pada Allah” atau “marilah meningkatkan iman dan takwa pada Allah” atau dengan pernyataan “meningkatkan puji syukur kita pada Allah” dan sebagainya. Hal ini bagus untuk disampaikan sebagai sesama muslim saling mengingatkan, tetapi celakanya pada saat yang sama dan secara nyata “sang penyeru” (khatib atau ustad atau da’i) melakukan dengan tanpa semangat untuk mengubah dirinya seperti apa yang ia sampaikan. Ia menyeru hanya sekedar membuka pembicaraan, sekedar menyatakan persyaratan yang tanpa dibarengi dengan sikap dan tingkah laku. Ironis memang, ketika jamaah melakukan apa yang diserukan oleh penyeru kebajikan, si penyeru malah terjerumuskan kedalam hal yang sebaliknya. Kemudian, muncul dalih “menyampaikan ilmu yang bermanfaat adalah wajib meski satu ayat”, atau lebih ekstrem lagi “mengharapkan pahala dari orang yang melaksanakan ilmu yang ia sampaikan”. Bagaimana hal ini dapat memberikan akselerasi pendidikan kepada umat sehingga akselerasi keyakinan itu terbangun? Bahkan yang lebih ironis lagi muncul pernyataan, janganlah melihat siapa yang menyampaikan tapi perhatikan apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang semua benar, karena semua disandarkan pada nash-nash baik dari Al-Qur’an maupun Hadist Nabi. Tetapi, ironi sekali (dan ini terjadi pada sebagian besar umat Islam di Indonesia), eksistensi masjid yang di zaman Rasulullah untuk membangun sebuah peradaban dan akselerasi keyakinan di kehidupan sehari-hari, kini hanya sekedar tempat ibadah yang tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Ini realita yang ada di lingkungan sebagian besar umat Islam. Dan yang harus kita luruskan melalui implementasi syari’at puasa dengan mengusung konsep togethersness yang berimplikasi luas baik bidang sosial, politik maupun ekonomi dalam pengertian yang komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, yang harus segera dilakukan adalah bagaimana menyusun pendidikan Islam yang lebih mengedepankan pola pendidikan dan pola pengajaran afdhaliah, yaitu penyampaian gagasan Islam dan segenap pesan Rasulullah yang afdhal-afdhal saja. Apa yang sudah terjadi tidak salah, cuma harus dipadukan secara harmonis sehingga hidup ini bukan hanya mimpi dan berthulul amal (berpanjang angan). Jika sekedar hidup untuk “berani mati” semua orang bisa mengerjakan, tetapi hidup yang untuk “berani hidup” jauh lebih berat dan sulit dalam implementasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan seorang manusia untuk sukses didalam “berani hidup” sangat membutuhkan suatu keyakinan. Keyakinan bahwa dirinya dapat hidup sebagai hamba yang sukses dan keyakinan bahwa hanya mengutamakan Allah, jujur, dan ikhlas seorang manusia akan disebut hidup yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Imbangi keagamaan dan keberagamaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tarikh Islam menunjukkan bahwa para pendahulu kita gigih dalam mempertahankan hidup. Tidak bisa dipungkiri, sebagai generasi muslim jarang sekali yang mau mengambil pelajaran dari para guru dan ulama. Kemudahan hidup seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mau tidak mau, sadar atau tidak, kita telah diperbudak oleh teknologi. Perbudakan teknologi telah dibuktikan dengan kecengengan generasi muslim yang tidak mau melakukan sesuatu yang baru karena ketidakadaan atau kerusakan teknologi yang biasa digunakan. Contoh, biasanya belajar “ngaji” di musholla atau surau diterangi dengan cahaya lampu neon, tetapi bila listrik padam kegiatan belajar mengajar diliburkan. Bukan mencari solusi atau jalan keluar agar kegiatan tersebut tetap berlangsung.&lt;br /&gt;Belum lagi fenomena di sekitar kita, karena jauhnya letak masjid dari rumah, kadang berupaya untuk membangun sebuah masjid sendiri, walau sebenarnya jamaah yang akan shalat masih sedikit atau bahkan belum ada. Sehingga tampak masjid yang megah, namun kaum muslim yang mengadakan kegiatan tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kehidupan kota-kota besar saja, tetapi kampung-kampung dan desa-desa sudah terjangkiti penyakit semacam ini. Padahal dengan banyaknya berdiri masjid semakin menambah perpecahan di tubuh kaum muslimin. Sehingga bukan lagi neraca syari’at yang dijadikan pertimbangan dalam melakukan suatu perbuatan, tapi lebih mengarah pada pemenuhan hawa nafsu dan kepentingan sesaat guna menutupi kemalasan dalam beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dinul Islam tidak bisa ditafsirkan oleh orang seorang, kelompok, golongan atau parpol dengan basis agama tanpa harus merujuk pada ajaran Rasulullah. Hanya kembali pada neraca syariat yang dibawa oleh Rasulullah, maka akan mampu memberikan kebenaran dan keabsahan ajaran dinul Islam. Tanpa kembali pada syariat rasulullah maka yang terjadi hanyalah retorika semu dan egoisme ritual. Karenanya, segenap ulama, cerdik cendekia, ustad, da’i dan golongan penyeru harus segera memberi keteladanan dan pengorbanan semaksimal mungkin demi kesejahteraan kehidupan umat muslim kedepan, yaitu sebuah pemahaman yang seimbang antara keagamaan dan keberagamaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Implementasi Syari’at Puasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan diri pada Allah sebagaimana dalam Al-Qur’an (2:183), puasa juga merupakan salah satu sarana untuk mendidik diri membentuk karakter yang bertaqwa pada Allah. Puasa juga seharusnya mampu menjadi sebuah motivator keberagamaan dalam melakukan rekonstruksi dan redesain atas kehidupan. Baik dalam menata kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Juga dalam membangun keharmonisan dan keseimbangan komunikasi antara dirinya dengan Allah, lingkungan dan juga sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis meyakini bahwa berpuasa di bulan ramadhan seharusnya tidak hanya mengulang rutinitas kegiatan yang dilakukan sebulan dalam setahun. Melainkan senantiasa harus dibarengi dengan kreativitas untuk perbaikan tingkah laku sehari-hari. Puasa merupakan proses pengendalian diri terhadap hedonisme tiap manusia baik itu kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, politisi atau pegawai, pengusaha maupun pengutang. Oleh karena itu puasa hendaknya dijadikan sebagai ajang pengukuran kesadaran diri untuk berpikir, merenung, berikhtiar secara kreatif mengejawantahkan ajaran-ajaran mulia keagamaan dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pendidikan dan pengajaran Islam akan membumi secara implementatif dan Islam diamalkan pemeluknya secara transformatif. Dengan demikian, ajaran Islam akan terimplementasikan dalam sebuah sikap mental dan perilaku seorang muslim. Kedepan, tidak akan kita jumpai seorang yang bergelar Kyai mencabuli siswanya, bahkan dalam skala umum tidak akan kita jumpai pula penipuan Haji dibalik kedok KBIH. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah, bahwa hanya yang paling takwa sajalah yang dimuliakan di sisi-Nya. Karena itu tidak lagi menjadi penting sebutan, jabatan, titel, status sosial, dsb dalam ajaran Islam. Sebab nilai-nilai ajaran Islam hanya mendorong pemeluknya untuk menjadi umat yang terbaik dan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat maka kaum muslimin harus memotivasi diri untuk menjadi sebuah masyarakat yang “berani hidup” bukan “berani mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dalam kehidupan masyarakat modern, masyarakat muslim akan jauh bermanfaat manakala mengamalkan agamanya dengan baik dan benar. Sampah masyarakat hanya cocok bagi mereka yang tidak menjalankan Ajaran Islam. Untuk itu, ukurlah kemodern dalam keagamaan dan keberagamaan dengan syari’at ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-5642718593538396815?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/5642718593538396815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=5642718593538396815&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5642718593538396815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/5642718593538396815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/puasa-indikator-modernitas.html' title='Puasa Indikator Modernitas Bermasyarakat'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7205401914170708974</id><published>2009-06-10T19:09:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T17:46:57.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Perbedaan Menuju Kebangkitan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa tahun terakhir, di kalangan umat Islam khususnya Indonesia marak terjadi perbedaan pendapat. Meski perbedaan pendapat merupakan rahmat dari Allah, tetapi diantara mereka terus berperang argument baik melalui media cetak, elektronik, maupun massa. Pendek kata, semua media digunakan menjustifikasi pendapat kelompok dan golongannya masing-masing. Puncaknya, diantara mereka menuduh bid’ah, bahkan khafir terhadap golongan lain yang tidak sepaham dan seide dengan kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, sama persis dengan kondisi umat Islam sekitar tahun 300 H. Dimana, murid Al-Hambali mengkafirkan murid Abu-al-Hasan 'Ali bin Isma'il al Asy'ari, dan sebaliknya. Jika hal ini terus terjadi, maka ummat yang awam seperti saya, tentu semakin bingung, walaupun kecintaan dan kemesraan kepada Islam terus berkembang. Prasangka, rasa curiga, bahkan rasa benci satu kelompok terhadap kelompok yang lain dengan sendirinya berkembang terus di kalangan ummat, yang akhirnya menyebakan ummat semakin hari semakin terpecah-belah. Perpecahan ini dengan sendirinya membuat ummat bertambah lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sesuatu penafsiran tidak lagi tergantung kepada kebenaran objektif dari penafsiran tersebut, tetapi lebih banyak tergantung kepada kedudukan politis dari penafsir. Penanding sesuatu pendapat yang tidak beruntung dalam mendapatkan dukungan politik dari penguasa yang sudah tidak Islami akan menanggung resiko yang sangat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara ilmuwan yang berani istiqamah (consistent) dengan pendapat mereka terpaksa mengalami penyiksaan yang luar biasa. Pada zaman dahulu, Imam Abu Hanifah misalnya, harus mengalami penjara selama sembilan tahun dan setiap harinya menderita sepuluh kali cambukan. Sebahagian dari ilmuwan Muslim, yang dikhawatirkan pengaruhnya oleh penguasa yang zhalim, sampai dicabut hak menyatakan pendapat mereka secara tidak berprikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula yang sampai kehilangan nyawa baik dibunuh langsung atau menemui maut ditekan penderitaan di dalam penjara seperti Taqiyy al-Din Ahmad Ibnu Taymiyyah. Sebelum wafatnya, Ibnu Taymiyyah ini mengalami penjara sebanyak tiga kali. Karena beliau terus saja menuliskan pendapat-pendapat dan penafsiran beliau untuk dibaca dan dipelajari oleh para pengikut beliau yang setia, walaupun sedang di dalam penjara, maka di dalam penjara yang ketiga kalinya beliau telah dipisahkan dari tinta dan kertas, sehingga beliau tidak dapat lagi menyatakan idea beliau yang sangat bernilai itu. Siksaan terberat bagi setiap pendekar ilmu, yaitu pencabutan hak menyatakan pendapat ini, telah menyebabkan beliau akhirnya menghembuskan nafas beliau yang terakhir di dalam penjara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ummat Islam mencapai titik kelemahan mereka yang terendah akibat perpecahan dan perang saudara yang berkepanjangan, maka mulailah satu persatu negeri dan ummat jatuh ke bawah kekuasaan penjajahan negeri-negeri Kristen dan Barat. Dominasi dari luar yang tidak mungkin tertahankan lagi ini tidak hanya menghisap kehidupan materiel ummat, tetapi lebih parah lagi, karena ia sekaligus bercorak penjajahan mental dan moral. Akibat penjjahan ini terhadap mental dan moral ummat sedemikian parahnya, sehingga mayoritas ummat kehilangan harga diri dan kepercayaan akan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat yang semula berwatak pemimpin kemanusiaan, khalifah Allah, yang berwibawa serta kreatif, sehingga dijuluki Allah sebagai "Ummat terbaik di tengah-tengah kemanusiaan" (Khaira ummatin ukhrijat linnasi, Q. 3:110) telah berubah menjadi manusia-manusia berwatak hamba yang hina dina (asfala sa-fili-na, Q. 95:5), karena ruh Tawhid telah sirna dari kalbu-kalbu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya, pendidikan Islam tidak lagi terarah kepada penghayatan dan penalaran akan nilai-nilai Islam, yang sebenarnya penuh dinamika, melainkan telah berubah menjadi sekadar formalitas atau pengulangan-pengulangan formal akan nilai-nilai penurunan (derivated values), yang sudah membaku dan kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, masa menurunnya kwalitas ummat telah mencapai titiknya yang terendah menjelang pertengahan abad ke-14 Hijriyah yang lalu. Menjelang akhir abad itu dan seterusnya di abad ke-15 hingga sekarang, ummat Islam hampir di setiap penjuru dunia telah bergerak kembali ke arah pendakian mutu dalam menghayati ajaran-ajaran agama mereka. Pada mulanya, kelihatan gerakan tersebut sangat lamban dan tersendat-sendat. Kadang-kadang gerakan tersebut merupakan kejutan-kejutan, karena dihasilkan oleh kebangkitan kesadaran yang meledak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;explosive&lt;/span&gt;), sebagai reaksi terhadap tekanan luar yang sudah melampaui batas daya tahan kemanusiaan. Di dalam dunia intelektual gerakan-gerakan reaktif mula-mula berupa tangkisan-tangkisan apologetik, namun sedikit demi sedikit akhirnya telah meningkat menjadi bahasan ilmiah yang mematang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan ummat akan pendidikan Islam yang bermutu mulai meningkat dari hari demi hari. Kebutuhan akan buku-buku Islam terus meningkat, terutama buku-buku yang menguraikan masalah pokok dan dasar dengan pendekatan yang sesuai dengan pemikiran zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap kampus perguruan tinggi di seluruh negeri-negeri, yang didiami ummat Islam, muncul gerakan-gerakan spontan untuk mempelajari kembali nilai-nilai ajaran Islam. Bahkan di negeri-negen Barat sendiri di kampus-kampus universitas di mana berkumpul mahasiswa-mahasiswa Islam bermunculan perkumpulan mahasiswa Islam dengan tujuan mempelajari agama mereka dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim untuk mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT. Oleh karena itu, dalam rangka mensyukuri nikmat Allah yang berupa hidayah pada kita, maka kita wajib menambah perbendaharaan pengetahuan, pemahaman dan pendalaman nilai-nilai Islam yang memang perlu untuk senantiasa diperkaya. Semoga kita mampu menumbuhkan kembali penghayatan nilai-nilai utama Islam pada generasi Muslim sekarang ini dan nanti. Semoga kebangkitan kembali Ummat Islam akan menjadi kenyataan yang diridhai Allah SWT. Amiin….!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari diskusi penulis dengan aktivis ketika pulang kampung (Susmono) dan dari berbagai tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7205401914170708974?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7205401914170708974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7205401914170708974&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7205401914170708974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7205401914170708974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/perbedaan-menuju-kebangkitan-islam.html' title='Perbedaan Menuju Kebangkitan Islam'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-7379665914656821742</id><published>2009-06-03T11:24:00.000+07:00</published><updated>2009-06-06T03:14:05.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Islam Bukanlah Satu-Satunya Peradaban Di Dunia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyelesaian masalah agama dalam era modernisasi dan globalisasi dewasa ini, yang perlu dikemukakan pertama adalah membebaskan Islam dari ajaran yang bukan dasar. Artinya tidak lagi menganggap sesuatu yang sebenarnya dunia dan tidak sakral sebagai sesuatu yang akhirat dan sakral, sehingga pemahaman ajaran agama benar-benar murni merupakan ajaran agama.  Hingga kelak pada saat mengalami perubahan menuju peradaban modern yang berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam -dimana IPTEK dan kemanusiaan memegang peranan penting-, agama tidak hanya sebagai simbol belaka tetapi lebih dari itu sebagai kekuatan etika yang menjalar ke segenap bidang kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk dipahami bersama bahwa di muka bumi ini, Islam bukanlah satu-satunya peradaban di dunia. Tetapi, selain masih ada ajaran agama-agama lain, sebagian masyarakat masih memegang adat dan tradisi yang dijalankan turun temurun dari nenek moyang. oleh karena itu, Islam dan tradisi haruslah dipertahankan sebagai vitalitas dan kultur bangsa. Namun, agama dan tradisi bisa menghambat kemajuan bila tak diberi ruang gerak yang cukup dan tidak dirangsang pertumbuhannya. Ambil suatu kasus di Iran. Meski demokrasi di Iran merupakan kritisisme, absoluteisme dan otoritarisme terhadap peradaban modern. Namun, dalam kenyataannya kebijakan publik dirasa masih sangat kurang memberi ruang gerak masyarakat. Disana (Iran), Islam kontemporer lebih menonjol dibanding islam substantif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu berarti Islam lebih mementingkan pendekatan profesional, dan bukannya pendekatan politis dalam memandang sesuatu persoalan. Kalau saja ini dimengerti dengan baik, akan menjadi jelaslah mengapa Islam lebih mementingkan masyarakat adil dan makmur, dengan kata lain masyarakat sejahtera, yang lebih diutamakan kitab suci tersebut dari pada masalah bentuk negara. Kalaulah hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum muslimin, tentulah salah satu sumber keruwetan dalam hubungan antara sesama umat Islam dapat dihindarkan. Artinya, ketidakmampuan dalam memahami hal inilah, yang menjadi sebab kemelut luar biasa dalam lingkungan gerakan Islam dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 24-04-2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-7379665914656821742?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/7379665914656821742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=7379665914656821742&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7379665914656821742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/7379665914656821742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/06/islam-bukanlah-satu-satunya-peradaban.html' title='Islam Bukanlah Satu-Satunya Peradaban Di Dunia'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-2643731468326314635</id><published>2009-05-28T14:39:00.000+07:00</published><updated>2009-05-28T14:41:59.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humanisme Islam'/><title type='text'>Relativisme Budaya Perempuan Dalam Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud hak-hak politik adalah yang ditetapkan dan diakui oleh undang-undang berdasarkan keanggotaan sebagai warga negara. Biasanya ada korelasi antara hak-hak politik dengan kewarganegaraan. Artinya hak politik itu hanya dimiliki oleh seseorang yang berada di wilayah hukum negara tertentu dan tidak berlaku untuk orang asing. Hak-hak politik selalu menyiratkan partisipasi individu dalam membangun opini publik, baik dalam pemilihan wakil mereka di MPR atau pencalonan diri mereka menjadi anggota perwakilan. Dan cakupannya adalah pengungkapan pendapat dalam memilih, mencalonkan diri sebagai anggota MPR atau sebagai presiden serta hal-hal lain yang berkaitan dengan dimensi politik.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini diskursus mengenai perempuan dan politik menjadi isu yang paling santer muncul ke panggung dunia politik. Khususnya munculnya kecenderungan kuat dari sebagian kalangan (yang notabene merupakan wakil umat Islam) untuk mengangkat perempuan sebagai Presiden RI dan juga sebagai respon terhadap ramalan suksesi (tampilnya seorang perempuan sebagai pemimpin di negeri ini) yang kian menghangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat kontras dengan keadaan beberapa waktu lalu, dimana ada pertentangan tentang diperbolehkan tidaknya seorang wanita memimpin di negeri ini. Padahal beberapa tahun silam moyoritas umat islam telah sepakat Untuk menentang kepemimpinan perempuan, kesepakatan ini dapat  dilihat dari hasil Kongres Umat Islam Indonesia bulan november 1998, yang menghasilkan ketetapan bahwa kelayakan perempuan sebagai presiden masih diragukan. Landasan hukum yang dipakai adalah hadist nabi artinya “tidak akan jaya satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” {HR Ahmad An-nasai dan Turmidzi}. Fenomena ini mengesankan diskriminasi terhadap perempuan khususnya dalam bidang politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam datang ke bumi sebagai rahmatan lil’alamin, yaitu selalu menebarkan semangat dan dan rahmat bagi alam semesta. Salah satu wujud atrau bentuk dari rahmat yang dibawa Islam adalah persamaan hak-hak kemanusiaan dengan kaum laki-laki disisi Allah SWT. Dalam Islam tidak mengenal adanya diskriminasi antar etnis, jenis kelamin, ras dan golongan kecuali kadar kualitas dan kuantitas ketaqwaan pada Allah SWT. Islam tidak pernah menjadikan perempuan sebagai manusia second class, dan laki-laki sebagai first class. Setiap manusia tanpa terkecuali berhak menjadi abid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang menjadi persoalan dalam kepemimpinan seorang wanita bukanlah layak atau tidak seorang wanita memimpin negeri ini. Tetapi sejarah telah menjawab bahwa usaha membangun perspektif baru berdasarkan analisis jender, disadari atau tidak paradigma yang sudah terbina selama berabad-abad kurang sensitif terhadap masalah gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Struktur Sosial dan Kekerasan terhadap Perempuan&lt;br /&gt;Sikap yang ambivalen terhadap kekerasan yang diterima oleh perempuan, disadari atau tidak, didukung sendiri oleh perempuan. Keadaan ini terbentuk, dan terlestarikan dalam budaya dan ideologi patriarki yang menciptakan stereotype gender. Kekerasan hanya akan lahir, kemudian berlangsung dalam suatu struktur sosial yang kondusif untuk mendukung terjadinya kekerasan dan hanya dapat dipahami melalui konteks sosial dan analisa gender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini kekerasan terhadap perempuan belum banyak yang terungkap meskipun hal itu merupakan kenyataan hidup yang tidak dapat dipungkiri. Banyak kelompok di sekitar kita yang memandang bahwa kekerasan terhadap wanita secara legal-material cenderung menekankan pada hukum-hukum formal sehingga hanya menangkap gembong dari kekerasan pada perempuan tersebut. Kekerasan dikonsepsikan sebagai kekerasan jika ada bukti yang merugikan pihak lain dan melanggar hukum.&lt;br /&gt;Kelompok lain juga mempunyai pandangan bahwa kekerasan pada dasarnya tidak mutlak dan tidak semata-mata dibuktikan oleh bukti material. Kekerasan tidak akan ada tanpa penilaian dan penerimaan atau pelaku dan perasaan tidak suka diambil secara sewenang-wenang, tetapi biasanya mengacu pada tolok ukur “batas kepantasan” yang subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok obyektif, berpandangan bahwa suatu tindakan akan bernilai tetap dan tidak akan berubah oleh penilaian mereka yang terlibat, baik sebagai korban, pelaku maupun pihak lain dalam penilaian instrumen hukum positif. Berdasarkan padangan ini berarti bahwa definisi kekerasan dalam cakupan yang sangat luas, baik cakupan, tempat kejadian, sebab-sebab maupun dampaknya. Namun mempunyai batasan yag jelas, yaitu aturan-aturan substansi, seperti agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain aliran modernis memandang bahwa ketidakadilan dalam penafsiran agama juga dipandang sebagai kekerasan. Tidak hanya terjadi pada fokus pysik saja, tetapi juga pada peraturan dan bahkan pada cara berpikir dan kepercayaan; tidak hanya dibedakan pada berat ringannya tindakan itu, tetapi juga karakteristiknya. Kelompok legal formal lebih memandang bahwa kekerasan dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan sepanjang mengandung unsur-unsur pindana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia menunjukkan bahwa secara adat menempatkan pihak perempuan mempunyai berbagai hak khusus dalam keluarga yang didominasi oleh sistem matrilineal. Suatu contoh misalnya di Provinsi Sumatera Barat, pemikiran kaum lelaki di pengaruhi oleh nilai-nilai lama yang berdampak pada hubungan laki-laki dan perempuan dan berbentuk stigma-stigma berstereotipe jender seperti pameo dalam masyarakat “tempat perempuan adalah dapur, sumur dan kasur”, “suami adalah imam bagi istri” dan lebih parahnya lagi tidak ada kontrol serta akses bagi perempuan. Lebih jauh lagi dalam menyikapi hal-hal tersebut perempuan cenderung untuk bersikap pasif karena harus tunduk dan patuh terhadap adat istiadat dan agama. Namun secara umum masyarakat menyadari bahwa kekerapan pada perempuan terjadi dalam berbagai persepsi, meskipun sulit untuk dihilangkan karena terbentur dengan adat istiadat dan agama, serta ketidaktahuan bagaimana cara mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah lain suatu misal di Propinsi Nusa Tenggara Barat, menunjukkan bahwa masyarakat hidup dalam ideologi patriarkhi yang sangat kental. Hal itu tercermin pada hubungan sosial perempuan dan laki-laki yang menempatkan perempuan dalam posisi sub ordinat. Dan lebih parah lagi jika ajaran agama yang dipahami masyarakat memperkuat masalah ini. Kekerasan yang terjadi terhadap perempuan banyak mengkaitkan dengan permasalahan mas kawin/belis,  masalah ini telah menempatkan perempuan dalam hal yang berbeda karena perempuan telah dibeli sehingga sang suami berhak memperlakukan perempuan sesuai dengan hatinya. Padahal belis/mas kawin merupakan penghargaan laki-laki terhadap pihak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu, perempuan terperangkap dalam stigma stereotipe peran dan kedudukan yang diperoleh dari proses sosialisasi dan pemahaman agama sejak kecil. Mereka menjadi rentan terhadap tindak kekerasan karena telah menjadi korban kekerasan sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Relativisme budaya terhadap kekerasan Perempuan&lt;br /&gt;Temuan dan semua upaya untuk menanggulangi kekerasan terhadap perempuan baru berada pada ujung yang paling awal dalam suatu perjalanan. Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dihilangkan dengan target waktu, dan dengan upaya yang bergantung pada proyek. Disinilah keseriusan untuk menanggulangi kekerasan terhadap perempuan diuji. Target penyadaran harus menyasar pada jantung persoalan, yakni seperangkat nilai-nilai. Hal ini karena bangunan kekerasan terhadap perempuan tidak akan bisa dilenyapkan tanpa membongkar tiang-tiang penyangganya. Ini merupakan pekerjaan yang besar dan membutuhkan waktu yang sangat panjang dengan pasang surutnya perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan relativisme budaya dalam persoalan penghapusan kekerasan terhadap perempuan merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini terlepas dari manipulasi interpretasi teks bahwa bangunan kekeraan terhadap perempuan memang sangat dpengaruhi oleh seperangkat nilai-nilai budaya yang dikukuhi masyarakat. Relativisme budaya merupakan praktik-praktik dalam suatu kebudayaan yang mengandung keunikan sistem nilai. Bagi penganut faham ini tidak ada standart universal dan moralitas sertra nilai-nilai suatu kebudayaan tidak bisa diperbandingkan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan semacam ini telah mendominasi pemikiran sosial, politik dan akademis saat ini. Permasalan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari relativisme budaya membuat orang segera bersinggungan dengan etnosentrisme, yaitu suatu faham yang meyakini penilaian terhadap budaya yang lain untuk menggambarkan suatu bentuk superioritas budaya.&lt;br /&gt;Dalam semangat yang multikulturalisme, persoalam relativisme budaya kembali mengemuka. Sebagian feminis dengan tegas menolak praktik-praktik yang diyakini sebagai relativisme budaya, seperti female genital multilation. Karena praktik-praktik semacam itu paa prinsipnya sangat bertentangan dengan hak asasi manusia. Kondisi sebagaimana tersebut di atas, meski tampak jelas dan tampaknya juga tidak perlu untuk dipersoalkan namun perdebatan mengenai universalisme versus partikularisme selalu akan muncul dalam berbagai persoalan berkaitan dengan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak Politik Perempuan dalam Pandangan Islam&lt;br /&gt;Islam sebenarnya memberikan kebebasan yang begitu besar kepada perempuan, sehingga tidaklah mengherankan jika pada masa Rasulullah ditemukan sejumlah perempuan memiliki kemampuan dan prestasi yang membanggakan seperti laki-laki. Dalam kandungan Al-Qur’an perempuan dengan leluasa memasuki semua sektor kehidupan masyarakat terutama politik, ekonomi, dan berbagai sektor publik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak-hak politik yang dimiliki oleh perempuan Indonesia selama ini masih dalam kategori yang semu, artinya masih terus menerus berada di bawah kekuasaan laki-laki dalam masyarakat yang menganut paham patriarkhi. Kondisi tercipta karena kebanyakan masyarakat memandang perempuan lebih hina dan karenanya harus tunduk kepada lelaki. Pandangan seperti itu sudah merupakan hukum alam yang menghiasi keseharian Indonesia dan sulit untuk di format ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan hak-hak politik wanita dalam pandangan Islam mengandung dua aliran besar, yaitu pertama, aliran yang secara absolut mengingkari hak-hak politik bagi perempuan. Mereka memahami sebuah hadist yang artinya kurang lebih demikian “tidak akan berjaya satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan” hanya kepada tekstualnya saja. Sehingga hukum yang muncul adalah hukum yang tertulis. Kedua, aliran yang berpendapat bahwa Islam mengakui adanya hak-hak politik bagi perempuan. Mereka menafsirkan hadist tersebut lebih kepada konstekstualnya dan memungkinkan menggunakan pendekatan hermeneutika. Kelompok ini menegaskan bahwa Islam menetapkan dan mengakui hak-hak politik bagi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang mencari rujukan pada teks-teks agama sebenarnya ia melakukan interpretasi terhadap teks tersebut. Dan agama berada di dunia abstrak yang susah untuk diraba. Agama yang absolut berbeda dengan penafsiran relatif. Jadi harus ada usaha-usaha cermat dalam menafsirkan agama agar senantiasa relevan dengan situasi masyarakat yang dinamis. Sebab utama mengapa hak-hak politik perempuan selalau termarginalkan adalah penafsiran terhadap teks-teks agama yang tidak mengindahkan semangat Al-Qur’an dan selalu mengedepankan bias-bias jender yang terlanjur mengakar dalam sebagian besar masyarakat, khususnya kaum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin hendaknya tersentak dari igauan panjang dan mulai menyadari bahwa Al-Qur’an adalah teks yang harus dibaca secara kontekstual, yaitu dengan memahami konteks historis dan politis dimana Al-Qur’an diturunkan. Dan penafsiran terhadap teks Al-Qur’an yang membicarakn masalah jender dan seks sebenarnya tidak ada yang mengklaim bahwa suatu penafsiran atau interpretasi telah final, universal dan abadi kecuali Al-Qur’an. Sehingga memungkinkan kaum muslimin untuk membuat penafsiran baru yang selaras dengan tuntutan zaman. Karena itu sekarang dimana kesadaran obyektivitas masyarakat, rasa keadilan dan kesadaran akan jender menjadi isu sentral, adalah tidak berlebihan jika mengakomodir aspirasi perempuan dalam suatu interpretasi keagamaan. Dan yang pasti adalah kesetaran laki-laki dengan perempuan dalam berpolitik adalah sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Pada saat ini, kaum perempuan telah banyak mengintesifkan diri dalam berbagai bidang ekonomi, sosial dan politik. Selain itu, perempuan juga meningkatkan kemampuannya dalam bidang agama dan hukum. Dua bidang dimana hak-hak politik perempuan di marginalkan. Di zaman modern seperti sekarang ini, kaum perempuan telah mengkonstruksikan model keberagaman dan kepolitikan mereka sendiri. Dengan cara itu perempuan berupaya untuk mendapatkan otonomi dan hak-hak politiknya ketika berhadapan dengan kewenangan religius dan kekuasaan yang masih dikuasai oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4471967421955873009-2643731468326314635?l=jito-um.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jito-um.blogspot.com/feeds/2643731468326314635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4471967421955873009&amp;postID=2643731468326314635&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2643731468326314635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4471967421955873009/posts/default/2643731468326314635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jito-um.blogspot.com/2009/05/relativisme-budaya-perempuan-dalam.html' title='Relativisme Budaya Perempuan Dalam Islam'/><author><name>Jito</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03713738219692532412</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-r1zpKK2mJi0/TrDr9zLsBHI/AAAAAAAAAEg/OMLRjZa2fSg/s220/Image0072.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4471967421955873009.post-6224662446314631484</id><published>2009-05-28T14:20:00.000+07:00</published><updated>2009-05-28T14:39:15.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Sosial'/><title type='text'>Strategi Pemerintah Dalam Menyerasikan Pembangunan Desa Dan Kota Di Era Otoda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan nasional pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia menuju masy
